Usual Storyline

oeuvre

Mitos Peran Pemuda

What does not destroy me, makes me stronger ( Friedrich Nietzsche)

Idiom pemuda, biasanya jadi komoditas laik jual saat Pemilu Nasional atau Pilkada, isunya jamak yaitu soal peluang suksesi tahta. Kalau coba kita tengok sejarah, label pemuda ini lazim disematkan pada anak muda ( 20- 40 tahun) yang berpolitik ( paham, sadar, dan berpartisipasi aktif dalam bernegara). Kebangkitan Nasional ada para “pemuda” disitu, Sumpah Pemuda bahkan di judulnya ada kata “pemuda”, dentuman besarnya pada Revolusi 1945, yang Ben Anderson bilang itulah Revolusi Pemuda.

Kenapa disebut mitos ? Karena memang setiap perubahan sosial cenderung terdapat keberadaan anak muda di dalamnya, aspek semangat dan intelektualitas terutama. Akan tetapi, jika mereduksi komponen revolusi hanya pada para “pemuda” ini, apalagi membuat mereka menjadi satu- satunya pemicu, maka disitulah letak kekurangtepatannya. Tidak mungkin sebuah pemerintahan rezim runtuh hanya karena gerakan “pemuda” saja, realitasnya, banyak kekuatan lebih besar lain yang ikut bermain dalam tumbangnya rezim, walaupun mungkin sengaja tidak memperlihatkan jati dirinya.

Akhir- akhir ini, malah terjadi pendefinisian ulang akan label “pemuda” ini. Label ini digeser dengan istilah pelajar dan mahasiswa untuk menyebut anak muda yang berusia di bawah 30 tahun dan berpikir serta berniat dalam kehidupan bernegara. Sebenarnya, pergeseran label ini memang cukup mendasar sebabnya, para “pemuda” momen 1908, 1928, dan 1945 identik dengan mahasiswa sekarang, yaitu mendapat akses pengetahuan luas, terdidik, dan relatif dari kalangan mampu secara ekonomi. Namun, sebenarnya ini adalah gejala elitisme, yaitu penyempitan terhadap golongan yang aktif berpolitik. Selain itu, akses pengetahuan sekarang bisa dikonsumsi begitu mudahnya, asalkan orang muda yang tidak kuliah mau belajar, dia bisa menjadi intelektual. Belum tentu juga mahasiswa mau memanfaatkan kemudahan akses pengetahuan dan didikan di kampusnya untuk lebih memperadabkan kehidupan bernegara bukan ?

Lalu, jika memang Revolusi 1945 dilabelkan Revolusi Pemuda, apakah peta kekuatan saat itu memang didominasi anak muda intelek semua ? Apakah anak muda intelek juga semuanya pro dengan lahirnya Republik Indonesia di Nusantara ? Seorang ahli hukum Indonesia, penasehat Pemerintah Hindia Belanda, membagi kekuatan politik menjadi tiga besar, yaitu : Pertama, loyalis Pemerintahan Hindia Belanda, yang rata- rata terdidik dengan pendidikan barat, berkedudukan sosial ekonomi mapan, dan diperlakukan setaraf dengan orang Belanda. Mereka paham nasionalisme, tetapi nyaman dengan suasana kolonial. Kedua, subversif dan kontra Pemerintahan Hindia Belanda, yang terdidik dengan pendidikan barat, tidak menempati kedudukan sosial ekonomi mapan dalam negara kolonial, dan paham nasionalisme. Jumlahnya sekitar 500,000. Dan ketiga, bagian terbesar masyarakat yang acuh tak acuh dengan keberadaan Pemerintahan Hindia Belanda, dan mereka ini yang berpeluang besar merintangi usaha Pemerintah Hindia Belanda kembali bercokol di Nusantara, yang waktu itu Dai Nippon diambang kekalahan. Dai Nippon dapat memicu gelora semangat penduduk nusantara dan golongan intelektual subversif untuk membangun negara independen, walaupun sesungguhnya mereka punya niat sama seperti Pemerintahan Hindia Belanda, tidak berniat sungguh- sungguh memberi kemerdekaan.

Kalau sudut pandangnya adalah revolusi sosial, kita coba bandingkan Revolusi Indonesia dengan Revolusi Perancis, yang seringkali mengilhami para “pemuda” di Nusantara kala itu. Komponen pemicu utama Revolusi Perancis adalah Kaum Borjuis, yang terbagi menjadi tiga; Borjuis atas, para industrialis dan bankir, lalu Borjuis menengah, usahawan menengah dan kaum profesional, serta Borjuis bawah, pegawai subsisten yang hanya punya dana untuk kehidupan sehari- hari. Golongan ketiga ini yang paling militan dan menjadi motor massa dalam gerakan. Sedangkan Revolusi Indonesia, dipicu oleh para mahasiswa, dan intelektual muda, yang mulai sadar nasionalisme pasca terbukanya akses pendidikan dan pengetahuan dari barat.

Perbedaan ini sangat mendasar justru terlihat pada perkembangan stabilitas kenegaraan pasca revolusi, di Indonesia, yang pelakunya adalah para “pemuda” ini, mereka belum masuk ke proses produksi atau transaksi ekonomi riil apapun, dan selalu bisa berteriak bahwa revolusi belumlah selesai. Sedangkan di Perancis, golongan borjuis rendah yang jumlahnya terbesar serta paling militan, mulai bosan dan tidak sabar dengan ketidakstabilan politik, pada jamaknya, golongan ini diricuhi anak dan istrinya untuk lebih menyelesaikan masalah pangan keluarga yang tidak terselesaikan dengan revolusi politik. Intinya, Revolusi Perancis berhenti karena masyarakatnya memang sudah bosan dengan gejolak politik yang menghambat aktivitas ekonomi, dimana aktivitas ekonomi berurusan dengan perut.

Orde Baru yang 32 tahun berkuasa menekankan pada stabilitas politik, berikut kontinuitas. Terlihat dari hirarki ketat di militer, politik, dan birokrasi. Para “pemuda” ini tidak memiliki tempat di hirarki manapun, kalaupun mau ikut sistem, maka harus dimulai dari bawah. Ada yang unik dengan momen dentuman sosial revolusioner yang dimotori oleh para “pemuda”, yaitu legitimasi angkatan. Ada angkatan ’28, ’45, ’66, ’78, dan ’98, yang seolah- olah membuat “pemuda” ini menjadi akses plus mendapat saluran cepat untuk kedudukan politis tertentu. Bahkan sudah ada rahasia umum bahwa legitimasi angkatan “pemuda” ini, menjadi kendaraan buat para oportunis politik yang mengambil jalur cepat sebuah kedudukan di sisi tahta utama.

Sebenarnya, keresahan utama anak muda ada di satu saluran : mobilitas sosial masyarakat Indonesia. Mobilitas vertikal sebenarnya bisa disalurkan lewat jalur ekonomi, itu yang terjadi di anak muda daerah Eropa Barat, Amerika Utara, dan Asia Timur jauh yang memang budaya ekonominya sudah terbentuk baik dan pengetahuan memang benar bisa dijadikan nilai tambah ekonomi signifikan. Masalahnya, saluran ekonomi sempat tertutup di masa Orde Baru, dan sekarang para “pemuda” ini masih menganut paradigma lama, bahwa satu- satunya mobilitas vertikal adalah jalur politik, maka tidak heran jika menjamur politisi yang tidak kompeten tetapi bisa duduk jadi pengambil kebijakan. Tidak juga terpikir untuk terjun menjadi praktisi ekonomi riil aktif ( entrepreneur) dengan pengetahuan yang dimiliki, karena budaya kemapanan pola lama masih terpatri kuat di benak para “pemuda” ini. Membangun perusahaan dari nol dengan menghadapi ketidakpastian berikut kalkulasi resiko tingkat tinggi, bukan pilihan yang cukup “aman”.

Bagaimanapun, konsekuensi dari tekad para “pemuda” pendahulu kita yang memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia ini adalah kemandirian yang menyejahterakan bersama. Tidak lucu jika keadaan Nusantara ternyata lebih teratur dan rapi saat dikelola Pemerintah Hindia Belanda daripada Pemerintah Indonesia, karena berarti itulah tanda bahwa Nusantara tidak siap menerima konsekuensi logis dari kemerdekaan itu sendiri. Dan, dengan akses pengetahuan yang begitu luas sekarang, berikut kesempatan mencuri ilmu dari peradaban lain yang dirasa lebih maju, serta keterbukaan lapangan ekonomi dibanding masa Orde Baru, maka sebaiknya para “pemuda” sadar diri, mau mengukur dirinya, serta berani berdiri dengan pengetahuan serta optimis realistis dengan masa depan. Tidak menganut aji mumpung, “Mumpung Masih Muda”, atau ‘Mumpung Mahasiswa”, dan segala pembenaran lain, mengisi momen kemudaan usia dengan karya nyata, kreativitas penuh keberanian, dan kemampuan menjadi diri sendiri, nampaknya keren juga menurut saya, bukan begitu Sobat ?

Diekstrak dari :

Ong Hok Ham, Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang

NB : Soal pemerintah saat ini, saya belum mau komentar dulu, sudah terlalu banyak yang mengomentari, maaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 25, 2011 by in Review and tagged , .
%d bloggers like this: