Usual Storyline

oeuvre

V.O.C

Bibliografi mengenai sejarah VOC sangat panjang. Lihat terutama buku pedoman bibliografis W.Ph.Coolhas, A Critical Survey of Studies on Dutch Colonial History, Biblio. Series 4, Den Haag, 1960 ( dicetak ulang 1980), dan rangkuman yang sangat bagus oleh C.R. Boxer, The Dutch Seaborne Empire 1600- 1800, Hutchinson, London, 1965, cetakan ketiga 1972, yang sangat berjasa telah menempatkan sejarah Hindia Timur dalam konteks umum ekspansi Eropa. Lihat juga karya H.J. de Graaf, Geschiedenis van Indonesie, Van Hoeve, Den Haag- Bandung, 1949, 516 hlm. , meskipun judul dan formatnya sederhana, karya ini jauh lebih penting dari sekedar buku pegangan biasa.

Tahun 1596, sebagai tahun yang menandai kedatangan armada Belanda yang pertama di perairan Nusantara, di bawah pimpinan Cornelis De Houtman. Setelah singgah di beberapa pelabuhan dan mendapat gambaran awal tentang topografi dan perdagangan di Asia, sejumlah pedagang Bataaf bergabung tahung 1602 dan mendirikan Serikat Persekutuan Hindia Timur ( Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang terkenal itu. VOC merupakan sebuah badan yang kuat, yang mengawasi perdagangan Belanda, tidak hanya di Nusantara, tetapi juga di Srilanka, dan kawasan yang merentang dari Tanjung Harapan hingga ke Jepang, dipimpin dari Amsterdam oleh sebuah Dewan Pesero, “ de XVII Heeren”, atau “ ke- 17 Tuan- Tuan”, hingga akhir abad ke – 18. Kekuasaan setempat berada di tangan seorang Gubernur Jenderal yang bertanggung jawab atas setiap perundingan dan transaksi dagang, hubungan dengan pangeran- pangeran Asia, keamanan para pedagang Bataaf, dan setiap tahun bertugas mengirim ke Belanda armada yang penuh dengan produk- produk berharga.

Seperti diketahui Jan Pieterzoon Coen memilih pelabuhan Jakarta sebagai pusat jaringan perdagangan Belanda di Asia. VOC memiliki sebuah loji sejak 1610; pada tahun 1619 garnisun kecil yang menempati loji itu membebaskan diri dari perwalian Pangeran Jayakarta, yang sekurang- kurangnya secara nominal adalah bawahan Sultan Banten, lalu memusnahkan kota pribumi yang ada beserta masjidnya, dan mendirikan Kota Batavia dengan membangun sebuah benteng kecil.

Sultan Agung dari Mataram dua kali meengepung kota itu, yaitu pada tahun 1628 dan 1629, dan hubungan dengan orang Javaans akan tetap tegang. VOC, yang perhatiannya lebih mengarah keluar, mengisi ibukota mereka itu dengan orang Cina, Melayu, Makassar, Bali bahkan dengan beberapa orang Filipina dan Jepang. Melalui laut, kota VOC itu akan berhubungan dengan pelabuhan- pelabuhan pesisir lainnya, dan baru lama kemudian mempertimbangkan untuk memasuki pedalaman Pasundan.

Setelah tahun 1660, VOC memancangkan tonggak sejarah baru. Pada tahun 1663, melalui perjanjian Painan, VOC memperoleh hak atas sebuah Bandar di pantai barat Sumatra dan menaruh perhatian pada tambang emas di sekitarnya ( tambang salida), tetapi usaha ini gagal. Sukses utama VOC adalah perjanjian Bongaya, yaitu perjanjian dengan Sultan Makassar yang ditandatangani pada 1667, setelah perang yang sengit. Dengan memantapkan kedudukannya di barat daya Sulawesi, Belanda sesungguhnya berhasil memperlemah jaringan perdagangan orang Bugis yang selama itu merupakan kendala utama mereka. Sejak saat itu Belanda dengan mudah dapat mengawasi perdagangan rempah- rempah yang berasal dari Maluku dan menyingkirkan para pedagang Portugis serta teman- teman Yesuit mereka.

Konjungtur cukup banyak berubah pada dasawarsa- dasawarsa terakhir abad ke -17. Pemerintah Batavia merasa perlu melakukan intervensi di Jawa, dan mengambil keuntungan dari intrik- intrik dalam pertentangan di antara para bangsawan Mataram, dan di antara sunan dan vasal- vasalnya. Dengan memanfaatkan pemberontakan  Pangeran Trunajaya dari Madura ( 1677- 1680), kemudian pemberontakan yang dipimpin oleh Untung Surapati, seorang bekas budak dari Bali ( 1686- 1706), wakil- wakil VOC dengan semangat menawarkan diri untuk menjadi penengah dan masuk hingga pedalaman Jawa. Itulah untuk pertama kalinya para pedagang Belanda menaruh minat akan kekuasaan teritorial di pedalaman. Sebelumnya yang mereka perhatikan hanyalah bagaimana mengurangi biaya militer sampai sekecil mungkin dan terutama bagaimana menggantikan kedudukan orang Portugis dan Spanyol yang menguasai pelabuhan- pelabuhan dan jalur- jalur maritime.  Salah satu motif utama yang mendorong Batavia untuk campur tangan dalam politik Mataram adalah keinginan menguasai daerah pesisir.Semarang beralih ke dalam kekuasaannya pada tahun 1678. Alasan yang sama menyebabkan VOC meminati Kesultanan Banten, dan memaksakan kekuasaannya atas kesultanan itu pada tahun 1682.

Sejarah sosial Nusantara pada abad ke- 18 baru sedikit sekali dikaji. Di luar Pulau Jawa, posisi Belanda terbatas pada beberapa loji yang dibangun beberapa abad sebelumnya serta pada beberapa Bandar yang berpenghuni sedikit dan kurang baik penjagaannya, yang menyerah hamper tanpa perlawanan  begitu suatu armada musuh – Inggris atau Prancis- berusaha merebutnya.

Di Jawa situasi tampak lebih terjamin bagi Belanda, karena di bagian tengah pulau itu para bangsawan sejak lama tercabik- cabik dalam beberapa “perang suksesi”. Sementara bangsawan- bangsawan Jawa itu bertikai, agen- agen VOC melakukan manuver dan intrik, dari Batavia, atau dari Semarang di mana telah ditempatkan seorang “Gubernur Pantai Timur”.  Pertikaian itu diselesaikan pada 1755, dengan Perjanjian Giyanti yang yang mengesahkan pembagian Mataram menjadi dua kerajaan kecil. Di samping Sunan yang berkedudukan di Surakarta, untuk selanjutnya terdapat seorang penguasa saingan yaitu Sultan yang berkedudukan di Yogyakarta, yang berfungsi sebagai ibukota saingan.

Penulis- penulis sejarah colonial tidak pernah lupa berbicara panjang lebar mengenai pembagian itu sebagai penerapan lihai strategi lama Divide et impera ( Verdeel en heners) dan memang, tak lama kemudian pembagian itu disusul lagi dengan pembagian yang lainnya, yaitu didirikannya kerajaan kecil Mangkunegaran ( 1757) atas kerugian wilayah Sunan, sehingga Mataram tak mampu melawan dengan efektif gerak maju Belanda.Walaupun secara politis kerajaan Jawa memang lemah, hal itu sama sekali tidak berartinya kemerosotan; buktinya, menjelang akhir abad itu, terjadi pembaharuan budaya yang mengesankan.

Pada tahun 1750 terjadi pemberontakan besar di Banten. Seperti biasa agen- agen VOC mendukung salah satu pihak yang bersaing, kali ini mereka mendukung Ratu Fatima. Jika pada kerusuhan sosial itu ditambahkan beberapa kali gempa bumi yang memporak-porandakan jaringan kanal “Venesia dari Timur” itu, dapat dibayangkan bahwa Batavia waktu itu tidak berada dalam suatu masa yang menguntungkan.

Masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Imhoff ( 1743- 1750) sangat menarik. Ia berusaha menarik VOC keluar dari alur masa yang tidak menguntungkan. Memang ia memperkenalkan berbagai pembaharuan yang beberapa di antaranya cukup orisinal; penyeragaman mata uang, dan upaya perdagangan trans Pasifik langsung dengan koloni- koloni Spanyol di Amerika. Ia diilhami gagasan filosofis di zamannya bahkan menjabarkan teori- teorinya dalam sebuah uraian yang kelak akan cukup tercermin dalam sistem- sistem para penggantinya di abad ke- 19. Namun, tidak ada satu pun di antara pembaharuan itu yang mampu menghambat kemerosotan VOC. Banyak pegawai VOC hanya sibuk memperkaya diri  sendiri dengan melakukan perdagangan gelap, dan keuntungan perusahaan pun jauh dari yang dicapai pada zaman keemasannya, yaitu pada abad sebelumnya. Krisis Eropa yang disebabkan Revolusi Prancis dan munculnya kekaisaran Napoleon menutup riwayat VOC untuk selamanya. Pada tahun 1799, ketika masa berlaku hak- hak istimewa VOC berakhir, pembaharuan tidak diberikan dan tanggung jawabnya diambil alih oleh Negeri Belanda.

Kronologi sederhana di atas mempermudah kita untuk mendapatkan gambaran tentang masyarakat kolonial pada masa VOC. Secara kuantitatif masyarakat itu sedikit jumlahnya. Untuk dua abad yang menjadi perhatian kita di sini, atau lebih tepatnya antara tahun 1602 dan 1795, jumlah kapal yang meninggalkan Negeri Belanda menuju Asia Tenggara diperkirakan mencapai 4.694 buah, dan kapal yang kembali ke tanah air mereka mencapai 3.289 buah. Di sini perlu diketahui bahwa perbedaan di antara kedua angka yang disebut di atas untuk sebagian besar disebabkan karena sejumlah kapal yang datang dari Eropa menetap di perairan Asia dalam rangka perdagangan antar- Hindia.

Sepanjang paro abad ke-17 itu, jumlah keberangkatan terus meningkat dari 76 ( antara 1602 dan 1660); menjadi 205 ( antara 1650 dan 1660); angka itu selanjutnya terus bertahan di atas 200 tiap dasawarsa sampai akhir abad ke -17, kemudian naik cukup besar selama paro pertama abad ke- 18, dengan maksimum 382 keberangkatan pada dasawarsa 1720- 1730. Hal itu cukup menunjukkan bahwa kesulitan- kesulitan yang dialami VOC dalam bidang politik dan ekonomi tidak otomatis diikuti menurunnya jumlah total perjalanan; bahkan pada dasawarsa 1780- 1790 yang merupakan masa perang laut, angka- angka masih menunjukkan 276 keberangkatan dan 195 kepulangan. Diperkirakan bahwa hanya 2 atau 3 % kapal yang karam atau hilang; angka rata- rata yang diperoleh pada 1669/ 1770 adalah dengan 555 t. untuk tonase, 212 hari untuk perjalanan pergi, dan 208 hari untuk perjalanan pulang.

Yang lebih menarik lagi adalah jumlah penumpang yang berangkat dari Negeri Belanda atau yang naik kembali ke kapal di Batavia. Dengan cara demikianlah kita tahu bahwa dalam tahun anggaran 1669- 1670 ( dari Juni sampai Mei), dari 31 buah kapal yang tiba di Asia ( 29 di Batavia), 19 di antaranya berangkat pulang ( 17 dari Batavia), bahwa seluruhnya ada 4.324 orang yang berangkat dari Tanjung Harapan atau lebih jauh, dan bahwa 1.700 orang berangkat kembali dari Batavia ( dan Ceylon). Mengenai 24 buah kapal yang berangkat, Bruijn dan Schoffer berhasil member angka yang lebih rinci lagi; kapal- kapal itu membawa 2.356 pelaut, 1.497 tentara, dan 53 penumpang.; 386 meninggal dalam perjalanan, 205 turun di Tanjung Harapan, tetapi mereka digantikan oleh 143 orang yang naik di tempat itu dan akhirnya ke- 24 kapal itu mencapai Asia dengan 3.463 penumpang.

Selain itu, dari Daghregister, statistik rinci tahun 1674 yang menunjukkan bahwa dari jumlah total penduduk 27. 068 orang, hanya terdapat 2.024 orang Eropa atau kurang sepersepuluhnya. Pada akhir tahun 1681, dengan cara yang sama, kami mengetahui bahwa dari 30.598 orang penduduk Batavia, hanya ada 2.188 orang Eropa. Sepanjang abad ke- 18 perbandingan itu tidak banyak berubah, dengan catatan bahwa jumlah total penduduk Batavia cenderung berkurang; pada tahun 1768 jumlahnya tidak akan lebih dari 16.000 orang.

Organisasi VOC itu sendiri yang tak banyak memberi kelonggaran kepada prakarsa perorangan. VOC tidak pernah memberi kesempatan kepada siapa pun untuk melakukan perdagangan rempah- rempah dan hasil bumi lainnya secara perorangan, baik dengan Eropa maupun negeri Asia lainnya. Monopoli diberlakukan dengan sangat ketat dan perdagangan gelap dapat dilakukan hanya dengan resiko yang sangat besar. Orang- orang Eropa yang bukan pegawai VOC, hanya berpeluang mengelola sektor- sektor yang kurang menguntungkan, seperti pertanian atau perdagangan bahan pangan, tetapi disini pun mereka mendapat saingan berat dari orang Cina.

Penerimaan pegawai VOC pada kenyataannya bersifat sangat internasional. Kompeni pada waktu itu adalah semacam “legiun asing”. Pada tahun 1622, di garnisun Batavia ada 143 tentara; 17 orang Vlaams atau Wallon; 60 Jerman, Swis, Inggris, Skotlandia, Irlandia, atau Denmark; karena 9 orang yang lain tidak pasti asal- usulnya, dapat dikatakan bahwa yang betul- betul kelahiran Belanda hanya 57 orang.

Perlu ditekankan disini betapa terbatasnya pengaruh Barat itu sampai ambang abad ke- 19, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun budaya. Kecuali di beberapa tempat tertentu, seperti Maluku, Ujung Pandang, dan tentu saja Batavia dan Semarang, kehadiran Belanda di mana pun di kepulauan yang luas ini tidak terasa dominan. Angkutan mereka, termasuk di Jawa, hampir semua melalui laut.

Namun, segala sesuatu berubah cukup cepat pada dasawarsa- dasawarsa pertama abad ke- 19. Zaman perubahan itu mulai dengan tibanya Herman Willem Daendels yang diangkat menjadi Gubernur oleh Louis Bonaparte, raja Belanda. Ia tiba di Jawa pada awal tahun 1808, dengan menumpang kapal Amerika yang berhasil mengecoh blokade Inggris. Ia berhasil membuat “Jalan Raya Pos” ( de Groote Postweg) dari ujung ke ujung pulau dengan demikian akhirnya perhubungan darat timur- barat menjadi mungkin, dengan komersialisasi hasil bumi sebagai konsekuensinya.

Sumber :

Nusa Jawa: Silang Budaya 1, Batas- batas Pembaratan, Denys Lombard, halaman 61- 74

Tautan :

VOC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 23, 2012 by in Review and tagged , , , , .
%d bloggers like this: