Usual Storyline

oeuvre

Pengangguran Terselubung

Mahasiswa Indonesia Demonstrasi

Dulu, pas masih mahasiswa, sering merasa bahwa status mahasiswa sebenarnya adalah penghalusan dari istilah “Pengangguran Terselubung”. Apa pasal ? Karena, sejujurnya, di usia 15 tahun, seorang anak muda sudah mampu untuk hidup mandiri dengan penghasilannya sendiri, entah sambil jualan koran, pembantu, asisten kerja, kurir, atau penjaga stan warung tegal.

Entah budaya keluarga, atau memang ego untuk mandiri, tetapi semangat kemandirian itu yang memaksa untuk mencari penghasilan, di luar uang saku yang dikasih oleh orang tua, itupun kalau ada. Pembelajaran untuk bertahan hidup di area informal, ternyata besar sekali, setidaknya saat itu merasa bahwa ilmu untuk bertahan hidup di perkotaan, jauh lebih rumit dan kompleks daripada ilmu bertahan hidup di hutan, yang didapat saat pramuka penggalang.

Ilmu bertahan hidup di perkotaan,atau dunia manusia, dengan cara apapun, memberikan pembelajaran penting, bahwa sedalam apapun teori yang kita dapat, tidak akan ada gunanya di kehidupan nyata, manakala si pemilik teori tidak paham cara mempraktekkannya. Dan merasa bahwa paham tentang kapital, kapitalis, pasar, matematika dagang, tapi kalau belum pernah transaksi, rasanya hampa, begitu sih…

Senang juga melihat saat ini, di media, atau di kampus-kampus, mulai marak seminar tentang kewirausahaan. Ada semacam harapan kecil, bahwa Indonesia kedepannya akan banyak pilihan angkatan pencipta lapangan kerja baru, semoga. Walaupun, miris juga karena di setiap seminar, ada juga para motivator yang menggampangkan masalah, atau malah jualan buku untuk menjadi cepat kaya, sambil mengejar impian, apapun itu. Semoga mereka bisa memilih informasi yang benar dan yang sesat serta menyesatkan.

Sambil berdagang, ternyata memang memahamkan apa yang dimaksud dengan ekonomi mikro, ekonomi makro, atau kondisi sosial masyarakat, dengan rasa yang berbeda, jauh lebih gurih ! Kadang bingung juga dengan beberapa kawan mahasiswa, kala itu, yang nampak benci dengan yang namanya kapitalisme, kapitalis, kapital, dan segala sesuatu yang berbau pasar, tapi tidak paham bagaimana caranya bertahan hidup dengan kemampuan sendiri, di luar sokongan uang saku orang tua, atau beasiswa pemerintah.

Pada sisi lain, mulai memahami bahwa logika matematika, juga aritmetika, sangat membantu untuk memudahkan proses transaksi. Kemampuan mengorganisasi juga sangat memudahkan untuk memahami karakter manusia, entah itu rekanan atau pelanggan.

Dua pembelajaran riil yang dipahami, saat mencoba mandiri mencari penghasilan, adalah kemampuan valuasi ( menilai) dan kalkulasi ( menghitung). Valuasi ini bisa objek apapun, bisa berupa komoditas, peluang, situasi, bahkan kemampuan diri dan manusia lain. Sedangkan kalkulasi, seringkali muncul dengan sendirinya, untuk menghitung peluang, atau momen untuk pengambilan resiko.

Asyiknya lagi, adalah ketika membaca pemikiran Schumpeter soal ekonomi ala Austrian, atau Soekarno tentang marhaenis, bisa memahami lebih nyata, dan berkomentar, “Oh, ini mungkin yang mereka maksud dengan aset !”.

Stigma “pedagang” nampaknya memang sangat peyoratif di kalangan akademisi. Untungnya, waktu itu,cukup bebal untuk tidak mendengarkan stigma itu. Kalau tidak bisa berdagang, tentunya saya tidak melakukan valuasi antara isolat fenol dengan daun simplisia kering, untuk pasar global kan ?

Semoga candaan kala mahasiswa itu sekedar candaan saja. Semoga status mahasiswa memang bukan alasan untuk bersembunyi, nama lain dari pengangguran terselubung, he3x….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 7, 2012 by in Review and tagged , , .
%d bloggers like this: