Usual Storyline

oeuvre

Stockdale

“I never lost faith in the end of the story, I never doubted not only that I would get out, but also that I would prevail in the end and turn the experience into the defining event of my life, which, in retrospect, I would not trade.”

“Oh, that’s easy, the optimists. Oh, they were the ones who said, ‘We’re going to be out by Christmas.’ And Christmas would come, and Christmas would go. Then they’d say, ‘We’re going to be out by Easter.’ And Easter would come, and Easter would go. And then Thanksgiving, and then it would be Christmas again. And they died of a broken heart.”

“This is a very important lesson. You must never confuse faith that you will prevail in the end—which you can never afford to lose—with the discipline to confront the most brutal facts of your current reality, whatever they might be.”

Kolonel Stockdale, salah seorang veteran yang mampu bertahan hidup hingga saat ini, dia salah satu alumni sadisnya “Hotel Vietnam” hasil kreasi milisi Vietnam Selatan, Vietkong, dalam era Perang Vietnam yang tragis dan mengharukan itu.

Mungkin bagi Anda penggemar layar lebar pendeskripsi Perang Vietnam semacam Tour of Duty dan Platoon, akan menyimpan memori seputar penjara bagi tawanan tentara Amerika Serikat yang sial tertangkap. Salah satu yang masih saya ingat hingga saat ini, adalah penjara terbuka yang berada dalam rawa, dimana si tawanan yang sial itu tubuhnya sebagian tenggelam di air rawa berwarna lumpur, dia akan mati pelan karena tekanan psikis, kedinginan, kelaparan, atau menjadi salah satu aduan judi milisi Vietkong yang butuh hiburan sesaat, indah namun dramatis.

Dalam kondisi yang Stockdale sebutkan sebagai “Fakta Brutal” itu, memang hanya beberapa gelintir makhluk manusia yang mampu bertahan hidup. Dia akan meninggal cepat atau lamban, itu adalah pilihan umum di antara tawanan. Kalaupun ada peluang untuk terus hidup, maka itu adalah pilihan yang sangat bergantung pada diri pribadi masing- masing personal. Tekanan itu menyergap lebih cepat manakala menyaksikan teman di samping mereka yang satu persatu tewas dengan cara- cara yang sama sekali tidak menyenangkan. Menghadapi fakta brutal mengenai ketidakpastian kesempatan untuk hidup dan melihat matahari esok hari, menghadirkan siksaan psikis yang membunuh pelahan para prajurit sial itu, setidaknya harapan yang terbunuh adalah titik awal sebelum jiwanya benar- benar tewas, cepat atau lambat, entah kapan.Tewas karena kehilangan harapan untuk hidup

Beberapa jenis manusia mematikan rasa “Optimis” dengan kata “Realistis”. Ada semacam ketergelinciran logika definisi, bahwa realistis bukanlah antonim dari optimis. Realistis adalah antonim imajinatif dan optimis sendiri adalah lawan dari pesimis. Sadarkah pengucap dengan realitas relativitas waktu ? Bahwa ruang dan waktu adalah entitas relatif yang senantiasa berubah sesuai dengan titik acuan ukuran ? Keterselipan logika ini, mungkin tidak akan berpengaruh manakala masih pada ranah definisi kosakata. Hal ini akan menjadi problem kompleks, karena logika ini terselip dalam benak beberapa jenis manusia, yang mereka berinteraksi dan membentuk budaya pembunuh rasa optimis, menggunakan teriakan, ” Realistis dong !”.

Rasa optimis, yang berarti adanya semacam pengharapan perubahan keadaan menjadi lebih baik pada waktu- waktu mendatang, dengan tetap berpijak pada realitas saat ini, berikut memperhitungkan variabel yang kemungkinan akan terjadi, terkadang menjadi satu- satunya yang dimiliki oleh spesies manusia, untuk sekadar bertahan hidup. Stockdale adalah salah satunya. Dan, rasa itulah yang tidak setiap orang mampu untuk merasionalisasi apa dan kenapa bisa memiliki akibat timbulnya rasa itu ? Tanpa bisa menjelaskan sebabnya. Dalam beberapa literatur psikologi terdapat idiom Adversity Quotient- kemampuan mewujudkan ide menjadi realitas- dan Creativity – mewujudkan sesuatu ide dari abstrak menjadi konkret-. Kedua idiom tadi membutuhkan rasa kuat akan satu hal yang tidak semua manusia memiliki kekuatan rasa ini, yaitu optimisme.

Lalu, apakah bisa beralasan dengan realitas untuk menghabisi optimisme ? Bisa ! Dan, itulah yang menjadi pilihan mungkin sebagian besar makhluk manusia. Beralasan kondisi saat ini, untuk tidak melangkah menghampiri masa depannya.

Menghadapi fakta brutal semacam pengalaman Stockdale, sebenarnya bukanlah menghadapi fakta itu sendiri, melainkan melawan persepsi diri terhadap fakta brutal, yang terkadang jauh lebih kejam, dramatis, dan sadis dibandingkan fakta brutal sebenarnya. Fakta atau fiksi, persepsi kitalah yang menentukan respon terhadapnya. Pada hakekatnya, makhluk bernama manusia ini, harus melawan persepsi dirinya terhadap suatu fakta brutal, dengan menciptakan fakta- fakta baru abstrak yang harus dia gapai pada waktu yang akan datang, dengan rasa optimis dan usaha nyata, bahwa fakta- fakta abstrak di kepalanya- yang dia sebut dengan ide itu- akan menjadi konkret. Inilah yang disebut dengan ”Harapan”, salah sekian idiom terkejam yang saya miliki hingga saat ini.

Kata Tuhan, Dia tidak akan merubah keadaan suatu kelompok atau individu manusia, sebelum kelompok manusia atau suatu individu itu berusaha merubah persepsi mereka bahwa mereka punya kemampuan dan kemauan untuk berusaha berubah. Yah, itu kata Tuhan. Dia memberikan kebebasan bahkan hingga pada ranah perubahan keadaan, yang oleh beberapa manusia menyebutnya merubah takdir. Tetapi saya tidak tahu, apakah semua manusia tahu mengenai kabar yang Tuhan sampaikan ini. Metafora dalam wahyu-Nya memang membutuhkan refleksi substansi tindakan, bukan hanya simbolitas yang merepresentasikan persepsi sekelompok makhluk manusia.

Bahkan manusia pun, punya kebebasan penuh untuk mempertahankan optimisme, menghadapi fakta brutal untuk mewujudkan fakta abstrak dalam kepalanya, menjadi fakta konkret pada waktu yang berjalan, sesuai relativitasnya. Apakah manusia tahu itu ? Ah, memang sebenarnya manusia kan hanya makhluk sok tahu, kita tidak tahu apa- apa…Hanya yang Mahatahu yang tahu semuanya, makanya saya selalu minta Dia tunjukkan jalan, apapun itu, silakan menikmati realitas detik ini, dan optimis menghadapi keadaan yang akan berubah, 60 detik lagi.

Ah, Tuhan memang indah, realitas ruang dan waktu , hanya beberapa gelintir manusia yang memahami karya-Nya ini, itu relatif kawan! Hak manusia untuk membunuh harapan berikut menumbuhkan harapan pun, Dia juga membebaskan sepenuhnya.

Dan nikmat Tuhan manakah yang akan kau dustakan ?

Salah satu kenikmatan saya tahu, bahwa Tuhan membebaskan manusia buat memilih seluas- luasnya. Bahkan hak memilih untuk menjalani kehidupan itu atau membunuh kehidupannya sendiri. Keren memang…

“ Measure what is measurable, and make measurable what is not so”.
Galileo Galilei

“An optimist may see a light where there is none, but why must the pessimist always run to blow it out?”
Rene Descartes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 25, 2011 by in Philosophy and tagged .
%d bloggers like this: