Usual Storyline

oeuvre

Salad Days

Komik Salad Days

Hm, pernah “ada rasa” dengan cewek ? Jatuh cinta ? Umur berapa itu ? Kalau, sekitar usia SMP- SMU, sudah berapa kali pengalaman ? Pernah saingan berebut perhatian cewek, dengan kakak ( adik) sendiri , kawan baik, atau preman ? Ditembak adik kelas ? Atau justru menembak kakak kelas ? Ditolak dan merasa merana, atau justru menolak dia lalu menyesali diri ? Menemukan semangat belajar setelah diskusi dengan cewek cerdas yang misterius, atau malahan terganggu kehadiran cewek cakep yang merusak konsentrasi ? Kamu masih ingat dengan momen- momen itu ? Atau butuh stimulan grafis yang sanggup membangunkan kenangan indah ( atau, mungkin kenangan buruk) masa remaja awal itu ?

Fragmen realistis, menggelitik, cerdas, lazim, penuh kejutan, dan sekaligus komikal ala Shinobu Inokuma ini, terjajar di daftar manga ( komik Jepang), yang masuk standar layak koleksi saya, bersanding dengan Urasawa Naoki tentunya, bertetangga dengan Frank Miller ( AS) dan Marjane Satrapi ( Iran- Perancis) serta grafis klasikGoschinni- Uderzo ( Perancis) dan Herge ( Belgia). Grafisnya realistis, dengan anatomi yang masuk akal. Kekuatan Salad Days justru pada temanya yang “mudah”, soal cinta remaja, di lingkungan sekolah.

Kelindan masalah khas remaja usia sekolah, semacam pencarian jati diri, ujian akhir nasional, ulangan mingguan, laboratorium, tawuran, organisasi sekolah, kompetisi ranking, sampai motivasi mencapai universitas favorit, menjadi baluran bumbu sedap, yang membuat tema romantis ala Shinobu Inokuma ini menarik diikuti. Latar ruang dan waktu, berikut sudut pandang pentingnya pendidikan formal, membuat Salad Days tidak linear ( makanya, saya koleksi), sangat lateral, sekaligus realistis. Faktor fokus pada sudut pandang pelajar inilah, yang membuat seolah saya kembali lagi ke masa itu, dan bisa menyelami saat- saat kebingungan menghadapi soal ujian, tetapi masih saja menoleh kalau lihat siswi kelas sebelah ( yang cantik) lagi lewat.

Optimisme pelajar, untuk menatap masa depan, atau justru malah kebingungan dengan nasib masa depannya, menjadi poin kultural terpenting dalam sajian grafis Inokuma. Tanpa harus kehilangan momen kejutan romantis, atau mengganggu proses belajar akademis- seperti yang selama ini menjadi kekhawatiran orang tua siswa-, relasi cowok dan cewek yang baru merasakan ada rasa aneh bin ajaib antara mereka itu tergambar secara sederhana, wajar, serta masih dalam koridor batasan etika yang sesuai dengan prinsip etika saya saat ini. Bagi saya, disinilah letak kecerdasan Inokuma, galian fragmen romantis dalam suasana kebingungan psikologis khas remaja untuk menemukan dirinya, dibalut suasana realistis sistem pendidikan formal yang sarat penanaman nilai.

O iya, apakah saya punya memori dipendam, yang tidak sengaja tergali, pasca menyelami Salad Days ? Tentu saja, maka itulah saya tulis ini. Waktu itu sedang bingung memilih universitas,tanpa dinyana tiba- tiba ada telepon yang masuk, suara halus yang memberi ucapan selamat ( secara kebetulan, dia mendengar dari adiknya, saya juara sebuah kompetisi di propinsi, waktu itu).Suara seseorang yang saya kenal, cewek manis dan cerdas, sahabat lama yang sekolah di lain tempat. Si manis ini juga mengajak untuk masuk institut di Kota Bandung, yang mendadak sontak membuat saya menghapus opsi pilihan sebuah universitas di Kota Depok atau akademi militer di Kota Magelang, dan akademi akuntansi di Kota Bekasi. Dua pilihan dimasukkan ke satu institut yang sama langsung, saya sangat yakin dengan itu, apalagi suara si manis menguatkan tekad.

Setelah diterima, baru saya tahu kalau si manis ternyata memilih universitas di kotanya, tidak jadi ke Bandung. Lalu, kenapa bisa telepon dia yang masuk membuat saya memutuskan langkah ? Yup, sebuah kisah masa lalu, kami satu sekolah sebelumnya, dan ada peristiwa tidak mengenakkan, dia merasa saya tolak, atau pendeknya, bertepuk sebelah tangan bukan ?. Ini membuat semacam perasaan bersalah di dalam diri saya, walaupun sebenarnya, saya punya rasa yang sama dengan dia, yang baik, manis dan cerdas lagi ( beliau memegang juara kompetisi sains propinsi). Tetapi posisi saya kala itu, ketua OSIS dan Pratama Pramuka, membuat pertimbangan jadi lain, soal etika publik. Jadinya CLBK ( Cinta Lama Bersemi Kembali) istilahnya ? Dan kilatan memori itu membawa kembali ke momen keputusan bodoh kala itu.

Dari Salad Days, baru saya paham, bahwa rasa ditolak ternyata bisa sangat menyakitkan buat seorang cewek, baru saya pahami kemarahan beliau waktu itu ( dan bodohnya saya !)…..Itupun setelah tujuh tahun terlewat LOL!

Selamat menempuh hidup baru, Sahabat manis. Semoga berkah selalu. -_-’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Review and tagged .
%d bloggers like this: