Usual Storyline

oeuvre

Van Heutz

Johannes Baptista Van Heutz

Sosoknya tegap, berkepala botak, pandangan mata tajam, dan kumis melintang. Lelaki ini memainkan salah satu peranan penting dalam epik penuh pertumpahan darah, adu strategi, perjuangan harga diri, dan sikap kepahlawanan, yaitu Perang Aceh. Namanya Johannes Baptista Van Heutz, memori tentang jenderal gemilang ini terpatri kuat dalam memori rakyat Aceh dan kalangan militer Belanda , dalam sudut pandang yang bertolak belakang.

Tahun 1873, Pemerintah Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia sekarang, melancarkan perang terhadap negara merdeka dan berdaulat, Kesultanan Aceh. Serangan militer pertama pada April 1873, dipimpin Jenderal Kohler, berujung pada tewasnya sang jenderal, di area Masjid Baiturahman. Gelombang serangan berikutnya Desember 1873, berakibat Jenderal Van der Heyden kehilangan mata kirinya, kena tembak. Pemerintah Hindia Belanda nampaknya tidak boleh menyamakan Perang Aceh dengan Perang Diponegoro di Jawa atau Perang Paderi di Minangkabau , ada sesuatu yang menjadi inti kekuatan Kerajaan Aceh, mereka harus segera mencari tahu inti itu, dan menghancurkannya, kalau ingin memenangkan perang itu.

Kampanye perang dirancang ulang dengan perencanaan lebih dimatangkan. Jenderal Van Heutz bekerjasama dengan ilmuwan pakar keIslaman, Dr. Christiaan Snouck Hourgronje. Sarjana, pakar teologi dan bahasa semit Universitas Leiden ini pada 1885 belajar tentang orang- orang Islam Indonesia yang naik Haji, langsung di Mekah. Mengganti namanya menjadi Abdul Ghaffar, mengaku memeluk Islam. Dia menjadi penasehat khusus Jenderal Van Heutz pada 1896. Snouck fasih berbicara bahasa Aceh, Melayu, Jawa, dan dua belas bahasa lain.

Ada perbedaan mendasar antara Peradaban Aceh dengan Peradaban Jawa .Sejarah menunjukkan bahwa rakyat Aceh punya memori kolektif sebagai bangsa merdeka dan berdaulat di zaman sultan. Dalam sisi tata nilai, sistem organik masyarakat Aceh beradab dengan tata nilai Islami, bukan hanya untuk ritual atau simbol politis saja. Paparan nilai Islami lewat interaksi perdagangan dengan dunia internasional waktu itu- sejak abad 13 M sudah berdiri Samudera Pasai- membuat konstruksi tata nilai sistem organis masyarakat Aceh berbeda dengan sistem organis masyarakatJawa. Penetrasi nilai Islam di Jawa belum sampai memperadabkan masyarakatnya, cenderung kompromis dan sinkretis, nilainya bersifat simbolik dan ritual, tata nilai sistem organis masyarakatnya juga mencampurkan nilai Islami dengan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya. Akibat dari hal ini, salah satunya adalah karakter kepemimpinan orang Aceh cenderung lebih egaliter-kolektif, dibanding orang Jawa yang cenderung feodal- patriarkal. Kesultanan Aceh pernah pernah dipimpin empat ratu perempuan secara berurutan pada periode 1641- 1699* dan satu laksamana angkatan laut perempuan, Keumalahayati. Karakter masyarakat Aceh punya kemiripan dengan Minangkabau, dibandingkan dengan Jawa. Terbukti, Perang Jawa berhenti setelah pemimpin utamanya, Diponegoro, diasingkan.Sedangkan di Aceh, pergerakan mereka tidak pernah bergantung pada satu sosok individu, dan itu butuh pemetaan kekuatan lebih detail.

Snouck Hourgronje, yang sebelumnya sudah dikenal oleh banyak pemimpin Aceh dan mengenal peta simpul kekuatannya, menjelaskan bahwa ada tiga simpul utama, yaitu Sultan, ulama, dan hulubalang. Simpul sultan boleh dianggap sepi, simpul hulubalang yang feodal, bisa diajak bekerja sama, dan yang harus dipukul keras adalah simpul ulama, yang paling dipercaya masyarakat Aceh sekaligus ideolog perlawanan. Simpul ulama juga menjustifikasi Perang Aceh sebagai Perang Sabil ( konflik ideologi). Justifikasi ini membuat inti perlawanan menjadi lebih abstrak, masif, dan heroik, mereka berani mati untuk membela prinsip yang mereka yakini itu benar.

Van Heutz menerima saran Snouck, dia membentuk pasukan khusus gerilya, kumpulan serdadu pilihan orang Belanda, juga impor dari Jerman, Austria, serta orang lokal, serdadu Jawa dari Purworejo, karakter ulet orang Jawa, yang jarang mengeluh dibandingkan serdadu lokal Ambon, dianggap cocok menghadapi ketangguhan orang dan medan berat Aceh. Pasukan ini bernama Marechaussee ( Marsose), dalam kelompok kecil gerilya jalan kaki, senjata lengkap, berkarakter pemberani- petarung agresif, dan tingkat mobilitas tinggi. Medan perang yang dihadapi mulai dataran sampai pegunungan.

Dalam perkembangannya, 1899, Van Heutz dan serdadu marsose-nya membunuh pemimpin perlawanan berpengaruh kuat, Teuku Umar, di tepi pantai. Perlawanan lanjutan dipimpin Cut Nyak Dien, jandanya. 4 November 1905, Cut Nyak Dien disergap pasukan Letnan Van Vuuren. Perlawanan pasangan lelaki hebat dan perempuan tangguh itu berpusat di Takengon dan Gayo. 1910, pasukan marsose pimpinan Mayor Christoffel membunuh Pang Nanggu, perlawanan lanjutan dipimpin jandanya, Cut Meutia, sampai 24 Oktober 1941. Cut Meutia tewas dalam kontak senjata dengan pasukan marsose pimpinan Sersan Mosselman di Alue Kuning. 1904, Sultan Aceh terakhir, Muhammad Daud Syah menyatakan diri menyerah. Tetapi perlawanan rakyat Aceh ternyata tidak berhenti walaupun sultannya menyerah. Tahun 1909, Letnan H.J Schmidt diperintahkan melenyapkan simpul ulama ( para Tengku) yang masih melawan dan bertahan di Pegunungan Tangse. Mei 1910 ia menemukan persembunyian klan Tengku Di Tiro, penyergapan menewaskan sejumlah besar anggota klan Di Tiro, tapi tidak semua. 1911, sisa klan Di Tiro ditemukan persembunyiannya, semua lelaki keturunan klan Di Tiro dihabisi, kecuali seorang anak laki- laki enam tahun, dan bayi lima bulan.

Perang Aceh ini menjadi perang paling berdarah yang pernah dialami Pemerintah Hindia Belanda, tercatat 70.000 orang, atau seperempat penduduk Aceh terbunuh. Di pihak Hindia Belanda, 35.000 serdadu – bule maupun lokal- tewas. Menderita luka- luka satu juta orang keseluruhan. Perang Aceh juga menghancurkan kewarasan, banyak orang Aceh sampai depresi dan gila. Tercatat, sekitar 1.000 orang gila berat. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan rumah sakit jiwa terbesar seantero negeri, di Pulau Sabang.

Jenderal Johannes Baptista van Heutz menerima banyak penghargaan tinggi atas keberhasilannya memadamkan Perang Aceh. Dia diangkat menjadi pemimpin tertinggi Hindia Belanda oleh Kerajaan Belanda, sebagai gubernur jenderal setelah turunnya William Rooseboom pada 1904.

Dr. Christiaan Snouck Hourgronje, yang sebelumnya bersahabat dekat, kecewa dengan langkah yang diambil Van Heutz berdasarkan dari hasil investigasinya. Snouck sebenarnya lebih cenderung ke metode asosiasi, daripada konfrontasi militer. 1906 dia kembali ke Belanda dan menjadi profesor di almamaternya, Universitas Leiden. Dia menyerukan reformasi kebijakan Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, terutama pada kebebasan hak pribumi, namun tak pernah didengar. Snouck pernah menetap di Garut, dan menikahi perempuan Sunda, keturunan Snouck kemungkinan besar masih ada.

Marsose menjadi cikal bakal korps polisi militer Kerajaan Belanda, hingga saat ini. Dan nama Van Heutz diabadikan dalam salah satu satuan militer Kerajaan Belanda, bernama Resimen Van Heutz.

Sementara, kisah tentang Aceh masih terus berlanjut sampai tahun 2010 ini, dalam simpul- simpul penuh epik kepahlawanan, diwarnai tema kepercayaan dan pengkhianatan, pembangunan dan pemiskinan, penindasan dan kesalahpahaman, serta bencana alam yang justru membuka kembali pintu persahabatan.

3 Juni 2010 kemarin, Hasan Di Tiro, Sang Wali pemimpin Gerakan Aceh Merdeka, yang sebelumnya menggerakkan perlawanan kepada pemerintah Republik Indonesia, meninggal di Banda Aceh. Dalam status yang dia sendiri mengajukan, sebagai Warga Negara Indonesia.

Terinspirasi oleh :
Bernard H M Vlekke, Nusantara
Rosihan Anwar, Sejarah Kecil Indonesia
Ismail Sofyan, Prominent Women in the Glimpse of History
Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah

* Empat Sultanah Kerajaan Aceh
1. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675).
2. Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)
3. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)
4. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 25, 2011 by in Review and tagged , .
%d bloggers like this: