Usual Storyline

oeuvre

Matriks Kecerdasan

You can fool some people some of time; you can fool some people all of the time; you can fool some people all of the time; but you cannot fool all people all of the time ( Abe Lincoln)

Dulu, saya diminta Bu Guru untuk menghapal 45 butir- butir Pancasila, nama menteri ( yang jarang berubah, hingga mudah dihapal), hingga buku hijau ( bersampul Garuda Pancasila) Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila ( P4) yang berisi antaranya Wawasan Nusantara, ekstrim kiri-ekstrim kanan, bahkan sempat juga ikut lomba cerdas cermat P4 SMP kala itu. Pancasila adalah landasan ideal Republik ini, begitu salah satu poin kuat yang tertancap kuat di benak. Pasca 1998, semua bangunan pemahaman tentang pemerintahan itu, terdekonstruksi lewat peristiwa demontrasi, berikut huru hara, lalu berjibunnya para pengamat- intelektual di media, yang membuka pertanyaan, apa sebenarnya politik itu ? Negara itu siapa ( apa) ? Rakyat itu siapa ? Pemerintah bisa salah, oh ya ? Tentara pembunuh, bukankah mereka baik dan gagah ? Pak Harto jahat, lho perasaan dia senyum melulu, nampak baik kan ? Pak Habibie boneka, oh ya, dia kan pintar, doktor insinyur, lulusan Jerman lho ?Pertanyaan yang sontak menyeruak, meluruhkan keluguan anak sekolah yang selalu dikondisikan untuk memahami bahwa buku teks adalah dogma tak tergugat.

Saya tidak tahu pasti, apakah amanat mencerdaskan kehidupan bangsa di Pembukaan UUD 1945 adalah termasuk upaya untuk mendewasakan warga negara dalam memahami peran dan posisi(nya)/ kita sebagai rakyat sekaligus Warga Negara Republik Indonesia yang punya hak dan kewajiban politik, toh, sampai sekarang, nampaknya sikap abai, atau memandang negatif terhadap sikap oposan adalah sesuatu yang masih jamak. Nampak bahwa pemerintah adalah selalu baik, tak pernah salah, mereka adalah manusia super pintar, sekaligus arif bijaksana, setengah dewa lagi ! Terkecuali mungkin sebagian kecil kalangan urban terdidik, universitas, atau aktivis politik, pemahaman tersebut nampaknya masih jamak di benak penduduk Indonesia, menurut saya.

MATRIKS KECERDASAN

Kekuasaan sangat bernuansa testosteron, yang agresif, eksplosif, biasanya manipulatif. Dalam perjalanan berinteraksi memahami dan melihat kawan- kawan “aktivis” yang peduli dengan kondisi Negara Indonesia, bahkan melihat ada yang geregetan juga untuk ikut menjadi politisi, saya mencoba melakukan pemodelan peta fungsi kognitif dan afektif sistem orgainiknya, tentunya dalam fomat subjektif saya yang cenderung simplifikatif,reduksionis, tetapi tetap empiris tentunya.

Fungsi afektif dalam dua kutub ( absis) : Idealis dan Bajingan. “Idealis” maksudnya bersikap sesuai dengan idealnya sebuah sistem bernegara seperti buku teks, menaruh kepercayaan besar pada sosok pemerintah, tidak sama sekali berpikir bahwa kekuasaan itu diperebutkan ( apalagi merebutnya), semua sudah ada jatahnya masing- masing, begitu pikir mereka. “Bajingan” maksudnya memilih bersikap curiga, sesuai dengan pengalaman bahwa potensi kecurangan selalu ada dalam kekuasaan, punya imajinasi bahwa dia juga punya peluang menjadi penguasa, hanya jatah kesempatan itu harus dicari ( diperjuangkan), mereka sibuk menyiapkan strategi “perjuangan”.

Fungsi kognitif dalam dua kutub ( ordinat) juga : Lugu dan Cerdas. ” Lugu” dalam pengertian saya maksudnya berspektrum pemikiran terfokus, dimensi referensi sedikit, memegang ideologi ( -isme) yang jelas, memandang ide(ologi) dia adalah paling ideal, cenderung tegas dalam artian generik ( hitam- putih), simbolik, puitis- romantis ( agak utopis), tekstual, linear, nampak optimis daripada realistis, suka menaruh demi “kepentingan bangsa” dalam opininya ( seperti laiknya negarawan). Sedangkan “Cerdas” maksud saya maksudnya berspektrum pemikiran meluas, dimensi referensi banyak, memandang ideologi sekedar -isme, tidak berpihak ke salah satu – isme itu, realistis ( cenderung skeptis), cenderung relatif dalam artian kasuistik, kontekstual, lateral, dan terlihat mulai melihat porsi besar” kepentingan personal” dalam setiap opininya ( seperti aktivis anarki ).

Anehnya, sampai saat ini, sejauh pengalaman saya, konsentrasi cenderung beroposisi biner, antara kelompok “Bajingan Cerdas” dan “Idealis Lugu”. Sedikit yang “Idealis Cerdas”, karena biasanya setelah menjadi “Cerdas”, orang cenderung tidak masuk kelompok kuadran “Idealis” lagi. Sedangkan “Bajingan Lugu”, juga tidak banyak, karena kecenderungannya, seiring pengalaman dan informasi, dia berpindah kuadran ke “Bajingan Cerdas”. Tetapi, warga kuadran “Idealis Lugu” tetap banyak karena memang banyak yang enggan mengikuti berita politik, dan anak usia sekolah punya kesibukan dengan dunianya. “Bajingan Cerdas” didominasi testosteron dan “Idealis Lugu” mayoritas estrogen, itu sejauh pengamatan saya ( yang mungkin kurang jauh…)

Lalu bagaimana ? Ya, tidak apa- apa, toh ini kan cuma peta pemahaman tentang politik, selama manusia di kuadran “Bajingan Cerdas” dewasa untuk memahami bahwa peradaban di Indonesia dibangun atas dasar kompromi serta sebisa mungkin menghindari pertumpahan darah ( beradab dalam berebut kekuasaan), dan manusia di “Idealis Lugu” mau sedikit peduli dan membuka diri dengan informasi, keseimbangan di keempat kuadran itu akan terjaga, walaupun migrasi saya yakin tidak terhindarkan, apalagi informasi begitu luas di alam demokrasi Indonesia yang masih muda ini.

Anda tidak setuju dengan model matriks saya ? Ya tidak apa- apa, silakan bikin sendiri, kreativitas kita masing- masing lah. Selamat menempuh hidup sebagai Warga Negara Republik Indonesia, Sahabat !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 1, 2011 by in Philosophy and tagged .

Navigation

%d bloggers like this: