Usual Storyline

oeuvre

Entrepreneurship Kata Saya

Kalau Anda dilahirkan di budaya manusia asli jawa pedesaaan atau pegunungan macam saya ini, maka pilihan untuk mencapai status sosial terpuja itu lewat pilihan profesi terbatas, yaitu menjadi tentara- perwira ( senopati), guru- dosen ( begawan), pegawai negeri- pejabat negara ( abdi dalem- adipati),atau yang lebih kompleks pendidikannya adalah dokter.

Dulu menjadi pegawai kumpeni ( VOC- Perusahaan multinasional pertama di dunia- lahir di Indonesia) juga adalah primadona, mungkin transformasi saat ini adalah menjadi pegawai perusahaan multinasional ( positif dari segi status,fasilitas dan prospek masa depan).

Mobilitas vertikal itu harus didapatkan dengan biaya yang tidak sedikit, Jer Basuki Mawa Beya, kata kakek saya yang juga guru itu. Selain biaya, maka keuletan dan kerja keras adalah prasyarat berikutnya, kemudian doa didukung sikap prihatin sebagai sikap pendukung mutlak. Sungguh sangat lazim jika untuk mendukung anaknya mendapatkan status empat tersebut, orang tua rela puasa senin kamis, puasa ngrowot, puasa mutih, dan segala macam perilaku kebatinan ala pandhita ( orang soleh model jawa kuno). Orang tua akan bangga menyaksikan masyarakat menjura pada keempat posisi tersebut, yang akan diperoleh anaknya. Label keluarga sukses pun pasti disematkan, karena keberhasilan “mengantar” ke posisi yang “Basuki” versi jawa kawasan tertentu.

Posisi pedagang dalam masyarakat jawa bagian tengah- selatan- timur bukanlah posisi terpuja, bahkan stereotype yang terbentuk cenderung negatif. Idiom populer yang diberikan oleh lingkungan kami semacam Melik Nggendong Lali, Urip Namung Sawang Sinawang , Mangan Ora Mangan Kumpul, Alon alon Waton Kelakon, Ngono Yo Ngono Ning Aja Ngono, tidak menempatkan ambisi atau target mendapatkan keuntungan dari marjin perdagangan sebagai tujuan menarik atau mulia. Bahkan karena menjadi pedagang tidaklah membutuhkan sekolah, sangat aneh jika ada manusia berpendidikan tinggi bersedia bersusah payah membangun perusahaan dari nol untuk membuka lapangan pekerjaan atau mendinamisasi ekonomi, berdagang itu untuk kaum pariah, bukan satria apalagi brahmin.

Seloroh  Kaya itu Mulia tutur Eyang Deng tidak mendapat tempat di benak kita. Sifat kikir, curang, cerdik, licin, atau yang lebih canggih via media metafisika menggunakan jasa pesugihan ternak tuyul, babi ngepet, dan ngalap berkah ke Gunung Kawi sudah menjadi prasangka awalan jika melintas kata “pedagang sukses kaya raya bermata lebar berkulit sawo matang”. Segala cara menghalalkan cara yang haram jadi halal, sikut- menyikut, tindas- menindas, jalan pintas metafisika, dan hal negatif lain sudah menjadi halangan psikologis, alih alih mencoba untuk terjun langsung membanting tulang membangun institusi ekonomi swasta. Maka sekilas pintas dapat dilihat, pelaku ekonomi strategis di kota besar jawa bagian tengah- selatan- timur yaitu Jogjakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya mayoritas adalah kawan- kawan Tionghoa.

Saya mengamati bahwa bukannya peluang usaha itu tidak ada, bahkan mungkin sangat besar, namun persepsi antropologis yang sudah mengurat mengakar itu nampaknya endemik, bahkan hingga saat ini, mengingat saya sendiri adalah pelaku empiris.

Menyitir pernyataan Muhamad Yunus, peraih nobel perdamaian dengan gerakan bisnis sosial Grameen Bank yang sudah dikembangkan ke beberapa negara di luar Bangladesh itu, bahwa substansi ekonomi pasar adalah terletak pada terciptanya peluang untuk menjadi pelaku usaha aktif bagi semua orang, termasuk orang paling miskin, pengemis bahkan. Setiap orang memiliki kesempatan setara untuk menjadi produsen sekaligus konsumen.

Beliau menantang konsep literatur universitas di AS dan Eropa Barat yang memandang bahwa solusi penciptaan lapangan kerja adalah dengan membangun megaproyek atau pabrik padat karya dengan modal hutang luar negeri.Konsep tersebut hanyalah temporer, sifatnya untuk menyiasati statistik, dan sama sekali tidak memandang manusia sebagai faktor ekonomi paling signifikan, dus memandang bahwa pendidikan formal tidak berfungsi signifikan, atau secara substansi memandang pendidikan formal sebagai institusi penyuplai pekerja, bukan pelaku usaha aktif. Bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi mampu memberikan nilai tambah ekonomi, tidak menjadi bagian dari solusi ala literatur fakultas ekonomi yang menjadi rujukan konsultan di banyak negara berkembang ( termasuk Indonesia, dan manusia jawa didalamnya) ini.

Mantan rektor saya, Kusmayanto Kadiman, yang sempat- sempatnya jadi abdi dalem bertitel menteri riset dan teknologi itu, pernah berkomentar, bahwa kesuksesan riset sains dan teknologi itu bisa dilihat dari tiga hal, secara pendidikan, mampu menjadi referensi bagi pelaku dan siswa didik. Secara sosial mampu memberikan manfaat kemudahan baru bagi masyarakat luas, dan secara ekonomi mampu memberikan nilai tambah signifikan. Untuk itu, kewirausahaan berbasis pengetahuan ( Knowledge Based Entrepreneurship) yang diharapkan ditumbuhkan dalam institusi pendidikan formallah yang akan menjadi tumpuan dominan perekonomian negara berkembang untuk mandiri secara ekonomi.

Kemampuan untuk memberikan nilai tambah faktor- faktor produksi via pengetahuan dan teknologi, dengan memadukan kemampuan dagang sekaligus kompetensi sains- teknologi untuk bersaing di pasar global adalah kuncinya. Namun dalam hal ini, sikap responsif terhadap perubahan, inovatif dan kreatif, tahan banting dan mampu mengambil resiko tanpa ada contoh, adalah prasyarat yang perlu untuk mencapai tujuan kewirausahaan berbasis pengetahuan itu.

Kewirausahaan berbasis pengetahuan punya prasyarat budaya yang harus dipenuhi, yaitu sifatnya yang Opportunity Based Entrepreneurship ( Bisnis karena terbuka peluang) mengharuskan persamaan peluang, kebersihan regulasi ( regulator maksudnya), keadilan peraturan, penegakan hukum, stabilitas politik dalam sebuah negara. Riset Global Entrepreneurship Monitor ( GEM) menggambarkan jelas, bahwa untuk negara berkembang, model kewirausahaan yang marak adalah Necessity Based Entrepreneurship ( Bisnis karena terdesak kebutuhan), dan seringkali model semacam ini susah untuk berkembang pesat, alih- alih membangun nilai tambah ekonomi.

Kembali ke manusia jawa, Prof. Satjipto Rahardjo ( almarhum) yang tulisan renyahnya saya gemari itu memberikan tesis simpel, bahwa ledakan ekonomi dalam suatu negara dimulai dari aktivitas ekonomi yang berbasis pada budaya masyarakatnya. Jepang, Cina, Korea, dan Jerman, punya ciri khas masing- masing, sudah terlalu banyak ahli- ahli pintar bangsa ini yang memberikan puja puji pada budaya mereka, dan tidak lupa menghinadinakan budaya bangsa sendiri, lalu pura- pura lupa untuk memberikan solusi, jadi bagaimana seharusnya kita memulai menginsafi kesalahan ( Jika memang sekarang kita salah) ? Saya sangat positif bahwa yang namanya kemajuan ekonomi itu haruslah dinikmati proses pencapaiannya, dan kenikmatan itu tidak lain tidak bukan adalah dengan berusaha untuk menjadi diri sendiri. Kemajuan yang didapatkan dengan mengekor manusia lain bukanlah hakekat kemajuan yang sesungguhnya, melainkan cuma mengekor.

Mencari solusi sebuah masalah sebaiknya dimulai dengan mendefinisikan sumber masalah dulu, sepakat dengan Bang Faisal Basri, selama ini persepsi UKM ( Usaha Kecil Menengah) adalah UKM sampai mampus, dan tidak melihat bahwa masalahnya ada pada manusia penggeraknya, jikalaupun dua orang manusia dengan kemampuan dagang sama, namun yang satu lulusan SD inpres dan seorang lagi lulusan institut teknologi bagus, dengan awalan modal dan model bisnis sama, maka kemungkinan besar orang kedua akan membangun perusahaan lebih pesat, karena bisnis adalah soal mencampurkan imajinasi, kreativitas, informasi, pengetahuan, dan ambisi.

Ada sedikit catatan kecil, saat ini pun, label “pengusaha” ala media lazimnya masih diberikan kepada pelaku ekonomi kapitalisme ersatz** yang bisnisnya tidak bisa hidup kalau tidak berdiri di dua kaki, bisnis dan politik ( atau militer). Bukan berbasis ide yang mampu diterima-cobakan dan tangguh bermain di pasar,melainkan peluang “demand” yang didapat karena informasi berbasis kolusi- nepotis ( bahasa halusnya : networking), kemudahan ( privilege), yang lebih tepat disebut tipikal “pemburu rente”, “tukang mroyek”, dan para “penadah tender”, bukan entrepreneur sejati. Contoh yang didapatkan masih sangat sedikit di sini, dan masih butuh banyak lagi kedepannya.

Sambil berjalannya waktu, bertambah luasnya pemakai internet, semakin egaliternya dunia pendidikan, saya memandang positif bahwa persepsi negatif, stereotype kaum pariah, turunan nenek moyang jawa saya itu akan bertransformasi baru. Bahwa pengetahuan itu adalah kekuatan, bisa dimaknai lebih luas lagi, tidak perlu beternak tuyul, ngalap berkah di Gunung Kawi, atau berdiri di dua kaki bisnis- politik untuk berhasil berbisnis. Bahwa status sosial itu dibentuk oleh kontribusi karya, bukan bentukan profesinya. Bahwa menjadi wirausahawan intelek didikan perguruan tinggi ( bahkan sampai setingkat doktor kalau perlu) yang membangun institusi bisnis swasta, atau kasarnya “dagang” alias saudagar, bukanlah posisi yang lebih rendah atau bodoh dibandingkan dokter, adipati, senopati, maupun begawan. Bahwa menjadi pelaku ekonomi riil yang aktif, sebagai produsen, dengan digabung pengetahuan- kompetensi yang didapat lewat sekolahan itu, dampak ekonominya akan lebih dahsyat untuk ikut serta membangun bangsa Indonesia yang mandiri dan bermartabat.

Terinspirasi oleh :

Para Priyayi, Umar Kayam
Mangan Ora Mangan Kumpul,Sketsa Umar Kayam
Majalah SWA sembada, edisi 22 Januari- 4 Februari 2009
Membangun Dunia Tanpa Kemiskinan, Muhamad Yunus
Global Entrepreneurship Review 2008, GEM
Hoa Kiau di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer
Kompas, edisi 9 Januari 2010
Kapitalisme Semu Asia Tenggara, Yoshihara Kunio

Catatan :
* Judul ini adalah majas pars pro toto
** Sistem kapitalisme semu, dibangun oleh birokrat dan militer yang berfungsi sebagai penjual jasa untuk para pengusaha pemburu rente ( kasus di Indonesia dan Asia Tenggara kebanyakan). Sistem ini ikut mematikan budaya kewirausahaan masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Concept and tagged .
%d bloggers like this: