Usual Storyline

oeuvre

Kognitif

Kalau dunia sekolah dasar rendah mutunya, maka segala- galanya yang nanti akan dibangun di atasnya, di perguruan menengah maupun tinggi, akan serba goyah dan hancur berpuing- puing.( Yohanes Bilyarta Mangunwijaya)

Hierarki Teori

Apa hubungannya Butterfly Effect, Kurva Lorentz, memetika, dengan budaya komunal sebuah masyarakat ? Dan bagaimana pola budaya komunal, mampu mempengaruhi pola pikir individu yang terlibat di dalamnya, termasuk ke standar sukses/ kurang suksesnya individu tersebut, ketika bersaing di tingkat global ? Bagaimana pula budaya komunal ternyata sangat mempengaruhi tingkat produk domestik bruto, daya beli, hingga indeks daya saing sebuah negara, terhadap negara lain ? Bagaimana pula bisa diketahui, hubungan kesuksesan institusi sekolah mendidik orang, dengan solidaritas kolektif warga negara, dan dengan kemandirian ekonomi sebuah bangsa ?

Mungkin, pertanyaan di atas terlihat “sok intelek”, namun, sesungguhnya, pertanyaan di atas berkaitan dengan pola pendidikan di sekolah dasar, bagian mananya ? Jika dulu ada yang sering mengeluhkan beban berat kurikulum yang harus ditanggung oleh anak usia SD- SMP ( pendidikan dasar), kebijakan pendidikan yang sering berubah setiap kali berganti rezim, atau bentuk penyeragaman kelas, yang nampak “membunuh” kreativitas, maka efek sampingnya akan terlihat, manakala ada tuntutan untuk menerapkan pengetahuan yang didapat, secara praktis dalam kehidupan sehari- hari. Investasi mendidik manusia, adalah bentuk investasi jangka panjang, yang baru akan ketahuan bentuk jadinya, setelah satu dekade lebih, yaitu ketika manusia hasil didikan itu, mulai menemukan masalah, berusaha mencari solusi, dan lalu membuat karya- karya kreatif untuk membangun hidupnya.

Buat para “anak muda” penggemar metode “revolusi”, dalam artian perubahan cepat, dengan satuan harian- bulanan, maka langkah untuk membangun lewat pendidikan, adalah metode yang menjemukan, kurang “bersemangat pemuda”, dan “tidak konkret”, karena bentuk jadi dari hasil perubahan, baru bisa dipetik dalam jangka waktu lama ( tahunan). Namun, seperti halnya perbedaan berburu meramu dengan bercocok tanam, maka pendidikan adalah upaya untuk memperadabkan manusia, memanusiakan manusia, dan prosesnya pun, mengikuti pola natural manusia untuk belajar.

Apa pentingnya penguasaan dasar logika matematika, dan bahasa di pendidikan dasar ? Tanpa berusaha menghakimi tingkat kepintaran anak satu dibandingkan dengan anak lain, maka keduanya adalah alat bantu untuk menunjang hidupnya di masa yang akan datang. Logika skolastik, yang menjadi dasar berpikir matematis, sangat membantu untuk memetakan masalah, memodelkan solusi, dan lalu melakukan kalkulasi dalam proses transaksi, atau membuat kreasi- kreasi baru. Logika linguistik, sangat membantu untuk mendefinisikan masalah, memahami budaya, dan lalu mempelajari pengetahuan yang berbasis bahasa dipelajari. Jikalaupun Anda sekarang mahir menghitung, berdebat sambil tetap waspada dengan “kesalahan berlogika”, membuat pemodelan, berbahasa lebih dari satu jenis, maka kemampuan- kemampuan itu, basisnya dimulai semenjak pendidikan dasar, SD- SMP. Yang menjadi bahan kekhawatiran adalah, manakala anak didik, bahkan sudah setingkat mahasiswa, lebih takut tidak lulus ujian, daripada takut tidak paham dengan sebuah formula, karena kemungkinan tidak akan bisa digunakan dalam kehidupannya. Karena bagaimanapun, belajar matematika, bahasa, sains, ilmu sosial, itu adalah untuk memudahkan hidupnya ke depan, dan bukan karena takut tidak lulus ujian guru atau dosen.

Jikalaulah ingin melihat sejarah, maka Geertz pernah bilang, bahwa salah satu “kerugian” besar Indonesia pernah dijajah Belanda, adalah pada persoalan bahasa. Lho kenapa ? Karena berarti bahasa induk, yang digunakan saat Hindia Belanda masih ada, adalah Bahasa Belanda, sedangkan kita ketahui, bahwa arus kecepatan pengembangan pengetahuan dasar ke teknik, teknik ke ekonomi, di Belanda sendiri, tidaklah secepat Inggris dan Jerman, saat itu. Bahasa memungkinkan kita untuk bisa mengakses ke pengetahuan dan pemikiran, yang menjadi manifestasi dari bahasa tersebut. Bahasa Inggris digunakan sebagai pengantar untuk banyak sekali buku teks, dari Eropa Barat, dan Amerika Utara, yang ini berarti, kemampuan dasar bahasa, adalah metode untuk mengakses pengetahuan dari budaya yang menggunakan bahasa tersebut. Kemampuan untuk menggunakan sebuah bahasa baru, seringkali karena “kebiasaan”, bukan hanya “kebisaan”, belajar bahasa itu bisa karena biasa.

Pendidikan dasar, juga mengakomodasi untuk gaya kognitif ( metode berpikir) yang divergen. Apa itu divergen ? Divergen: “berpengetahuan luas”, sedangkan Konvergen kalau diistilahkan bahasa kita : “berpengetahuan dalam”. Orang divergen tahu sedikit dalam satu bidang tapi banyak tahu di berbagai bidang. Orang konvergen tahu banyak tentang satu bidang tapi sedikit tahu di bidang lainnya. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Untuk pertanyaan yang sangat spesifik, seperti: apa rumus untuk menghitung jumlah bubuk kopi berdasarkan sifat termodinamika dan hidrodinamika dalam kopi susu dengan proporsi sekian-sekian (fisika). Maka orang konvergen akan langsung dengan cepat menikmati penghitungan, sedangkan orang divergen bengong.Sebaliknya, ketika pertanyaannya multi disiplin, misalnya : bagaimana perilaku simpanse yang tinggal di Pulau Bulu Naga bila berada dalam cuaca panas dimana kadar oksigen sesuai dengan kondisi bumi rata-rata (biologi + geografi + fisika + kimia). Orang divergen mungkin langsung mendemonstrasikannya, orang konvergen basah kuyup, kebingungan.

Nah, dari tulisan di atas pun terlihat, sekarang banyak yang mengeluhkan tema tayangan sinetron, yang seolah meremehkan kecerdasan penonton, atau sinema layar lebar, cenderung memicu prostat*, namun anehnya, produsen tetap memproduksi, artinya, ada permintaan kan ? Dan kalau dikeluhkan bahwa presiden kita sekarang, suka dengan pencitraan, maka, pernyataan itu kembali ke kita secara kolektif, bahwa warga negara secara dominan memang menyukai tampilan subjek yang nampak sempurna, ganteng, kharismatis, tanpa melihat ke karya, atau objek yang pernah dilakukan oleh objek tersebut. Sekali lagi, sedikit banyak, itu berhubungan dengan hasil dari pendidikan dasar.

Sekarang, gaung tentang “wirausaha” digiatkan di media, oleh beberapa pakar. Mereka bilang, golongan menengah di Indonesia, akan menjadi salah satu yang terbesar di dunia, dan mereka harus “diarahkan” untuk wirausaha, katanya. Namun, membangun mental “wirausaha” tidaklah bisa instant, hasilnya pun tidak akan paripurna. Kenapa ? Karena kemampuan itu dibentuk awal mulanya dari pola pikir kemandirian, dan menghargai proses, belum lagi kemampuan membangun tim kerja yang solid ( jika terjun ke sektor riil), dan itu butuh waktu lama, namun kalau dimulainya dari pendidikan dasar, maka peluangnya akan semakin besar, bagi siswa untuk menerapkan pengetahuan, sambil bisa memperdagangkan hasil karya dari pengetahuannya.

Yah, itu saja sih, sekedar mengingatkan, dimana pentingnya membangun pendidikan, yang terasa menjemukan itu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Review and tagged , , .
%d bloggers like this: