Usual Storyline

oeuvre

Spiritualitas

Quantum mechanics is certainly imposing. But an inner voice tells me that it is not yet the real thing. The theory says a lot, but does not really bring us any closer to the secret of the Old One. I, at any rate, am convinced that God does not throw dice. [ Albert Einstein]

 

Pengalaman spiritual masing- masing manusia tentunya bervariasi, beriman dan menganut sebuah agama formal, bisa jadi berbeda kondisi. Spiritualitas iman dan kolektivitas keberagamaan bisa jadi sejalan, dan tidak jarang malah berkonflik.

Tidak jarang, beberapa individu memahami bahwa spiritualitas sesungguhnya merupakan gagasan terpisah – yang lebih dekat kesejajarannya dengan penemuan ilmiah.Mereka memandang agama dan spiritualitas sebagai konstruk yang berbeda secara kualitatif.

Pandangan semacam ini, berpendapat bahwa sains dan spiritualitas sebagai “pembuatan makna tanpa keyakinan” dan sebagai penaklukkan makna individual yang tidak akan pernah final. Mereka melihat spiritualitas kongruen dengan sains dan terpisah dari agama, karena penaklukkan tersebut; dimana spiritualitas terbuka dengan perjalanan ilmiah, sementara agama memerlukan keyakinan mutlak walau dengan “ketiadaan bukti empiris.”

Lalu, kalau misal ada pertanyaan, kenapa iman individu bisa tidak sejalan dengan agama komunal ? Begini, kata sifat yang paling sering digunakan untuk menyatakan “agama” mencakup “terorganisir, bermasyarakat, kesatuan dan kolektif.” Kumpulan kata yang digunakan untuk spiritualitas mencakup “individual, personal dan dikonstruksi secara personal.”  Ada semacam irisan pemahaman untuk menisbahkan istilah kolektif pada agama dan istilah individual pada spiritualitas.

Nah, dari sisi lain, 2 meme (gagasan/ ide) terkuat, dalam masyarakat manusia, dalam konteks hubungan antara manusia satu dengan yang lain adalah : (1) Menjadi bagian dari sebuah kelompok, dan (2) Menjadi yang paling berbeda (unik) dari kelompoknya. Kedua meme ( gagasan/ide) akan selalu berkonflik dalam pusat kesadaran manusia, karena manusia berinteraksi dengan manusia lain dalam kehidupan di Planet Bumi ini.

Maka, seringkali kita melihat, banyak manusia yang berkerumun dengan jinak, mengaku menganut agama tertentu, merasa nyaman dan terlindungi di dalamnya, serta berusaha untuk memperluas pengaruh atas manusia lain, agar anggota kelompok tersebut bertambah. Skeptisisme dan kritik internal jelas tidak laku dalam kelompok ini, karena akan sangat membahayakan soliditas kelompok tersebut.

Di sisi lain, ada manusia- manusia penyendiri yang sangat berhati- hati dengan gagasan tentang keamanan dalam berkelompok, serta ide- ide yang menenangkan semacam kehidupan setelah kematian, konsep dosa- pahala, serta konsep tentang Tuhan itu sendiri. Skeptisisme dan kritik internal jelas menjadi senjata utama pertahanan diri, karena disitulah identitasnya menjadi hidup.

Agama seringkali menjadi instrumen pembenaran sekelompok kecil manusia, untuk menguasai sebagian besar manusia lain, merebut lahan ekonomi, mendominasi budaya, atau sekedar menggandakan hegemoni ideologi. Sejarah manusia penuh dengan konflik menggunakan pembenaran konsep keimanan.

Lalu, kenapa ini bisa terjadi berulang ? Saya tidak akan membodoh- bodohkan manusia, karena manusia itu punya usia hidup, bisa kadaluarsa, dan biasanya membusuk dimakan cacing tanah. Manusia lahir dan mati setiap harinya, namun gagasan untuk : (1) Menjadi bagian dari kelompok, atau (2) Menjadi yang paling berbeda, itu akan hidup terus dalam masyarakat manusia. Manusia juga cenderung untuk mengobservasi semesta, yang akan mendorong pencarian jati dirinya dan tentunya yang membuat semesta. Artinya, gagasan tentang toleransi antar manusia, adalah kerja terus menerus antar generasi, yang tidak boleh berhenti.

Lebih mudah membuat konflik daripada mempertahankan kedamaian, karena meme (gagasan/ide) yang sifatnya destruktif, secara empiris sosiologis, jauh lebih mudah menggandakan diri, dibanding meme ( gagasan/ide) yang sifatnya konstruktif, percayalah…

Gagasan dengan pembenaran agama, sangat mudah dibuat untuk memobilisasi massa manusia, karena adanya faktor hubungan emosional. Memang sangat tidak rasional, karena “Agama” memang lebih ke urusan kolektif, ada faktor histeria massa yang mudah untuk ditekan tombolnya.

Dengan kondisi perut lapar, ketiadaan teladan dari pihak yang dipercaya sebagai pemimpin, kecemburuan sosial, kecurigaan akan rasa dikhianati, tinggal tambahkan doktrin bahwa agama bisa membereskan segalanya, dan satu sosok yang dicitrakan sebagai manusia suci, maka revolusi sosial pun bisa terjadi kapan saja, disini, di tanah ini.

Yah, walaupun ini sekedar gumaman di forum maya, namun membangun rasionalitas antar manusia ke manusia itu, setidaknya bisa dilakukan. Akan selalu ada manusia- manusia yang membuat agama- agama baru, dan yang dijadikan Tuhan pun bisa macam- macam kok🙂

Itu kerja besar antar generasi, ini hanya sekedar mengingatkan saja, Sobat😉

Tautan di sini

3 comments on “Spiritualitas

  1. Mutya
    September 25, 2011

    Gimana ceritanya agama bisa digunakan untuk merebut lahan ekonomi? Lewat media peng-(k)-ajian?

    • Maximillian
      December 13, 2011

      Lihat kronologi berdirinya Barclay Bank & Lloyd Bank, lalu cari informasi tentang Quaker. Atau, kalau mau lebih dahsyat lagi, cari sejarah Templar, Keluarga Rothschild, dan perbankan di Eropa

  2. Mutya
    September 25, 2011

    Oh ya, blogspot aku masih ngaco. Nggak bisa dibuat untuk nge-post komentar sendiri, meskipun udah berganti ke komputer lain. Huhuhu……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 23, 2012 by in Philosophy and tagged , .
%d bloggers like this: