Usual Storyline

oeuvre

Syukur

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”

( Q.S. Ibrahim; 7)

Syukur itu apa ? Atas dasar apa saya bersyukur ? Kalau semua, adalah karena hasil kerja keras, kejeniusan, visi saya, usaha saya, dan memang sudah saya rencanakan semuanya, apakah Tuhan ikut campur tangan di setiap proses itu ? Semua probabilitas memang sudah kita perhitungkan, kompetitor pun, bertekuk lutut mengakui kita, semua karena dedikasi, konsistensi, kekuatan kita, dan kompetitor terhebat pun, tidak dalam kondisinya yang terbaik, apa mau dikata ?

Saya adalah manusia terbodoh dan miskin, atas dasar apa saya bersyukur ? Saya akan bersyukur jika dan hanya jika doa saya terkabul. Saya kalah, terhina, dan  terus dikecewakan, kalaupun doa, saya tidak merasa akan didengar, tidak terlintas di kepala saya, bersyukur, sedetikpun. Saya adalah orang hilang, dari kaum yang terbuang, saya bukan siapa- siapa, bahkan di keluarga sekalipun, bagian mana yang harus disyukuri ?

Jujur, dari sudut pandang pelaku, kecepatan komunikasi dan informasi, dari seluruh dunia, membuat kompetisi dan benturan, semakin tinggi intensitasnya. Gelora prestasi atas pencapaian, yang dilandasi motivasi personal atau kelompok, untuk selalu menjadi lebih baik, daripada hari kemarin, atau selalu menjadi paling unggul, dibanding para pesaing, membuat rasa senang, sekaligus capek berlebihan.Fluktuasi rasa ekstrem, antara menang dan kalah, membuat sebagian kalangan urban, mencari momen- momen kontemplatif, yang berasa spiritual komunal, maka tidak heran jika forum kajian yang berusaha mendekatkan personal dengan Tuhan, atau momen spiritual personal, semacam meditasi dan yoga, menjadi marak dan terlihat seksi. Momen- momen yang berasa menjadi tempat relaksasi, atau menemukan identitas diri, mengumpulkan tenaga kembali, untuk kembali terjun di medan pertarungan lagi, keesokan harinya.

Saya harus mengakui, bahwa variabel produktivitas, adalah parameter sakti bin seksi, yang menjadi salah satu penguat variabel profitabilitas. Inovasi teknologi menjadi sungguh teramat keren, fasilitas semua seolah memanjakan konsumen, manusia berusaha membuat semua hal dapat dipastikan sedetailnya, berikut membuat peradaban manusia menjadi semakin produktif, dalam menghasilkan pencapaian baru, setiap sepersekian detiknya. Peradaban manusia berevolusi, transformasi sosial maju melesat.

Formulasi baru, pemodelan strategis, atau inovasi instrumen tercanggih, dibuat untuk mengakomodasi kemauan manusia, memastikan segala sesuatu, yang ada di luar dirinya, ataupun di dalam dirinya. Jika saya bedakan pada dua kategori besar peluang, yaitu “Ketidakpastian” dan “Resiko”. Maka manusia berusaha keras mendefinisikan semua komponen, merubah “Ketidakpastian” menjadi “Resiko”. “Ketidakpastian” tidak memiliki komponen elemen yang terdefinisikan, sedang “Resiko”, memiliki komponen elemen terdefinisikan, yang memudahkan proses pengambilan keputusan. Hidup manusia memang soal ketidakpastian, dan manusia,dengan fungsi kesadarannya, berusaha membuat ketidakpastian itu menjadi resiko, yang bisa dipilih opsi- opsinya.

Rasa syukur, yang seringkali didefinisikan sebagai :berterima kasih dan merasa berhutang budi kepada Allah atas karunia-Nya, bahagia atas karunia tersebut dan mencintai-Nya dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, seolah diasosiasikan bahwa ada variabel yang belum terkuantifikasi, yang turut mempengaruhi proses, yaitu campur tangan Allah, dalam pencapaian target. Di beberapa kalangan, mereka ogah mengasosiasikan variabel perhitungan dengan aspek transendental. Akan lebih terasa “bebas nilai”, jika mendefinisikannya dengan : faktor X, keberuntungan, atau limit mendekati 100%, tidak sampai 100%, cukup 99,99% sudah sepenuhnya “dikendalikan”.

Okelah, saya tidak ingin menghakimi siapapun, dengan label manusia syukur, atau kufur, karena sudut pandang manusia dipengaruhi oleh budaya, pengalaman, dan pengetahuan yang telah tersimpan di otaknya. Lagian, hidayah juga variabel yang diluar otoritas manusia, itu adalah urusan prerogratif Allah.

Kenapa ? Karena toh saat saya menuliskan ide ini pun, saya masih menghisap beberapa liter oksigen dengan nikmatnya, saraf simpatik dan parasimpatik saya bekerja lancar, fungsi hormonal juga nampak efektif, berikut pencahayaan matahari yang dipantulkan ke fungsi optik saya, fungsi organ kranial saya normal, memungkinkan saya untuk mengetik sekaligus membaca. Saya tidak tahu, harus kemana saya berterima kasih atas semua yang menunjang kehidupan saya, sebagai manusia, kecuali kepada yang Maha Menciptakan.

Bahkan, saat berusaha keras memvaluasi dan mengalkulasikan segala kemungkinan ke depan, manusia masih berada di dalam lapisan atmosfer, lingkup pengaruh gravitasi bumi, masih di lingkungan ekosistem biosfer, yang memang memungkinkan segala proses aktivitas kehidupan, bisa terjadi. Bahkan sepengetahuan saya, saat beberapa manusia mengaku tidak punya Tuhan, atau membunuh Tuhan, atau mengeluarkan aspek Tuhan, dalam setiap kesuksesan target, tidak serta merta juga terjadi penghentian suplai oksigen, atau suplai cahaya, atau pengusiran dari lingkup gravitasi Planet Bumi, ke manusia tersebut, ini fenomena yang menarik.

Terkadang, segala hasil observasi manusia, semenjak penemuan tulisan pertama kalinya, hingga detik ini, dalam bentuk konkret maupun abstrak, baik itu sains maupun teknik, membuat manusia merasa bahwa segala sesuatunya bisa dikendalikan dan dipastikan. Tapi, tetap, bahwa sebuah formulasi terbentuk karena inspirasi pemikiran, hasil dari observasi semesta. Dan ketika manusia yang terobsesi mengendalikan ketidakpastian merasa sudah selesai, disitulah titik dimana manusia akan punah.

Bersyukur adalah berterima kasih, atas segala sesuatu, baik itu yang kita definisikan sebagai baik atau buruk. Bersyukur adalah berterima kasih, atas segala hal yang sudah bisa kita definisikan, maupun belum bisa kita definisikan, dan sedang berusaha kita definisikan.

Bersyukur juga bukan berarti merasa puas, karena merasa puas adalah jebakan pertama yang membuat manusia malas bergerak membuat pencapaian.Ketika manusia merasa bahwa segala ketidakpastian telah diubah menjadi resiko, yang terlihat komponen- komponennya, maka perasan itu akan menggiring ke posisi celaka.

Bersyukur juga bukan hanya saat posisi kita sukses, karena saat kita di posisi yang paling bawah pun, bersyukur adalah sebuah aktivitas yang menyadarkan fungsi kesadaran kita, bahwa masih ada peluang untuk memperbaiki keadaan.

Bersyukur sebenarnya tidaklah butuh alasan yang spesifik, bersyukur menurut saya tidak mengenal motif, apalagi batasan ruang dan waktu.

Saya berucap syukur atas rasa syukur yang telah dianugerahkan oleh Allah, Alhamdulillahirabbil alamin…..

“Ini adalah anugerah dari Tuhanku, agar ia mencoba aku, apakah aku bersyukur ataukah aku kufur. Siapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur kepada dirinya sendiri, dan siapa yang kufur, sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya dan Maha Mulia.”

(QS. An Naml: 40)


-Ramadhan Moment-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 24, 2011 by in Philosophy and tagged .
%d bloggers like this: