Usual Storyline

oeuvre

Siang Hwee

Triad

Migrasi sudah lazim dijalankan komunitas manusia, sejak awal munculnya jenis kita di Planet Bumi. Diawali dari keluarnya nenek moyang pertama manusia modern keluar dari Benua Afrika, menuju benua di sekitarnya, memenuhi hasrat keingintahuan, atau sekedar bertahan untuk tetap hidup, mencegah kepunahan spesies.

Kalaupun kemudian hari muncul batasan- batasan abstrak, semacam kerajaan dan nasion ( kebangsaan), maka itu adalah salah dua bentuk transformasi sosial, modusnya evolutif lebih sering revolutif, upaya sekumpulan manusia untuk menegaskan identitas ras, atau sukunya, atas sejengkal tanah wilayah. Juga antitesis dari upaya sekelompok manusia untuk menguasai kelompok manusia lain, atas nama egosentrisme dan berujung monopoli pasar tentunya. Migrasi diikuti adaptasi, asimilasi, kohabitasi, dan hibridisasi, beberapa konflik terjadi, rekonsiliasi menjadi solusi, dan seterusnya.

Migrasi kelompok manusia berkulit kuning langsat bermata sipit, dari Kekaisaran Tiongkok, menuju Kepulauan Nusantara, yang dihuni mayoritas manusia berkulit sawo matang bermata lebar, tercatat terjadi besar- besaran pertama (1860- 1890) berjumlah 318.000 orang, 40% mendarat di Pulau Jawa, dan 60% di pulau lain, terutama pesisir Timur Sumatera, Bangka dan Belitung.

Apakah sudah ada manusia berkulit kuning bermata sipit sebelum migrasi ini ? Tentu. Bahkan jumlah hasil hibridisasi antara kulit sawo matang dan kulit kuning langsat ( peranakan) berbanding 60: 40 dengan manusia yang baru datang kemudian dari Tiongkok ( totok). Manusia berkulit kuning bermata sipit ini tidaklah homogen, walaupun untuk awam terlihat susah dibedakan. Marga Hokkien, yang datang lebih dulu, jumlahnya terbesar, kebanyakan peranakan di Pulau Jawa bermarga ini.

Abad ke-19 migrasi besar- besaran berikutnya adalah Marga Hakka, Kanton, Teochew, dan yang paling akhir, Hokchia, mereka berbeda dialek, sangat heterogen. Urutan migrasi mempengaruhi cara beradaptasi dengan penduduk sebelumnya, berikut model bangunan bisnis yang dibangun di Kepulauan Nusantara, yang kala itu bernama Hindia Belanda. Peranakan, yang mayoritas Hokkien, lebih suka berusaha dengan kekuatan sendiri, menjadi pebisnis. Sedangkan totok, karena tidak punya modal cukup dan masih harus meraih kepercayaan, memilih menjadi pegawai negeri Hindia Belanda, atau orang upahan.

Waktu berlalu, dan dalam perkembangannya, bisnis Marga Hokkien cenderung memainkan peranan penting dalam perdagangan hasil bumi di kota- kota besar, ini membutuhkan modal paling besar. Orang Hakka, kebanyakan memainkan peran distribusi, menjadi pemilik toko dan warung eceran, butuh modal lebih kecil. Posisi ekonomi Kelompok Hakka lebih rendah daripada Hokkien pada umumnya di Pulau Jawa.Kelompok besar migrasi paling akhir, Marga Hokchia, segera membentuk posisi kuat, dengan pilihan yang lebih sedikit, kebanyakan terjun di bidang kredit, terutama untuk agrobisnis.

Konsentrasi Hokkien cenderung terpusat di area urban ( perkotaan) Pulau Jawa dan Sumatra. Migrasi berikutnya membuat persebaran konsentrasi sedikit berubah, untuk Pulau Jawa, 30% terkonsentrasi di kota besar, 30% kota sekunder, dan 40% di pedesaan. Menariknya, di Pulau Sumatera dan Kalimantan, 70% konsentrasi justru di area pedesaan. Tahun 1900, kaum peranakan dan totok membentuk lembaga terpusat, Tiong Hua Hui Koan ( THHK), untuk meruntuhkan dinding pemisah antara mereka sendiri, serta antar dialek.

Dalam area persebarannya, Kelompok Tiong Hua mendiami kota besar sebagai pusat aktivitas bisnis, Semarang, Batavia, dan Surabaya di Jawa, serta Medan dan Palembang, untuk Sumatera. Kota sekunder lain dihuni konsentrasi dengan tingkat ekonomi lebih rendah adalah Solo, Jogjakarta, Bandung, lalu Makasar di Sulawesi dan Pontianak di Kalimantan. Konsentrasi terus terdistribusi di daerah- daerah di sekitarnya. Ketika tingkat kemampuan meningkat, cenderung terjadi urbanisasi. Apakah terjadi hibridisasi ? Tentu. Perkawinan antara manusia berkulit kuning bermata sipit dengan manusia berkulit sawo matang bermata lebar, banyak terjadi, menghasilkan hibrid manusia berkulit sawo matang bermata sipit, berkulit kuning langsat bermata lebar, dan segala bentuk modifikasi morfologi lain.

Situasi politik sejak 1900 sampai 1950 di Kepulauan Nusantara terus berubah, dimulai dari Pemerintahan Hindia Belanda di bawah Kerajaan Belanda, invasi oleh Kekaisaran Jepang, hingga revolusi kemerdekaan dan lahirnya Republik Indonesia di Kepulauan Nusantara. Bahkan, jika boleh dilanjutkan lagi, sejak 1950 sampai 2010 pun, situasi politik di Republik Indonesia, yang berkomitmen membangun negara atas dasar kesamaan tujuan ini, bukan berdasar pada kesamaan ras atau suku, bergolak hingga setidaknya tiga kali perubahan besar, Pemerintahan Orde Lama yang suka bergelut mencari bentuk ideal , Pemerintahan Orde Baru yang suka sekali membangun dengan modal pinjaman, kemudian berganti Pemerintahan Orde Reformasi yang sedang berusaha mencari identitas di tengah arus globalisasi. Di setiap periode rezim, selalu ada kelompok manusia yang mendukung dan menentang, apakah dia berkulit kuning bermata sipit, ataupun berkulit sawo matang bermata lebar. Bentrokan horizontal di masyarakat dalam setiap periode bisa terjadi, dan sengaja disulut, dengan motif apapun bisa, sentimen ras, kepercayaan transenden, hingga yang paling lazim terjadi, kesenjangan ekonomi.

Jika memang manusia yang menghuni Kepulauan Nusantara ini bersepakat untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia, maka komitmen awal dahulu untuk membangun sebuah negara persatuan, bukan penyatuan, harus selalu dibangunkan, di setiap generasi yang baru lahir, yang menggantikan generasi tua sebelumnya. Apakah dia berkulit sawo matang bermata lebar, atau berkulit kuning bermata sipit, tentunya pilihan sejak lahir itu bukanlah halangan untuk membangun kedewasaan bernegara bukan ?

Oh iya, ngomong- ngomong, belum membahas kelompok manusia berkulit hitam bermata cerah di pojok timur nusantara, mereka juga warga negara Republik Indonesia lho.Tanah mereka yang bergunung emas, digali terus menerus oleh perusahaan milik manusia berkulit pucat bermata biru. Kelompok manusia yang dipercaya memerintah, sebagian kecil yang dipercaya untuk memegang senjata, serta beberapa manusia cerdas yang diupahnya, kebanjiran sedikit bagian dolar hasil penjualan gunung emas, merasa sudah cukup lebih kaya. Tidak adil ? Ah, itu kan bagi orang yang tahu. Beruntunglah, masih banyak yang enggan mengumpulkan pengetahuan. Percayalah, keengganan belajar pengetahuan adalah anugerah, bagi sekelompok manusia yang ingin tetap mempertahankan penguasaan atas manusia lain.

Inspirasi :

1. Imagined Community, Benedict Anderson

2. Out of Africa Theory

3. Selfish Meme, Richard Dawkins

4. Hoa Kiau di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer

5. Animal Farm, George Orwell

Literasi :

Chinese Business Elite in Indonesia and the Transition to Independence 1940- 1950, Twang Peck Yang. National University of Singapore, Singapura.

Referensi Literasi :

1. Lea E. Williams, Overseas Chinese Nationalism: The Genesis of the Pan- Chinese Movement in Indonesia, 1900- 1916, Glencoe: Free Press, 1960, hlm. 9- 10, 11,

2. Cator, The Economic Position of The Chinese in The Nederland Indies, hlm. 112

3. Volkstelling 1930, Deel VII, Chineezen en andere Vreemde Oosteringen in Nederlandsche- Indie, Batavia. Departement van Ekonomische Zaken, 1935, hlm. 11

Keterangan :

Siang Hwee : Majelis dagang; Kamar dagang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 27, 2011 by in Review and tagged , .
%d bloggers like this: