Usual Storyline

oeuvre

Literasi

Literacy encompasses a complex set of abilities to understand and use the dominant symbol systems of a culture for personal and community development. In a technological society, the concept of literacy is expanding to include the media and electronic text, in addition to alphabetic and number systems. These abilities vary in different social and cultural contexts according to need and demand.

Maret 2012, salah satu pejabat teras USDI ( Unit Sumber Daya Informasi) Institut Teknologi Bandung, mengajak untuk diskusi, tema seputar sejarah manusia nusantara, dan manifes peradabannya. Sebagai pembaca karya Denys Lombard tak utuh, tentunya mengasyikkan, menggali artefak, dan menelusuri catatan tentang keberadaan manusia, di nusantara. Karena kita saat ini, secara de facto, adalah bagian dari mata rantai genealogi itu.

Tunggu dulu, catatan ? Owh, baru sadar kita, tidak banyak catatan tersimpan baik di lemari kakek- kakek kita. Budaya saling bertukar cerita, pemindahan pengetahuan lewat diskusi, menjadi tradisi kakek- kakek kita, dan lalu kita ulangi terus menerus, antar generasi. Selalu ada bias, atau pergeseran, entah berapa derajat sudutnya, ketika informasi pernah mengendap di satu lapisan neurit manusia, untuk kemudian dipindahkan kepada lapisan neurit manusia lain, lewat komunikasi. Masing- masing manusia punya otoritas tafsir, entah mereka sadari atau tidak. Catatan menjadi penting, karena komunikasi oral sungguhlah sangat terbatas jangkauan pengaruhnya. Sejarah dimulai, ketika manusia mulai mencatatkan apa saja hasil pengamatannya saat itu, dan lalu menyimpannya. Pengetahuan mulai terdistribusi secara masif, dengan memegang standar konsistensi tertentu, ketika manusia mulai bertukar catatan, dalam satu zaman maupun antar zaman.

Bapak pejabat USDI tadi lalu mengajak, untuk menjadi bagian dari sebuah gerakan, yang beliau sempat menggagasnya, untuk mendorong warga perguruan tinggi, membuat “catatan”. Kenapa ? Ya, hal- hal yang terdengar besar, sebenarnya adalah kumpulan kepingan mozaik yang tertata, untuk membentuk objek tertentu. Toh formula- formula matematika pun tidak dibangun oleh satu orang dari satu era bukan ? Matematika berkembang, fisika pun semakin cantik, karena dari setiap generasi selalu ada manusia- manusia skeptis, yang berusaha membaca semesta, mencatatnya, menemukan polanya, lalu menafsirkan dalam formula sederhana, untuk membangun formula terpola yang lebih kompleks lagi.

Sempat diskusi dengan Widianto Nugroho ( desainer grafis/ staf USDI), Gustaff Hariman Iskandar ( pegiat komunitas seni Bandung/ Commonroom), Rahadian Prajna Paramita ( desainer grafis/ pegiat literasi media Bandung), dan beberapa orang yang tidak mau disebut namanya. Maka jadilah Lingkar Dalam ( Inner Circle) Blogs ITB, yang isinya terdiri dari alumni, dosen, dan mahasiswa aktif yang memiliki irisan ide (ologi), tentang pembiasaan membangun sejarah.

Gerakan Literasi dengan menggunakan media digital, untuk kemudian dibiasakan kepada media konvensional cetak, membutuhkan kerja antar generasi, jadi kita mafhum, bahwa pekerjaan ini adalah kerja bakti, tanpa ada insentif ekonomi yang jelas dan terukur. Tapi, kami paham bahwa di sinilah letak aktualisasi yang paling sederhana, mengajak diri sendiri menulis, dan ( kalau mau) mempengaruhi manusia terdekat, untuk menuliskan apa yang ada di kepala mereka.

Berikut adalah rumusan- rumusan sederhana yang menjadi basis awal gerakan literasi digital, dari warga perguruan tinggi dan alumni, bagi warga negara Indonesia :

View this document on Scribd
View this document on Scribd
View this document on Scribd

Gerakan Literasi Digital ini dibangun oleh : mahasiswa aktif ITB, dan alumni ITB, yang terdiri dari dosen aktif, industriawan, profesional karir, investor, peneliti, seniman dan pegiat komunitas kreatif, desainer profesional, pegiat pendidikan independen, serta masih mengajak banyak mahasiswa baru dan alumni dari berbagai sektor.

Sambil menggeliat, dalam kondisi yang sama sekali tidak ideal, tapi peluang membangun sejarah sambil mengajak banyak anak muda lain, tentunya terlalu sayang untuk diacuhkan.

Verba Volant Scripta Manent, Caius Titus ( spoken words fly away, written words remain)

Catatan tambahan :

Terima kasih untuk opini, kritik, gagasan dari : Fakhrizal Leksa ( SalingSilang), Imoth ( Pinteraktif Media), Primus Pandumudita ( Pinteraktif Media/LPM USDI), Basuki Suhardiman ( Godfather USDI ), Yoka Adam ( American Corner ITB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: