Usual Storyline

oeuvre

Mencari Dewa Ruci

Ledakan ekonomi dalam suatu negara dimulai dari aktivitas ekonomi yang berbasis pada budaya masyarakatnya ( Satjipto Rahardjo, Prof )

Werkudara Bertemu Dewa Ruci

Teknologi tidaklah pernah berdiri sendiri. Dalam satuan teori, bisalah beberapa pihak mengklaim bahwa teknologi itu netral, namun dengan keadaan sekompleks saat ini, teknologi, dan saudaranya sains (teori maupun terapan), akan selalu bergandengan tangan dengan bisnis ( ekonomi- makroekonomi). Jika mau meneliti lebih dalam lagi, maka teknologi, sains, dan bisnis, akan terhubung dengan substrat terdalam sebuah populasi manusia, yaitu budaya khas komunitas. Sains teori dan terapan, menjadi komponen penyusun utama teknologi mutakhir, berkolaborasi dengan kapital, berbuah lembaga interdisiplin yang disebut dengan perusahaan, yang berkembang membesar menjadi industri. Industri berevolusi membesar, yang bahkan bisa mencaplok institusi bernama negara, seperti halnya VOC, perusahaan multinasional pertama di planet bumi, yang kerapkali kita sebut sebagai “kompeni”, pelunakan dari idiom “company” alias “perusahaan”.

Kita sudah mengalami sendiri, bahwa teknologi, sains, ekonomi, adalah alat budaya, atau pendeknya : alat produksi politis. Ilmuwan, teknokrat, atau industriawan, tidaklah bisa murni bebas nilai, dan lalu lantas menutup mata, akan selalu ada konflik dalam benaknya, karena memang ketiganya adalah alat budaya massa, yang sangat efektif untuk perluasan pasar. Ahli fisika nuklir Cina, yang juga nobelis di bidang Fisika, Tsing Dao Lee, pada awal perkenalannya dengan fisika modern, ternyata harus mengalami pergulatan pemikiran yang amat hebat, untuk bisa beradaptasi dalam substruktur ala pemikiran Eropa Barat, terutama dalam sudut pandang terhadap “materi”, yang menjadi inti kajian utama bidangnya : fisika modern.Dalam kepercayaan transenden, dan filsafat kembangan budaya tradisi Cina, tidak pernah memandang dunia realitas fenomena sebagai objek yang berharga, semua adalah fana. Bahkan, segala hal yang empiris, adalah maya, semu, tidak sejati, tipuan, serta godaan penjerumusan kesejatian diri. Konflik yang frontal bukan ? Dengan kerangka pemikiran kesarjanaan barat, yang dibentukkan untuk berkarakter empiris, rasional ( terukur), dan simplifikatif.

Kita tidak bisa, dan justru tidak boleh abai, jika memang berkeinginan untuk membentuk jati diri yang utuh. Kajian terapan teknologi, sains, bisnis, tidak bisa dipisahkan dengan urusan budaya dan politik. Mengenali dan membentuk diri, dengan tradisi lokal khas, adalah mutlak, tanpa harus menjadi xenofobia, dengan menganggap bahwa segala hal yang asing adalah “musuh”. Menganggap bahwa segala produk teknologi adalah bebas nilai, juga tidak tepat, karena Asia Tenggara, adalah “pasar potensial”, yang selalu menjadi sasaran pemasaran produk terbaru, dari produsen Asia timur jauh, Eropa barat utara, dan Amerika utara. Tak peduli dengan fungsionalitas, dengan alasan gaya hidup yang “techie” namun dangkal pemikiran, seringkali produk teknologi tinggi, yang seharusnya menjadi alat penunjang produktivitas, dan profitabilitas tentunya, malah oksimoron, menjadi sumber pemborosan waktu, asesoris tidak penting, serta objek pengurang produktivitas. Dalam hubungannya dengan makroekonomi, konsumtivitas yang cuma sekedar asesoris, dan tidak menunjang produktivitas, juga tidak sinergis dengan upaya untuk meningkatkan devisa negara.

Saya tidak mengetahui angka pastinya, sebenarnya seberapa besar upaya untuk membangun karakter nasion Indonesia, berikut upaya lain, untuk melakukan adaptasi,pencurian metode, dan lalu kolaborasi efektif- efisien antara manusia yang berkecimpung di sains, teknologi, dan bisnis, buat mendistribusikan kesejahteraan, lalu membangun kemandirian yang lebih kokoh. Dulu, Habibie pernah bercita semacam itu, tapi entah bagaimana keadaannya sekarang, walaupun langkahnya kontroversial dan menimbulkan banyak efek kejut, yang luluh lantak setelah Orde Baru meninggal, setidaknya ada langkah jelas. Hampir satu dekade yang lalu, Deklarasi Milenium yang ditandatangani, mulai dari peningkatan bantuan bilateral dan multilateral sampai penanaman tumbuhan jenis polong-polongan yang mengikat nitrogen untuk menambah kesuburan tanah; antiretroviral untuk AIDS; dari telepon seluler untuk memperbarui informasi pasar sampai perencanaan kesehatan dan pemanfaatan air hujan. Proyek MDGs mengusulkan 449 langkah untuk mencapai 18 target dari delapan tujuan MDGs.Membantu orang miskin itu mudah, begitu diyakini para ekonom dan pemimpin. Obat untuk mengurangi separuh kematian akibat malaria hanya 12 sen dollar AS per orang, kelambu hanya 4 dollar AS, dan mencegah kematian anak dan anak balita selama 10 tahun hanya membutuhkan tambahan 3 dollar bagi setiap ibu yang melahirkan anak pertama.

David Sogge, dari Transnational Institute menyatakan, tak ada bantuan tulus karena tak pernah ada makan siang gratis dalam fundamentalisme pasar yang terus dipromosikan oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Sejak 1990-an, aliran global, setelah diperhitungkan dengan bantuan luar negeri, bantuan investasi asing langsung (FDI) dan remiten, justru mengalir dari yang miskin kepada yang kaya.

Mungkin ini terdengar klise, tapi memang untuk membangun kesadaran kritis, dari urusan sudut pandang, sampai ke implementasi lapangan, hingga urusan aplikasinya ke aktivitas ekonomi, tentunya butuh waktu antar generasi dan usaha yang tidak mudah. Urusannya pun, jadi bukan hanya urusan pemerintah negara, karena fungsi pemerintah adalah semata administratur dan koordinator. Urusan semacam ini, jadi urusan kolektif warga negara, karena jadinya membangun budaya. Menjadi penting bagi pemerintah negara, untuk menegaskan kembali, fungsionalitas pendidikan dasar, untuk membangun generasi yang berbudaya, dan bisa menggunakan budayanya, untuk menyerap sains- teknologi, demi kepentingan lokal juga, bukan malahan menjadi pasar, tanpa ada usaha sama sekali untuk melakukan imbal balik berprofit.Jikalaupun sekarang, ada beberapa pihak yang berkoar ingin menanamkan jiwa kewirausahaan di pendidikan formal, maka itu dimulainya di pendidikan dasar, bukan pendidikan tinggi, karena sudah terlambat, walaupun tidak salah jika mau dimulai sekarang juga.Urusan kewirausahaan, juga bukan cuma urusan penyerapan tenaga kerja, karena urusan mengelola kapital dan memvaluasi aset, adalah urusan yang efeknya jauh lebih besar, yaitu membangun industri dari nol, dengan aset yang semula hanya berupa ide dan pengetahuan.

Pendewasaan satu orang saja, prosesnya bukan main rumitnya, terkadang beberapa manusia sudah berusia tua pun, nampak tidak menunjukkan kedewasaan sama sekali. Sekarang, untuk membangun kedewasaan satu negeri, yang seluas jarak London sampai Moskwa, Stockholm sampai Roma,dengan 231 juta jiwa, yang tersebar di 17,504 pulau, wow ! Ini tantangan yang luar biasa, belum lagi ancaman disintegrasi, yang suka jadi alat politik sesaat, para elit yang kekanak-kanakan. Kalau boleh saya menilik ke kisah Bima muda, Bratasena, yang mencari makna hidup,proses untuk bertemu Dewa Ruci yang begitu beratnya, dia mengajarkan kebijakan untuk menghadapi kenyataan hidup, berikut nasehat untuk tidak lelah mencari kebenaran, dalam kendali hati yang tunduk pada Tuhan, untuk menunjukkan jalan. Ini sebagai perimbangan, dari ideologi Faust, yang menjadi sumber energi tersirat, dari upaya pencarian kebenaran tanpa henti ala budaya Eropa barat, yang bahkan sampai terkesan menantang Sang Pencipta, yang dalam semesta mereka, Tuhan terkesan menyembunyikan api pengetahuan, untuk kemudian direbut oleh para ilmuwan dan teknokrat, yang juga anak keturunan Prometheus, si pencuri api kebijakan dewa. Bratasena yang egaliter, dan tidak pernah menaruh takut, bahkan terhadap dewa sekalipun, tetap mencari kebenaran, tanpa harus menubrukkan dengan urusan keTuhanan, apalagi dengan upaya hipotesis prematur, yang mengkhianati metode pencarian kebenaran itu sendiri.

Apapun itu, ini hanya upaya kecil, supaya kita paham, bahwa setiap produk, apapun muatan kompleksitas tingkat teknologi yang dimuat, selalu mengandung budaya muatan, dari produsen, untuk diterimakan kepada konsumen. Dalam tahapan yang lebih abstraknya, perluasan budaya, adalah perluasan pasar, untuk urusan ekonomi produsen. Maka, jika ingin membalas, maka produksilah sendiri makna- makna baru, dari hasil renungan kita sendiri, buatlah massal, gunakan sains dan teknologi sebagai alat, dan perluas pasar, maka budaya kita, juga akan bisa dikonsumsi oleh konsumen dari komunitas bangsa lain, kuncinya diawali dari kesadaran diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Philosophy and tagged , , , , .
%d bloggers like this: