Usual Storyline

oeuvre

The Prominent Women

Selama aku masih hidup masih berdaya, perang suci melawan kaphir ini hendak kuteruskan, demi Allah! Polem hidup, Bait hidup, Imam Long Bata hidup, menantuku Teuku Mayet hidup, Di Tiro hidup, Sultan Daud hidup, dan kita hidup ! Belum ada yang kalah, Umar syahid, marilah kita meneruskan pekerjaannya, guna agama, guna kemerdekaan bangsa kita, guna Aceh, guna Allah!…

Cut Nyak Dien memandang pada orang yang berbadan tinggi kurus yang berdiri di depannya itu, seolah- olah mengharap daripadanya pertolongan guna menjalankan maksudnya dengan sempurna, hati Umar terasuk melihat muka wanita yang lusuh oleh geram dan berang itu. Saudara sepupunya itu berdarah bangsawan yang panas, sikapnya seolah- olah harimau betina yang hendak menyerang si pengacau keluarganya, tapi pandangan mata itu mengisyaratkan pula, bahwa ia seorang perempuan. Kata kesetiannya membisikkan padanya untuk membantu wanita yang menjanda ini…

Jika hati Dien sesudah itu dapat pula melekat kepada Teuku Umar, maka yang menjadi dasar dan sebabnya hanyalah satu; Tertariknya hati oleh seorang laki- laki, yang di dalam Sabilillah, melawan kafir hendak dijadikan kawan seikhwan, rekan seperjuangan. Rekan itulah yang akan mengangkat senjata untuknya, penumpas kafir yang sedang menodai tanah airnya. Kawan itulah yang yang akan menyertainya dalam ia berhasrat hendak mengusir orang kafir dari tanah Aceh! Bukanlah suami pengantin yang hilang hendak dicarinya, penghibur hati yang gundah, melainkan ia hendak mencari rekan berjuang karena ia kehilangan kawan guna menyambung tangan yang puntung di dalam ia berhasrat hendak menerkam musuhnya


Cut Nyak Dien seorang wanita luar biasa, ibu yang hebat, melahirkan seorang putri pejuang bernama Cut Gambang, putrinya ini menikah dengan Teuku Mayet, putra Tengku Cik Di Tiro M Saman, seorang pejuang juga.
Berderet nama wanita- wanita muslim utama yang turut menghiasi sejarah panjang Bumi Rencong Aceh, mereka adalah Ratu Nur Ilah, Ratu Nahsariyah, Laksamana Keumalahayati, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah, Sultanah Nurul Alam, Sultanah Inayat Syah, Sultanah Kamalat Syah, Cut Nyak Meutia, Pocut Baren, dan Pocut Meurah Intan

 Mereka adalah Ratu Kerajaan Aceh, komandan tentara angkatan laut Kerajaan Aceh, dan pemimpin pejuang kemerdekaan.

Di balik semua itu, mereka juga adalah seorang Ibu…

Hanya wanita hebat yang akan mampu mendidik calon- calon pahlawan peradaban, bukan hanya karena keturunan, namun lebih karena karakter didikan, teladan langsung seorang Ibunda berkarakter pejuang, bukankah Al Ummu Madrasatun ? Ibu adalah madrasah pertama dan yang utama untuk membentuk karakter pahlawan sejati.

Selamat untuk para Ibu hebat yang telah melahirkan dan mendidik Anda semua yang telah membaca tulisan ini, dan tentunya untuk Anda, para calon Ibu pembangun peradaban.

Semoga dari tanah Indonesia ini akan terwujud kembali pahlawan- pahlawan wanita hebat seperti di atas, dan semoga itu adalah Anda, salah satunya.

Ref : The Prominent Women in the Glimpse of History, Ismail Sofyan dkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Review and tagged , .
%d bloggers like this: