Usual Storyline

oeuvre

Entrepreneurship Does Matter

Indonesia ini punya wilayah geografis yang setara dengan luasan jarak antara London ke Moskwa, dari Stockholm ke Roma, sumber daya alamnya berlimpah , serta sabuk cincin gunung berapi yang kerapkali marah, sekaligus turut menyuburkan tanah. Menariknya, dengan fakta itu, dekomposisi pertumbuhan ekspor dari tahun 1990 hingga 2008 menunjukkan sebagian besar peningkatan ekspor Indonesia dalam 18 tahun terakhir didorong oleh produk yang sama, yang dijual ke pasar yang sama. Karakter industri di Indonesia ternyata didominasi industri primer ( bahan mentah), dan industri sekunder ( pengolahan bahan mentah ke bahan baku), artinya tidak banyak nilai tambah ekonomi yang diberikan oleh manusia Indonesia, terhadap aset sumber daya alam yang ada di wilayahnya.  Untuk ukuran sebuah negara, dengan manusia penghuninya sekitar 231 juta, dan 70%-nya adalah usia produktif ( 15- 64 tahun), sebenarnya aset potensial Indonesia yang belum dioptimalkan sepenuhnya adalah kapasitas sumber daya manusianya.

Tentunya kita tidak mau label ironis “Kutukan Sumber Daya Alam” ( Resource Curse) tertempel di wajah Indonesia bukan? Negara yang sumber daya alamnya berlimpah,  tetapi lemah ekonominya. Pekerjaan rumah untuk Warga Negara Indonesia itu ada dua, pertama tentang kemampuan memberikan nilai tambah ekonomi, dan yang kedua adalah distribusi kesejahteraan.

Peta Indonesia

Indonesia, sebagai negara demokratis muda, koefisien Gini- nya antara 0,35- 0,39, dibandingkan dengan Eropa Barat ( dan Kanada) ( 0,3- 0,34) atau Eropa Utara ( 0,25- 0,29), kita nampak lebih terjadi kesenjangan ekonomi. Tapi, jika dibandingkan dengan AS, Cina, atau Malaysia ( 0,45- 0,49), distribusi ekonomi di Indonesia lebih merata. Koefisien Gini Indonesia mirip dengan India, dan Jepang. Besaran koefisien gini menjadi salah satu nilai ukur tingkat distribusi kesejahteraan ekonomi dalam suatu negara, semakin kecil angkanya, maka distribusi kesejahteraan juga semakin relatif merata.

Jika ada yang bertanya, kenapa kewirausahaan di kalangan pemuda layak menjadi urusan penting ? Maka dua paragraf di atas adalah motif terkuatnya, yaitu urusan nilai tambah ekonomi, dan distribusi kesejahteraan. Pemikiran untuk memberikan nilai tambah ekonomi terhadap aset sumber daya alam, menjadi penting dibudayakan, jika ingin membangun Indonesia yang lebih kuat pertahanan ekonominya ke depan. Salah satu fakta menggembirakan adalah maraknya seminar tentang kewirausahaan selama satu dekade terakhir di kota besar Indonesia, berikut kompetisi kewirausahaan buat kalangan mahasiswa yang kerap digelar tiap tahun. Namun, apakah itu cukup ? Karena suksesnya program kebangkitan wirausahawan Indonesia, bukan hanya urusan orang per orang, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi, infrastruktur, penegakan hukum, dan stabilitas politik keamanan di Indonesia.

Nilai tambah ekonomi berarti butuh proses tambahan atas bahan baku, proses yang akan meningkatkan produktivitas dan efisensi, berikut proses inovasi dalam rangka perbaikan berkelanjutan, yang akan meningkatkan profitabilitas jangka panjang. Proses tersebut dapat dicapai, manakala bisnis- bisnis yang dibangun oleh anak muda Indonesia ini, dibangun berdasar atas keberanian mengambil resiko, etos kerja tinggi, logika bisnis kuat, basis pengetahuan solid, dan kreativitas yang menjual. Di sinilah letak titik sambung antara penguasaan sains, teknologi, dan seni, dengan keberanian memulai usaha, serta kemampuan menjalankan bisnis yang sehat dan beretika.

Dalam hal kemudahan menjalankan bisnis, Indonesia mendapat peringkat ke 121 dari 183 negara di dunia, sedangkan tetangganya, Singapura, berada di peringkat pertama ( Ease of Doing Business Index 2011, World Bank). Hampir dalam setiap kriteria penilaian, skor Indonesia berada di papan bawah, yaitu : Memulai bisnis baru (155), perizinan konstruksi (60), pendaftaran properti (98), kemudahan kredit (116), proteksi terhadap investor (44), beban pajak (130), perdagangan antar wilayah ( 47), disiplin kontrak ( 154), dan menutup operasi bisnis ( 142). Pendeknya, memulai atau menjalankan bisnis di wilayah Indonesia bukanlah perkara yang mudah. Urusan kewirausahaan jelas melibatkan tangan pemerintah dengan kaki tangan birokrasi dan perundangannya, jika pemerintah Indonesia memang serius ingin memperkuat ekonomi sektor riil, maka pekerjaan rumah sudah menumpuk untuk dibenahi.

View this document on Scribd

Bisnis dengan nilai tambah ekonomi yang signifikan, jelas membutuhkan wirausahawan- wirausahawan kreatif, dan dalam hal ini, kreativitas sangat bisa dibentuk dalam dunia pendidikan formal yang mampu menunjukkan aplikasi sains, teknologi, dan seni, dalam wujud konkretnya. Pendidikan formal jelas sangat penting, namun tidak cukup untuk membentuk wirausahawan yang tangguh.

Jika pemerintah memang serius ingin membangun basis ekonomi lokal yang kuat, maka harus ada perbaikan dari segi regulasi, penegakan hukum, perbaikan infrastruktur, regulasi kredit perbankan, serta jika memang memungkinkan, membangun lembaga pembiayaan ( ventura) khusus untuk wirausahawan muda yang sekaligus berfungsi sebagai inkubator.

Wirausahawan muda ini kelak akan membuka lapangan kerja, memungkinkan peluang terjadinya mobilitas vertikal antar warga, dan membuat ekonomi negara berjalan sehat. Krisis ekonomi 1998 terjadi bukan hanya karena sebab moneter, tetapi juga karena menurunnya daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat menurun karena tidak tersedianya cukup lapangan kerja. Bayangkan dampak positif yang akan terjadi satu dekade lagi, ketika saat ini bermunculan para pengusaha muda yang akan membangun industri- industri baru di Indonesia.

Tiga pertanyaan yang harus dijawab oleh wirausahawan muda sebelum benar- benar terjun membangun usaha, dengan tantangan apapun yang ada di hadapan mereka, adalah (1) Hal apa yang membuat kamu sangat bersemangat untuk diwujudkan ? (2) Pada bidang apa kamu menjadi yang terbaik diantara yang terbaik ? (3) Bagaimana merubah dua hal tersebut menjadi menjadi uang ? Jika ketiga pertanyaan tersebut sudah mantap terjawab, maka apapun tantangan yang ada di hadapan  ke depannya, maka peluang untuk dilibas selalu besar.

View this document on Scribd

Saat ini, mungkin para wirausahawan muda Indonesia sedang mengalami masa ”belajar” yang penuh masalah, namun masalah tersebut hanya akan membangun daya tahan lebih, melahirkan kekuatan baru di kemudian hari. Usia muda memberikan peluang waktu belajar lebih leluasa, untuk belajar dari kegagalan kecil, dan merengkuh pencapaian besar di masa kemudian. Semangat dan keberanian saja tidak cukup, butuh kemampuan teknis bisnis yang akan mempermudah wirausahawan muda dalam membesarkan usahanya, dalam kasusnya di Indonesia ini, mereka juga harus paham tantangan- tantangan aspek bisnis dan non bisnis yang harus dihadapi kedepannya.

MEKAR Sampoerna Foundation Essay Competition 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 10, 2011 by in Review and tagged , , , , .
%d bloggers like this: