Usual Storyline

oeuvre

Kolaborasi GAGAS !

Logo Gagas

Sejujurnya, ketika awal mulanya dicetuskan ide tentang “Crowdfunding“, atau kalau dalam bahasa sehari- harinya adalah “Patungan”, saya bukan yang antusias. Bukan karena gagasan yang buruk, lebih karena trauma ketidakkonkretan acara-  acara yang sebelumnya, apalagi dengan kawan yang masih jualan status “Mahasiswa” atau ” Intelektual”, ujung- ujungnya selalu tidak konkret, bah ! Maka saya semakin yakin, bahwa para “Pengangguran Terselubung” yang menamakan dirinya “Mahasiswa” atau “Intelektual” adalah manusia yang gemar melontar gagasan, lepas tangan ketika proses pembangunan, dan kembali lagi main klaim ide, setelah ide terwujud, dasar bajingan !

Baiklah, nampaknya saya harus berdamai dengan masa lalu, terutama atas kebodohan mempercayai beberapa sahabat yang ternyata sama sekali tidak konkret, tapi cukup bisa diingat karena sikap sinisme yang super sensitif, duh !  Saya sebenarnya sangat setuju dengan ide pembiayaan patungan, hanya saja memang dendam masa lalu nampaknya membutakan saya, kala itu. Proses pengamatan berjalan hingga artikel ke-3 ditulis, tentang pembangunan situs jaringan pembiayaan patungan tersebut, mulailah saya tergerak untuk ingin terlibat, dan bahkan membantu dengan apapun kapasitas yang saya punya.

Saya belum pernah bertemu langsung dengan penggagas dari konsep ini, dan konon katanya, beliau ini super anonim. Kopi darat tentang GAGAS ! ( ya, inilah nama yang kami setujui sambil jalan) berlangsung sampai lebih dari 6 kali di beberapa kota, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan Surakarta ( lereng Gunung Lawu, Anggrasmanis, Karanganyar tepatnya). Bertemu dengan beberapa manusia yang memiliki ide yang sama, tentunya dengan tingkat kekonkretan yang jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan, rasanya memang melegakan, sungguh !

Masih banyak yang harus dikerjakan, saya sendiri juga sedang banyak kerja dan hutang yang harus dibereskan. Kehadiran GAGAS! ini menimbulkan optimisme dalam skala tertentu buat saya, bertemu dengan kawan yang memiliki kesamaan ideologi, serta bisa mewujudkan sebuah ide konkret, implikasi nyata dari ideologi tadi, dengan segala kesibukan yang ada selama ini. Saya sungguh salut !

Saya pernah bermimpi tentang institusi serupa GAGAS! ini, lebih- lebih karena seringnya mengonsumsi tulisan Amartya Sen ( nobelis ekonomi 1998) tentang preferensi sosial, bahwa adanya pilihan dalam situasi sosial masyarakat adalah salah satu parameter kualitas kehidupan dalam masyarakat tersebut. 2009 kemarin, sempat juga menyerempet  kegiatan ekonomi komunitas, semacam GAGAS ! ini. Berikut pembahasan dari Ari Perdana di Jakartabeat, tentang nobelis ekonomi 2009 :

Tema umum dari studi kedua pemenang Nobel adalah tata kelola ekonomi. Spesifiknya, mereka melihat bagaimana ekonomi melakukan transaksi di luar pasar. Dalam teori ekonomi tradisional, pasar memungkinkan berbagai kepentingan ini saling berinteraksi tanpa perlu adanya mekanisme koordinasi tertentu. Tapi ada kalanya pasar tidak eksis. Kalaupun eksis, ada biaya transaksi yang terlalu tinggi sehingga pelaku ekonomi lebih memilih untuk melakukan transaksi di luar pasar. Contoh paling sederhana adalah bagaimana sebuah keluarga bisa menyelesaikan problem koordinasi dan alokasi sumber daya tanpa lewat mekanisme pasar. (Catatan: bukan berarti di dalam keluarga tidak ada ‘transaksi’ yang didasarkan atas kepentingan pribadi).

Contoh klasik lain adalah sumber daya milik bersama, misalnya padang rumput, danau atau sumber air. Karena tidak dimiliki oleh pihak yang jelas, pasar tidak bisa memberikan ‘harga’ yang mencerminkan keseimbangan penawaran dan permintaan. Ini mendorong apa yang dikenal sebagai ‘tragedi kepemilikan bersama’ (tragedy of common). Solusi standar dalam teori adalah berikan hak kepemilikan, apakah pada individu atau pemerintah (yang akan menjadikannya barang publik).

Ostrom menunjukkan bahwa kepemilikan bersama tidak harus menuju pada tragedi.  Tanpa adanya hak kepemilikan individu maupun regulasi pemerintah, secara empiris ia menunjukkan bahwa tragedi kepemilikan bersama tidak selalu terjadi. Institusi mikro yang didasarkan pada kearifan dan partisipasi lokal bisa mendorong terciptanya aturan main yang mencegah eksploitasi sumber daya secara berlebihan.

Ostrom melihat bagaimana komunitas bisa mengelola sumber daya secara kolektif tanpa terjebak pada ‘tragedi kepemilikan bersama.’ Tanpa adanya hak kepemilikan individu maupun regulasi pemerintah, sejumlah studi empiris menunjukkan bahwa tragedi kepemilikan bersama tidak selalu terjadi. Institusi mikro yang didasarkan pada kearifan dan partisipasi lokal bisa mendorong terciptanya aturan main yang mencegah eksploitasi sumber daya secara berlebihan.

Williamson, sementara itu, melihat bagaimana interaksi serupa terjadi di konteks yang berbeda: perusahaan. Studinya menjelaskan mengapa ada perusahaan besar dan terintegrasi secara vertical. Dalam perusahaan besar, mekanisme penyelesaian konflik maupun alokasi sumber daya (misalnya antara karyawan atau antardepartemen) bisa terjadi secara internal dengan biaya yang lebih kecil. Contohnya, unit hilir bisa memperoleh bahan input dari unit hulu dengan harga internal perusahaan.

Di saat yang sama, Williamson juga menunjukkan membuat perusahaan yang besar, hirarkis dan terintegrasi butuh biaya yang besar. Tapi ketika pasar semakin efisien, misalnya karena makin banyak pelaku dan informasi semakin terbuka, barang yang sama bisa diperoleh dari perusahaan lain dengan biaya serupa. Maka keuntungan dari integrasi vertikal tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Ini yang menjelaskan kenapa trend perusahaan besar di tahun ‘70an perusahaan berbalik setelah itu.

Kesimpulan umum dari studi Ostrom dan Williamson adalah situasi yang berbeda memerlukan instrumen tata kelola yang juga berbeda. Di mayoritas kasus, pasar merupakan instrumen terbaik. Tapi dalam konteks tertentu, transaksi tidak bisa, dan tidak perlu, dilakukan lewat pasar. Meski pasar kadang absen, intervensi pemerintah juga tidak selalu jadi jawaban. Ada hal-hal detil yang perlu diketahui tentang bagaimana pelaku ekonomi berinteraksi di tataran mikro. Pemahaman atas hal-hal detil inilah yang jadi sumbangan keduanya bagi perkembangan ilmu.

Saya berjanji untuk menjaga GAGAS!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 23, 2012 by in Review and tagged , , , .
%d bloggers like this: