Usual Storyline

oeuvre

Evolusi

Cesar Simpanse ( Rise of The Planet of The Apes)

Manusia tidak berevolusi dari kera yang hidup sekarang namun dari sebuah leluhur fosil yang juga menurunkan kera tersebut. Sebagian orang salah percaya kalau ada mata rantai yang hilang antara kera dan manusia – mahluk “separuh kera”, “separuh-manusia” yang secara perlahan berubah menjadi kita.

Kesalahpahaman ini datang dari pandangan kuno mengenai evolusi sebagai sebuah tangga kronologis kemajuan. Proses evolusi tidak “memperbaiki” spesies seiring waktu pada skala nilai mutlak tertentu. Lebih baik menggambarkan evolusi sebagai sebuah semak besar dengan banyak cabang, sebagian tumbuh, sebagian sekarat. Manusia mewakili satu pucuk pada cabang hominoid.

Leluhur kita mungkin berbeda secara unik dengan manusia maupun kera. Karena simpanse dan manusia telah berevolusi setidaknya 5 juta tahun, simpanse juga sama berbedanya dengan leluhur bersama kita seperti kita terhadap leluhur bersama kita.

Salah satu perjalanan intelektual terbesar manusia adalah penaklukkan asal usul evolusi manusia. Kita mencari dalam gen kita dan dalam gen spesies lain untuk memperoleh petunjuk penting mengenai dari mana kita datang dan apa yang menjadikan kita manusia. Kita belum memiliki tempat yang ideal untuk mulai, karena kita telah memilih simpanse. Kita tidak memiliki pilihan dalam masalah ini karena koordinat modern dalam peta sejarah evolusi kita ditandai dalam DNA dan simpanse adalah kerabat DNA hidup terdekat kita. Seharusnya jalan kita dimulai secara bertahap dengan turun menuju masa lalu evolusi kita, mengikuti titik-titik simpang DNA kita selangkah demi selangkah, memeriksa diri kita. Namun hal ini mustahil. Setelah Neanderthal, hanya 35 ribu tahun lalu, DNA meluruh. Seperti pos-pos wisatawan dalam liku-liku jalan desa di Kalimantan yang begitu membingungkan bagi wisatawan kita, DNA telah kusut ke mana-mana.

Betapa membantunya bila masih ada sekeluarga Homo erectus di sebuah gua terpencil di Kaukasus, atau sebuah suku Homo heidelbergensis dalam suaka alam di Spanyol Selatan, atau bila Frodo dari Homo floresiensis masih berburu komodo di Indonesia. Namun mereka semua telah lenyap, dan DNA serta perilaku mereka juga ikut lenyap bersama mereka. Semua yang kita miliki adalah setumpuk puzzle fosil manusia purba, yang, setelah seabad lebih penelitian lapangan, masih sangat sedikit dan terpecah-pecah, sehingga pernah ada yang bilang kalau seluruh fosil manusia purba yang ada di dunia ini dapat dimasukkan dalam satu gerobak pemulung saja. Puzzle ini datang tanpa gambar utama dan dengan sebagian besar bagiannya telah hilang.

Dalam lima belas tahun terakhir, kita telah melihat pertumbuhan eksplosif teknologi yang memungkinkan kita membariskan sejumlah besar DNA dalam genom kita, berpuncak pada draft kasar pertama genom manusia di tahun 2000, dan versi yang lebih teliti di tahun 2003. Sejak tahun 2005 kita juga telah memiliki ‘Buku Kehidupan’ bermutu tinggi dari simpanse. Hal ini memungkinkan kita melompat ke masa lalu, menuju leluhur manusia purba kita yang lebih dekat, dengan membandingkan gen kita dengan gen simpanse. Ini artinya kita mulai berusaha mendefinisikan apa yang menjadikan kita ini manusia dengan bantuan perbedaan genetik antara kita dengan sebuah spesies yang terpisah dari kita sekitar 6 juta tahun lalu. Dan karena simpanse juga berevolusi, ini artinya 12 juta tahun waktu evolusi yang memisahkan kita – 6 juta untuk tiap cabang pohon evolusi semenjak pemisahan kita dari leluhur bersama.

Walaupun latihan ilmiah massif dan mahal ini masuk akal untuk begitu banyak ilmuan genetika yang mengerjakannya, ia juga memunculkan sejumlah kesalahan, termasuk asumsi kalau kita diturunkan dari simpanse padahal kita tidak, dan gagasan kalau kemanusiaan kita dapat dilacak pada sejumlah gen yang bermutasi diantara beberapa gen yang membedakan kita dari kera. Ia juga membawa pada pandangan sangat sempit pada evolusi manusia karena hanya bertopang pada perbandingan antara manusia dan simpanse. Kita juga menemukan kalau kita berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dalam mengadopsi simpanse sebagai titik referensi paling penting untuk memetakan evolusi kita ketika mereka berada dalam bahaya untuk lenyap dari peta tersebut – karena punah

Sumber :
Taylor, J. 2009. Not A Chimp: The Hunt to Find the Genes that Make Us Human. Oxford University Press.

Kredit: Georgia Institute of Technology
Jurnal: Nalini Polavarapu, Gaurav Arora, Vinay K Mittal, John F McDonald. Characterization and potential functional significance of human-chimpanzee large INDEL variation. Mobile DNA, 2011; 2: 13 DOI: 10.1186/1759-8753-2-13

Sumber Utama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 6, 2012 by in Review and tagged , , , , .
%d bloggers like this: