Usual Storyline

oeuvre

Budaya

Ledakan ekonomi dalam suatu negara dimulai dari aktivitas ekonomi yang berbasis pada budaya masyarakatnya ( Satjipto Rahardjo, Prof )

Terminologi budaya di media populer, acapkali dipinggirkan di pojok pentas panggung, sebagai tontonan yang harus dianggap atraktif bagi khalayak, padahal bukan hanya sekedar itu representasi dari terminologi budaya. Setidaknya, dari revolusi bumi mengelilingi matahari, selama kurang lebih 365 hari, berikut rotasi bumi selama kurang lebih 24 jam, maka spesies organis penghuni bumi pun, mau tidak mau mengikuti aturan “takdir semesta” yang digariskan ini. Budaya manusia bumi, mau setengil apapun dia, disadari atau tidak, sangat dipengaruhi oleh garis “takdir” rotasi-revolusi ini. Rotasi- revolusi berikut posisi benua, akan mempengaruhi iklim, sumber daya, dan berkaitan dengan sumber daya, berarti manusia berurusan dengan upaya untuk bertahan tetap hidup,manusia membangun budaya awalnya adalah dari upaya untuk mencari penghidupan.

Istilah luij ( malas) dan ijverloos ( seenaknya, tidak tekun) ditemukan untuk pertama kalinya dalam berbagai teks arsip mengenai mandor Sunda, yang ditugaskan untuk mengawasi perkebunan- perkebunan VOC, mula- mula nila dan lada, kemudian kopi. Agustus 1788, Patih Parakanmuncang diancam akan diseret ke Batavia jika ia masih ingin bermalas- malas. Pada awal abad ke- 19, “kemalasan pribumi” merupakan pendapat umum dan Raffles harus dihargai karena jelas- jelas menentang gagasan lazim itu. Pada 1908, ahli ekonomi Clive Day dari AS masih menulis, “ The scale of living of the average cultivator would appear hopelessly low if measured by western standard..Where wants are small however a low scale of life may satisfy, and in fact rest content with it, so long as they are not absolutely starving. In practice, it has been found impossible to secure the services of the native population by any appeal to an ambition to better themselves and raise their standard. Nothing less than immediate material enjoyment will stir them from their indolent routine…( The Dutch in Java)

Mitos yang belum ada pada abad ke-16 dan 17 itu berkembang sejak abad ke- 18, berkaitan langsung dengan meluasnya berbagai perkebunan dan penolakan kaum pribumi untuk dikerahkan. Dengan mengembangkan tema “kemalasan bawaan lahir”, orang Barat menyembunyikan bagi mata mereka sendiri munculnya bibit- bibit awal perlawanan, sekaligus mencari pembenaran bagi tindakan sepihak mereka dan diam- diam menyisipkan gagasan tentang sebuah hierarki rasial.

Sistem penanggalan yang berubah, dari waktu sakral, ke waktu profan menimbulkan banyak masalah di awalnya. Basis penanggalan bulan yang setiap hari berakhir saat senja menjelang malam turun, berganti pada tengah malam dengan acuan satuan dua puluh empat jam. Jam Eropa terutama berimplikasi pada ketepatan waktu, yang berkaitan dengan konsepsi baru tentang kerja.

Pertanyaan berikutnya, saat itu adalah, pekerjaan itu untuk siapa ? Kalaupun penataan ruang Jawa pada akhirnya bermanfaat bagi pribumi maupun Belanda, pembaratan waktu tidak begitu menguntungkan kaum pribumi dan mereka menyadari hal ini, pada saat sistem kolonial hendak memasukkan mereka ke dalam iramanya.

Dalam ungkapan Indonesia yang sangat terkenal dan sering diulang- ulang, jam karet, terkandung sesuatu yang lebih dari sekedar olok- olok. Di dalamnya terkandung penolakan terhadap norma impor tentang ketepatan waktu, yang nalar dasarnya tidak dipahami, jangankan diterima.

Iklim tropis tak bisa disalahkan, kalau misalnya masih ada yang berargumen bahwa disitulah penyebab epidemi “kemalasan”, seperti yang dimaksudkan oleh orang- orang Belanda tempo dulu. Karena sebenarnya ini adalah soal nalar dasar, tentang perspektif aktivitas kerja (produksi) dan mendapatkan hasil dari apa yang dikerjakan (profitabilitas).

Sungguh sangat logis, jika penduduk nusantara waktu itu, ogah- ogahan diminta membangun “Etos Kerja Keras”, jika tidak bisa langsung menikmati hasil kerjanya. Soal kopi saja, Nusantara, adalah tempat pertama di dunia, di luar Arabia dan Ethiopia, biji kopi ditumbuhkembangkan, bangga bukan ? VOC ini memonopoli perdagangan global kopi dari kepulauan nusantara, dari 1725- 1780.

Pada awalnya, valuasi biji kopi ini, bernilai 3 gulden/ kg di Amsterdam. Pendapatan perkapita di Belanda waktu itu, sekitar 200- 400 gulden, atau ekuivalen dengan beberapa ratus dolar AS/ kg kopi, hari ini. Harga biji kopi turun hingga 0,6 gulden/ kg di awal abad 18, konsumsinya pun meluas ke kalangan umum.

Biji legam nikmat ini, menyumbang pendapatan terbesar ke VOC.Pada satu masa, pernah kontribusi dari perdagangan komoditas kopi dari wilayah Hindia Belanda, menyumbang sampai 30% dari GDP Kerajaan Belanda.

Depresi besar yg juga melanda Kerajaan Belanda, membuat kebijakan ekonomi di Hindia Belanda juga berubah. Pemerintah Kerajaan Belanda butuh duit cepat, caranya yang paling gampang : naikkan pajak + genjot sektor produksi unggulan di wilayah Hindia Belanda. Di sektor produksi unggulan : Perkebunan gula khususnya di Jawa di genjot  utk menaikkan produksinya . Begitu kerasnya dorongan produksi membuat produksi gula dari Pulau Jawa saja yang khusus di ekspor mencapai 3 juta ton pertahun (1928-1930), ini membuat Hindia Belanda menjadi pengekspor gula nomor satu di dunia, dimana pada rentang tahun 1933-1936, jumlah produksi gula untuk ekspor melejit ke angka 4,1 juta ton per tahun, dan yang jadi pembeli terbesarnya adalah India untuk keperluan Inggris.

Melakukan penghakiman bahwa “Jam Karet” adalah budaya manusia nusantara, sebenarnya hanya akan memperparah kondisi lingkungan saja. Prasangka yang menahun itu harus dihentikan, minimal oleh diri kita masing- masing.

Pastikan saja hasil keras manusia Indonesia, juga kembali ke manusianya. Pastikan bahwa pelaku ekonomi di Indonesia, juga oleh warga Negara Indonesia, yang akan memutar kembali aliran modalnya ke sesama warga Negara Indonesia. Jika masih ada yang bertanya, kenapa sebaiknya orang Indonesia sendiri, yang membangun perusahaan atau koperasi di tanah ini, karena disinilah kita hidup dan bekerja. Kalau ada yang bertanya nasionalisme itu apa ? Salah satunya adalah bisa memastikan hasil kerja keras warga negara, juga dinikmati sebagian besar oleh warga.

Kalau ada yang memakan hasil pajak, dari kerja keras warga Negara Indonesia, yang harusnya bisa didistribusikan kembali ke warga, maka halal darahnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 3, 2012 by in Review.
%d bloggers like this: