Usual Storyline

oeuvre

Mitos

As a man, I’m flesh and blood. I can be ignored, I can be destroyed. But as a symbol … as a symbol, I can be incorruptible. I can be everlasting. (Bruce Wayne, Batman Begins, 2005)

Advertising reaches out to touch the fantasy part of people’s lives. And you know, most people’s fantasies are pretty sad. (Frederik Pohl, The Way The Future Was, 1978)

In God we trust, all others bring data ( Edward Demings)

Mitologi, seringkali sengaja dipelihara untuk menjaga hegemoni sekelompok kecil manusia, terhadap kelompok besar manusia lain. Jika saat konsep negara kerajaan, bentuk kekuasaan adalah dominasi atas tanah, dimana Raja berkuasa atas tanah yang diinjak hambanya, dan hamba adalah para pengikut yang tinggal di tanah milik raja, maka mitos bahwa orang kuat itu sakti mandraguna, keturunan dewa kahyangan, turun temurun secara genetis reproduktif, kawin mawin pun harus dengan yang setingkat, selalu dipelihara terus menerus, antar generasi.

Ada manusia kelas satu, yang seolah- olah dipersepsikan bukan jenis manusia biasa, lebih dibandingkan yang lain, sehingga seolah mendapat legalitas de jure, layak menjadi penguasa atas manusia lain, termasuk anak keturunan tujuh tingkat dibawahnya, sah- sah saja jadi raja.

Metode propaganda, sebagai upaya membangun sebuah persepsi ide atas pikiran banyak orang, tentang mitos yang dibangun seolah- olah logis, selalu ada dari zaman ke zaman, hanya beda metode dan alatnya, karena toh manusia juga selalu berevolusi secara pelan tapi pasti. Propaganda ini, menjadi basis banyak institusi, untuk membangun persepsi, bisa jadi itu negara, perusahaan, kelompok agama, partai, atau organisasi komunitas lain.

Sebenarnya, kalau boleh jujur, pertahanan paling akhir dari manusia, adalah kendali atas kesadaran diri ( consciousness), maka tidak heran, metode Paolo Freire untuk membangun peradaban manusia, adalah lewat pendidikan, kenapa ? Karena, dalam pendidikan itulah, memungkinkan terjadinya proses transfer pengetahuan, yang membuka peluang terbentuknya sesuatu kemampuan yang disebut dengan “Kesadaran Kritis”, ada hak setiap orang, untuk tetap sadar dengan sepenuh logika kritisnya, terhadap ide- ide lain yang datang dari pihak lain, siapapun dan apapun itu.

Pasca 60-an, salah satu industri yang berkembang pesat, adalah industri periklanan. Sebagai informasi, industri periklanan sebenarnya adalah transformasi halus, dari institusi propaganda zaman sebelumnya, dengan metode yang lebih berorientasi ke ekonomi, daripada politik. Penguasaan persepsi atas konsumen, tentang sebuah produk, menjadi orientasi utamanya. Industri periklanan memang fungsinya adalah membangun kebutuhan, di benak konsumen, terhadap barang atau jasa, sehingga seolah menjadi penting, dan mendorong untuk memiliki.

Seringkali, metode yang digunakan untuk membangun identitas itu, adalah dengan membuat konstruksi tandingan, membuat konsumen yang kepahaman fungsi dasar tentang sebuah produk lemah, harus berpihak ke produk yang disodorkan oleh produsen (dan pengiklan).

Analog antara mesin politik (partai politik) dengan perusahaan komersial, adalah benang merah untuk membangun simbol merek ( Branding). Media sering menyebutnya dengan pencitraan ( Branding), karena sebetulnya, calon presiden, gubernur, bupati, camat, atau kades sekalipun, adalah “komoditas” yang harus “dijual” ke konsumen. Modus operandinya, mirip dan beda tipis antara partai politik dengan perusahaan komersial, yaitu bagaimana membangun citra komoditas/ barang tersebut dipersepsikan sebegitu cantiknya, sehingga membuat konsumen/ warga terpikat dan jatuh hati, lalu memilihnya.

Basis untuk pencitraan, tetap sama, yaitu secara internal adalah : Kualitas Produk, dan Kredibilitas Produk, berikut secara eksternal : Promosi Citra yang menjadi idaman konsumen/ warga. Ketiganya harus sinergis, karena jika terjadi ketidaksinkronan antara Citra dengan Kualitas, maka integritas produk tersebut akan jatuh, dan pelan- pelan, kepercayaan konsumen/ warga terhadap produk tersebut, akan hilang.

Jika tidak mau tertipu dengan Citra yang dipromokan begitu ideal, namun ternyata Kualitas dan Kredibilitasnya tidak seindah yang dipromokan, maka warga/ konsumen harus cerdas dan kritis. Bagaimanapun, membangun kesadaran kritis tidaklah mudah dan pendek waktunya, karena mitos orang kuat sakti mandraguna, sudah begitu kuat meresap ke dalam pemikiran warga, sehingga seolah- olah yang “pantas” menjadi pemimpin, haruslah manusia super bin ganteng gagah yang tidak punya cacat.

Harapan palsu semacam ini, membuat warga negara justru menjadi lemah, karena akan selalu mengharapkan pemerintah bisa menyelesaikan semua masalah, sangat menyalahkan pemerintah ketika ada masalah, dan kebergantungan terhadap pemerintah menjadi terlalu besar, yang itu justru membuka peluang untuk korup, sekorup- korupnya.

Mitos- mitos modern, yang sebenarnya adalah evolusi dari ide- ide lama, tentang sosok simbol penguasa super hebat, berpeluang untuk disingkirkan pelan- pelan, dalam alam demokrasi yang dibangun sekarang.Demokrasi hanyalah sebuah konsep, dan konsep itu yang menjalankan adalah manusia, manusialah yang membangun dan menghancurkannya. Demokrasi, di dalam dirinya, memiliki imperatif metapolitik untuk menjamin kedaulatan warganegara.Problem ini menghasilkan konsensus: demokrasi bukan ideal “terbaik” pengaturan politik, tetapi itu yang “termungkin” untuk menjamin kesetaraan hak dan kebebasan warganegara.

Manusia, makhluk eukariota yang usianya belum panjang di Planet Bumi ini, sudah beradaptasi untuk hidup sampai saat inipun, entah sudah berapa banyak modifikasi seluler sampai sistem organ yang terjadi dalam fungsionalitas tubuh kita. Kita semakin lama semakin paham, bahwa pendidikan yang mengajarkan tentang empirisme sains dan rasionalitas matematika, tetap butuh waktu untuk bisa membangunkan kesadaran, bahwa secara de facto, tidak ada beda level antara satu manusia dengan manusia lain, tidak seperti ide persepsi tentang “manusia hebat” yang dulu pernah dibentukkan oleh para raja despotik kepada hamba- hambanya, atau pemuka agama bigot, ke umatnya.

Namun, rupa- rupanya mitologi- mitologi modern memang sengaja dimunculkan, dan celakanya, banyak manusia yang berharap bahwa mitos itu benar adanya, dan berpangku tangan tidak bersegera merubah keadaan bermasalah menjadi peluang. Ketika mitos- mitos itu mulai terkuak ketidaksesuainnya dengan kualitas asli, maka manusia- manusia pun kecewa, namun anehnya, selalu berharap ke keajaiban lain, bahwa masalah- masalah bisa diatasi dengan lahirnya pemimpin manusia super yang ganteng dan gagah, sebagai pemimpin baru, duh…..

Tanpa berusaha mengritik siapapun, pemimpin dengan karakter seperti saat ini, juga adalah pencerminan dari warga yang memilihnya. Ada semacam sikap oksimoron, ketika berharap ke pemimpin yang mengedepankan kualitas dan kredibilitas dibanding promo citra, sedangkan warga negaranya, kebanyakan, dulu ketika memilih pemimpin, lebih condong ke citra yang diidamkan, sedangkan idaman- idaman itu ternyata adalah kepalsuan yang seolah- olah ada, duh…..

Pertahanan diri itu, ada di kendali terhadap kesadaran diri. Dan kesadaran diri, adalah proses yang membutuhkan waktu, tenaga besar untuk diusahakan, bersama- sama, antar generasi. Merubah mitos tidaklah mudah, namun membangun mitos pun, juga bukan kerja semalam, itu butuh kerja berulang, antar generasi, ke masing- masing kepala….

Jika tidak mau dibodohi dengan mitos- mitos bodoh, maka pertahankan kendali atas kesadaran diri kita masing- masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Philosophy and tagged , , .
%d bloggers like this: