Usual Storyline

oeuvre

Pemburu dan Petani

Dari media, terdengar banyak pihak yang berharap bahwa lulusan terdidik sekolah formal di Indonesia ( apalagi yang lulusan dari negara lebih maju) akan membangun institusi perusahaan, mengimplementasikan disiplin ilmunya berpadu disiplin bisnis, membuat lapangan kerja, memberi nilai tambah ekonomi untuk SDA mentah kita, dan tentunya mendinamisasikan ekonomi nasional.

Bagaimanapun, saya tidak berpandangan bahwa pengusaha berpengetahuan, lebih mulia dibanding karyawan profesional, itu adalah sebuah pilihan kedewasaan, aktualisasi kapasitas personal, dan supremasi pengetahuan, dipengaruhi budaya komunitas, dan keberadaan naluri pemburu prasejarah dalam rantai DNA kita.

Pemburu

Aktivitas pengusaha yang mulai dari nol, biasanya dimulai dari broker, perdagangan, dan berkembang ke distribusi, baru merambah fungsi produksi. Fungsi kognitif perdagangan menuntut pelaku untuk mengenali peluang, menghargai tinggi informasi, memahami pola pergerakan konsumen, mengendus karakter konsumen, berbagi informasi dengan rekanan, mengukur resiko pengambilan keputusan, dan membiasakan diri berkompetisi dengan pesaing.

Anda ingat fase berburu dan meramu lalu berganti ke fase bercocok tanam dalam deskripsi kehidupan prasejarah ? Bentuk aktivitas manusia, secara kognitif, sebenarnya tidaklah signifikan berubah semenjak zaman prasejarah, sampai sekarang, hanya kompleksitasnya bertambah dan berubah instrumentasi. Manusia mengalami pergeseran fase dari berburu- meramu ke bercocok tanam, gaya hidup nomaden ( berpindah-pindah) ke sedenter ( menetap).

Evolusi kognitif dan sosial tidaklah merubah semua unsur, naluri pemburu itu masih ada, hanya bermodifikasi. Manusia bergerak jika tiga tombol utama kesadaran disentuh : makanan, seks, dan bahaya. Saat ini, kita fokuskan ke aspek pertama, makanan. Pada fase berburu- meramu, manusia harus bisa mengenali pola buruan, mengumpulkan informasi, belajar dari pengalaman gagal, mengenali karakter buruan, beresiko tinggi terbunuh, membagi informasi dengan kawanan, dan siaga bersaing dengan kawanan pemburu lain. Aktivitas ini menuntut keuletan, keberanian, sikap pembelajar, dan pantang menyerah, karena kalau tidak begitu, mereka tidak mendapat buruan, dan mati.

Aktivitas berburu- meramu dominan pada fase masyarakat nomaden, dan pada fase masyarakat sedenter bergeser ke bercocok tanam ( pertanian) lalu peternakan. Aktivitas bercocok tanam ini, manusia punya pola tetap musim panen dan musim tanam, mengatur penggudangan, faktor keterjaminan makanan lebih tinggi, serta tidak perlu bersaing untuk mendapatkan makanan.

Tetapi, apakah naluri untuk berburu itu hilang sama sekali ? Oh, tentu saja tidak. Naluri pemburu itu masih ada dalam pusat kesadaran organisme manusia, hanya saja jumlahnya menyempit, dimiliki oleh sebagian kecil individu dari komunitas yang memang lebih memilih untuk melakukan aktivitas yang punya resiko lebih kecil, disinilah evolusi kognitif dan transformasi sosial terjadi.

Dominan tombol pusat kesadaran pemburu ini lebih kepada organisme lelaki, kenapa ? Tombol pusat kesadaran lelaki cenderung ke : peluang, dominasi, dan kekuasaan. Ingat, aktivitas berburu berarti harus mampu mengkuantifikasi peluang, berhitung dengan resiko, dan cepat mengambil keputusan, bukan begitu ? Selain itu, dalam perkembangan pengusaha yang mulai dari nol, dia pasti akan berpikir untuk melakukan penguasaan pasar ( dan kalau bisa, dimonopoli), berkembang lagi mengontrol distribusi, dan yang terakhir membangun basis produksi, di tahap ini dia sudah menjadi yang berkuasa.

Organisme perempuan, tombol pusat kesadaran cenderung kepada : keamanan, komitmen, dan andil. Ingat, faktor ini berhubungan dengan aktivitas bercocok tanam, yang cenderung aman, terpola, dan lebih kecil resiko dibanding berburu. Lalu, apakah kemudian berarti perempuan tidak cocok menjadi pemburu, atau pengusaha ? Tidak juga, bagaimanapun, lelaki dan perempuan tetaplah spesies yang sama, manusia. Hanya, saya tegaskan, evolusi kognitif dan transformasi sosial turut mengkonstruksi identitas pembeda antara lelaki dan perempuan, jadi ini soal perbandingan jumlah, bukan tertutupnya peluang perempuan tipe pemburu terwujud.

Kawula

Bagian ini, ontologi yang saya gunakan adalah antropologi, itu pun menyempit hanya pada Pulau Jawa, kenapa ? Karena, faktanya, pola pikir perimbangan relasi kuasa masih dominan dipengaruhi perspektif kejawaan tinggalan Orde Baru, yang wujudnya republik tapi bercita rasa kerajaan itu.

Kekuasaan kerajaan di Jawa sifatnya konsentris, tidak mengizinkan kekuatan lain selain sang baginda. Sifat kekuasaan politik juga merambah ke ekonomi, sang baginda beserta perangkat institusi kerajaan juga menguasai sumber- sumber kekayaan.

Cerapan ini menunjukkan bahwa budaya jawa tidak memberi peluang para kawula ( rakyat) untuk duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Budaya ini mematikan peluang golongan pedagang/ swasta untuk mengembangkan kapitalisme pasar, konsep politik tidak mentolerir orang kuat selain mereka, dan kekayaan berikut jejaring pasar adalah bentuk lain kekuatan, yaitu kekuatan ekonomi, yang bisa sangat mengancam kekuatan politik raja.

Pengaruh ini masih terasa di lingkar dalam pusat budaya Jawa, Jogjakarta dan Surakarta ( Solo), berikut area di sekelilingnya. Sedangkan untuk kota- kota kosmopolitan di pesisir Pantai Utara Jawa, semacam Semarang, Surabaya, Pekalongan, atau Jakarta, bertumbuhan para pedagang yang punya peluang untuk membangun instrumen ekonomi independen, berikut kesempatan untuk menantang kekuasaan politik raja.

Budaya ini turut mempengaruhi cara pandang masyarakat luas, tentang nilai status menjadi bagian dari pusat kekuasaan, dalam format birokrat ( adipati, pegawai negeri sipil), serdadu punggawa raja ( senopati, tentara), punya nilai lebih dari segi jaminan keamanan masa depan, atau dalam format ala Orde Baru, jikalaupun membangun perusahaan, maka ada tangan baginda raja yang bermain dan mendapat jatah di dalamnya

Orang Muda

Setiap pemburu pemula pasti merasakan beratnya jelajah penguasaan medan, pahitnya kegagalan meraih buruan, atau malah terluka dan merasa putus asa. Tetapi, itulah momen disonansi kognitif, momen evaluasi untuk melatih diri beradaptasi dengan keadaan yang jauh lebih berat dibanding kapasitas personalnya, berikut meningkatkan kemampuan untuk perburuan berikutnya. Setiap sarjana terdidik di perguruan tinggi, atau master, bahkan doktor, pasti memiliki kapasitas intelektual yang tinggi, tetapi tentunya motif awalan dia menempuh sekolah setinggi itu, setiap orang pasti berbeda. Apakah dia ingin menjadi bagian kerumunan petani yang suka aman, atau kawanan pemburu yang gemar bertualang , itu sangat menentukan akan dikemanakan ilmu yang telah diperolehnya selama sekolah.

Sekolah formal tak bisa disalahkan jika tak mampu mendidik manusia yang bisa membangun lapangan kerja.Tentunya calon pemburu seyogyanya dilatih juga oleh pemburu , bukan petani.Harus di medan perburuan, bukan cuma teori. Itupun harus sedari dini, bukan cuma saat di usia sekolah tinggi.

Mempelajari latar belakang budaya menjadi sangat penting, mengingat aktivitas ekonomi suatu kelompok bisa meledak, manakala berbasis pada budaya setempat. Dari budaya kita akan tahu, darimana kita harus berangkat. Senantiasa belajar itu harus, sekolah itu penting, dan melatih diri untuk memiliki mental pemburu itu wajib, karena setiap kawanan pemburu berpengetahuan mumpuni tentunya akan lebih efektif meraih hasil buruan. Jika memang ingin membangun Indonesia yang punya kemandirian ekonomi kuat, maka jadilah bagian kawanan pemburu, ini bukan soal bagaimana caranya menjadi kaya mendadak, tetapi tentang menikmati perburuan itu sendiri, karena berburu itu sungguh mengasyikkan, mari berburu Kawan…

Terinspirasi

Virus of the Mind, Richard Brodie

Politik Jawa dan Presiden Perempuan, Darmanto Jatman

Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang, Ong Hok Ham

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Philosophy and tagged , , .
%d bloggers like this: