Usual Storyline

oeuvre

Ozymandias

Perhaps the cause of our contemporary pessimism is our tendency to view history as a turbulent stream of conflicts — between individuals in economic life, between groups in politics, between creeds in religion, between states in war. History has been too often a picture of the bloody stream. The history of civilization is a record of what happened on the banks. ( Will Durant)

Adrian Veidt, tokoh kontroversial dalam saga novel grafis Watchmen,karya Alan Moore, adalah superhero paling sinting sekaligus realistis secara politis. Alter ego yang dia pakai adalah Ozymandias, ditokohkan sebagai orang paling cerdas di muka bumi, sekaligus milyuner dari nol, bukan hasil panen investasi warisan orang tuanya. Megalomaniak dengan kemampuan manipulatif yang setara dengan evolusi kecerdasannya, sangat cocok untuk menjadi profil psikopat perancang skenario kriminal tingkat multinasional. Ibarat kata dia bisa merancang perang antar negara, apalagi kalau cuma proses perdamaian dua adidaya, jauh lebih mudah bukan ? Manusia perancang sistem adalah manusia yang paling memahami, tombol mana untuk menghancurkan karya ciptanya, itu lazim dan wajar tanpa perkecualian.

Ozymandias dalam kenyataan adalah soneta karya Percy Bysshe Shelley, dipublikasikan 1818. Inti dari soneta ini bahwa setiap penguasa, seberapapun kuatnya dia, maka akan selalu menemui masa kehancuran pada saatnya. Adrian Veidt menggunakan alter ego Ozymandias bukan tanpa alasan. Dalam saga Before Watchmen, dikisahkan masa kecil Adrian, terlahir dari orang tua imigran di tanah harapan, Amerika Serikat di awal abad ke-20. Orang tuanya membangun bisnis dari nol, dan berhasil, Adrian nampaknya mewarisi gen perintis, paduan dari kedua orang tuanya. Gen perintis yang senantiasa cermat mengamati peluang, suka bekerja keras, dan selalu berusaha meraih pencapaian, membuat Adrian jauh lebih maju secara pengetahuan, dibanding anak seusianya.

bwo_1_thegroup_004

Ozymandias ( Before Watchmen)

Kecerdasan Adrian dengan keluasan pengetahuannya mengundang dengki kawan sekelasnya, dan khas anak SD, mulai terjadi konflik fisik, Adrian kalah, posturnya jauh lebih mungil dan tidak terlatih. Adrian tidak mengadu ke orang tuanya, walau ibunya curiga dengan lebam di jidatnya, dia memilih merenung, lalu bergabung dengan klub bela diri, dia paham bahwa bahasa tinju dan tendangan itu ada di pergaulan manusia, selain bahasa oral dan literal yang dia dapat di kelas.

Dalam kesempatan berikutnya, gerombolan sama yang usil mulai mencoba mengganggu Adrian, dia diam, salah satu disiplin bela diri yang dia pelajari, adalah kemampuan menahan diri atas agitasi musuh. Namun karena mulai terpojok, dia mulai mempraktekkan ilmu yang dia bisa, dan patahlah kaki lawan dengan sekali tendangan keras di tulang kering, maka hasil akhirnya adalah hukuman dari guru sekolah.

Orang tua Adrian dipanggil, Adrian merasa tidak bersalah karena dia membela diri, namun kepala sekolah tak setuju, begitu pula ayah Adrian. Kepala sekolah mengancam skorsing, dan ayah Adrian menawarkan sumbangan donasi kepada sekolah tersebut, sebagai jawaban. Kepala sekolah setuju, kasus diputihkan, anak yang patah kaki dibayar, dan disini Adrian belajar, ada bahasa baru dalam pergaulan manusia, bahasa transaksi uang.

Adrian tumbuh menjadi pemuda cerdas, gemar belajar segala teori, selalu ingin tahu sejarah peradaban, dan memperbarui kemampuan dengan teknologi pengetahuan paling mutakhir saat itu. Adrian sedang belajar di perpustakaan kampusnya, Harvard,  ketika ada kabar orang tuanya meninggal kecelakaan, dia sangat bersedih, dan harta warisan kekayaan orang tuanya diturunkan ke dia, Adrian kaya raya.

Keingintahuan untuk memiliki pengetahuan sejati, membuat Adrian tidak berpuas diri dengan kekayaan yang dia warisi, ataupun gelar akademik yang sudah dia raih. Dia menemukan pola peradaban, bahwa penguasa- penguasa dunia di masa lalu selalu silih berganti, lahir dan runtuh. Pertanyaan terbesarnya adalah, bagaimana menjadi penguasa peradaban di zamannya ? Ramses II Sang Firaun Mesir, orang yang bahkan dicatat namanya dalam kalam suci, atau bahkan Alexander Agung Macedonia pun, mengalami masa kejayaan dan keruntuhan, apa sebabnya ? Adrian selalu masygul.

Keinginan kuat untuk mengungguli pencapaian para penguasa masa lalu,mendorongnya untuk selalu bertanya, apa yang membuat orang semuda Ramses II dan Alexander untuk mampu menguasai dunia ? Dia seolah mendapat bisikan bahwa jawaban pertanyaan itu tidak diberikan, harus mengalami sendiri. Adrian menghibahkan semua harta warisan orang tuanya, dan mengambil sedikit untuk bekal petualangan, mengalami pengetahuan tertinggi manusia, menjadi pelanjut penguasa peradaban.

Petualangan dimulai dari Turki Utara, daerah bulan sabit subur, Levantine, yang dalam teks sejarah selalu menjadi pusat lahirnya peradaban. Sumeria Mesopotamia, Nil Mesir, Yunani Kreta, berpusat di daerah ini. Adrian menyerap semua jenis kebajikan, seni perang, dari Levantine hingga Tibet. Adrian benar- benar menghabiskan waktunya untuk bertualang, bertemu dengan guru- guru klasik langsung, mereka para ahli yang tidak diformalkan di lembaga pendidikan bentukan negara manapun. Adrian juga mengikuti kultur pasukan rahasia termasyhur Sassanid Persia, Hashsashin, untuk bertualang di alam sureal dengan menghisap ganja. Di kala terbuai dengan ganja, Adrian mengalami semacam epifani, bahwa Ramses II dan Alexander, selalu memulai imperium dari pusat peradaban di zamannya, mercusuar transaksi sumber daya dunia saat itu, dia sadar, bahwa potensi itu hanya dimiliki oleh Amerika Serikat, dia kembali pulang.

Dari New York, pusat keuangan dunia, Adrian mulai membangun imperium industri keuangan, dengan bekal kecerdasan dan kemampuan bertahan hidupnya yang luar biasa, pencapaian itu pun terwujud. Adrian tak berlangsung lama menikmati hasil kerja itu, kekasihnya Miranda tewas karena narkoba, Adrian dendam dan memutuskan untuk membalas dendam, lewat identitas alter ego yang dia buat sendiri, Ozymandias.

Motifnya memang tidak sekuat Bruce Wayne, Ozymandias yang awalnya ingin membangun imperium, malah terlibat menjadi vigilante yang membasmi sampah jalanan. Walau itupun tak lama, Ozymandias pada akhir kisah justru menjadi konduktor orkestra konspiratif, pembunuhan The Comedian, pengusiran Dr.Manhattan, dan pemboman New York yang membuat Dr. Manhattan menjadi musuh bersama AS dengan Rusia, thus mengakhiri perang dingin. Ozymandias menjadi pahlawan untuk menghentikan perang dingin lewat orkestrasi tingkat tinggi, dengan mengorbankan jutaan warga New York sebagai tumbal, ini khas politik konspiratif dalam sejarah peradaban bukan ? Cerdas luar biasa.

Alan Moore yang melahirkan V For Vendetta nampaknya tidak beranjak dari aroma bayangan George Orwell, persepsi tentang masyarakat tiran dalam Nineteen Eighty-Four dan Animal Farm, selalu terasa di tiap ciptaannya. Profil Ozymandias yang melanjutkan “kepemimpinan profetik” kuno, dengan mengambil lokasi Levantine, daerah bulan sabit subur di utara Turki, tokoh semacam Ramses II dan Alexander Macedonia, dihubungkan dengan New York, Harvard, dan Amerika Serikat, jadi mengingatkan pada klik konspirasi harta Sulaiman, putra Daud, yang diklaim disimpan oleh kerajaan- kerajaan Eropa dan Asia, untuk lalu menjadi aset perputaran uang oleh segelintir keluarga elit, pemilik saham gurita perbankan swasta global,  sampai saat ini. Sejak dimulainya era kelangkaan sumber daya, penjaminan emas, lahirnya institusi perbankan, perang dunia, kisah sejarah manusia sebenarnya hanya dikendalikan beberapa gelintir kelompok saja. Sangat Alan Moore, sangat konspiratif dan anarkis, namun terasa melibatkan pembaca, karena latarnya yang dibuat dalam kondisi keseharian.

Kalau mau tahu bagaimana bunyi Soneta Ozymandias, berikut ini lantunannya :

I met a traveller from an antique land
Who said: Two vast and trunkless legs of stone
Stand in the desart. Near them, on the sand,
Half sunk, a shattered visage lies, whose frown,
And wrinkled lip, and sneer of cold command,
Tell that its sculptor well those passions read
Which yet survive, stamped on these lifeless things,
The hand that mocked them and the heart that fed:
And on the pedestal these words appear:
“My name is Ozymandias, king of kings:
Look on my works, ye Mighty, and despair!”
Nothing beside remains. Round the decay
Of that colossal wreck, boundless and bare
The lone and level sands stretch far away.[1]

 

3 comments on “Ozymandias

  1. ikhwanalim
    January 8, 2013

    sama dengan dunia nyata ya, mas. anak-anak orang kaya emang aneh-aneh kelakuannya. anti-mainstream😀

  2. isan
    June 29, 2013

    mantep gan. salah satu superhero yang realistis dan membingungkan. hehe
    follow twitter sy ya @ihsandonesian

  3. coquelin
    November 30, 2013

    kill million to save billion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 7, 2013 by in Review and tagged , , , .
%d bloggers like this: