Usual Storyline

oeuvre

Urban Survival

Bantaran Sungai Cikapundung Bandung

A social commitment to individual liberty must be that it attaches importance to the objective of increasing the capacity that many people actually possess, and the choice between different social arrangements should be influenced by their ability to promote human capabilities. A full account of individual freedom must go beyond the capabilities related to privacy, and must pay attention to other objectives of the person, such as certain social purposes not directly related to the individual’s life, increase human capacity must be a part importance of promoting individual freedom. ( Amartya Sen)

Bertahan hidup di hutan, atau area tanpa peradaban manusia, paling tidak membutuhkan satu hal fundamental : Kendali diri & Kesadaran penuh. Ambil contoh di hutan, banyak tanaman dan hewan yang bisa dijadikan sumber nutrisi untuk bertahan hidup. Ceritanya akan lain, ketika manusia harus bertahan hidup, di area peradaban, yang dihuni juga oleh manusia, maka kendali diri saja tidak cukup, urusannya semakin kompleks, karena justru setiap manusia punya kepentingan masing- masing, ada yang berkonflik, dan ada yang bisa dikompromikan.

Ketika manusia membentuk negara, apapun bentuk pemerintahannya, maka selalu ada segolongan kecil manusia yang menjadi pemerintah atau pemimpin atau malah penguasanya. Maka ada undang- undang yang dibuat untuk tetap menjaga keberlangsungan hidup negara tadi, kalau perlu sampai antar generasi. Perlu diketahui, tidak ada jaminan bahwa institusi negara tidak bangkrut dan bubar, ambil contoh : Romawi, Usmani, atau Yugoslavia. Ambil contoh undang- undang tentang senjata saja, polisi dan tentara dibentuk dan digaji dari pendapatan negara, yang 80% dari pajak setoran warganya, adalah untuk menjaga stabilitas keamanan, oleh karena itu, hanya pihak polisi dan tentara yang dibolehkan membawa senjata api, warga negara sipil tidak diperbolehkan. Artinya, polisi dan tentara dengan senjata api yang dipercayakan, bertanggung jawab menjaga stabilitas keamanan warga yang telah menggajinya, dan warga juga menaruh kepercayaan pada polisi, untuk tidak menyalahgunakan wewenang penggunaan senjata api. Sesuai konteks survival dalam masyarakat beradab, maka warga sipil yang tidak diberi wewenang legal untuk mempertahankan diri dengan senjata api, memberikan ketergantungan pada polisi dan tentara, yang diberi hak untuk memegang senjata api. Dari skenario ini, sudah terlihat pola saling ketergantungan antar manusia, ketika manusia masuk ke area peradaban, yang dihuni juga oleh kumpulan manusia lain.

Kasus di Indonesia ini, menarik untuk diperhatikan, adalah merebaknya pengangguran terdidik. Berdasarkan data BPS, hingga Februari 2012 lalu Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 6,32 persen dengan jumlah total penganggur men capai 7,6 juta orang. Untuk TPT tingkat pendidikan Diploma dan Sarjana, masing-masing 7,5 persen dan 6,95 persen dari angka pengangguran. Sementara TPT pendidikan menengah masih tetap menempati posisi tertinggi. TPT lulusan Sekolah Menengah Atas sebesar 10,34 persen dan TPT Sekolah Menengah Kejuruan sebesar 9,51 persen. Meski demikian TPT bulan Februari 2012 itu memang turun dibanding Februari 2011 yang mencapai 6,80 persen. Masih mengacu data BPS hingga Februari 2012, pekerja dari jenjang pendidikan SD ke bawah masih tetap mendominasi yaitu sebesar 55,5 juta orang (49,21 persen), sedangkan pekerja berpendidikan diploma sekitar 3,1 juta orang (2,77 persen) dan pekerja penyandang gelar sarjana hanya sebesar 7,2 juta orang (6,43 persen).

Untuk apa anak- anak muda ini makan sekolah ? Untuk mendapatkan keahlian khusus. Untuk apa keahlian khusus itu ? Untuk bisa tetap bertahan hidup mandiri di area peradaban manusia. Karena bertahan hidup di kota, jelas tidak sama dengan keahlian yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di hutan, jelasnya kedua hal bertahan hidup itu butuh keahlian. Lalu dimana salahnya, kenapa bisa manusia terdidik menjadi penganggur, dan lalu malah menjadi beban manusia di sekelilingnya ? Kalau mau ditelaah ya pastinya banyak, pemerintah yang korup, pendidikan dengan bahan ajar yang tidak relevan, atau bisa jadi juga warganya yang merasa gengsi, karena “terlalu terdidik”, jadi tidak mau berkarya di luar yang dia suka.

Pendidikan yang hanya mengejar kuota lapangan kerja spesialis di industri mapan, entah itu primer, sekunder, maupun tersier, seringkali menemui benturan ketika negara sedang dalam kondisi depresi ekonomi. Industri tersier mundur, para master atau sarjana diberhentikan, dan bingung mau bertahan hidup dengan cara apa, atau bagaimana. Sedangkan kita tahu, bahwa negara tidaklah selalu dalam kondisi yang stabil, yang namanya bencana alam, perang, bisa terjadi kapanpun dan di wilayah manapun.

Berharap pada anak- anak muda untuk membikin lapangan kerja ? Itu sungguh perbuatan heroik, tapi urusan tidaklah semudah yang dibayangkan, kalau tidak percaya, silakan bikin dan bangun perusahaan sendiri. Berharap pada pemerintah untuk merapikan regulasi agar iklim ekonomi positif  dan banyak pengusaha dalam negeri yang menanamkan modalnya untuk sektor riil ? Itu juga bakal butuh waktu, pemerintah nampak masih sibuk dengan dirinya sendiri, dalam waktu yang entah kapan selesainya. Berharap pendidikan bakal mereformasi sistem pengajaran ? Itu juga bakal butuh waktu, urusan gaji, kurikulum, belum para “pengusaha proyekan” yang ingin ikut dapat tetesan anggaran, lewat pengadaan buku atau fasilitas lain, turut membuat lakon pendidikan Indonesia mirip sinetron bikinan KK Deeraj, dramatis dan tolol, tapi banyak yang terlibat !

Mencoba menengok ke belakang, Ki Hajar Dewantara,  menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan rasa. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dan ternyata pendidikan sampai sekarang ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi.

Apapun itu, cuma ingin saling mengingatkan saja, bahwa walaupun seolah kita hidup dalam negara yang seolah tidak akan hancur, sebenarnya potensi kehancuran itu selalu ada. Alasan untuk tetap tenang, menggantungkan diri pada pemerintah, justru akan turut mempercepat proses kehancuran itu, jika kita tidak paham hakikat ilmu bertahan hidup tadi. Mempertahankan diri sendiri dan orang terdekat sangat penting, tapi sebenarnya ada keterkaitan erat, antara kemauan kita untuk solider dengan lingkungan manusia sekitar, dan keberadaan kita sendiri di dunia ini. Cepat atau lambat, ketidakpedulian dengan manusia di sekitar kita, akan membusukkan peradaban yang sudah dibangun antar generasi.

3 comments on “Urban Survival

  1. darusetiawan
    June 13, 2012

    Bentuk Rumah Sederhana, Rawan terhadap krisis energi…
    Arch…

    • Maximillian
      June 15, 2012

      Naon Oom Daru ?

      • darusetiawan
        June 18, 2012

        kegelisahan orang fakir yg belum punya rumah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 9, 2012 by in Philosophy and tagged , , , , , .
%d bloggers like this: