Usual Storyline

oeuvre

The Simpson

I’m not a bad guy! I work hard, and I love my kids. So why should I spend half my Sunday hearing about how I’m going to Hell?

How is education supposed to make me feel smarter? Besides, every time I learn something new, it pushes some old stuff out of my brain. Remember when I took that home winemaking course, and I forgot how to drive?

But Marge, what if we chose the wrong religion? Each week we just make God madder and madder.

America’s health care system is second only to Japan … Canada, Sweden, Great Britain … well, all of Europe. But you can thank your lucky stars we don’t live in Paraguay!

I’m normally not a praying man, but if you’re up there, please save me, Superman.

(Homer Simpson )

Keluarga Simpson yang apa adanya mereka itu, dengan segala problema kehidupan mereka yang komikal ( ya iyalah, memang kartun !), seringkali bisa menjadi bahan refleksi publik, yang cerdas, kritis, menggigit, serta memberikan nuansa sudut pandang baru, tentang kehidupan keluarga “biasa saja”, di pinggiran kota kecil, dari kalangan kelas menengah pekerja ( atau buruh ?), di kota kecil AS.

Homer Simpson,sang ayah dengan usia hampir kepala empat, botak, kelebihan berat badan, bertemperamen kasar, suka main- main, impulsif, pelupa, cuek, spontan, suka meminjam barang tetangga dan sengaja lupa mengembalikan, serta kecanduan alkohol. Dengan segala karakternya itu, Homer sangat mencintai keluarganya, walaupun seringkali timbul konflik dengan istri dan anaknya, itu membuat mereka semakin kompak dan bahagia, dengan segala permasalahan yang dihadapi.

Marge Simpson, tipikal ibu yang cerdas, berkebalikan dengan suaminya. Marge ini punya kesabaran tingkat tinggi, berikut kemampuan untuk berpikir logis dan komprehensif. Marge juga, adalah satu- satunya sosok yang dihormati oleh tipikal anak lelaki pemberontak nomor wahid, Bart Simpson, si putra pertama. Bart Simpson, menjadi simbol anak lelaki hiperaktif yang cerdas, kritis, sekaligus anarkis. Menjadi anak bandel nomor satu di sekolahnya, kerapkali dihukum karena ketidakpeduliannya dengan yang namanya otoritas dan aturan institusi. Lisa Simpson, adik pertama Bart, justru mirip dengan ibunya yang pintar. Lisa sangat feminim, tipikal calon wanita karir independen, yang kritis, serta berpola pikir ala aktivis heroik. Bart yang cerdas- anarkis, dan Lisa yang pintar- taat aturan, seringkali berkelahi dengan komikal, ditambah Homer yang turun tangan, untuk menambah masalah jadi tambah runyam, dan diakhiri dengan Marge yang mendamaikan semua.

Keseharian Keluarga Simpson ini, seringkali bertemakan muatan- muatan kritis yang reflektif,sekaligus menuntut kesigapan mengikuti informasi terbaru, untuk bisa ikut tertawa dengan humor- humor satiris yang dilontarkan, oleh Homer biasanya. Tentang sistem pajak, asuransi, pendidikan, upah buruh, transportasi, militer, kebodohan politisi yang narsis, dan banyak hal lain. Menarik, karena sudut pandang yang diambil adalah : Keluarga kecil. Dalam perbincangan media arus kuat, seringkali tingkah laku politisi membuat undang- undang, birokrat yang juga pemalas, pebisnis rakus bermain dengan klik politik, guru yang tidak pantas diteladani, seolah- olah tidak terhubung dengan kehidupan pribadi pembacanya. Disadari atau tidak, setiap perubahan sosial, dipicu dari sisi manapun itu, apakah di kalangan warga negara, atau pemerintahan negara, sedikit banyak, serpihan- serpihannya akan memberikan akibat pada lingkar terkecil sebuah komunitas negara : keluarga.

Di sini, Indonesia, mungkin bisa disebutkan beberapa karya yang punya muatan anarkis, semisal Panji Koming, dengan tokoh Panji yang memiliki karakter lugu dan agak peragu, kekasihnya Ni Woro Ciblon yang cantik, pendiam dan sabar.Kawan setia bernama Pailul yang agak konyol namun lebih terbuka dan berani bertinda, kekasih Pailul, Ni Dyah Gembili, perempuan montok yang selalu bicara terus terang. Terkadang muncul tokoh Mbah, seorang ahli nujum yang sering ditanya mengenai masalah-masalah spiritual, serta punya penerawangan fotografis ke masa depan, serta seekor anjing buduk yang dijuluki “Kirik”. Atau, kalau yang sempat mengoleksi kompilasi sketsa Prof.Umar Kayam ( Alm),pasti akrab dengan tokoh Pak Ageng ( yang juga bentuk personifikasi dari Umar Kayam sendiri), Bu Ageng, serta kabinet dapurnya, Mister Rigen, Missis Nansiyem, serta stafnya Beni Prakosa. Keluarga hangat di kota pendidikan ( digambarkan Jogja), dengan segala kesehariannya yang penuh warna, serta sarat dengan muatan falsafah kejawaan. Kalau dalam bentuk sinema berseri, dulu pernah ada Keluarga Cemara yang sempat menjadi hit, walau sekejap.

George Orwell pernah mengatakan bahwa bentuk novel adalah yang “paling anarkis” dalam kesusastraan. Orwell benar, sepanjang sifat “anarkis” itu diartikan penampikan novel kepada segala yang ortodoks dan mengekang. Tetapi pada sisi lain, novel-seperti yang ditulis oleh Orwell terutama novel sejarah itu-mempunyai dorongan yang dekat dengan kehendak “mengetahui”. Dan “mengetahui” bukanlah sesuatu yang bisa terjadi dengan anarki; mengetahui adalah proses yang tertib. Novel, cergam ( komik), esai, kartun, dengan media publik yang masif, menjadi alat untuk menghorizontalkan entitas abstrak bernama ” otoritas kekuasaan”.  Anarkisme, dalam perkembangannya tumbuh menjadi bentuk gerakan sosial politik dan pemikiran filsafat yang menyatakan bahwa semua bentuk negara, pemerintahan dan kekuasaan adalah buruk dan oleh karena itu harus ditolak dan dihancurkan.

Bentuk sastra klasik, semacam Mahabarata, Ksatria Meja Bundar Arthur, atau Beowulf,  yang istanasentris, tidak memberikan tempat ke rakyat biasa, tanpa embel- embel kedigdayaan sakti mandraguna, atau label keningratan, semacam Homer Simpson, atau Panji Koming. Tanpa berpihak ke genre manapun, namun sastra, komik, atau kartun sekalipun, sebenarnya adalah manifestasi dari wajah sosiokultural, dari masyarakat yang menjadi modelnya.

Harus diakui tidak sedikit manusia di dunia justru menjadi lebih humanis karena inspirasi pemikiran kaum anarkis. Kekuasaan bukan lagi barang konkret yang sakral dan anti kritik, mitos orang kuat juga semakin sirna, berikut semakin horizontalnya jarak kekuasaan, antara pemerintah, dengan warga negaranya. Bagaimanapun, pemikiran semacam ini, harus diimbangi dengan sikap tanggung jawab yang mumpuni, kenapa ? Karena otoritas, yang pada awalnya untuk membangun sebuah peradaban, adalah bertujuan untuk membangun keteraturan antar hubungan manusia, yang sarat dengan benturan antara kepentingan privat ( pribadi), dan publik ( umum). Sikap anarki tanpa adanya kepentingan untuk membangun peradaban, tanpa ada tanggung jawab solidaritas sosial, justru akan menimbulkan kekacauan di sisi yang lainnya, dan itu nampaknya bukan pilihan yang bijak pula.

Obrolan di warung kopi, forum maya bebas 2.0 semacam Politikana, mungkin terlihat hangat- hangat tahi ayam, yang bagi sebagian “manusia bersemangat”, terlihat tidak heroik, tidak konkret, tidak revolusioner, dalam artian dalam waktu pendek, secara serta merta, menimbulkan dentuman besar sosial, “meruntuhkan” oligarki yang dominan. Okelah, mungkin saya juga bukan termasuk “manusia bersemangat” semacam itu, namun dalam skala tertentu, dan dalam dimensi ruang waktu tertentu, setiap bahan obrolan, dalam bentuk lontaran serius penuh data, sarkastis yang menyebalkan ( dan terlihat seksi karena nampak “cerdas”), atau humor ringan yang bermuatan satir, ada serpihan ide yang tersebar, ada resonansi intelektual yang terproduksi ulang di benak manusia yang berada di dalam lingkaran itu, entah seberapa besar serpihan itu terbentuk, namun sudah terjadi reproduksi ide, itu intinya.

Yah, apapun itu, dengan teknologi informasi yang ada sekarang, ada baiknya dimanfaatkan untuk berbagi pemikiran, bentuk lain dari sikap beramal, hitung- hitung saling menasehati, karena walaupun “cuma” lontaran lelucon ringan, bisa jadi yang “cuma ringan” itu, bisa memberi inspirasi manusia di sekelilingnya, untuk lebih mawas diri dan sadar kritis, pelan tapi pasti, dan menyenangkan….

Ya, begitulah….

Menyitir lagi pendapat dari tokoh “anarkis” yang mengedepankan langkah tanpa kekerasan, Mohandas Karamchand Gandhi :

If one has no affection for a person or a system, one should feel free to give the fullest expression to his disaffection so long as he does not contemplate, promote, or incite violence.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Philosophy and tagged , , .
%d bloggers like this: