Usual Storyline

oeuvre

Self Made Man

“Success is not a random act. It arises out of a predictable and powerful set of circumstances and opportunities. These circumstances include family background, ethnic heritage, who your parents are, who they know, how much money they have, what year you were born, and even when in the year you were born. The successful are those who have been given opportunities, and who have had the strength and presence of mind to seize them.” ( Malcolm Gladwell, on The Outliers)

Dulu, jujur, kalau ditanya, siapa yang mengilhami saya untuk suka ikutan mencoba kompetisi atau lomba, apapun itu, sejak SD sampai SMU ( bahkan kuliah), adalah Bruce Wayne dan Tony Stark, lho, kok bisa ? Ya, biasalah, imajinasi anak- anak. Keduanya, punya alter ego yang keren, yaitu Batman, dan Iron Man. Namun, bukan cuma itu yang menginspirasi saya, melainkan perjalanan hidup mereka, hingga mereka bisa menjadi pribadi serba bisa, sekaligus bisa mewujudkan apapun yang mereka mau, saat itu juga. Keduanya adalah sosok superhero, yang juga paling antihero. Bruce, okelah dia juga Batman, tapi dia punya latar belakang tragis, kedua orang tuanya dibunuh, langsung dimukanya, saat masih 10 tahun. Itu juga yang membuat aksi Batman cenderung brutal dan sadis, dia punya dendam masa lalu, dendam itu juga yang memotivasi dia untuk jadi vigilante. Kalau Tony, dia pemabuk berat, sekaligus bajingan cerdas yang beruntung sempat disadarkan, untuk jadi Iron Man. Tapi, dibalik aksinya itu, dia punya segala cara untuk menjadi sangat arogan, dan nampak konyol, yang seringkali justru membuatnya hampir celaka.

Kesamaannya, mereka sama- sama cerdas, Bruce, sarjana sains ( matematika) , dan berkelana sambil mempelajari segala kebijakan, berikut seni perang, sekaligus kemampuan detektif, langsung dari para ahlinya. Tony, sarjana teknik, belajar langsung dari ayahnya, yang sudah milyarder, berikut kebebasan peluang untuk mempelajari segala sesuatu, dan membuat apapun yang dia mau, Tony punya semua aksesnya. Mereka juga sama- sama tajir mampus, Tony, CEO  Stark Industries, warisan dari ayahnya yang lalu dia kembangkan, adalah figur terkaya nomor 4 ( 8,8 triliun USD), dan Bruce, CEO Wayne Enterprise, juga warisan dari ayahnya, yang dia kembangkan bersama orang- orang kepercayaan ayahnya, adalah figur terkaya nomor  7 ( 6,5 triliun USD). Sayang, dari daftar figur terkaya resmi versi Forbes itu, keduanya masih tetap kalah kaya dari Gober Bebek (2) dan Richie Rich (3).

Bruce dan Tony nampaknya memang cukup kurang kerjaan, dibandingkan CEO perusahaan pesaingnya, sehingga mereka punya cukup konsentrasi ( dan masih sempat- sempatnya) untuk menjadi vigilante. Jika dibandingkan dengan Clark Kent, yang sudah super dari lahir ceprot, dan karakternya kalem, sedangkan Bruce dan Tony pada kenyataannya adalah manusia brengsek, tentunya ini menjadi tanda tanya besar bukan ? Kembali ke pernyataan Gladwell yang paling atas, ini adalah soal peluang, berikut kekuatan serta penemuan kesadaran diri, untuk memanfaatkan peluang itu. Manusia aneh semacam Bruce dan Tony, memiliki variabel- variabel pendukung, yang membuat peluang untuk berposisi seperti itu, atau minimal mereka punya peluang lebih besar untuk memilih, jalan mana yang akan mereka ambil. Ya, mereka adalah orang- orang tahu peluang, sadar akan peluang itu, berikut punya pilihan atas opsi yang telah mereka sadari tersebut, dan mereka membuat keputusan sadar atas pilihannya.

Gladwel menggunakan penguat argumen,  Oppenheimer, bos proyek bom Manhattan yang tersohor dijuluki Bapak Bom Atom itu, dengan Chris Langan, manusia ber IQ 195 (salah satu dari sedikit manusia super cerdas), yang nasibnya menjadi pekerja peternakan kuda di pedesaan. Perbandingan perjalanan keduanya sungguh unik, Oppenheimer lahir di kalangan kelas atas Manhattan, dan Langan lahir di kalangan kelas bawah yang menyedihkan. Oppenheimer memang cerdas, tapi lingkungan juga memberikan peluang lebih besar buat dia, untuk mengakses tata nilai budaya antar kelas, pendidikan, berikut pergaulan lain yang secara langsung membuat mobilitasnya melesat. Sedangkan Langan sebaliknya, jauh dari itu, tidak banyak yang menyadari bahwa dia adalah manusia super cerdas, termasuk orang tuanya sendiri.

Kalau bicara soal peluang, maka kita sudah bicara ke ranah yang lebih luas, yaitu komunitas masyarakat. Ini, adalah soal bagaimana lingkungan manusia, mulai dari keluarga, tetangga, guru, kawan sekolah, secara langsung mempengaruhi peluang anak manusia, untuk membentuk kepibadiannya, berikut memberikan pilihan- pilihan dalam hidupnya, yang pilihan itu menjadi peluang untuk melakukan mobilitas sosial, baik itu vertikal, maupun horizontal.

Gladwell mengambil contoh yang cermat, dari perjalanan pebisnis berbasis teknologi informasi, yang menurut Gladwell paling meritokratis, di AS.  Bahwa Bill Gates ( Microsoft), Paul Allen ( Microsoft), Bill Joy ( SUN Microsystem), Scott McNealy ( SUN Microsystem), dan Steve Jobs ( Apple), lahir pada tahun yang berdekatan, 1954- 1955, dan mereka berada di kota yang berdekatan, universitas yang mereka jadikan tempat kuliah, juga sedang mengembangkan program komputer, kalaupun Gates dan Jobs DO, tetapi mereka sudah terpapar dunia pemrograman sejak usia SMP, bahkan Jobs sudah kerja di perusahaan tetangganya sejak usia 12 tahun, oh iya, tetangga Jobs namanya Dave Packard, pemilik Hewlett Packard. Koinsiden ? Kebetulan ? Bukan juga, mereka lahir di tahun yang tepat, di negara yang tepat ( militer AS sedang mengembangkan program komputer, kerjasama dengan industri dan universitas), di kota yang tepat, di universitas yang tepat, di tetangga yang tepat, dari orang tua yang tepat, serta mereka mengembangkan kesukaan mereka tersebut. Mereka adalah manusia yang berada pada momen yang tepat, dan momen inilah yang membuat pencapaian mereka sukar untuk disamai.

Kalau bicara soal distribusi peluang, maka ( ini yang saya tidak suka), berarti itu melibatkan ke pemerintah. Fungsi pemerintah saat sebuah sistem negara dibentuk, adalah menjadi administrator, penjaga keseimbangan distribusi keadilan sosial ( Itu, Sila 5 memang benar adanya, soal keadilan sosial). Saya mencoba menggunakan valuasi bernama Koefisien Gini, yang mengukur tingkat kesamaan, dalam sebuah peradaban bernama kenegaraan. Koefisien ini melibatkan komponen disiplin ekonomi, kesehatan, ekologi, kimia, dan rekayasa keteknikan.

Koefisien Gini adalah pendefinisian matematis berbasis pada kurva Lorenz, yang membandingkan antara jumlah penerimaan pendapatan dalam persentase kumulatif. ( sumbu horizontal, y), dengan sumbu vertikal, yang menyatakan bagian dari total pendapatan yang diterima oleh masing-masing persentase jumlah (kelompok) penduduk tersebut. Angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). Koefisien Gini dapat diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara garis diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana kurva Lorenz itu berada. Dalam ilmu Ekonomi Industri, Koefisien Gini juga dapat dipergunakan untuk melihat konsentrasi pasar.

Okelah, nampaknya itu sangat teknis sekali. Pendeknya, dari hasil koefisien Gini memang biasa dipakai untuk mengukur rentang pendapatan atau pengeluaran kelompok kaya dan miskin. Semakin tinggi nilai Gini, maka semakin besar jurang pemisah yang ada. Kembali ke soal peluang tadi, bahwa  nilai gini yang rendah, dalam artian pemerataan pendapatan merata, tidak sama sekali menjamin kesamaan peluang. Akan tetapi, memang distribusi pendapatan yang sama, akan memunculkan terjadinya peluang baru, ini memang sangat dinamis.

Indonesia, sebagai sebuah peradaban dengan administrasi negara demokratis, koefisien gininya antara 0,35- 0,39, dibandingkan dengan Eropa Barat ( dan Kanada)  ( 0,3- 0,34) atau Eropa Utara ( 0,25- 0,29), kita nampak lebih terjadi kesenjangan. Tapi, jika dibandingkan dengan AS, Cina, atau Malaysia ( 0,45- 0,49), maka kita mending, lebih merata distribusinya. Koefisien gini Indonesia mirip dengan India, dan Jepang.

Yah, pasti akan ada perdebatan soal angka- angka yang terlihat deterministik dan positivistik di atas. Okelah, saya paham, koefisien gini ini adalah sebuah pemodelan matematis, yang sifatnya memang simplifikatif dan reduksionis, tetapi sekali lagi, ini adalah instrumen. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa, membandingkan kondisi sosial, dalam artian fasilitas, budaya, kemudahan, antara kita, yang di Indonesia, dengan peradaban negara lain, yang kita anggap lebih “maju”, tanpa adanya usaha penyadaran diri, bahwa mereka ( negara yang kita sebut “maju” tadi), juga punya masalahnya masing- masing, sebenarnya akan membuat kita semakin jauh terttinggal di belakang. Menjadi komunitas melankolik yang sukanya menyiksa diri sendiri ( dan anehnya, nampak menikmati).

Kita sekarang punya masalah, ya benar. Kita punya banyak masalah, itu harus disyukuri, setidaknya masalah sudah terdefinisikan, karena syarat pertama untuk menyelesaikan masalah adalah : mendefinisikan masalah. Kedua, menyelesaikan masalah komunitas dalam sistem organik bernama negara, jelas sangatlah kompleks. Membandingkan dengan negara lain yang lebih “maju” ( saya kok risih bilang ini ya ?), tidak akan menyelesaikan masalah, jika sikap kita lalu menjelekkan komunitas kita sendiri. Sebenarnya, yang paling bisa menyelesaikan masalah di Indonesia, ya orang Indonesia sendiri, walaupun mungkin sesekali butuh pembanding. Tetapi, kita punya fungsi kognitif. Apakah butuh waktu ? Iyalah. Kalaupun ada yang tidak sabar, ya itu biasalah. Pokoknya, kita optimis bahwa kita punya masa depan lebih baik, dan sekarang bukan saatnya untuk menikmati keterpurukan, asal kita yakin untuk mengambil langkah, walaupun itu kecil.

Sebuah peradaban bisa lahir, berdiri, dan berkembang, karena memang terjadi kompromi- kompromi di dalam kesehariannya. Karena tentu saja banyak kepentingan yang ingin mengambil peran. Kembali ke soal “manusia berkualitas” tadi. Banyak sekali saya menyaksikan peristiwa “pembunuhan karakter”, di keluarga, sekolah, dan bermasyarakat, seperti yang dialami oleh Chris Langan. Banyak juga saya menyaksikan, “kemubaziran peluang”, dari beberapa manusia yang bertebar fasilitas, namun menggunakannya untuk urusan destruktif. Minder dengan peradaban di Eropa Barat ? Anda harus pernah mengalami dua kali perang dunia yang berdarah, dan pergolakan yang tidak ringan.

Minder dengan Jepang ? Anda harus mengalami di sebuah kawasan yang cuma 30% wilayahnya layak ditinggali, dan itupun cuma 10% yang bisa ditanami. Kalau mereka tidak bekerja keras, mereka mati, kata Kenichi Ohmae.Minder dengan siapa lagi ? Bagi saya, jalan “kesuksesan” sebuah komunitas, memang jauh lebih kompleks dibandingkan individu. Padahal kita tahu, bahwa yang dimaksud dengan kesuksesan individu, ternyata juga banyak peluang yang didapat adalah kontribusi dari lingkungan yang mendukung. Jadi, peluang itu memang dibuat kawan.

Ada imajinasi, manusia bergerak, berusaha mencapai citanya, peluang lahir disitu, dan dari peluang, keputusan dihasilkan. Interaksi manusia, yang punya kesamaan cita, dengan metode berbeda untuk meraih, melahirkan hibrida baru, peluang lain yang membutuhkan keputusan lain lagi, dibanding yang pertama, dan seterusnya.

Ada satu hal yang harus disyukuri sebenarnya, dan saya tidak tahu, berapa manusia Indonesia yang bisa membandingkan keadaan pasca Orde Reformasi, dengan saat Orde Lama, maupun Orde Baru memang peran administrasi negara, apa itu ? Ya, kebebasan.. Kenapa kebebasan ? Amartya Sen mengatakan bahwa kemiskinan harus dipandang dalam konsep kapabilitas. Kapabilitas merefleksikan kebebasan yang memungkinkan orang untuk menjalankan pelbagai fungsi dalam hidupnya (functionings). Orang menjadi miskin karena ruang kapabilitas mereka kecil, bukan karena mereka tidak memiliki barang. Dengan kata lain orang menjadi miskin karena mereka tidak bisa melakukan sesuatu, bukan karena mereka tidak memiliki sesuatu. Implikasinya: kesejahteraan tercipta bukan karena barang yang kita miliki, tetapi karena aktifitas yang memungkinkan kita memiliki barang tersebut. Itu sebabnya peran dari kebebasan menjadi begitu penting. Kebebasan adalah syarat utama dari dimungkinkannnya sebuah tindakan untuk memiliki sesuatu.

Yah, kalau masih pada kaget dengan suasana “kebebasan” ini, wajar sih, asal tidak terlalu lama. Ada negatifnya, misalnya yang dulu tidak bisa korupsi, sekarang bisa bebas korupsi. Efek positifnya, kita juga bisa bebas menunjukkan sikap dan mendukung segala upaya menentang korupsi, ada adu kekuatan yang lebih transparan. Menurut saya, akan ada titik kulminasi kebosanan ( semoga saja). Sampai kita secara bijak, mampu memanfaatkan kebebasan ini untuk bertindak lebih, menciptakan peluang.

Itu saja, ini cuma tulisan ringan kok, iseng, karena nggak bisa tidur. 45 menit buat bikin tulisan, biar capek…..Selamat Ramadhan, buat yang merayakan, dan selamat mingguan, buat yang tidak merayakan, pokoknya selamat buat semua ya… Damai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 25, 2011 by in Concept and tagged .
%d bloggers like this: