Usual Storyline

oeuvre

Asimetri Sarjana Sains & Sarjana Sosial

Ahmad Wahib

Sains itu indah, seksi, dan menghanyutkan. Matematika adalah pasangan setia yang membantu mengukur keindahan, keseksian, serta menambah derasnya arus yang menghanyutkan tadi.

Sebagai penggemar sains dan pehobi matematika, keduanya ternyata mampu menghadirkan keindahan baru pada kekacauan semesta, yang ternyata penuh dengan keteraturan.

Apapun kesimpulan yang didapat setelah menafsir semesta, maka itu kembali kepada masing- masing pihak manusia yang melakukannya.

Tapi, saya menikmatinya, sungguh !

Berikut adalah tulisan orang lain, namanya Ahmad Wahib. Kalau belum tahu dia siapa, disini ditulis biografinya.

Pencarian itu terjadi saat usia remaja, SMU tepatnya. Akar masalahnya sama, dan instrumen yang digunakan pun mirip. Beliau mengalaminya saat awal bangku kuliah, masyarakat sedang bergejolak, dan menemukan lingkar diskusi manusia yang berdimensi sama.

Beliau menuliskan dalam buku hariannya, dan izinkan saya untuk menuliskannya ulang :

Perdebatan Para Ilmuan Sosial

Anggap ada 20 orang peserta diskusi dengan satu moderator. Moderator  menuturkan pendapatnya tentang suatu gejala sosial sebagai wacana pembuka. Moderator kemudian mempersilakan peserta berdiskusi. Hampir semua peserta mengangkat tangan. Satu orang dipersilahkan berkomentar. Ia bicara panjang lebar, begitu panjangnya hingga moderator gerah. Peserta diskusi lain berebut menyerang. Moderator akhirnya terdiam dan membiarkan para ilmuan sosial berdebat tanpa arah yang jelas.

Dalam waktu satu jam, diskusi terarah berubah menjadi ajang pencarian kemenangan pendapat yang riuh. Hal ini saya temukan dalam hampir semua diskusi ilmu sosial yang saya hadiri.

Pada saat semua peserta kelelahan, suara yang paling didengar bukanlah yang paling benar, tetapi yang paling pandai bicara dan kekeuh memaksakan pendapatnya.

Perdebatan Para Ilmuan Alam

Kembali ke posisi awal. Moderator melontarkan wacana. Ketika moderator meminta pendapat dari forum, sedikit yang mengangkat tangan. Ketika dipersilakan, salah satu ilmuan bicara panjang lebar dengan berbagai rumus dan hitungan di papan tulis. Semua mata ilmuan lainnya tertuju pada pendapatnya, bukan pada beliau. Beberapa mencatat dan menghitung kembali dengan benar serta membetulkan hitungan sang ilmuan. Hanya ada satu dua orang yang mengkritik dan kembali ketika mereka bicara, semua mata tertuju pada pendapat dan analisisnya.

Dalam waktu satu jam, diskusi telah berubah menjadi kuliah dengan dua kelompok manusia, satu kelompok pembicara dan satu kelompok pendengar. Kelompok pembicara saling berdebat sementara kelompok pendengar menyaksikan dengan seksama dan mencatat hal-hal penting yang mereka permasalahkan.

Strata keilmuan terlihat dengan jelas dimana ada para pakar dan para sub pakar yang menjadi pendengar. Pada saat semua peserta kelelahan, suara yang paling didengar adalah suara moderator yang melakukan resume dan membuat sejumlah catatan pertanyaan untuk dikaji lebih lanjut. Saya adalah salah satu dari kelompok pendengar.

Dalam hati saya berkata, betapa tidak adanya keinginan saya untuk berpendapat, mereka begitu luas pengetahuannya sementara pengetahuan saya begitu sedikit.

Apa Perbedaan Utamanya?

Karakteristik dari kedua jenis ilmu ini menyebabkan bagaimana iklim diskusi keilmuan yang muncul. Ilmu sosial mengkaji masalah interaksi antar manusia. Para peserta diskusi adalah manusia dan mereka punya pengalaman berinteraksi antar manusia hampir sepanjang hidupnya. Karenanya setiap orang dapat berbicara. Berbeda dengan ilmu alam. Ilmu alam mengkaji objek tak hidup yang tidak semua orang punya pengalaman dengan objek tersebut. Segera terbentuk gradasi pengalaman dan yang paling berpengalaman adalah yang paling dipercaya. Karenanya, tidak setiap orang dapat berbicara. Itu perbedaan utamanya.

Tetapi, Ahmad Wahib bertindak lebih jauh dengan mengatakan bahwa perbedaan ini bukan hanya dalam segi keilmuan, tetapi juga dalam segi mental. Berikut tulis beliau di halaman 279:

Ahmad Wahib pun menutup catatan hari itu dengan menyebutkan:

“Para pure natural scientist seperti ahli-ahli Fisika dan Kimia langsung berbicara dengan ciptaan Tuhan. Karena itu merekalah yang paling makin merasa tidak tahu dan paling makin merasa banyak yang  tak diketahui. Selangkah mereka lebih maju dalam penyelidikan dan pengetahuannya, lima langkah horison ilmu pengetahuan itu lebih meluas dan itu harus pula diketahuinya. Horison ilmu pengetahuan makin jauh. Yang ingin dicapai makin jauh. Karena itulah para ahli fisika, kimia, matematika adalah orang-orang yang paling mengetahui keterbatasan akal manusia, walaupun mereka itu yang paling banyak mempergunakan akal.

Hal seperti ini tidak dialami oleh “sarjana-sarjana” sosial, eekonomi, politik. Mereka akan sangat percaya pada akalnya, kagum dan silau akan kemajuan sains dan teknologi buah karya natural scientist. Natural scientist sendiri tak silau dengan karyanya. Itulah sebabnya, para ahli fisika, kimia dan matematika adalah yang paling potensial sebagai pengabdi Allah, sedang para ahli ekonomi, sosial, politik adalah yang paling potensial sebagai pemberontak terhadap Allah.”

Ahmad Wahib pun menutup catatan hari itu dengan menyebutkan:

“Saya bersyukur pada Allah karena dilahirkan dengan kesempatan besar untuk mempelajari alam fisika, matematika, biologi, yang obyek utamanya ciptaan Allah. Saya tak langsung bicara dengan Dia, tapi saya telah berbicara langsung dengan ciptaan-Nya dan hukum-hukum-Nya yang jelas (sunnatullah).”

Tanggal 10 April 1969

Referensi

Ahmad Wahib. Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib. Penerbit LP3S Jakarta

2 comments on “Asimetri Sarjana Sains & Sarjana Sosial

  1. roel
    January 17, 2012

    subhanallah, baru sekarang saya mendengar tentang ahmad wahib… selama ini kemana saja kamu roel ?

    • Maximillian
      January 18, 2012

      Biasanya buku beliau yang sampulnya warna hijau dengan ilustrasi tangan mengepal, sering dijadikan bahan diskusi aktivis HMI, atau aktivis mahasiswa lain.

      Begitu Pak Roel🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 11, 2012 by in Philosophy and tagged .
%d bloggers like this: