Usual Storyline

oeuvre

Avatar Aang

…. Finally, [the nation] is imagined as a community, because, regardless of the actual inequality and exploitation that may prevail in each, the nation is conceived as a deep, horizontal comradeship. Ultimately, it is this fraternity that makes it possible, over the past two centuries for so many millions of people, not so much to kill, as willing to die for such limited imaginings.”
— Benedict Anderson

Avatar Aang

Pernah meluangkan waktu sejenak untuk menonton film Avatar, The Legend of Aang, bersama anak, keponakan, atau keluarga ? Mungkin banyak yang meremehkan film tersebut, yang segmentasinya untuk anak dan remaja, sehingga terkesan tidaklah terlalu kompleks, serius, dan aktual. Namun, anak- anak dan remaja tentunya belajar dari apa yang mereka bisa lihat, baca, dan diskusikan dengan lingkungan terdekat mereka, keluarga Dan slogan bahwa mereka adalah masa depan bangsa, kenapa kita tidak coba dari cara termudah, untuk mendewasakan mereka ? Baiklah, terkhusus untuk warga Politikana, mari kita amati apa yang bisa kita gunakan dari film tersebut, untuk menjadi bahan diskusi menarik, seputar konsep kenegaraan, budaya peradaban, politik internasional, dan ditarik ke keadaan aktual kita, sebagai warga negara di negara bangsa, bernama Indonesia.

Michael Dante diMartino dan Bryan Konietzko, menggunakan setting dunia fantasi, yang terbagi dalam empat peradaban, yaitu Negara Api ( Fire Nation), Kerajaan Tanah ( Earth Kingdom), Suku Air ( Water Tribe), dan Pengelana Udara ( Air Nomad). Dari namanya, Anda pasti sudah bisa menebak bukan, bahwa tingkat komplektitas peradaban keempat komunitas tersebut, terutama dari administrasi publiknya, berbeda ? Baiklah, mari kita bahas satu persatu disini :

Negara Api ( Fire Nation)

Sebuah peradaban, yang manusianya memiliki kompetensi individu untuk mengendalikan api ( Firebending). Sistem administrasi publiknya, adalah yang paling kompleks diantara ketiga peradaban yang lain. Sistem pertahanan keamanan dan militernya, juga tertata dengan hirarki yang ketat dan rapi. Sistem pendidikannya, menggunakan sistem kelas, yang kurikulumnya dikendalikan oleh pemerintah.

Mereka memadukan antara konsep negara dinasti dengan negara bangsa, karena penguasanya masih berdasarkan pada genetik ( keturunan), mungkin kalau di keadaan aktual, Negara Api ini mirip dengan Britania Raya. Budaya industrinya, yang paling maju diantara ketiga negara yang lain. Nampak sekali bahwa otomasi sudah berjalan dengan baik, dan tahapan industrinya sudah meliputi industri primer sampai tersier, pusat kota adalah wahana pusat bisnis servis. Perpaduan antara teknologi tinggi dan organisasi militer yang rapi, membuat kekuatan kolektif Negara Api menjadi yang paling dominan, diantara tiga peradaban yang lain.

Jurus yang digunakan oleh militer Negara Api, menggunakan gerakan- gerakan dasar seni beladiri Kung Fu Shaolin Utara, yang karakternya cenderung agresif.

Kerajaan Tanah ( Earth Kingdom)

Sebuah peradaban, yang manusianya memiliki kompetensi individu untuk mengendalikan tanah ( Earthbending). Sistem administrasi publiknya, lebih sederhana dibandingkan Negara Api, namun lebih kompleks dibandingkan Suku Air ( Water Tribe) dan Pengelana Udara ( Air Nomad). Sistem pendidikannya masih eksklusif, anak- anak yang dilahirkan di keluarga aristokrat, bisa mendapatkan fasilitas guru privat, yang menjadikan kompetensi dan pengetahuan terbatas, hanya pada beberapa kelompok kecil elit.

Di Kerajaan Tanah ini, nampaknya diperintah oleh raja yang lemah dan kekanak- kanakan, sehingga begitu mudah disusupi oleh kekuatan- kekuatan politik dari Negara Api. Budaya ekonominya juga belumlah sekompleks Negara Api, tebakan saya, mereka masih berkutat di Industri primer ( bahan baku), dan sedikit yang Industri sekunder ( pengolahan). Militer yang dimiliki oleh Kerajaan Tanah, sudah memiliki sistem administrasi yang rapi dan hirarki yang ketat, yang jelas membedakan tingkat kemajuannya dengan Negara Api adalah, penggunaan senjatanya yang jauh tertinggal dari segi teknologi. Dan kelemahan inilah yang menjadi titik lemah militer Kerajaan Tanah, ketika militer Negara Api sudah sampai di pintu gerbang ibukota mereka, Ba Sing Se. Militer Kerajaan Tanah kalah.

Jurus yang digunakan oleh militer Kerajaan Tanah, menggunakan gerakan- gerakan dasar seni beladiri Kung Fu Hung Ga, yang karakternya cenderung defensif.

Suku Air ( Water Tribe)

Sebuah peradaban, yang manusianya memiliki kompetensi individu untuk mengendalikan air ( Waterbending). Sistem administrasi publiknya, lebih sederhana dibandingkan Negara Api dan Kerajaan Tanah, namun lebih kompleks dibandingkan Pengelana Udara. Mereka juga diperintah oleh Kepala Suku, yang secara garis besar terbagi menjadi dua, Suku Air Utara, dan Suku Air Selatan.

Sistem pendidikannya, masih elitis, belum ada sistem kelas, sehingga kompetensi dan pengetahuannya tidak terdistribusi merata. Militer mereka, tidak terorganisir sebaik Kerajaan Tanah, apalagi Negara Api. Sehingga mudah untuk dikalahkan satuan marinir dari Negara Api saat diserbu. Tidak terlalu jelas, bagaimana sistem ekonominya, namun nampak bisa ditebak, bahwa budaya industrinya belum terbentuk.

Jurus yang digunakan oleh militer Suku Air, menggunakan gerakan- gerakan dasar seni beladiri Tai Chi, yang karakternya halus dan mengutamakan harmoni kekuatan- kelembutan.

Pengelana Udara ( Air Nomad)

Sebuah peradaban, yang manusianya memiliki kompetensi individu untuk mengendalikan udara ( Airbending). Tidak ada sistem administrasi terpusat, yang mengatur kepentingan kolektif. Keberadaan mereka juga tidak menetap, masih suka nomaden ( berpindah- pindah). Tidak memiliki sistem ekonomi terpusat, dan tidak memiliki tenaga militer khusus.

Peradaban inilah yang dengan kejam dibunuh oleh militer Negara Api, karena memang paling kecil peluangnya untuk bisa melawan dengan kekuatan setara, selain itu, mereka juga cendrung pasifis.

Jurus yang digunakan oleh warga Pengelana Udara, menggunakan gerakan- gerakan dasar seni beladiri Baguazhang, yang lincah dan cenderung menghindari konflik terbuka.

Bahan Diskusi

Bentuk transformasi komunitas manusia, semenjak Homo sapiens eksis di Planet Bumi, dimulai dari Benua Afrika, lalu keluar ke area Timur Tengah, dan menyebar ke benua lain, menarik untuk dicermati. Dari fase berburu dan meramu, hingga menetap dan bertani. Dari yang sistem administrasinya kecil, berbasis kelompok suku, hingga ke negara dinasti, dan saat ini bertransformasi lagi ke negara bangsa. Tentunya, di dalam komunitas- komunias manusia tersebut, terjadi konsensus- konsensus, yang membentuk segala kompleksitas sistem dan budayanya.

DiMartino dan Konietzko, nampaknya sengaja menggabungkan bentuk sistem administrasi publik, yang dalam sejarahnya selalu bertransformasi tiap termin waktu itu, ke dalam satu momen waktu yang sama. Dari situ, kita bisa ajak diskusi anak- anak, dan remaja, untuk membuka wacana, beda antara negara dinasti dan negara bangsa, beda antara sistem kelas dengan pendidikan privat, dan lain lain.

Ini menarik, karena sebenarnya, konsep negara bangsa sendiri belumlah lama dicetuskan, itu kalau kita merujuk ke Revolusi Perancis, 1799, yang berarti kalau dihitung baru sekitar 3 abad lebih sedikit. Konsep negara bangsa, yang masih baru ini, dengan segala modifikasinya, dengan konsep pemerintah negara dan warga negara, tentunya berbeda dengan negara dinasti, yang membedakan antara rakyat dengan penguasa. Saya memahami bahwa ini adalah materi yang kompleks dan rumit, namun, kalau dengan media film, bukankah akan lebih meringankan ?

Mungkin, bisa dicoba ? Mari…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 15, 2011 by in Review and tagged , , .
%d bloggers like this: