Usual Storyline

oeuvre

Pramuka !

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Tidak berguna, bubarkan saja
Diganti Menwa, ya sama saja..
Lebih baik diganti Pramuka..

( Plesetan Mars ABRI, mars demonstran 1998)

img_0734-edit

Lima Elang

Pramuka ya ? Apa yang terbayang di kamu ? Kotor, dekil, tidak canggih, murahan,  kurang kerjaan, membosankan, udik, kekanak- kanakan, tidak berasa urban, kuno, bau badan apek, seragam cokelat kucel, kulit legam dijemur , tenda kumal, masakan campur aduk, ceria berlebihan, tidak higienis, korsa absurd, sampai berasa militeristik.

Itu lazim, saya sendiri kurang tahu, apakah saat ini yang namanya gerakan kepanduan Indonesia ( Pramuka), masih diminati oleh adik- adik saya di sekolahnya. Yang pasti, Pramuka memberikan pembelajaran penting, momen indah, dan kesan yang mendalam buat saya pribadi. Tahapan Siaga dan Penggalang terutama, karena pasca itu, saya tidak mau aktif lagi di Pramuka, ada pilihan lain yang lebih menarik.

Substansi epistemologis kepramukaan ini adalah pada fungsi pemandu ( Scout), yang juga menjadi fungsi dasar kemiliteran, serta pendidikan dasar bela negara untuk kalangan sipil. Kemampuan bertahan hidup di alam liar, membaca peta dan menentukan posisi, mencari jejak layaknya pemburu, berkomunikasi dengan kode- kode sandi, membuat peralatan darurat siap pakai ( dan siap bongkar), menerjemahkan tanda alam, solidaritas kelompok, disiplin komunitas, serta rasa keriangan untuk menjaga lingkungan sekitar. Lord Baden Powell yang memulai gerakan kepanduan ini di Inggris, untuk kalangan pelajar sekolah dasar dan menengah, sedang di Indonesia, dibawa oleh Sneevliet ( Hindia Belanda waktu itu).

Pada Orde Baru, Presiden Soeharto nampak sangat peduli dengan Gerakan Pramuka. Pramuka menjadi bagian ekstrakurikuler wajib pendamping kegiatan akademik sekolah, momen pertemuan dan kompetisi juga terselenggara rutin lokal, nasional, bahkan internasional. Adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami, waktu itu, untuk bisa mengikuti momen pertemuan antar Pramuka, semacam Jambore Daerah, atau Jambore Nasional. Akan tetapi, waktu itu, saya tidak berkesempatan mengikuti Jambore, melainkan Lomba Tingkat. Jika Jambore adalah momen pesta dan keceriaan, maka Lomba Tingkat ini adalah momen kompetisi dan sangat serius. Lomba Tingkat juga berjenjang, dari Lomba Tingkat 1 di sekolah, sampai Lomba Tingkat 5 di nasional. Regu tergiat ( terbaik) Lomba Tingkat 5 dipastikan mewakili Indonesia mengikuti Jambore Kepanduan Internasional.

Saya ingat, waktu itu satu regu terdiri dari sepuluh personel. Kita berkemah dalam satu kawasan luas bersama dengan puluhan regu lain. Ada tenda utama, tenda pendukung, dan tenda tamu dalam satu wilayah regu. Lomba Tingkat berlangsung selama 7 hari penuh, dan sistem penilaian berlangsung 24 jam. Kita harus siap dengan berbagai bentuk kompetisi, mulai baris berbaris, mencari jejak, semaphore ( kode bendera untuk kapal laut), morse tengah malam, jurit malam, tali temali, memecahkan sandi, halang rintang ala militer, keterampilan panorama, elektronika dasar, sampai pertunjukan seni di acara api unggun bersama. Kegiatan selalu dimulai apel tiap pagi, dan tiap malam kami harus bergiliran jaga, karena bisa jadi ada panggilan peluit untuk morse suara di tengah malam, untuk petunjuk kegiatan esok, kalau ketiduran, bahaya.

Kami harus memasak sendiri, jangan bayangkan soal rasa, bagi kami saat itu, rasa lapar dan capek membuat nasi tidak matang jadi enaknya bukan main. Kami harus siaga terus, jadi 7 hari tidak mandi, kalau sempat ganti celana dalam, itu juga sudah beruntung ( seringnya sih dibolak- balik, side a- side b, tolong jangan dibayangkan ya !). Belum urusan MCK yang serba darurat, untung ada sungai dekat area perkemahan. Keadaan itu sangat beralasan membuat orang sakit, diare misalnya, dan kalau ada yang sakit, kita akan semakin runyam lagi. Rasanya, daya tahan tubuh kita berlipat luar biasa waktu itu.  Mau tidak mau, di tengah kompetisi yang menuntut kerja tim seefisien dan efektif mungkin, kita harus bisa berbagi, saling menjaga kawan, melaksanakan semua tugas secara mandiri, tidak merepotkan sesama anggota regu ( karena semua repot), saling dukung, dan berusaha memperkecil potensi konflik. Usia kita 13 tahun waktu itu, saya masih ingat.

Disadari atau tidak, dari momen itulah saya belajar banyak makna potensi diri, karakter pribadi, persahabatan, komitmen, kemandirian, kerja sama, dan menghargai alam dalam urusan bertahan untuk tetap hidup, berikut mengetahui potensinya dan menjaganya, tanpa banyak teori atau slogan kosong. Kita langsung berada di tempat dan waktu yang tepat.

Sangat membekas karena usia saat itu 7- 14 tahun ( Siaga- Penggalang), kepramukaan lebih pada tataran praktek lapangan, bertepatan dengan usia psikologis akhir masa kanak- kanak, dan awal usia remaja, potensial untuk dibentuk fungsi kognitif, afektif, dan psikomotoriknya. Pasca 15 tahun, remaja mulai merasa bisa semua, egosentris, jika sudah merasakan nuansa egaliter ala Pramuka, maka ada ruang toleransi dan solidaritas sesama di dalam dirinya.

Ngomong- ngomong, di tengah santer slogan tentang pendidikan karakter, apa kabar Pramuka hari ini ?

Gambar : Lima Elang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 25, 2011 by in Review and tagged , , , , , , .
%d bloggers like this: