Usual Storyline

oeuvre

Teknologi

Kemerdekaan Bangsa Indonesia hanyalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih luhur, yaitu kemerdekaan manusia- manusia Indonesia ( Sutan Sjahrir, Perdana Menteri I Republik Indonesia)

Jika mau jujur, siapakah diantara kita ini sebetulnya bukan Indo atau Indisch juga ? Apakah kita dapat menjamin, dan dapat membuktikan tidak tercampuri 1 cc darah Arab, misalnya, atau 10 mg darah India, Cina, Portugis, Belanda, Jepang ? Apalagi di kalangan kaum ningrat, yang istananya diperkaya selir- selir “upeti” atau tanda persahabatan dari Jambi, Brunei, Cina, Jawa, Batak, Belanda, Jerman ?

Seperti bahasa, dengan gramatika dan idiomnya, sistem negara nasional adalah perkara yang berkembang historis, dimana nalar dan perhitungan ikut ambil bagian juga, tetapi ramuan unsur emosi, paksaan para adikuasa, kepentingan ekonomi,vested interest, agama, dan sebagainya, sangat berperan

Nasionalisme memang bibit sekawitnya sebagian terbesar adalah soal emosi, setidak- tidaknya bukan sesuatu yang tumbuh karena rasionalitas melulu, apalagi ilmiah. Namun, bukan berarti tanpa logika. Kalau dipikir, apa alasan Irian ikut RI dan bukan Papua Nugini ? Lalu Swiss, yang terdiri dari tiga “bangsa”; Frangkofonik, Jermanik, dan Italianik ? Juga Belgia yang penduduknya terdiri dari dua nasionalisme sebetulnya, Kaum Walonia yang berafiliasi pada Budaya Perancis, dan Vlaam, yang mengacu pada tata hidup, dan Bahasa Belanda ? Namun, memandang gejala nasionalisme hanya selaku hal yang mengada- ada belaka, berarti kurang memahami proses sejarah dan evolusi. Manusia adalah makhluk yang ada plus mengadakan plus mengada-adakan.

Orang eropa pun, butuh proses seribu tahun untuk memulai suatu kesadaran baru tentang kesatuan eropa. Padahal, negeri kita seluas jarak London sampai Moskwa, Stockholm sampai Roma, dan sebagian terbesar terdiri dari lautan serta selat- selat, dengan segala akibat cita rasa manusia pulau yang selalu cenderung untuk menafsirkan, ” Betapa pulauku selalu yang paling hebat, sedangkan pulau lain adalah musuh, paling sedikit saingan”.

Enam puluh tahun kita berdiskusi tentang usaha melek huruf bagi kaum terbelakang yang belum dapat membaca dan menulis dengan huruf latin, namun diam- diam, kita masuk ke dunia zaman baru, dengan orang “buta huruf” jenis baru, bahasa, sains, dan teknologi. Anak- anak kita diam- diam sedang “diculik” oleh suatu revolusi besar, masuk ke dalam era budaya pasca Indonesia.

Namun, ternyata salah satu masalah sosial budaya yang sangat rawan dan rupa- rupanya menuju ke jurang ialah dunia persekolahan kita. Ini kita catat tanpa menyalahkan para guru, karena mereka hanya menjalankan politik pendidikan dan pengajaran.Khususnya di jajaran sekolah dasar, karena disinilah dasar dari segala struktur persekolahan di atasnya, maka harus dibangun secara bagus dan berkualitas tinggi. Berbicara ekstrem agar jelas, dapat dikatakan bahwa universitas boleh bermutu rendah atau bobrok, akan tetapi sekolah, atau lebih tepatnya pendidikan dasar jangan ! Kalau dunia sekolah dasar rendah mutunya, maka segala- galanya yang nanti akan dibangun di atasnya, di perguruan menengah maupun tinggi, akan serba goyah dan hancur berpuing- puing.

Dari reaksi penilaian dan urutan berpikir logis dan bercita rasa dari kalangan terpelajar muda pun, ternyatalah betapa sulitnya para pemuda kita diajak untuk berpikir sistematis, apalagi mengungkapkannya dalam bahasa yang teratur dan komunikatif lagi bertanggung jawab. Tentu saja terkecuali the happy few yang berkesempatan memperoleh sekolah favorit bermutu atau yang sempat belajar berpikir di luar negeri. Di kalangan pembesar, dan yang tergolong eselon tinggi sekalipun, kita melihat betapa daya pikir, gaya argumentasi, serta sistematika logika mereka sulit dibanggakan bila berhadapan dengan masyarakat internasional yang setaraf dengan mereka, atau masyarakat terpelajar dari dalam negeri sekalipun

Meski setiap orang punya potensi penuh menuntut sains, tetapi aktualisasinya, pengembangan cepatnya, atau mendalamnya jiwa sains sungguh sangat terkondisi oleh lingkungan budaya, serta sejarah bangsanya. Jiwa sains memerlukan suatu sikap keyakinan bahwa seluruh semesta alam, yang mikro maupun makro, ada dan bergerak dalam suatu tatanan teratur, dalam suatu kosmos, artinya semesta yang teratur, mengikuti hukum- hukum yang tidak mengizinkan sembarang berjalan serba sembarangan. Apabila sains terapan dituangkan dalam alam produksi yang sistematis menjadi barang atau sistem, makan sains mengejawantah ke dalam teknologi yang berjalan lewat industri dan bisnis. Di sini dunia ekonomi dan politik, taktik strategi, dan rekayasa, sudah masuk, juga aspek militernya.

Generasi muda yang sebentar lagi akan bertugas memikul tanggung jawab yang berat terhadap sains dan teknologi semogalah selalu penuh harapan. Seriuskah kita dengan pembinaan generasi dan masyarakat baru yang berjiwa sains dan teknologi, dengan memberi mereka tanah tumbuh dan iklim yang cocok, yang bersih ?

Tulisan di atas, adalah kompilasi dari koleksi pribadi, kumpulan esai Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, medio 1986- 1993 yang lampau. Beliau berpikir tentang makna nasionalisme Indonesia, terhubung dengan usaha untuk memupuknya lewat pendidikan dasar, keluaran dari sistem persekolahan, yaitu manusia, dalam upayanya untuk memahamkan esensi bahwa sains dan teknologi, punya kontribusi besar, untuk membangun kemanusiaan itu sendiri, tetap dalam kerangka memakmurkan saudara sebangsa, Indonesia. Saya keluarkan lagi, karena ternyata masih relevan dengan keadaan sekarang, terutama pasca bergantinya rezim pemerintahan, berikut lahirnya jejaring maya global, internet

1. Buat Bapak Mendiknas, Prof.M. Nuh, yah, mengendalikan institusi dengan jejaring birokrasi seperti kementerian Anda, tentunya tidak mudah, apalagi dengan tanggung jawabnya yang tidak ringan : Mencerdaskan kehidupan bangsa, yang 2010 ini manusianya sekitar 237 jiwa, wow! Namun, ada satu hal yang diingatkan oleh Romo Mangun ( alm) diatas, bahwa keluaran dari sistem persekolahan yang Bapak ( dan staf) rancang, akan sangat mempengaruhi pola pikir, terhadap sains dan teknologi. Sains dan teknologi, butuh budaya manusia yang mendukungnya, dan bisa mengendalikannya, untuk melakukan inovasi- inovasi bernilai tambah ekonomi, ke aset di dalam tanah, air, dan udara wilayah kedaulatan NKRI. Akan sangat absurd, apabila manusia- manusia Indonesia keluaran pendidikan tingginya, dimanja oleh “produk teknologi”, menjadi konsumen “produk teknologi”, tetapi tidak becus mengolah aset di otaknya ( pengetahuan), dan mengonversi bahan mentah, jadi punya nilai jual, dengan teknologi di otaknya.

Jumlah SD; 144,567 , SMP ; 26,277 , dan SMU; 10,239, terbayang tuh, kebijakan Kemendiknas sangat punya nilai pengali yang luar biasa, dan tentunya tak bisa main- main menyusun kurikulum, apalagi coba- coba, karena kebijakan Bapak akan signifikan, mempengaruhi wajah Indonesia, lima generasi yang akan datang, wow !

2. Buat Bapak Menkominfo, (Ustadz) Tifatul Sembiring yang jago pantun. Tulisan Romo Mangun ( alm), dibuat jauh hari, ketika jejaring internet belum mewabah seperti sekarang. Jumlah pulau di Negara Kesatuan Republik Indonesia itu, 17, 504 pulau, dengan luasan seperti yang telah dianalogikan Romo, “seluas jarak London sampai Moskwa, Stockholm sampai Roma”, dengan konsentrasi penduduk, 58% di Jawa, 21% di Sumatra, 7% di Sulawesi, 6% di Kalimantan, 6% di Bali dan Nusa Tenggara, serta 3% di Papua dan Maluku.

Tantangan nasionalisme Indonesia, adalah distribusi ! Terlihat dari angka yang tercantum, walaupun harus diverifikasi lagi, mensolidkan yang namanya “nasionalisme” Indonesia, tidaklah mudah, karena itu akan menyangkut ke kebutuhan dasar manusia, yaitu : Perut ! Perut tidak kenal makanan berlabel nasionalisme.Kementerian Pak Tif, punya otoritas, yang setidaknya, bisa melakukan upaya menyeimbangkan distribusi tadi, yaitu : Distribusi informasi. Apapun alasannya, infrastruktur informasi di Indonesia, punya tenaga besar untuk melakukan kesetimbangan informasi, antara warga negara dengan warga negara, ataupun warga negara, dengan pemerintah negara.

Yah, kami adalah bagian dari “warga negara”, sedangkan Bapak berdua, adalah bagian dari pemerintah negara, yang fungsinya, menjadi administratur negara, alangkah baiknya, jika pemikiran lama Romo Mangun ( alm) itu, jadi bahan Bapak berdua buat memperbaiki lagi kondisi infrastruktur persekolahan dan informasi- komunikasi, yang sesungguhnya, punya kekuatan besar, untuk memanusiakan manusia Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Philosophy and tagged , , , .
%d bloggers like this: