Usual Storyline

oeuvre

Bangsat (!)

If one has no affection for a person or a system, one should feel free to give the fullest expression to his disaffection so long as he does not contemplate, promote, or incite violence. ( Gandhi)

Salah seorang anggota dewan yang berbadan pendek gempal, dan dulunya sempat berkuncir itu, memang gemar menarik perhatian publik dengan idiom umpatan, belum lagi pilihan frase yang sengaja dibuat untuk memancing keluar kemarahan ( pedas), ditambah gaya penyampaian tengil serta nada bicara keras, beliau sengaja diposisikan ( dan memposisikan) diri sebagai agitator di tengah ruang sidang, atau tokoh selebritis badass yang memilih posisi antihero pengumpat kalau di layar kaca ( tipikal karakter pilihan Clint Eastwood dan Bruce Willis) . Menarik, karena syarat pertama sebuah ide mampu diterima di tengah kerumunan adalah dengan memancing perhatian. Perhatian pertama berwujud penolakan ( denial) , berkembang kemarahan ( angerness), lalu kritik ( critics), dan terakhir justru adalah simpati ( symphaty), ini adalah soal strategi memenangkan kontestasi ideologi ( memetika) dalam pemikiran masyarakat manusia.

Tiba- tiba saja publik memasang muka keheranan, bagaimana bisa di ruang sidang anggota dewan yang wangi dan terhormat, ada tukang umpat bermulut kotor, dan berlidah tajam ? Dimana etika para pemimpin negara yang penuh sopan santun ini ? Tetapi di luar itu, tayangan televisi berrating tinggi justru dipenuhi berbagai idiom umpatan, kekerasan verbal, dan pola komunikasi agresif lain. Anehnya, jurang budaya antagonistik ini sengaja dibiarkan, ada pandemik hipokrit kolektif yang tidak terlihat tapi nyata di peradaban kita nampaknya, epidemik bernama impunitas ( pembiaran) kolektif. Pengharapan yang sangat tinggi terhadap tokoh- tokoh yang dianggap sebagai pemerintahnya, sampai- sampai seolah mereka dianggap manusia setengah dewa, di lain sisi, ini seperti melemahkan potensi warga negara yang sebenarnya punya kecerdasan tidak lebih rendah dibanding pemerintah. Disini pemerintah juga adalah sekelompok manusia, dengan fungsi anatomi, fisiologis tidak jauh beda dengan warga yang diperintah. Kesamaan metabolisme berikut fungsi kognitif dengan warganya. Bedanya adalah soal kekuasaan, pemerintah dipercaya untuk menguasai hajat hidup yang mengendalikan warga yang diperintahnya. Tetapi tetap saja, pemerintah juga adalah jenis spesies manusia, yang punya potensi korup terhadap kuasa, atau lemah dengan kelompok yang secara de facto lebih kuat, walaupun de jure lebih lemah ( sikap pemerintah terhadap korporasi Bakrie tentang lumpur Lapindo, penggelapan pajak, dengan koalisi antar partainya, yang nampak paradoks dan tidak lucu, contohnya)

Bicara soal strata tingkat status sosial antara pemerintah dengan warga yang diperintah, maka kita kembali ke sikap anggota dewan penggemar umpatan di atas. Idiom umpatan seringkali dipilih sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap orang lain, atau sesuatu yang memancing amarah. Di sisi lain, idiom ini diekspresikan sebagai bahasa pergaulan antar teman sederajat, untuk ungkapan keakraban yang egaliter. Idiom ini sungguh unik karena setiap suku atau etnis, punya kosakata khas. Idiom bisa dipilih dari jenis mamalia ( Anjing, kambing, kerbau, tupai (bajing) dan babi. Anjing, babi, dan tupai ( bajing) paling terkenal ), serangga ( Jengkerik, kutu busuk), kotoran manusia ( Faeces/ tahi), dan aktivitas privat lain semacam kopulasi/ senggama ( kawin). Keberagaman gaya ekspresi ini bisa terungkap manakala kita bergaul dengan manusia yang berasal dari berbeda daerah, ambil contoh Surabaya dengan dantjuk-nya, Bandung dengan njing-nya, Solo dengan asem-nya, atau Ambon dengan puki-nya. Banyak sekali sebenarnya pilihan kata yang bisa digunakan sebagai instrumen kekesalan, dengan label “tidak sopan” jika menggunakan nilai budaya setempat. Mengekspresikan kekesalan dengan pilihan idiom umpatan seringkali justru menghasilkan rasa kepuasan sekejap, kenikmatan rasa berdosa (guilty pleasure), berikut sensasi kehebatan pemberontakan terhadap nilai, yang terasa mengungkung kebebasan berekspresi pribadi di ruang publik. Atau, kalau dalam interaksi perkawanan, maka idiom ini seringkali terlontar sebagai bagian ungkapan keakraban yang egaliter, sekaligus membuang jauh- jauh sikap snobisme budaya yang terkadang menjengkelkan.

Apakah manusia yang memposisikan diri sebagai pemerintah selalu lebih tahu dan lebih cerdas dibanding sekelompok warga manusia yang diperintah ? Tentu saja tidak. Mereka, yang dipilih oleh warga diperintah, untuk duduk dalam pemerintahan, dalam mekanisme demokrasi, adalah karena faktor kepercayaan populis, bahwa keadilan akan dipegang dalam membuat kebijakan ( policy) untuk umum. Kuncinya adalah pada pengetahuan ( epistemologi). Dan kunci bernama pengetahuan ini pulalah yang memotivasi salah seorang anak muda, bernama Soewardi Soerjaningrat ( Ki Hajar Dewantara), untuk menuliskan ekspresi kekesalannya terhadap sikap Pemerintahan Hindia Belanda waktu itu, di tulisannya yang fenomenal Als Ik Nederlander Was. Tulisan yang didasari epistemologi kuat, tentang rasa kebangsaan yang terinjak, oleh ulah sekelompok manusia yang duduk sebagai penguasa ini, menjadi bagian gelombang besar revolusi berdirinya Negara bernama Republik Indonesia, di kepulauan Nusantara. Ekspresi kekesalan yang didasari oleh kedalaman epistemologi ( pengetahuan) dan kejelasan ontologi ( sudut pandang), dalam satuan ungkapan jalinan kata berwujud tulisan, mampu menginspirasi pemikiran kerumunan manusia secara kolektif, artinya terjadi reproduksi kekesalan dalam frekuensi yang sama bagi manusia yang membaca tulisan tersebut.

Mungkin, disinilah letak pembeda antara kekesalan yang diekspresikan lewat idiom umpatan dengan tulisan, yaitu efek resonansi intelektual yang terjadi selanjutnya. Umpatan memang efektif untuk memancing rasa kesal dengan cepat, apalagi bagi yang paham dan sensitif rasa bahasanya, tetapi tidak akan cukup efektif untuk menimbulkan kekesalan kolektif dan resonansi intelektual masif. Sedangkan tulisan yang terstruktur dengan kedalaman epistemologis ( pengetahuan) dan ketegasan ontologis ( sudut pandang), sama- sama memancing perhatian publik dan mereproduksi kekesalan, akan menimbulkan resonansi intelektual masif, orang menyebutnya menginspirasi. Walaupun di lain sisi, akan membutuhkan banyak waktu untuk memahaminya.

Kekagetan publik terhadap seorang anggota dewan, yang melontarkan idiom umpatan, terasa wajar apabila dilihat dari mekanisme seleksinya ( Pemilu) yang rumit dan boros duit. Tentunya publik berharap banyak bahwa spesies manusia- manusia yang terpilih menjadi sosok pemerintah ini, memang memiliki kedalaman epistemologis ( pengetahuan) dan ketegasan ontologis ( sudut pandang) dalam membuat kebijakan (policy), menyangkut hajat hidup warga yang diperintahnya. Adalah wajar apabila ada segelintir warga diperintah yang mengumpat dengan intelek, karena warga diperintah bisa jadi jauh lebih cerdas daripada pemerintahnya. Pemerintah sebaiknya jangan berharap akan lahir lagi snobisme nilai atau negara drama seperti Orde Baru yang lampau, apalagi jika berharap bahwa Negara Indonesia memang terbangun sebagai sebuah peradaban yang cerdas kolektif. Bagaimanapun juga, itu resiko yang harus dihadapi manusia yang memerintah manusia lain, dimana sebenarnya fungsi kognitif dan metabolismenya sama saja. Pemerintah bukanlah manusia setengah dewa atau dewa seperti laiknya Dewa Olympus yang bisa membodohi manusia.

Jangan kaget juga jika saking kesalnya, maka warga diperintah akan mengumpat dengan sangat tidak intelek, menggunakan idiom mamalia, serangga, kotoran, atau senggama, karena kapasitas intelektual dipengaruhi oleh kedalaman epistemologi. Dan kedalaman epistemologi dipengaruhi oleh distribusi peluang mendapatkan pendidikan formal dan informasi. Tugas pemerintah untuk memastikan pendidikan warganya bukan ?Anggap saja umpatan sebagai idiom tanda keakraban antara pemerintah dengan warga yang diperintah, bahwa manusia pemerintah tidaklah lebih sakti mandraguna dibanding manusia warga diperintah..

Mengumpat secara intelek, dengan kedalaman epistemologis ( pengetahuan) dan ketegasan ontologis ( sudut pandang), akan lebih mampu melahirkan rasa kesal kolektif, berikut reproduksi ide, untuk selanjutnya bisa mengingatkan manusia yang duduk sebagai pemerintah. Dan jurnalisme warga cukup terbuka untuk terjadinya resonansi intelektual itu, maka manfaatkanlah sebaik- baiknya, Sobat. Percayalah, P ini bukan sekedar omongdoang ( omdo).

NB :

Bangsat :

1. Sejenis serangga penghisap darah yang hidup di sela- sela lipatan kursi atau kasur, sering disebut dengan kutu busuk

2. Idiom umpatan yang ekspresinya bisa memicu terjadi konflik bahkan pertumpahan darah sesama spesies manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 25, 2011 by in Philosophy and tagged .
%d bloggers like this: