Usual Storyline

oeuvre

Ekonomi Makro dan Entrepreneurship

Terinspirasi kembali oleh karya klasik Yoshihara Kunio, The Rise of Ersatz Capitalism in Southeast Asia ( 1988), saya berusaha untuk mencari interkoneksi antara kondisi ekonomi makro yang nampak dinamis dan canggih di media ( namun sulit dimengerti oleh awam yang telanjur terkesima dengan penjelasan penuh istilah keren a la akuntansi  ), dengan posisi saya sebagai pelaku ekonomi mikro serta gembar- gembor soal “kebangkitan ekonomi” Indonesia 2030 ( mencari tahu, apakah ini optimisme realistik atau optimisme platonik).

Secara singkat, Yoshihara berpendapat bahwa kapitalisme Asia Tenggara menjadi ersatz karena dua hal, pertama; Campur tangan pemerintah terlalu banyak, sehingga mengganggu prinsip kompetisi pasar. Belum lagi sebenarnya banyak pihak di dalam pemerintahan yang main di dua kaki, bisnis dan politik, atau saudara seiblis-nya, bisnis dan militer. Kedua hal ini menimbulkan jamur beracun bernama pemburu rente ( dan KKN tentunya).

Bagi Anda yang suka dengan buku investigatif, tentu paham bagaimana detail berjalannya Pertamina di bawah Ibnu Sutowo,atau monopoli terigu Bogasari- Indofood yang nampak gagah tapi bikin miris itu. Hal ini membentuk budaya yang mematikan wirausahawan sejati, yang sebenarnya terbentuk dari bibit persamaan kesempatan untuk berusaha.

Yang kedua; kapitalisme di Indonesia ( Asia Tenggara) tidak didasarkan pada perkembangan teknologi yang memadai, akibatnya, sampai sekarang kita merasakan bahwa industrialisasi yang mandiri itu tak pernah tumbuh. Kapitalisme di Asia Tenggara dominan di bidang jasa, kalaupun di bidang industri, dia hanya bergerak sebagai “kapitalisme komprador” yaitu bertindak sebagai agen industri manufaktur asing di negerinya sendiri ( faktor murahnya manpower berkemampuan teknis tinggi). Padahal untuk membangun kemandirian ekonomi, maka industri yang berbasis kreasi  teknologi khas- budaya masyarakat ( yang paling tahu target dan kebutuhannya), adalah sangat penting. [ Jadi, Anda jangan berharap pada kami yang digodok di institut teknologi untuk mampu menjadi motor lahirnya industri berbasis teknologi-yang bisa memberi nilai tambah ekonomi buat faktor produksi di Indonesia- kenapa ? Sejak semula didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, institut ini memang dimaksudkan untuk menyuplai  tenaga ahli teknis murah bagi perusahaan Belanda dari kalangan pribumi. Menilik cerita Bernard HM Vlekke, saya mulai tersadar nampaknya keadaaan itu tidak berubah hingga sekarang, kami dengan bangga hati dan bersemangat tinggi menjadi bagian dari  para “komprador” *]

Memetik pendapat dari Noam Chomsky, bahwa Asia Tenggara secara defaultnya adalah penghasil bahan baku, dan port-nya adalah Singapura. Sekali lagi, kalau mengingat kembali memori sejarah, bukankah Portugis dan Belanda dulu sempat- sempatnya mampir ke sini memang karena kita “kaya” bahan baku ? Kalau tidak “kaya”, lalu apa yang membuat nusantara layak untuk diajak “berdagang” ( baca : dijajah) oleh perusahaan multinasional bernama VOC ? Dan kesadaran bahwa yang berdagang ( baca : menjajah) nusantara itu adalah sebuah perusahaan quasi militer ( baca : kongsi dagang yang dillindungi tentara) pun, jarang sekali yang menyadari*. Artinya, jika sampai sekarang ekspor Indonesia masih di sekitaran bahan baku ( misal : sawit, batubara, tembaga, atau emas-nya Freeport), menurut hemat saya, tidak ada perubahan signifikan .Industri kita mengalami stagnasi selama 30 tahun terakhir. Jika pemahaman yang dimaksud dalam konsep industri adalah kontribusinya pada pemasukan negara, ditinjau dari proporsi industri terhadap pertanian, maka sudah signifikan.

Tapi, jika mengacu pada pandangan industri kontemporer, kita jauh panggang dari api. Karena yang dimaksud dengan industrialisasi adalah pendalaman industri. Kemajuan pendalaman industri ini terlihat dari gradasi peningkatan teknologi proses dan nilai tambah terhadap bahan baku asal ( faktor produksi). Kita tidak bisa stagnan bergantung pada industri berbasis low technology yang nilai tambahnya rendah sekali. Banyak industri kita terjebak pada budaya merakit ( assembling). Saya mencoba untuk menengok ke tetangga, siapa tahu ada yang bisa kita pelajari, yaitu Korea Selatan. Setiap sepuluh tahun pada mereka terjadi perubahan pengembangan industri.

Selalu ada yang bisa diunggulkan, misalkan pada 1960-an, mereka unggul pada ekspor raw silk. Bertahap pada 1970-an ke wigs, ships pada 1980-an, leather goods pada 1990-an, dan pada 200-an sampai dengan sekarang pengembangan automobiles. Kunci dari pendalaman industri adalah pada kekuatan perbaikan terus menerus ( Continues Improvement), yang tentunya bertumpu pada riset dan pengembangan.

Prof Michael Porter membagi tahapan industrialisasi menjadi tiga, yaitu tahap factor driven (digerakkan oleh ketersediaan faktor produksi) didalamnya adalah : Angola, Bolivia, dan India; tahap investment driven (didorong oleh kekuatan investasi) terdapat : Brasil, Afrika Selatan, dan Rusia dan tahap innovation driven (dimotori kemampuan inovasi) didalamnya : Israel, Jepang, Jerman, dan AS.

Pada awalnya,industrialisasi lebih mengandalkan pada upah buruh rendah dan ketersediaan sumber daya yang berlimpah. Setelah itu laju industrialisasi lebih ditentukan oleh faktor investasi. Itu sebabnya, persaingan antarnegara berkembang yang paling menonjol saat ini adalah persaingan untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif agar para investor dapat bergerak leluasa di negara-negara tersebut. Bermacam cara dilakukan, dari deregulasi sampai pemberian insentif besar-besaran. Tak ada negara yang mau ketinggalan dalam perlombaan memberi kemudahan dan kenyamanan untuk investasi ini.

Negara yang peraturannya berbelit- belit, birokrasinya ruwet, korupsinya meluas, kualitas sumber daya manusianya rendah, dan infrastruktur bisnisnya parah, tak akan banyak menarik investor. Yang akan terjadi adalah lingkaran setan (vicious circle) ekonomi biaya tinggi.Investor akan memilih negara lain sebagai basis produksinya. Lalu, apakah jika investasi asing masuk dalam jumlah besar maka Indonesia layak masuk kategori tahap ketiga ? Belum tentu, kondisi pemain pasar uang di Indonesia masih didominasi oleh asing, berkisar antara 60- 70 %. Hal tersebut menyebabkan kondisi ekonomi kita masih sangat terpengaruh oleh asing. Arus uang masuk ke Indonesia sifatnya hanya untuk mencari keuntungan ( gain) sementara, sehingga tidak masuk menjadi modal permanen bagi pembangunan Indonesia.

Saya cenderung kepada pembangunan bertahap, transformasi progresif ini harus ada dan terjadi, mulai dari yang kecil namun masif -melibatkan semua pihak- dan mulai dari sekarang tentunya. Bukan hanya pemerintah saja yang bisa diharapkan ( kali ini saya berpikir positif semoga pemerintah benar- benar bisa dikasih harapan), tapi semua pihak masyarakat. Ada data yang menarik, korelasi positif antara indeks entrepreneurship ( kewirausahaan) dengan peningkatan positif pendapatan perkapita. Tapi kewirausahaan macam mana yang berpengaruh positif terhadap pendapatan perkapita negara ? Dalam hal ini, fokusnya sekali lagi pada Opportunity Based Entrepreneurship ( kewirausahaan karena tersedianya peluang untuk menjadi pemain pasar). Untuk negara semacam Indonesia, maka ada beberapa prasyarat utama yang harus ada, yaitu efisiensi institusi negara ( birokrasi), pemerataan infrastruktur, stabilitas makroekonomi, dan pemerataan kualitas pendidikan serta kesehatan. Jika selama ini banyak ahli di media yang berkoar untuk mencontoh apa yang telah dihasilkan oleh Jepang, Jerman, atau AS, maka itu adalah tahapan berikutnya, yaitu peningkatan kualitas pendidikan tinggi, efisiensi pasar, efisiensi pasar tenaga kerja, kesiapan untuk melakukan adopsi dan akulturasi ( baca : pencurian) teknologi, serta ukuran pasar lokal ( untuk yang terakhir ini, Indonesia sangat potensial).

Seperti kata George Orwell, ” Ignorance is Bliss”, yup, bermimpi dan menancapkan target memang indah dan puitis, namun hidup nyatanya adalah prosa, bukan puisi. Ketika ditargetkan bahwa Indonesia akan “sejajar” dengan Brasil, Cina, dan India, bahkan mengalahkan AS dan Jepang di suatu masa, maka mari kita lihat detailnya, dimana posisi kita sekarang dan seberapa jauh posisi ini terhadap target yang akan kita raih.

Saya suka ketika ada tokoh yang dengan optimis mengungkapkan optimisme Indonesia 2020 atau 2030 yang akan jadi raja dunia, namun saya kembali ragu karena yang dijadikan parameter adalah indikator ekonomi makro, lalu lupa menjelaskan proses- proses ekonomi mikro yang menunjang keberlangsungan aktivitas ekonomi jangka panjangnya, kali ini saya sepakat dengan Nassem Nicholas Thaleb, ” Jangan percaya dengan peramal tren ekonomi, mereka pembual “. Dari penjelasan Global Entrepreneurship Monitor saya bisa ambil kesimpulan, bahwa manusia adalah aset ekonomi terbesar suatu negara, dan kunci untuk membangun aset adalah pada kualitas pendidikan. Kekuatan ekonomi makro ditunjang oleh solidnya ekonomi mikro, yaitu perusahaan- perusahaan yang dikendalikan oleh manusia berpengetahuan.

Saya pribadi berharap kepada kawan- kawan pemenang atau nominator kompetisi bisnis anak muda semacam Shell LiveWire, Wirausaha Muda Mandiri, Telkom Indigo, dan macam- macam kompetisi wirausaha muda lain untuk tetap solid dan teguh membangun ide inovasi bisnis berkarakter khas, melakukan perbaikan berkelanjutan terus menerus ( Continues Improvement- KAIZEN; Edward Deming), pertumbuhan berkelanjutan ( Sustainable Growth; Januar Darwaman, PhD), dan berharap banyak beberapa dekade lagi ( 10 tahun lagi 2020, 20 tahun lagi 2030, mari kita hitung mundur) kemandirian ekonomi Indonesia menjadi terwujud riil, bukan ersatz lagi. Kali ini saya mulai memahami nasehat kakek saya, ” Alon alon waton kelakon, sing temen bakal tinemu ( Pelan pelan asalkan terwujud, siapa yang bersungguh- sungguh akan menemukan kesuksesan)”. Masih banyak kerja yang harus dilaksanakan, jika memang target kemandirian ekonomi tersebut mau dijadikan optimisme realistik, ya manjadda wa jada !

Terinspirasi oleh :

Kapitalisme, Noam Chomsky
Black Swan, Nassem Nicholas Taleb
Nusantara, Bernard HM Vlekke
The Rise of Ersatz Capitalism in South East Asia, Yoshihara Kunio
Global Entrepreneurship Monitor Review 2008, GEM
Koran Republika 12 Oktober 2009
Global Entrepreneurship Index, Jena Economic Research Paper 2009 ( Grafik diambil dari salah satu halaman paper ini)

* Vlekke menulis bahwa Kerajaan Belanda belajar dari kegagalan imperium politik Portugis dan Spanyol yang justru kesusahan untuk mengatur besarnya wilayah politik. Kerajaan Britania Raya dan Kerajaan Belanda justru membangun imperium ekonomi dengan perusahaan multinasional EIC ( East India Company) dan VOC ( Vereenigde Oost Indische Compagnie) untuk membangun imperium ekonomi. VOC sendiri hancur karena korupsi di dalamnya. Modus operandi ini masih berlangsung sampai sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 6, 2011 by in Concept and tagged , .
%d bloggers like this: