Usual Storyline

oeuvre

Career Coaching ?


Life is a matter of uncertainty. The one who certain about himself, will live his life

( Me Myself)

Prolog

Terhenyak sejenak pernah di suatu waktu, menyaksikan visual grafis di sebuah media nasional, tentang hubungan antara peminatan jurusan di perguruan tinggi negeri, dengan kursi lapangan tenaga kerja, ada hentakan yang sukar untuk terkatakan, atau bisa disampaikan dengan ungkapan lugu bin naif khas orang gunung, ” Oh, jadi kuliah itu buat kerja ya, baru tahu ?”

Orang gunung berpikir sekolah itu ya buat mendapatkan pengetahuan dan keahlian, dalam rangka bertahan hidup, di masyarakat manusia. Soal ilmu itu nanti akan diapakan, itu dikembalikan lagi ke si empunya. Si empunya pengetahuan ini bisa masuk ke sistem, mentransaksikan ilmunya dengan gaji serta tunjangan. Bisa juga membangun sistem, mengelola kompeni yang dia bangun dengan kemampuannya, toh ilmu tak cuma didapatkan dari bangku sekolah formal, menurut keluguan si orang gunung.

Kanal- kanal penghidupan, seolah tak terpetakan, bagi beberapa kalangan yang kurang mendapatkan informasi, dan setelah beberapa tahun membaca, memang itulah yang menjadi tantangan , yaitu asimetri informasi. Apa pula bisa ada nama asing ” Account Executive”, “Product Registration Officer”, “Copy Writer”, “Business Analyst”, atau “Budget Analyst ” ? Kepusingan ini tidak berlangsung lama untungnya, setidaknya bagi yang memahami anatomi perusahaan, apa peran, fungsi, posisi, hak, dan kewajiban masing-masing nama seksi itu ? Apa kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi pemilik posisi seksi, yang sukar dimengerti orang gunung ini ?

Alkisah pembelajaran seringkali harus melalui tahapan yang tak terbayangkan, apa mau dikata kalau sudah punya tujuan, tak paham peta pun bukan pula jadi halangan. Orang gunung yang lugu bin naif, dengan tak banyak pilihan untuk bertahan hidup, kemudian berhadapan dengan peta kota yang berluber dengan berbagai posisi, tentu akan menimbulkan kekagetan nan amat sangat di awal. Walau adaptasi itu tak berlangsung lama, bekasnya tentu lumayan terasa kurang mengenakkan.

Orang gunung tak banyak pilihan, profesi penyandang hidup hanyalah tentara, pegawai pemerintah, dokter, guru, petani, atau pedagang. Tak ada istilah pemodal dan operator, karena ekonomi yang berjalan pun tidak memberi banyak peluang imajinasi, mungkin perampok, penjudi, bisa juga jadi pelaku ekonomi, ekonomi hitam maksudnya.

Ada istilah seksi, namanya “Mobilitas Vertikal”, ya ini semacam migrasi status sosial, yang biasanya diukur dari jumlah aset dan jabatan publik, sebagai tanda kesuksesan. Di kota semacam ini riuh rendah jadi semacam obsesi, ini yang kadangkala tak dimengerti orang gunung; obsesi meraih percepatan status sosial.

Orang gunung yang tahunya hanya meraih tujuan, untuk menjadi bagian dari pemilik modal dan pelaku ekonomi riil, mau tak mau harus paham peta keadaan, bahwa ternyata kanal- kanal itu belum sepenuhnya terbentuk dengan jelas, dan kalaupun ada kanal, maka itu lebih karena ada sebagian kecil orang yang sudah merintisnya, sebagian kecil itupun tinggalnya di kota, berpendidikan tinggi pula.

Kanal Penghidupan

Orang gunung yang kebetulan saja pas masa kecilnya mengagumi tokoh rekaan, Batman/ Bruce Wayne dengan Iron Man/ Tony Stark, tahunya cuma satu : Menjadi pemilik pengetahuan sekaligus pemilik modal itu sangat mungkin ! Kalaupun untuk mendapat pengetahuan itu harus menempuh padepokan berjenjang, dari dasar sampai tingkat maha, dari siswa sampai mahasiswa, maka itupun akan ditempuh. Kalau untuk mendapatkan modal harus berjibaku dengan ketiadaan peta kepemilikan modal dan cara mengendalikan modal, maka itupun akan diusahakan.

Hanya satu hal yang orang gunung ini tak pahami, bahwa padepokan dimanapun tidak ada yang mendidik santrinya untuk menjadi pemilik modal, pembangun aturan, pembuat kompeni, sampai mengusahakan modal itu berputar. Pengetahuan itu ada, tapi bukan di padepokan, adanya di kepala pemilik modal lama, yang mau tak mau orang gunung harus bekerja sama.

Tapi, ternyata dibalik keriuhan dan kegembiraan kawan- kawan yang dengan bangganya menjadi maha siswa, yang dididik di padepokan maha juga, ada kegamangan nan mendalam, apakah kebanggaan ini semu, ataukah nyata ? Karena toh realitanya, ini kan kembali ke bagaimana tetap bertahan hidup ?

Pemodal dan pemilik kompeni ingin tetap urusan kesibukan kompeninya hidup serta berkelanjutan, para manusia karir ingin terus dapat kepeng insentif dan lalu bisa melakukan “Mobilitas Vertikal”  sehingga statusnya berubah, dari manusia jadi orang. Apakah pengetahuan dari padepokan bisa untuk bertahan hidup ? Jikalaupun bisa membuat tetap hidup, lalu apakah hidupnya membahagiakan ? Ah itu mungkin orang gunung masih memegang teguh kepribadian lamanya, lugu bin naif.

Alkisah ternyata orang gunung yang berkehendak menjadi pemilik modal ini bertemu dengan beberapa orang baik, yang punya kehendak untuk menjadi penunjuk peta ( bukan penunjuk jalan). Peta apa ? Peta tentang kanal- kanal penghidupan, yang basisnya adalah kepribadian si pemilik pengetahuan, berikut juga kondisi situasi yang sebenarnya, tentang kanal- kanal yang sedang berjalan.

Orang- orang baik inilah yang konon kabarnya akan menjadi “Career Coach”, yaitu semacam penasehat karir, bagi manusia- manusia yang merasa gamang dengan pilihan karir masa depan, dan atau karir yang sudah dialaminya sekarang.

Kanal penghidupan ini ternyata juga dipengaruhi kondisi perputaran uang versus barang di sebuah kawasan, misal di Hutan Jati Cepu-Bojonegoro-Blora, tempat tinggal Saudara Samin nan teguh itu, tidak banyak pilihan untuk bertahan hidup, selain berladang dan bertani. Dengan berladang dan bertani bisa hidup, maka menjadi sarjana bukan kebutuhan mutlak, karena toh sarjana juga tak berpengaruh di kalangan mereka.

Sedulur Sikep Samin di Bojonegoro- Blora jangan disamakan pula dengan Ibu Kota Negara nan kumuh bernama Jakarta. Segala ada, pertukaran uang versus barang, atau bahkan menukarkan uang dengan badan pun ada kok. Profesi dari “Office Boy”, “Sales Promotion Girl”, sampai “Chief Executive Officer” pun ada, dengan berbagai level status sosial berikut insentifnya.

Jadi, jangan bayangkan anak muda bersemangat penuh prestasi mengkilap, pembela bangsa dan negara, dari jurusan Hubungan Internasional, atau Ekonomi Manajemen misalnya, untuk bisa hidup dengan mengabdikan keahliannya di kalangan masyarakat Hutan Jati Bojonegoro, kemungkinan tidak akan terpakai pula. Tapi tentunya urusan akan lain bisa si anak muda berprestasi menurut dosennya ini, hidup di Ibu Kota, akan banyak kanal penghidupan bisa dipilih, dalam rangka menjadi kaya, bahagia, dan (mungkin ) berkeluarga, beranak pinak.

Epilog

Sejarah peradaban manusia itu penuh dengan pertumpahan darah, perebutan kekuasaan, kemegahan segelintir kecil manusia. Tak semua manusia yang pernah hidup bisa dicatat oleh catatan sejarah, yang juga dibuat oleh manusia. Namun sepengetahuan orang gunung, catatan sesungguhnya paling lengkap, tentang sejarah peradaban manusia, ada dalam catatan bank; amati sejarah modal, siapa saja pemilik modal dalam sejarah, apa peran yang diketahui oleh publik, apa peran yang tidak dicatat oleh publik, dan siapa pelanjutnya sampai sekarang.

Soal bagaimana manusia menghidupi dirinya, dengan pengetahuan yang dimiliki, atau kemampuan yang dikuasai, maka itu tetap akan menyesuaikan dengan kanal- kanal yang sudah tersedia sebelumnya.

Jikalaupun  ada kanal- kanal penghidupan yang baru dibangun kemudian, maka itu butuh manusia- manusia yang mampu memadukan modal, pengetahuan, dan imaji tentang peta kehidupan (peradaban).

Orang gunung ternyata tetap orang gunung, walau sempat dididik padepokan orang kota dan pesisir. Geografi mempengaruhi pola bertahan hidup dan membangun penghidupan. Ternyata…

 

One comment on “Career Coaching ?

  1. sherlanova
    December 5, 2012

    Okay… So recently, after reading your recent writing, I found out that your writing has more ‘kecap’ or ‘kuah’ than before. In simple words, “It is digestible.” Haha.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 8, 2012 by in Review and tagged , , , .
%d bloggers like this: