Usual Storyline

oeuvre

Muallaf

Sharifah Amani dan Sharifah Aleysha

Another “feel good movie” dari Yasmin Ahmad almarhum. Saya belum menyaksikan trilogi Orked, namun membaca resensi dari seorang kawan, rasa yang diserap nampak menyenangkan.

Pencarian yang tidak mudah, walaupun belum seberat Even Angel Ask-nya Jeffrey Lang , atau seromantis The Road To Mecca-nya Leopold Weiss, sinematika Muallaf menampilkan apa yang selama ini saya pertanyakan, yaitu seputar penghargaan terhadap sumpah syahadat itu sendiri, pendeknya, seberapa Islamikah orang muslim sebenarnya ?Jurnalis telanjur mensimplifikasi perkara ini, apalagi pemangku kebijakan yang cenderung bigot, soal status “muslim”. Kita tahu bahwa tinggalan pasca penyerbuan Baghdad, literatur warisan tersisa dominan di aspek yurisprudensi ( fiqh) dan hukum ( syari’a).Terpisahnya spiritualitas dan rasionalitas, membuat rasa keberIslaman menjadi hambar dan kaku.

Rasa keberIslaman yang padu dengan permasalahan kontemporer inilah yang disampaikan oleh Rohani ( Sharifah Amani) dan adiknya yang cerdas nan skeptis, Rohana ( Sharifah Aleysha), berpadu dengan pencarian traumatis pemuda tionghoa Brian ( Brian Yap), bangunan cerita berkelindan indah dan menyenangkan. Nuansa melayu yang Islami dan toleran dengan implisit membuat kisah semakin menarik. Dialog- dialog ringan sekaligus dalam terkadang nakal membuat Muallaf menyelisik kembali ke pertanyaan seputar konsep keTuhanan yang dipaksakan secara halus oleh konstruksi budaya.

Saya jadi teringat dengan teriakan Ulil Abshar Abdalla soal ranah privat dan publik keberIslaman. Sebagai sebuah pernyataan iman, sumpah syahadat sangatlah privat, di sisi lain, salah satu manifestasi syahadat berupa shalat, dianjurkan dengan kuat untuk dilaksanakan berjamaah, dan itu berarti masuk ke ranah publik. Dikotomi ini menjadi absurd dan aneh. Begitu pula tokoh muslim yang berteriak anti barat, ini nampak sangat politis dan reduksionis. Setidaknya, Ibnu Rusyd-lah yang menginspirasi gerakan sekulerisme Eropa*, Ibnu Khaldun-lah yang menjadi inspirasi Arnold Toynbee dan Franz Rosenthal untuk pengajaran sosiologi dan ekonomi makro pada Eropa awal pencerahan. Nah, arus informasi nampak tidak satu arah, ada saling mempengaruhi disini.Tapi, nampaknya arus kuat yang memancing ke arah konflik lebih kuat, entah kapan bisa dibangun saling pengertian antar peradaban, saya berharap besar momen itu ada, amin.

* Konteks peradaban Eropa saat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Review and tagged , , .
%d bloggers like this: