Usual Storyline

oeuvre

Waton Urip

Penjaja Kaki Lima

Geli juga terkadang, kalau ingat konsumsi literatur yang dibaca adalah kupasan renyah dari Fareed Zakaria, atau teori pakar ekonomi Austrian, Schumpeter, di tahta megah mereka, tapi sarjana ekonomi nan muda dan bersemangat itu*, masih kesulitan menjelaskan aliran arus kas pedagang pecel lele di pojok muram malam, dan pengaruh mereka terhadap ketahanan ekonomi negara ini. Para “Pemain Sektor Riil” ini seringkali ditulis sebagai pahlawan di media, tapi pembacanya sering lupa, kalau yang ditulis itu adalah pemilik warung tegal dan pecel lele, langganan mereka sehari- hari.

Posisi status  Investment Grade negara ini nampaknya bukan menjadi urusan mereka. Walau teorinya, bila aliran dana asing masuk diharapkan menyediakan pembiayaan murah bagi aktivitas investasi dan peningkatan kapasitas produksi nasional, sehingga memperluas lapangan kerja. Tentu saja, manfaat positif ini masih sangat tergantung pada kebijakan pemerintah, yang susah untuk dianggap bijak.

Sektor yang paling merasakan dampak langsung dari kenaikan peringkat ini adalah industri keuangan (financial market). Bagi  yang saat ini berinvestasi di saham, obligasi atau reksadana, tentu saja hal ini memberikan harapan meningkatnya return yang akan  diperoleh dengan resiko yang dihadapi lebih kecil. Mungkin dengan status itu, para karyawan industri keuangan akan lebih banyak jajan di warung tegal atau pecel lele, kali ya ?🙂

Kecurigaan kasuistik, adanya bakso berdaging tikus, pengawetan dengan formalin, pengenyalan dengan boraks, kegurihan cita rasa minyak bekas goreng ( jelantah) yang karsinogenik, pernah terlontar di media, mempengaruhi sesekali “pangsa pasar” mereka, walau “turbulensi” ini tidak akan berlangsung lama. Ujaran seorang penarik becak di Surabaya bisa jadi alasan bagus, ” Murah kok minta selamat !”, seperti ungkapan Amartya Sen, bahwa kemampuan dan kesempatan untuk dapat memilih dalam hidup, adalah sebuah kemewahan yang jarang disadari.

Waton urip, artinya “Asal hidup”. Bukan berarti  asal bisa hidup saja, tapi berusaha untuk tetap hidup dengan tidak memberontak pada pemilik kehidupan itu sendiri. Menjalani hidup dengan kemampuan yang ada, dan memanfaatkan peluang yang ditemukan. Menyisihkan keuntungan untuk yang disayangi, juga sebagai upaya untuk bertahan hidup, sambil tetap menjaga kehormatan diri.

Pilihan manusia untuk Waton Urip itu banyak, kadang lingkungan manusia cenderung menggunakan filosofi Waton Urip (Asal Hidup) dan Mbanyu Mili ( Mengikuti Arus Air) ini sebagai pembenaran untuk terlibat arus korupsi dan memanipulasi hak hidup orang lain. Sekali lagi, pilihan itu banyak, dan selalu ada pilihan untuk tetap hidup asal atau asal hidup, tanpa harus mencuri hak orang lain.

Apapun yang terjadi pada kondisi lingkungan, filosofi hidup Waton Urip ini, walaupun sederhana, yang sering menjadi motivasi tipis untuk bertahan hidup, tanpa harus mengeluh atau memberontak pada pemilik hidup.

* Ah, tetapi Sobat, saya akan tetap mendukungmu untuk menjadi menteri ekonomi kelak, saya senantiasa mendoakan. Perhatikan mereka Sobat, orang yang tidak “tercatat” dalam sejarah emas manusia ini, adalah pejuang tangguh yang berkontribusi riil untuk bangsanya🙂

2 comments on “Waton Urip

  1. Mutya Dyan Asthami
    January 26, 2012

    Beberapa minggu yang lalu, aku makan Pecel Contong di Bojonegoro. Tempat makannya bagus, bangunan dua lantai yang terbuat dari material yang berkualitas cukup baik dan kokoh. Padahal, harga satu porsinya tak sampai 10 ribu. Kalau keuntungan bersih yang dihasilkan dari setiap pelanggan Rp 1000-2000, maka untuk bisa membeli bangunan ‘mewah’ tersebut dibutuhkan penjualan 100 ribu-200 ribu pecel. @_@

  2. Pingback: Silence « Usual Storyline

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 25, 2012 by in Philosophy and tagged , , , .
%d bloggers like this: