Usual Storyline

oeuvre

Looking For God

Karena terlahir sebagai muslim ( kebetulan), terkadang sumpah, ” There’s no god beside God and Muhammad is a God messenger”, begitu mudah diucapkan, tanpa ada rasa pertanyaan, kenapa dan bagaimana bisa sumpah sedemikian berat itu meluncur dari mulut kita ? Ikrar itu sungguh tidak mudah dimaknai, bagi seseorang yang terlahir bukan sebagai muslim, saya salah satunya, untuk sepenuhnya berserah diri.

Kamu, pernah menanyakan hal- hal di bawah ini ? Saya harus berjuang mencari jawaban dari pertanyaan yang keluar dari diri saya sendiri, sebelum mantap berikrar dua kalimat penyerahan diri itu. Tanpa ada Ayah yang mendidik- Ayah kandung saya, bukan muslim, sudah meninggal saat saya berumur 5,5 tahun-, dan Ibu yang membimbing, berikut lingkungan sekitar yang sinkretik abis, masa- masa pencarian itu rasanya berat sekali dilupakan. 2 bulan lamanya terombang- ambing, dan rasanya tidak terlupakan juga, ketika satu persatu pertanyaan itu mulai mendapat jawaban ( sementara ini…)

Mau berbagi ? Ini beberapa pertanyaan yang dulu sempat saya tanyakan. Keknya logika banget ya ? Iya nggak sih ?………. Waktu peristiwa ini terjadi, saya berumur 15 tahun.

Kenapa Tuhan harus ada ?

Kalau Dia mau dia ada, dia akan mengadakan, kalau Dia mau Dia tidak ada, itu juga terserah Dia, karena Dia juga punya kehendak. Tidak penting Dia ada atau tidak, yang jelas, ciptaan ada karena manusia mampu mendefinisikan. Mendefinisikan adalah kemampuan mengenali suatu objek untuk kemudian berusaha memberikan label, itulah yang disebut dengan nama benda. Kemampuan yang Tuhan berikan kepada Adam, adalah kemampuan mendefinisikan sesuatu hal.

Kenapa Tuhan harus didefinisikan ?

Biarkan Dia mendefinisikan diriNya sendiri, jika dia memang mengaku bernama Allah, maka bolehlah kita panggil Dia dengan sebutan Allah. Kalaupun kita berusaha mendefinisikan Dia, itupun hanya terbatas pada memahami ciptaan Dia, salah satunya adalah kita sendiri. Cara Tuhan berbahasa adalah dengan karyaNya. Itu adalah lingua franca Dia. Kalau mau mendefinisikan Dia, pahami bahasa-Nya. Cuma, terkadang manusia suka mendefinisikan kata- kata Tuhan dengan hasrat mereka sendiri, jadinya suka saling menumpahkan darah, yang secara nalar terlihat bodoh, memangnya sukar sekali ya, berdiskusi baik- baik ?

Kenapa Manusia mencari Tuhan ?

Mungkin, kita yang punya tiga kemampuan, yaitu Cipta, Rasa, dan Karsa. Mulai merasa bahwa ada sesuatu yang lain yang punya otoritas selain kita. Mulai mencipta bahwa ternyata Dia punya sifat dan kehendak. Mulai berkehendak bahwa Dia sebaiknya ada.

Kenapa Tuhan menciptakan aturan ?

Saya tidak tahu, tanyakan pada Dia langsung, hanya saja, Dia tidak pernah bicara dengan kita secara langsung. Dia menciptakan aturan yang kompleks dalam ranah semesta yang luas, dimana setiap aturan punya aksioma sendiri. Kita baru bisa mendefinisikan tentang kausalitas saja, dugaan saya, ada takdir lain selain kausalitas. Hanya saja, terkadang manusia cukup sombong untuk berhenti bertanya lalu dengan tergesa menyimpulkan, ” Ini loh maksud Tuhan…”, lupa bahwa dalam setiap akhir kata, selalu ada kata, ” Wallahu a’lam bishshowab”.

Kenapa ada Takdir ?

Saya tidak merasa tahu juga apa itu takdir. Setahu saya, takdir adalah hukum, semacam hukum matahari berputar pada porosnya, dan bumi berevolusi selama 365,5 hari, itulah takdir. Ya, itulah yang orang sebut dengan The Law of Universe. Orang suka bilang soal universalitas hukum, dan sifat kesemestaan hukum itu sendiri. Kita memang harus tahu takdir, tapi sepertinya takdir yang dimaksud, adalah mendefinisikan kita, siapa kita dan seperti halnya memahami hukum kausalitas akademis, kita harus senantiasa mengobservasi diri dan alam semesta. Tentunya, dengan data, yang diawali oleh asumsi.

Ayat pertama saja sudah bicara, ” Observasilah”, kata Tuhan- yang mengakunya bernama Allah itu- untuk membaca takdir semesta, dan tentunya termasuk kita di dalamnya. Walaupun yang namanya ” Teori Segala Sesuatu” itu belum ketemu, cuma, kalau yang saya pahami sejauh ini dalam kata Tuhan di ayat pertama surat itu, bahwa ada hukum- hukum dalam setiap penciptaan Dia, yang sifatnya sudah Dia tentukan, bisa ambil contoh mengenai Gravitasi dan Kecepatan Cahaya, yang ternyata, ada. Dan, itu harus diobservasi sedemikian rupa, dari yang semula di otak, kemudian dilakukan penelitian, dan memang ada kan ?

Kenapa kita harus percaya adanya Takdir ?

Kenapa kamu bilang harus ? Sebenarnya, kamu akan paham bahwa yang namanya takdir itu ada, kalau kamu mengobservasi bahasa Dia, karya Dia. Seperti Tuhan bilang, itu buat kita juga sih.Analognya, setelah tahu bahwa takdir bumi berevolusi selama 365,5 hari, ada banyak konstruksi yang manusia bisa perbuat bukan ? Kalau kamu mau tahu ”hukum” apa yang telah, sedang, dan akan terjadi kamu, ya kamu harus senantiasa mengobservasi diri kamu sendiri. Ya, kan itu yang seseorang bijak pernah bilang, ” Kalo loe mo tahu siapa Tuhan, loe kudu kenali diri loe sendiri. Siapapun yang kenal dirinya, dia bakalan kenal siapa TuhanNya”. Artinya, hukum itu berlaku di kita juga. Dan harusnya, setelah tahu riwayat takdir yang pernah berlaku pada kita, kita bisa berbuat lebih, soalnya, takdir masa depan kita juga punya hak buat ngebuat sendiri, kan ?

Saya ambil contoh mengenai Gravitasi dan Relativitas Umum, awalnya dari pemikiran, yang berarti si penemu berusaha bertanya pada dirinya sendiri, kenapa ? Benar ? Lalu, dia berusaha melakukan pembuktian pemikirannya ( atau, hipotesisnya) dengan melakukan serangkaian penghitungan dan penelitian, dan jikalau dia berhasil membuktikan bahwa pemikirannya itu eksis, maka, dia menemukan salah satu takdir semesta.

Artinya, sebenarnya takdir itu sudah ada dari dulu, dia terperangkap dalam ruang dan waktu, manusia, setelah berusaha mengenali dirinya dengan bertanya dan membuat hipotesis personal, lalu dia mencari, dan hola, ketemu si takdir ini! Tapi, manusia menemukan sesuatu, yang sebenarnya, sudah eksis, kan ?

Kenapa Tuhan menurunkan Agama ?

Saya tidak tahu, itu maunya Dia sendiri kan ? Tanyakan langsung saja ke Dia. Kalau kata Dia, bahwa Dia menurunkan pembawa pesan sebentuk dengan bentuk makhluk yang Dia tuju, itu juga terserah Dia sih. Mengenai legalitas lembaga berlabel agama, itu kan inovasi manusianya sendiri, memangnya Tuhan meminta Anda untuk melembagakan risalah-Nya secara eksplisit juga dalam bentuk objek fisik ? Karena sepemahaman saya, inspirasi soal keberadaan Dia, dan konfirmasi kenapa Dia menciptakan semesta, itu adalah sebuah berita, dan terserah pada manusia, apakah mau mematuhinya, atau tidak.

Kenapa manusia menggagas bahwa Tuhan itu ada ?

Tuhan bisa jadi merupakan gagasan saja, jika kamu menganggapnya seperti itu. Maksud saya, bedakan Tuhan, dengan Konsep KeTuhanan, dua hal yang berbeda.Manusia mengalami evolusi fisik ( anatomis- fisiologis), moral ( etika), dan akal ( intelektual). Paradigma tentang Tuhan ternyata dipengaruhi variabel tiga evolusi tersebut, namun, apakah Tuhannya sendiri berubah, saya pikir tidak, itu hanya soal manusianya sendiri yang berpikir dia mengenal Tuhan dengan baik, padahal, dia hanya sok kenal Tuhan, paham ?

Kenapa Tuhan menurunkan pembawa pesan ?

Itu juga terserah Dia sih. Sepengalaman saya, kalimat sumpah yang menyatakan bahwa ”There’s no god beside God and Muhammad is a God messenger”, lebih susah dipahami pada aspek kedua, paham maksud saya ? Memahami bahwa Tuhan itu eksis dengan sendirinya, dalam hal ini, Dia tidak berada dalam ruang dan waktu, sesuai pemahaman saya mengenai relativitas umum, melainkan di luar ruang dan waktu, jauh lebih mudah dibanding sumpah kedua, bahwa Tuhan yang mengaku bernama Allah ini mengutus pembawa pesan, bernama Muhammad, yang notabene Muhammad ini adalah makhluk bumi, spesies manusia, dan bukan alien, atau mungkin kita bahasakan lebih halus, malaikat.

Jika pemahaman kamu seperti saya, sempat- sempatnya Tuhan- yang bernama Allah, kata Dia sendiri- ini, menyuruh seseorang untuk menjadi pembawa pesannya, padahal, secara kuantitatif maupun kualitatif, Planet Bumi itu kecil, dengan jumlah penghuni yang mungkin kecil juga, apa kepentingan Tuhan mengirimkan pembawa pesan ? Saya tidak tahu pastinya, yang pasti, Dia bilang, bahwa pesan ini adalah bentuk kasih sayang-Nya, wow, penuh kasih rupanya ya, kreator kosmos ini, baru paham

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Philosophy and tagged , .
%d bloggers like this: