Usual Storyline

oeuvre

Romansa Kopi

Coffee should be black as hell, strong as death, and sweet as love. ( Peribahasa Turki)

“Apakah Paduka mengenali aroma rokok ini? ”… “Paduka, aroma inilah yang menyebabkan bangsa paduka mengarungi lautan 400 tahun yang lalu dan menjajah tanah kami” ( Haji Agus Salim, menteri luar negeri RI, mencairkan kebekuan sikap Pangeran Philip, Duke of Edinburg, suami Ratu Elizabeth 2,pada sebuah jamuan kenegaraan)

Biji Kopi

Secangkir kopi dan selinting sigaret, kombinasi kompak kawan meronda, berpikir tengah malam, atau diskusi bersama sobat, apapun topiknya.Lebih nikmat lagi, manakala sambil menyesap, kita mencoba menelaah sejarah biji legam penuh kenikmatan itu, bagaimana bisa tumbuh di tanah kepulauan Indonesia, sampai kita teguk di hadapan kita, sekarang.

Asal tahu saja, tidak banyak anak muda yang sadar, bahwa jalan raya pantura ( Pantai Utara Jawa), tulang punggung transportasi darat Pulau Jawa itu, menyimpan sejarah penuh darah dan air mata kakek- kakek kita, yang dipaksa bekerja, membangun jalur sepanjang lebih dari 1000 km, dari Anyer hingga Panarukan, dibawah instruksi Herman Willem Daendels. Pram menyebutnya genosida, setidaknya 12,000 kakek- kakek kita tewas binasa, untuk membangun Jalan Pos, yang sekarang masih kita nikmati sebagai jalan utama.Menyelami sejarah, membuat kita akan menghargai kehidupan manusia, sambil membangun masa depan tanpa kehilangan identitas.

Kembali ke kopi, biji legam ini bukanlah tanaman asli Indonesia, masih ingat VOC ? Perusahaan multinasional( MNC)pertama di dunia itulah ( 1602 M), yang menggagas penanaman kopi di kepulauan nusantara. Tahun 1699 adalah pengiriman kedua bibit kopi ke Pulau Jawa,pertama ditanam di Sukabumi dan Bogor.1711, VOC mulai pertama kalinya mengekspor kopi ke Eropa daratan, 1 dasawarsa kuantitasnya di angka 60 ton/ tahun. Nusantara, adalah tempat pertama di dunia, di luar Arabia dan Ethiopia, biji kopi ditumbuhkembangkan, bangga bukan ? VOC ini memonopoli perdagangan global kopi dari kepulauan nusantara, dari 1725- 1780.

Pada awalnya, valuasi biji kopi ini, bernilai 3 gulden/ kg di Amsterdam. Pendapatan perkapita di Belanda waktu itu, sekitar 200- 400 gulden, atau ekuivalen dengan beberapa ratus dolar AS/ kg kopi, hari ini. Harga biji kopi turun hingga 0,6 gulden/ kg di awal abad 18, konsumsinya pun meluas ke kalangan umum.

Biji legam nikmat ini, menyumbang pendapatan terbesar ke VOC, selain komoditas lain. Ekspansi pertanian kopi pun dilanjutkan ke Sulawesi (1750), dataran tinggi Sumatera, dekat Danau Toba (1888), Gayo ( 1924). Bahkan setelah VOC bangkrut di 1799, dan liberalisasi perdagangan dibuka oleh Kerajaan Belanda, perdagangan kopi terus berlanjut, terus semakin membesar valuasinya.

Pada satu masa, pernah kontribusi dari perdagangan komoditas kopi dari wilayah Hindia Belanda, menyumbang sampai 30% dari GDP Kerajaan Belanda.Dan, sobat, jangan bertanya kondisi kakek- kakek kita waktu itu, buat para petani kopinya, harga beli kopi yang ditetapkan sangat rendah, bayangkanlah saja di benak Anda. 1860, Douwes Dekker menuliskannya di buku “Max Havelaar and The Coffee Auctions of The Dutch Trading Company”, yang dengan buku itu, membelalakkan publik di Kerajaan Belanda, betapa tragis nasib yang dihadapi penduduk pribumi nusantara, dan betapa biadab kebijakan kolonial Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, sungguh bertolak belakang dengan budaya masyarakat Belanda, yang cenderung egaliter dan terbuka, sekaligus permisif, relatif jika dibandingkan dengan budaya masyarakat Britania, Jerman, dan Perancis, kala itu.

1876, terjadi epidemi yang merusak pertanian kopi di Pulau Jawa, menyebabkan Pemerintah Hindia Belanda mengganti varietas Arabika, dengan Robusta, untuk kawasan rendah, pada 1900 di area perkebunan kopi Jawa Timur.

Indonesia sekarang, tanah yang kita injak ini, adalah penghasil biji kopi terbesar keempat di Planet Bumi. Setelah Brazil ( 2,249,010 ton/ tahun), Vietnam ( 961,200 ton/ tahun), dan Kolombia ( 697,377 ton/ tahun). Saya tidak ingin membahas lebih dalam lagi, siapa saja pemain utama kopi di Indonesia, kemana pendapatan perdagangan kopi itu mengalir, dan berapa yang dikantongi oleh rakyat Indonesia, mungkin lain kesempatan.

Hanya, ingin kembali meresapi kopi, sambil mengingat- ingat romantika heroik, seringkali tragis dan penuh darah, tentang jatuh bangunnya negara bernama Indonesia, dengan sejarah kopi ikut terlibat di dalamnya. Atau justru karena biji hitam legam inilah, manusia- manusia Belanda, mengakrabi dan berkenalan dengan manusia- manusia di Kepulauan Nusantara, untuk lalu terlibat terlalu dalam, dan mungkin, kalau mereka tidak datang ke sini, kita masih berbentuk kerajaan kecil yang perang satu sama lain.

Kopi di Indonesia banyak jenisnya, ada Kopi Mandheling ( Mandailing), Kopi Gayo, Kopi Jawa, Kopi Lampung, Kopi Bali, Kopi Toraja, lalu yang paling unik dari tahi Luwak, Kopi Luwak. Begitu juga lingkaran sosial etnisitas dan suku di masing- masing pulau di Indonesia, lingkaran sosial ini masing- masing punya budaya khas, adat, dan tata aturan, sama seperti kekhasan rasa kopinya :)

Dulu, prioritas Rezim Orde Baru adalah stabilitas, yang terkadang dipaksakan, sehingga kita membangun toleransi atas ketidakpahaman. Sekarang, semua sudah terbuka, dan kita terbelalak, betapa sungguh beragamnya kita. Yah, proses adaptasi dengan konflik berkelahi sesekali mungkin wajar, tapi kalau kelamaan nggak asyik juga, bikin capek hati.

Kalau kita mulai dengan tukeran kopi serbuk saja bagaimana, di Politikana ? Saya bisa akses paling dekat ke Kopi Aroma, ada Arabika, ada juga Robusta, bagaimana ?

Picture taken from here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 16, 2011 by in Review and tagged , , , , , .
%d bloggers like this: