Usual Storyline

oeuvre

Apocalypto

“A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within” ( Apocalypto, 2006)

vlcsnap-2013-05-27-19h23m39s205

Ciliwung Jakarta 1998

Tubuh manusia tersusun atas unsur- unsur kimia seperti hidrogen, karbon, oksigen, nitrogen, besi, dan banyak lagi, dalam keterkaitan amat kompleks.Dalam proses nukleosintesa global dan generiknya, alam semesta tidak memproduksi unsur- unsur kimia ini, kecuali beberapa inti atom hidrogen dan helium. Unsur- unsur kimia yang lebih berat, yang banyak kita perlukan, merupakan produk reaksi termonuklir dalam bintang- bintang yang prosesnya memakan waktu 10 miliar tahun, kala hidup khas untuk bintang.

Debu kosmik dan sejumlah besar meteor yang pernah jatuh atau melintas dekat Bumi telah memperkaya kandungan kimia di Bumi atau atmosfer, yang memungkinkan kelahiran makhluk hidup di Planet Bumi. Singkatnya, kita, manusia, berhubungan dekat dengan bintang karena setiap inti karbon yang menyusun tubuh manusia, pernah, di suatu masa yang lampau, ada dalam perut sebuah bintang. Kita dan bintang yang nun jauh di sana, hanya terpisah oleh waktu, dan berbagai proses astrofisika dan geofisika yang berjalan mengikuti panah waktu.Ukuran alam semesta yang amat besar ini terasa terlalu besar untuk kehidupan kita di Bumi.

Apapun tafsir para ahli kitab, tentang kalam yang diimani sebagai produk langsung pencipta semesta, maka berhati- hatilah menerjemahkan maksudNya. Konstruksi di semesta terlalu rumit, besar, dan kompleks, untuk ditafsirkan sekehendak “perasaan beriman” saja. Manusia di setiap zaman, selalu mengobservasi objek- objek semesta, dan menciptakan kreasi baru dalam rangka menunjang kehidupannya. Iman adalah urusan yang sangat personal, sedang institusi agama, adalah urusan yang komunal, dimana tata aturan baru diadakan, untuk mengatur komunitas tersebut. Akan sangat runyam urusan, kalau iman yang dikonstruksi personal, berkonflik dengan aturan komunitas agama, atau perintah petinggi agama, yang seringkali tercampur dengan urusan identitas kelompok, dan politik simbol komunitas, belum lagi urusan dengan politik pemerintah negara dengan aturan “agama resmi”nya, demi menjaga stabilitas.

Peradaban lahir salah satunya karena kompromi antar kelas sosial. Kelas sosial terbentuk bukan hanya karena distribusi ekonomi dan tingkat produktivitas, tetapi juga variasi tata nilai. Setiap kelas sosial memiliki tata nilai yang dijadikan pegangan hidup, masing- masing tata nilai memiliki kesamaan antar kelas sosial, dan juga berkonflik secara fundamental, antar kelas sosial. Untuk membangun kompromi, maka perlu dibangun irisan tata nilai yang dominan antar kelas sosial, dan sebaliknya, untuk menciptakan konflik, maka tinggal dibuka tata nilai yang berkonflik, picu dengan satu konflik lapangan, maka masing- masing pemicu akan mengajak saudara, teman, keluarganya, untuk saling bela, jadilah perang.

Masih ingat dengan penaklukan Perancis di kawasan Indocina, oleh militer Jepang ? Dengan kampanye perang psikologis, tanpa ada pertempuran bersenjata. Perang bersenjata sendiri adalah kasus khusus, berat di ongkos, menghilangkan nyawa, dan belum lagi urusan renovasi pasca perang, dan mengembalikan modal perang, mahal. Jika moral lawan bisa dilumpuhkan, pertempuran bersenjata sebaiknya dihindarkan, kuncinya adalah penguasaan informasi atas tata nilai komunitas lawan, dan menciptakan konflik internal, atau membuat ketakutan imajinatif secara kolektif.

Lalu, kalau di Indonesia ? Wilayah Indonesia seluas jarak London sampai Moskwa, Stockholm sampai Roma, dan sebagian terbesar terdiri dari lautan serta selat- selat, silakan Anda cek di peta dunia. Masing- masing wilayah, ada suku, masing- masing suku, ada agama, membentuk kelas sosial yang punya tata nilai khas. Di Sumatera, bermacam suku, mulai dari Aceh, Batak, Melayu, Tionghua, Jawa, Minang, itupun masing- masing masih bisa dipecah lagi, dan masing- masing pecahan punya tata nilai sendiri, belum di pulau lain. Kalau mau jujur, membangun konflik antar kelas, di wilayah Indonesia, relatif lebih mudah, dibanding membangun kesatuan. Tinggal pantik satu tema kecil, bisa itu kesukuan, agama, ras, atau adat ( tata nilai), disemburkan konflik mungil, disebarkan isu di media,  ditambah bensin dari pengamat sok tahu, yang tidak paham masalah lapangan, jadi deh konflik besar.

Dulu, yang menjadi keistimewaan pemerintahan Orde Baru, dengan Jenderal Soeharto sebagai ikon utama, adalah : stabilitas. Stabilitas masa Orde Baru, kuncinya di informasi dan kendali intelijen militer yang kuat. Anda masih ingat kuartet jenderal:  Yoga Sugama, Benny Moerdhani, Ali Moertopo, dan Sudomo ? Soeharto murah senyum, tetapi kalau ada personal yang sedikit melonjak, maka satu perintahnya, “Bereskan”, dan besok pun si orang itu hilang tanpa bekas, istilahnya : Dimasukkan karung/ dikarungin. Dominasi intelijen militer terlalu kuat, indikasi pembusukan Orde Baru justru dari perilaku orang dalamnya yang korup dan manipulatif, perilaku ini diwariskan sampai sekarang, walau ikon utamanya sudah hilang.

Dengan keadaan geopolitik semacam Indonesia, dimana dari sisi internal sangat beragam, dan dari sisi eksternal banyak kepentingan ekonomi- politik asing yang ingin turut campur, maka pemerintahan yang kuat, berikut warga negara yang solid, adalah kebutuhan dasar. Cuma, bagaimana caranya menuju ke sana ?

“What information consumes is rather obvious: it consumes the attention of its recipients. Hence a wealth of information creates a poverty of attention, and a need to allocate that attention efficiently among the overabundance of information sources that might consume it.” (Herbert Simon, Computers, Communications and the Public Interest, pages 40-41)

Soal distribusi ekonomi, itu tugas pemerintah pastinya, karena perut kosong dan otak tumpul, memicu sikap beringas memang. Pertahanan keamanan sebuah peradaban atau negara, batas awal dan akhirnya, adalah di benak masing- masing pemerintah dan warga negaranya. Lebih mudah meruntuhkan moral warga, daripada mengirim serdadu untuk membunuhi satu demi satu, belum lagi menghadapi perlawanan dari warga, yang pasti tidak akan semudah itu menyerahkan nyawa.

Meruntuhkan atau membangun moral, butuh media untuk distribusi informasi. Karena informasi melakukan konstruksi sekaligus pengacakan konsentrasi fokus. Media sangat efektif untuk membangun “data smog”, semacam tumpukan data yang kelihatan “informatif”, namun justru mengurangi jam produktivitas penerima, berikut tidak menambah kualita hidup, malah menambah depresi, karena membingungkan.

Ben Anderson pernah bilang, para orang tua ( muslim) di Indonesia kebingungan untuk mewariskan pemahaman tentang tata nilai agama, ke generasi yang di bawahnya, anak- anaknya. Tata nilai yang lemah ini rawan untuk “diserang” oleh informasi dari luar, yang melemahkan identitas diri, dan ujungnya adalah melenyapkan daya seleksi individu, untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah.

Dalam sisi pandang ekonomi, pemikiran yang lemah tata nilai ini, adalah sasaran empuk untuk dijadikan konsumen yang loyal, kenapa ? Karena mereka butuh identitas, lokus psikologis eksternal, dimana identitas diri dibentukkan lewat komoditas yang dimiliki dan afeksi/ apresiasi orang lain. Perbanyak iklan dan informasi yang menjual impian, sambil menawarkan barang- barang konsumtif, yang seolah menjadi identitas diri dan pengalaman hidup. Tanpa sadar, bahwa barang tersebut sama sekali tidak menambah daya produktivitas si pemakainya.

Dalam sisi pandang politik, pemikiran yang lemah identitas tata nilai ini, adalah sasaran empuk menjadi basis pemicu konflik. Karena pemahaman yang dibangun sekedar simbolik emosional, atas dasar “rasa beriman”, dan “persaudaraan sesama penganut agama”. Bentuk pemahaman model begini, sangatlah rapuh untuk diserang, dan cenderung gampang tersinggung. Berikut suka mencari pembenaran untuk menyeragamkan simbol, yang sebenarnya itu jauh sekali dari substansi iman.

Toleransi dalam sebuah komunitas, yang komponennya terdiri dari variasi ragam kelas sosial, dengan tata nilai yang berpotensi konflik, antar masing- masing kelas sosial, harus dibangun atas dasar kepahaman, bukan pemaksaan bahwa kita semua “sama”. Toleransi yang dibangun atas ketidakpahaman, seperti api dalam sekam, tinggal menunggu konflik dimunculkan oleh pihak yang ingin konflik ada, apapun motifnya. Proses saling mempelajari ini berarti membuka informasi, di dalamnya akan terjadi konflik- konflik kecil, yang bisa meragukan keyakinan atas iman yang sudah dibentuk sebelumnya. Tetapi seberapa kuat iman, harus diuji bukan ? Imunitas yang dibentuk lewat ketahanan atas konflik, jauh lebih bermakna dibanding sterilisitas, yang kelihatan kuat di luar, tapi rapuh di dalamnya.

Yah, tulisan ini hanya sekedar mengingatkan, untuk tetap melindungi diri sendiri, keluarga inti, saudara dekat, tetangga, dan lingkungan kita, dari pihak yang kita tidak tahu apa kepentingannya, sampai menimbulkan konflik di masyarakat kita. Komitmen bermasyarakat jelas butuh yang namanya rasa percaya, dan rasa percaya adalah modal sosial yang harus dipupuk antar generasi, lintas kelas sosial. Sambil memupuk rasa percaya, yang namanya rasa waspada juga tidak boleh dihilangkan, bagaimanapun juga. Dengan berjibunnya informasi seperti sekarang, maka pertahanan diri itu ada di pikiran kita masing- masing, camkan itu baik- baik.

Picture : War Photographer, 2001 ; Jakarta session

2 comments on “Apocalypto

  1. wager
    September 25, 2013

    Koq bisa pintar gini nulis bikin artikel ya? Wawasannya luas sekali. salam

    • Maximillian
      September 25, 2013

      The biggest thing we know, is the smallest of the unknown Sir🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Review and tagged , , , .
%d bloggers like this: