Usual Storyline

oeuvre

Ojek Payung

Penjaja Ojek Payung di Baltos Bandung

Kalau dunia sekolah dasar rendah mutunya, maka segala- galanya yang nanti akan dibangun di atasnya, di perguruan menengah maupun tinggi, akan serba goyah dan hancur berpuing- puing. ( Yohanes Bilyarta Mangunwijaya)

Adik- adik seusia siswa sekolah dasar ini sedang menunggu calon klien, mereka ini pelaku usaha jasa ojek payung, yang saat musim penghujan, sekitar November- April, menuai puncak panen pendapatan. Mereka asyik bercanda, tak sadar sedang diambil gambarnya oleh seseorang yang tertarik dengan model bisnis ini, usaha jasa sektor riil, dengan pelaku yang masih berusia pendidikan dasar, kisaran 7 sampai 11 tahun.

Usia pendidikan dasar, kisaran 6 sampai 14 tahun, sering dianggap usia yang harus fokus untuk bersekolah, tak layak mencari uang sendiri, karena disitulah tugas orang tua. Orang tua menganggap bahwa mencari uang sendiri bukanlah sebuah bentuk pengetahuan, bahkan dikhawatirkan akan menganggu konsentrasi belajar anak.Orang tua benar- benar percaya bahwa lembaga sekolah, selaku pemilik otoritas pendidikan formal, adalah kuala pengetahuan, kawah candradimuka, yang menjadi tempat menyepuh segenggam logam besi menjadi jauh lebih mulia, sebongkah emas, begitulah ibarat kata.

Adik- adik ojek payung ini juga kemungkinan besar bukan dari keluarga mampu, sehingga mereka mengupayakan untuk menambah uang saku, dengan berbisnis jasa, menjadi pelaku usaha penuh liku. Pandangan orang tua, yang menjadi klien mereka, jika membandingkan dengan kondisi anak kandung mereka di rumah, mungkin akan merasa iba, sungguh kasihan anak- anak ini, harus rela berhujan ria, berdingin- dingin dengan resiko sakit, untuk hanya sekedar meraih receh selembar dua lembar, sungguh tak sebanding ! Bagaimana dengan prestasi sekolah para pelaku usaha ojek payung ini lalu ? Sungguh masa depan suram yang terbayang.

Bagi beberapa kalangan pelajar, dan orang tuanya tentu, menjadi juara kelas, ketua OSIS, pratama pramuka, atau pelajar teladan, adalah kasta tersendiri, kalau tidak mau disebut kasta tertinggi, dalam pergaulan pelajar sekolah.Seolah merekalah yang berpeluang besar menjadi pemimpin masa depan, orang sukses, berpangkat, dan jelas akan punya status sosial lebih tinggi, dibanding pelajar yang rata- rata. Namun, ada satu pertanyaan tambahan, apakah dengan segala episteme dan techne yang didapatkan di sekolah tadi, anak – anak itu kelak akan mampu “hidup” dan “menghidupi” orang lain, di tengah silang sengkarutnya peradaban manusia ?

Adik- adik ojek payung ini, salah satu hikmah yang mereka dapatkan, adalah pembelajaran untuk bertransaksi riil. Pada masa depannya nanti, manakala mereka tetap hidup di tengah peradaban manusia, maka kemampuan bertransaksi adalah unsur penting untuk bertahan hidup. Entah mentransaksikan keahlian, pengetahuan, atau mampu mentraksasikan barang dengan alat tukar resminya, tetap basis dasarnya adalah pertukaran.

Sungguh beruntung mereka, adik- adik ojek payung ini, diberikan kesempatan untuk belajar bertransaksi sedari dini.Adik- adik ojek payung ini bisa belajar skolastik, melakukan kalkulasi riil atas nilai pendapatan mereka, mana yang ditabung, mana yang digunakan untuk jajan. Melakukan valuasi, berapa nilai usaha jasa mereka per satuan jarak dan per kepala klien, luar biasa ! Mereka juga bisa belajar linguistik, langsung berkomunikasi dengan klien, bernegosiasi dengan tawaran, hebat ! Semoga imajinasi ini tidak berlebihan adanya.

Banyak ditemukan anak- anak muda, sudah dewasa bahkan, yang sudah sekian lama terdidik, dengan biaya tak sedikit pula, tak jua mampu menggunakan segala techne dan episteme di dirinya, untuk mampu hidup dan atau menghidupi orang lain. Seringkali ditemui bahwa selembar dua lembar credential, label nama besar institusi almamater, justru menimbulkan perasaan snobisme baru, pseudostatus yang sama sekali tidak ada pengaruhnya, untuk peradaban spesies Homo sapiens di ekosistem bumi. Semoga kalian, adik- adik ojek payung, diberikan kesadaran sejak mula usia, bahwa hidup ini butuh perjuangan, dan perjuangan harus dinikmati, karena hidup ini, apapun keadaannya, harus selalu disyukuri.

Selamat bekerja Adik- adik Ojek Payung, pemotret ini salut dengan usaha kalian.

3 comments on “Ojek Payung

  1. sherlanova
    December 5, 2012

    Well, mungkin apa yang almarhum Papa saya ajarkan sewaktu saya kecil–layaknya kebiasaan orang Cina yang berdagang–sungguh berguna: melibatkan anak-anaknya dengan kegiatan bisnis sejak mereka kecil.

    Umur saya 10-11 tahun waktu itu. Saya sudah diberi kepalan potongan karton bungkus rokok, yang ditulisi daftar untuk belanjaan restoran hari itu. Lalu saya diberi uang yang kira-kira sesuai dengan daftar belanja dan ongkos PP ke pasar. Apakah itu terlihat orangtua yang tega ‘menceburkan’ anaknya ke dalam bisnis? Oh tidak. Kami sudah diajak ke pasar sejak usia kami lebih kecil lagi. Tentu saja kalau kami tidak sedang sekolah alias di hari libur.

    Di pasar, saya dan adik melihat langsung proses transaksi riil, proses negosiasi dan tawar-menawar dengan pedagang komoditas pangan. Kami juga menikmati betul saat-saat tertentu di tengah belanja, ketika kami diajak dan dibelikan beraneka jajanan pasar yang menggiurkan. Sungguh sebuah pengalaman yang kaya.

    Di sisi lain, kami dimasukkan ke sekolah nomor satu dan favorit, serta didorong untuk selalu menjadi rangking satu. Kalau tidak rangking satu dimarahi. Kami juga disuplai dengan berbagai fasilitas belajar selengkap yang bisa orangtua kami sediakan: buku pelajaran lengkap, alat tulis dan prakarya lengkap (jaman dulu kan masih pop banget tuh prakarya kristik, membuat peta indonesia dari bubur koran, dan lain-lain), majalah anak-anak yang mendidik, novel petualangan, film anak-anak, dan sebagainya.

    Pendidikan tetap nomor satu… Sungguh didikan yang tiada taranya buat saya. Bisa dibilang, sikap praktis dan tidak kenal takut saya berasal dari didikan itu.😀

  2. Maximillian
    December 10, 2012

    Biasanya sih orang tua pegang bisnis perdagangan, anaknya disekolahkan sampai perguruan tinggi, lalu diinjeksi modal buat bikin pabrik, jadi pegang manufaktur hulu. Cucunya disekolahkan sampai master, lalu diinjeksi setelah lulus, diminta mengendalikan distribusi, jadilah bisnis hilir.

    Begitu🙂

  3. Pingback: Tinggalkan Buku Pelajaran, Peluk Erat Blog • Guraru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 21, 2012 by in Philosophy and tagged , , , , , .
%d bloggers like this: