Usual Storyline

oeuvre

Simbol

Simpanan Keris Belakang Pasca kekalahan kelompok Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa ( 20 Juli 1825- 23 Maret 1830), implikasi kultural yang terbentuk pada kalangan masyarakat Jawa ( lingkar dalam Jogja- Solo, dan daerah sekitarnya) sangatlah mendalam, bahkan diturunkan sampai beberapa generasi setelahnya. Perang Jawa mencatat, dari 23 ribu serdadu Belanda yang dikerahkan (tiga ribu di antaranya didatangkan langsung dari Belanda), delapan ribu di antara tewas. Sementara jumlah serdadu bumiputera yang dikerahkan Belanda ditemukan tujuh ribu di antaranya tewas.Sejarawan MC Ricklefs mengajukan angka hingga 200 ribu orang Jawa kedapatan tewas, sehingga penduduk Yogyakarta disebut-sebut hanya tinggal separuhnya.

Sejak kekalahan telak itu, para bangsawan Jawa, baik dari Surakarta maupun Yogyakarta, membuang jauh-jauh impian-impian untuk mengusir pemerintah kolonial Hindia Belanda dari tanah Jawa. Peran kraton-kraton Jawa surut ke dalam dan hanya menjadi lembaga-lembaga ritual, itupun dengan bentuk- bentuk ritualitas yang semakin kompleks, rumit, simbolistis, sekaligus tidak fungsional sama sekali.

Diponegoro, Sentot Prawirodirdjo, Untung Suropati, Trunojoyo, masih bisa dengan bangga menyandang keris di depan, lalu kenapa sekarang lelaki jawa harus menundukkan sikap, dan dengan malu- malu menyembunyikan kerisnya di punggung belakang dekat pantat ? Lalu membuat pembenaran bahwa keris di depan itu tidak sopan, kurang tata krama ? Tidak seharusnyalah beban kekalahan dan rasa malu itu ditanggung juga oleh generasi muda yang ada jauh setelahnya. Sebuah simbol terkadang menjadi lebih kuat dibanding substansi, bahkan simbol menjadi bentuk lain dari substansi, jauh lebih penting karena secara visual lebih dapat dibuktikan keberadaannya.

Kalangan sejarawan mengenal Teori Perifer. Teori ini menyatakan bahwa peradaban yang tumbuh di daerah pinggiran ( perifer), cenderung lebih mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, berikut cepat merespon untuk kembali membentuk budaya baru. Sedangkan peradaban yang menjadi pusat tumbuhnya peradaban baru, atau agama baru, cenderung untuk terbebani dengan sejarah masa lalu, lalu kesulitan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman dan kemudian mati. Kasusnya jamak, terjadi pada pusat peradaban klasik Sungai Eufrat Tigris ( Afrika Barat), Mesopotamia ( Timur Tengah), Kuning ( Asia Timur), dan Indus- Gangga ( Asia Barat) yang pernah menjadi pusat pengetahuan, kekuasaan, ekonomi, dan militer, ada masa matinya juga

Dalam perkembangannya, Eropa Barat, Eropa Utara, Asia Timur jauh ( Jepang- Korea), dan Amerika Utara, melesat cepat, menggantikan hegemoni masa lalu, dan menjadi pusat peradaban baru. Tesis Ibnu Khaldun tentang pola pergantian peradaban, dalam rentang waktu tertentu, memang terjadi nyata, manusia lahir dan mati. Yang hidup akan berkelompok lalu membentuk tradisi baru.Indonesia, adalah peradaban perifer

Republik Indonesia, lahir sebagai sebuah komunitas terbayang, sebelumnya telah hadir komunitas konkret yang meninggali Kepulauan Nusantara. Otomatis, sebagai sebuah komunitas terbayang, peradaban Indonesia lahir atas sebuah komitmen persatuan dalam keberagaman, yang sifatnya memang lebih membutuhkan proses berpikir lebih canggih dibandingkan dengan persatuan sebuah negara berdasar atas kesamaan etnis, suku, agama, atau bahasa. Komitmen persatuan atas keberagaman ini tidaklah selesai dalam satu generasi, karena manusia lahir, hidup, dan mati. Komitmen satu Indonesia atas keberagaman seharusnya diwariskan antar generasi yang lahir dalam setiap zaman baru. Setiap generasi akan menghadapi tantangan zamannya masing- masing, maka komitmen tentang “Indonesia Satu” sebaiknya juga tidak terbangun dari trauma masa lalu yang terkadang terasa hiperbolik, dramatik, romantik, sekaligus melankolik yang bikin mual orang muda

Memahami akar budaya itu penting, dan saya sepakat dengan itu, namun jika masa lalu justru membebani langkah menuju masa depan, berikut merenggut rasa kemerdekaan sebagai manusia berakal, di situlah letak ketidaksetujuan saya. Tanpa mengurangi rasa hormat saya dengan Pemerintahan Orde Baru dan Jenderal Soeharto, dalam hemat saya, pasca naiknya Jenderal Soeharto sebagai Presiden RI awal ’70-an, memang terlihat signifikan perubahan budaya di Indonesia, terutama dari segi keterbukaan investasi ekonomi, luar biasa. Namun, di sisi lain, mulai ’80-an, terlihat wajah lain dari cantiknya kekuasaan, yaitu kecenderungannya untuk korup dan menghancurkan kepercayaan. Terasa sekali kolonialisme Jakarta dan hegemoni Jawa tumbuh subur di kalangan birokrat dan militer ( Angkatan Darat khususnya). Disadari atau tidak, terlihat sekali dari segi pendidikan, universitas terbaik terkonsentrasi di Pulau Jawa. Segi ekonomi, 80% perputaran uang terkonsentrasi di Jakarta, padahal Jakarta notabene tak punya sumber bahan baku, daerah luar Jakarta jauh lebih kaya bahan baku, secara de facto.

Kenyataan ini tentunya menyakitkan, terutama bagi yang tahu faktanya, bagi manusia Indonesia yang bermukim di luar Jakarta, atau luar Jawa. Paradoks dengan slogan- slogan kosong nasionalisme yang sesaat nampak seksi itu, masalah perut tentu tak bisa diajak kompromi bukan ? Tetapi, semoga ini tidak menjadi alasan untuk melemahnya komitmen Indonesia Satu, seberapapun menyakitkannya. Saya lebih suka jika komitmen Indonesia Satu dibangun dengan kejujuran terhadap masa lalu tanpa terperangkap oleh nostalgia melankolik yang bikin kambuh rasa mual muntah, berikut optimisme melangkah ke depan dengan pembentukan identitas keIndonesiaan yang realistis, jujur, tanpa menghilangkan keberagaman yang sudah ada, bahkan tetap menjaga sinerginya

Lagi pula, di sisi lain, saya menaruh belas kasihan dengan posisi Jakarta yang sudah hampir tenggelam itu. Setiap kali harus mengurus pendanaan perusahaan saya ke bekas Batavia itu, saya tidak mau membayangkan untuk tinggal di kota yang untuk bernapas saja susah cari yang bersih, airnya diambil dari Sungai yang warnanya ( dan bau) tidak karuan, kendaraan yang tidak bisa bergerak bebas, dan panasnya setengah mampus. Kawan muda mantan sekampus kebanyakan lari ke Jakarta memang soal imajinasi penghidupan yang layak, namun dengan kualitas kehidupan seperti itu, atau cara pilihan mati karena kanker paru, stres, kolesterol, kanker rahim, atau sipilis, bukan pilihan cara mati yang keren buat saya. Sebaiknya, simbol Jakarta sebagai pusat politik sekaligus ekonomi ini mulai direduksi, kasihan Penduduk Jakarta, kota yang kelihatan cantiknya cuma kalau sudah malam hari itu

Pelan- pelan Sobat, kita usahakan untuk membangun pusat- pusat ekonomi di kota luar Jakarta. Ada Bandung, Jogja, Solo, Semarang, Surabaya, Lampung, Medan, Aceh, Pontianak, Kutai, Manado, Makasar, Ambon, Halmahera, dan kota- kota lain yang orang mudanya siap membangun masa depan Indonesia Satu yang lebih baik dan beradab, tanpa harus tergantung dengan Ibukota. Cukuplah Jakarta menjadi Ibukota politik, kami orang muda ini, berbaik hati ingin mengurangi beban pemerintah pusat untuk mengatur seluruh manusia di Kepulauan Nusantara yang luas ini. Lagi pula, sekarang sudah ada internet, Singapura, transito perdagangan Asia Tenggara mudah dicapai dengan maskapai murah, dan anak- anaknya Pak Harto sudah tidak punya pelindung lagi, apalagi yang menjadi halangan ?

Sekali lagi, saya tidak mau terbebani trauma masa lalu, apalagi terjebak simbolisme. Bagi saya, menjadi keren itu penting sekali ! Dan manusia terkeren adalah yang paling bermanfaat buat sesamanya. Menaruh senjata di depan, adalah keren menurut saya, tanpa ada rasa rendah diri, apalagi beban sejarah masa lalu. Masa depan masih banyak tantangan yang harus dihadapi, berikut prestasi yang harus diraih. Sobat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Review and tagged , , , , .
%d bloggers like this: