Usual Storyline

oeuvre

Perempuan Jawa

Monolog

Pandangan pihak luar tentang posisi perempuan jawa, beberapa feminis khususnya, sejauh literatur yang pernah saya baca, cenderung peyoratif. Sebagai individu yang dibesarkan dalam budaya jawa pasaran, perspektif internal saya tentang perempuan memanglah kurang, jika dibandingkan dengan yang saya dapatkan kemudian hari di pergaulan dan buku. Masukan itu membuat saya mampu sedikit banyak mendeteksi mana budaya jawa pasaran dan ningrat, tengah dan pesisir, atau kompromis dan agresif. Untuk lebih detail lagi, saya bisa membedakan mana individu yang dibesarkan di pengaruh lingkaran dalam Jogja- Solo- Semarang, dengan area Banyumas- Pekalongan- Tegal- Cepu. Mulai dari aksen, kosakata, hingga cara untuk merespon ajakan berkonflik dan kemampuan mengakomodasi resiko dalam perdagangan- bisnis.*

Lelaki jawa ( Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya), belum bisa dikatakan lelaki sebenarnya, jika belumlah memiliki lima persyaratan yaitu : Wisma ( rumah), Kukila ( hobi khas), Curiga ( senjata/ posisi kuat), Turangga ( kendaraan pribadi), dan Garwa ( istri, aspek terakhir setelah empat sebelumnya didapatkan). Namun saya tidak hendak membahas lelakinya, melainkan perempuan jawa, itupun dalam nuansa jawa pasaran, bukan ningrat, sesuai latar belakang saya yang lahir dan dibesarkan di budaya jawa pasar.

Dalam prakteknya, nasib perempuan tidak sesimplifikatif yang digambarkan oleh media arus kuat , beberapa literatur yang menggambarkan ideal perempuan khas jawa, semacam tulisan TS Raffles, di History of Java, kental dengan nuansa visual, berikut kriteria ideal tentang sosok perempuan, juga mendalam dari segi fisik, saya curiga bahwa penulisnya lelaki, yang memang cenderung maunya mereduksi sosok perempuan dari sisi fisik, selain itu nuansa yang terbangun adalah nuansa ningrat, kebangsawanan, dan budaya borjuasi.Cobalah memasuki lebih dalam kawasan pusat perdagangan- kosmopolit di lingkaran Solo, Jogja, Pekalongan, atau kawasan pertanian- hutan di Blora, Semarang, Gunungkidul ( Jogja), Cepu, kita akan melihat sosok- sosok perempuan yang kalau bisa digambarkan sebagai pemegang peranan ekonomi signifikan, loyalitas tinggi dengan suami , daya tahan penderitaan jangka panjang tinggi, emosi terkontrol, berusaha memahami (dan menjaga ) perasaan lawan bicara, mementingkan harmoni, tidak suka berkonflik, kalem ( diam) sekaligus perasa, menjaga keutuhan institusi keluarga, dan yang paling terlihat, tutur katanya halus, terutama buat yang mengerti struktur strata bahasa jawa tradisional, akan mampu menangkapnya. Itu yang sedikitnya bisa saya tangkap dari perempuan di budaya jawa pasaran.

Disini, saya tidak mengambil Raden Ajeng Kartini sebagai contoh, melainkan Nyai Ontosoroh dan Siti Mariah. RA Kartini kental bernuansa ningrat, yang saya tidak menutupi, memang kuat sekali budaya patriarkinya. Perempuan hebat itu menembak sisi kritis yang menyebabkan perempuan lemah di sisi posisi publik kala itu, yaitu : Pendidikan. Sosok Nyai Ontosoroh ( Tetralogi Pulau Buru, Pramoedya Ananta Toer) dan Siti Mariah ( Hikayat Siti Mariah, Haji Mukti- diterbitkan berkala di harian Medan Prijaji milik Sarekat Islam oleh RM Tirto Adi Soerjo dan di terbitkan kembali dengan editor Pramoedya Ananta Toer)** lebih dekat dan punya banyak irisan kesamaan dengan perempuan jawa secara umum ( jawa pasaran) yang memposisikan diri untuk mengatur kebijakan keuangan rumah tangga, pendidikan anak, dan penengah dalam konflik internal keluarga.

Kalaupun kemudian “dirasakan” kurangnya porsi pengambil kebijakan yang “memihak” ke perempuan dalam ranah publik, maka sisi yang harus menjadi solusi adalah : Pendidikan dan Kebijakan seputar Pendidikan. Saya juga mengakui bahwa eksistensi budaya feodal- patriarkal punya artefak kuat di pulau jawa bagian selatan ke timur dan semakin kuat nuansa egalitar di area utara- barat.***

Saya pribadi memandang bahwa pengetahuan adalah kekuatan, dan adalah hak perempuan untuk mendapatkan porsi yang sama dengan lelaki. Dalam tema khusus perempuan jawa ini, dengan posisi seperti yang saya sebutkan di atas, maka harapan kemampuan perempuan jawa berpendidikan tinggi, untuk menyelaraskan kearifan nilai budaya jawab tersebut, dengan realitas dinamis zaman yang senantiasa berubah, akan mampu mendidik generasi penerus yang jauh lebih berkualitas, tentunya.

Catatan tambahan :

* Untuk bisa mendapatkan gambaran lebih luas dan mendalam tentang realisme sosial jawa, saya sarankan untuk mengkonsumsi karya tulisan padat bermutu yang disampaikan oleh Umar Kayam , Darmanto Jatman, dan Satjipto Rahardjo .
** Hikayat Siti Mariah ini bernuansa kemajuan industri gula di Hindia Belanda yang mendominasi pasar internasional saat itu, dan jawa adalah salah satu penghasil gula terbesar di Asia. Latar di Karesidenan Kedu dan Banyumas pada tahun 1840- 1890, saat puncak hasil penerapan Cultuurstelsel, pasca Perang Diponegoro.
*** Gambaran budaya feodal dalam kultur internal universitas ini disampaikan oleh orang tua Dr. Sri Mulyani Indrawati, keduanya adalah profesor- guru besar di Universitas Negeri Semarang ( UNNES), yang menyekolahkan kesembilan putra- putrinya di universitas jawa bagian barat- utara ( UI dan ITB). Dr. Sri sendiri dalam pandangan personal saya, dibalik kecerdasannya, dia menyimpan karakter perempuan jawa yang kuat dalam kepribadiannya, terutama soal memegang rahasia internal pemerintah, dalam kasus Century dan kekerasan hatinya dalam kasus Pajak Bakrie, yang saya prediksi masih banyak “confidential file” tersimpan dipegangnya.

Tulisan ini beririsan dengan presentasi Kavita Ramdas , di TED

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Review and tagged , .
%d bloggers like this: