Usual Storyline

oeuvre

Mangun Karso

Ing Ngarso Sung Tuladha; Ing Madya Mangun Karso; Tut Wuri Handayani / Di depan menjadi teladan; ditengah membangun kemauan; di belakang memberi dorongan ( Ki Hadjar Dewantoro- Soewardi Soeryaningrat-, Pendiri Taman Siswa, Menteri Pendidikan 1 RI)

Pada mulanya manusia menemukan cara menghasilkan api, mengubur mayat, membangun rumah, mengolah makanan,membuat roda, hingga membangun kelompok, sejarah belumlah ditulis, kenapa ? Karena dari tulisanlah sejarah manusia dibuat.Komunikasi oral sebagai alat paling purba untuk menyampaikan pesan, mulai berevolusi, seiring semakin kompleknya masyarakat manusia, ke model yang lebih maju, yaitu komunikasi literal dalam bentuk teks dan simbol, yang untuk menghasilkan model ini, dibutuhkan usaha yang lebih keras, proses berpikir canggih, berikut sarana yang harus dibangun sebelumnya ( huruf, kata, media).

Literasi biasanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pengertian itu berkembang menjadi konsep literasi fungsional, yaitu literasi yang terkait dengan berbagai fungsi dan keterampilan hidup.Konsep maupun praksis literasi fungsional baru dikembangkan pada dasawarsa 1960-an .Literasi dipahami sebagai ”seperangkat kemampuan mengolah informasi, jauh di atas kemampuan mengurai dan memahami bahan bacaan sekolah”. Melalui pemahaman ini, literasi tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga mencakup bidang lain, seperti matematika, sains, sosial, lingkungan, keuangan, bahkan moral (moral literacy).

Tiga penelitian terakhir dari PISA ( Programme for International Student Assessment) (2000, 2003, 2006) menunjukkan bahwa kemampuan anak-anak Indonesia usia 15 tahun—usia akhir wajib belajar 9 tahun—dalam tiga macam literasi, yaitu kemampuan membaca (reading literacy), kemampuan menerapkan matematika untuk kehidupan praktis (mathematical literacy), serta kemampuan memakai sains dalam keterampilan hidup sehari-hari (scientific literacy), berada pada level 1. Ini berarti, anak-anak itu baru mampu menangkap satu dua tema dari sebuah bacaan dan belum bisa memakai teks bacaan untuk kepentingan yang lebih dalam, mengembangkan pengetahuan atau mengasah keterampilan.

Lalu, kenapa soal pola komunikasi bisa ditembak ke urusan pendidikan nasional ? Ya, karena sebenarnya, dalam tinjauan genetis, kemampuan otak warga negara Indonesia tidaklah kalah dibanding warga negara lain yang lebih maju secara pencapaian ekonomi, militer, teknologi, maupun budayanya. Sedangkan sekarang, pengetahuan sudah sebegitu kompleksnya terlembagakan dan begitu besar kendali pemerintah negara di dalamnya. Yang artinya, jajaran pengendali birokrasi pendidikan harus paham, bahwa peradaban Indonesia ini, besar kemungkinan semakin beradab atau justru biadabnya, dipengaruhi oleh pengetahuan dan model didikan di sekolah, karena angka partisipasi pendidikan dasar kita tinggi, 96.1% (7-12 tahun), 79,21% ( 13- 15 tahun), 49,76% ( 16- 18 tahun).

Saat ini, saya personal masih memandang bahwa gelar akademik malah diselewengkan menjadi identitas sosial, semacam kasta jenis baru gitu, bikin gelilah pokoknya. Sebenarnya, fundamental dasar peradaban itu, ada di kualitas pendidikan dasar, bukan pendidikan tinggi. Berbicara ekstrem agar jelas, dapat dikatakan bahwa universitas boleh bermutu rendah atau bobrok, akan tetapi sekolah, atau lebih tepatnya pendidikan dasar jangan ! Kalau dunia sekolah dasar rendah mutunya, maka segala- galanya yang nanti akan dibangun di atasnya, di perguruan menengah maupun tinggi, akan serba goyah dan hancur berpuing- puing.

Kelihatan sebenarnya bagaimana menguji hasil dari pendidikan dasar di kita, yaitu dari reaksi penilaian dan urutan berpikir logis dan bercita rasa dari kalangan terpelajar muda pun, ternyatalah betapa sulitnya para pemuda kita diajak untuk berpikir sistematis, apalagi mengungkapkannya dalam bahasa yang teratur dan komunikatif lagi bertanggung jawab. Sedari SD, siswa dibudayakan untuk naik kelas berdasar hasil ujian, bukan penampakan tampilannya, yang itu berarti siswa diajari berpikir objektif, terfokus pada objek (benda)nya, bukan ke subjek(pelaku)nya. Namun, kalau di forum publik coba lihat, kebiasaan ad hominem ( menembak langsung jati diri pelaku), menuduh kepercayaan yang diyakini pelaku ( praduga bersalah), atau aktivitas narsisisme tanpa konten yang orisinil, karena tergesa ingin dikenal atau dipuji, bertebaran di mana- mana, dari ranah nyata ke ranah maya.

Lalu, kenapa petuah Ki Hadjar saya sampaikan di awal ? Karena manusia- manusia hasil pendidikan dasar inilah, yang akan membangun peradaban Indonesia sekarang dan nanti. Mereka yang akan menjadi PNS, industrialis, jenderal, birokrat, guru, presiden, bahkan sopir angkot dan tukang becak, adalah produk dari pendidikan dasar juga ! Mangun karso, artinya membangun kemauan, itulah yang salah satu yang menjadi dasar eksistensi lembaga formal bernama sekolah, beserta para pendidik yang ada di dalamnya. Kemauan untuk berprestasi, berkarya, belajar, berkomunikasi, berbagi, dan segala sesuatu yang memang beradab…

Adapun kemampuan literasi, saya ulang lagi, ”seperangkat kemampuan mengolah informasi, jauh di atas kemampuan mengurai dan memahami bahan bacaan sekolah”, mencakup bidang bahasa, matematika, sains, sosial, lingkungan, keuangan, bahkan moral (moral literacy).Akan menjadi daya dukung atas “kemauan” atau “karso” yang sudah ada di benak siswa. Saya yakin setiap anak usia SD, atau SMP, punya keluguan- keluguan sederhana, dan mereka harus diberikan semangat untuk membangun “kemauan” tadi, sambil berusaha untuk akrab dengan mata pelajaran.

Lalu, kenapa saya tidak ingin menyalahkan siapapun, bahkan termasuk birokrat pendidikan ? Karena saya kenal beberapa manusia di dalamnya juga sedang berusaha keras memperbaiki diri, di tengah ketidakpastian budaya yang menghambat kinerja. Saya hanya ingin berbagi ke sesama warga negara, bahwa akan lebih baik dan optimal hasilnya, jika kita mau membangun kemauan anak, keponakan, atau sepupu, sedari usia dini, dan jangan pernah berhenti.

Sekarang pengetahuan dan informasi bertebaran dimana- mana, namun kalau manusianya tidak punya kemauan, semua hal tadi hanya akan jadi sampah, dan kita terus menerus jadi konsumen barang- barang baru yang nampak “trendi” dan “modern” tadi. Sama sekali tidak membuat manusia Indonesia menjadi lebih beradab, karena kembali ke awal lagi, manusia yang tidak punya kemauan, tidak akan pernah berusaha bergerak untuk mencapainya, bahkan akan selalu terombang- ambing gelombang “kemauan- kemauan” manusia lain.

Mari berkarya, Sobat.

Picture taken from here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Philosophy and tagged , , , .
%d bloggers like this: