Usual Storyline

oeuvre

Arus Kas Devisa

Pemodelan grafis ini dibuat oleh Bung @tuvokvulcan ( saya tambah sedikit), dari diskusi tentang ekonomi makro di situs Politikana atau sebut saja @politikana , tahun 2010 silam. Karena induk dari @politikana, yaitu Grup SalingSilang ( @salingsilang) harus mengalami likuidasi dan perubahan menjadi 3 perusahaan terpisah, maka topik lama ini layak untuk disimpan di sini.

Alur Devisa Makro

Grafik Alur Devisa ( Ekonomi Makro)

Dari pemodelan grafis, petunjuknya cuma dua :

1. Simbol panah merah, artinya arus kas keluar ( debit). Keluar maksudnya arus kas dinikmati oleh pihak luar negeri. Kalau dalam neraca akuntansi, sebagai pengurangan hutang ( kewajiban), pembayaran deviden, pembayaran beban, yang jelas tidak akan menambah ekuitas negara atau warga negara.

2. Simbol panah biru muda, biru, dan ungu, artinya arus kas masuk ( kredit). Masuk maksudnya arus kas dinikmati oleh pihak dalam negeri, harusnya dalam hal ini adalah warga negaranya. Kalau dalam neraca akuntansi, sebagai pemasukan akan menambah nilai ekuitas negara atau warga negara.

Pemodelan arus kas devisa ini berlaku untuk semua lembaga bernama negara, baik itu negara kaya, negara miskin, atau negara yang sedang dibuat. Dari pemodelan ini, kita bisa paham bahwa negara pun bisa bangkrut, dan antar negara sebenarnya saling ada ketergantungan transaksional, sehingga peluang untuk membangkrutkan satu negara oleh negara lain, sangat bisa diperbuat.

Dari situ, bisa kita imajinasikan :

1. Dengan melihat perputaran barang produksi Jepang dan Korea Selatan, berikut film buatan Amerika Serikat yang masuk kesini, bisa dibayangkan betapa mereka untung besar dengan konsumsi penduduk Indonesia yang jumlahnya 200 juta lebih. Apalagi dengan adanya fasilitas kredit konsumtif, tambah kaya saja mereka kan ya ? Hebat….

2. Kalau melihat barang produksi Cina yang dikonsumsi oleh manusia Indonesia, maka bisa dipastikan bahwa Cina sangat diuntungkan oleh kita. Pemurah sekali kita ya ? Hebat…

3. Buat Saudara yang merasa bangga menyumbang negara kaya, semisal ke Singapura buat pelesir ke Universal Studios, maka bisa dipertimbangkan untuk jalan- jalan ke Sindoro- Sumbing, atau Rinjani, karena arus kasnya akan bisa dinikmati oleh sesama penduduk Indonesia juga. Penduduk di pegunungan belum sekonsumtif penduduk kota, jangan khawatir akan membuat penduduk gunung tahu- tahu masuk Forbes, daftar orang terkaya.

4. Buat Saudara yang merasa sangat intelek dan kecerdasannya tidak “dihargai” dengan selayaknya disini, di Indonesia maksudnya, maka pindah kewarganegaraan adalah cara terbaik untuk lari dari kenyataan hidup, yang menurut Saudara tidak adil ini. Yakinlah bahwa Saudara akan divaluasi lebih tinggi di negara yang perputaran arus kasnya lebih besar, betul ? Lagi pula, apalah Indonesia ini, sudah perputaran kas kecil, dikorupsi aparat, mana pula ada yang menghargai orang cerdas, doktor pula, sungguh masa depan suram, bukan ?

5. Buat Saudara, yang punya perusahaan di Indonesia, maka dianjurkan bahan baku dari Indonesia saja, karena mata rantai suplainya akan membangun penghidupan banyak kepala keluarga, berikut anak- anak mereka. Diolah dulu sebelum didagangkan ke luar negara, agar ada pertambahan nilai yang signifikan. Jangan lupa membayar pajak, karena bikin pabrik di tanah Indonesia, dan sebaiknya pekerjakan sarjana- sarjana didikan dalam negeri, mengingat sejak SD sampai PTN mereka sudah diinvestasi oleh negara, uang sekolahnya. Kalau Saudara tidak percaya pajaknya bakal didistribusikan ke warga negara lain, setidaknya bayar zakat lebih baik juga.

6. Sepengetahuan penulis, kalau ada hutang luar negeri ke Indonesia, misal ke swasta, maka pemberi hutang akan menganjurkan- saat bujeting proses EPC ( Engineering, Procurement, Construction) – penggunaan barang- barang produksi mereka, konsultan dari mereka juga. Jadi kalau dilihat dari neraca keuangan, sebelum ada pengembalian hutang dan bunganya, maka kreditur akan untung duluan, jadi ya sama saja sih.

Nasionalisme itu jargon abstrak sih ya, tidak jelas batasan patriotisme itu apa, seringkali malah jadi norak, mainan segelintir orang pintar yang duduk jadi bagian pemerintah ( pemerintah = tukang perintah), untuk menarik perhatian manusia berlabel penduduk, dan lalu dimanfaatkan untuk mempertahankan posisi. Logika sederhana saja, kalau ada yang berteriak- terial soal nasionalisme, tapi produk yang dipakai impor, digaji perusahaan konsultan impor, pelesir buat menyumbang ke luar negerinya sering, susah untuk membangun relasi antara premis mayor dengan minornya, semacam, “Jaka Sembung Naik Ojek”, Ya tidak nyambunglah jek !

Sederhananya, jika kehadiran Saudara, dengan usaha Saudara tentunya, bisa memenuhi kebutuhan buat bertahan hidup keluarga, saudara, tetangga terdekat saja dulu, dengan membuat mereka tetap produktif berkarya, dan dengan upah diterimanya, mampu mengonsumsi produk buatan tetangga desa sebelah, tahu atau tempe bikinan mereka misalnya, maka ya itu nasionalisme juga sih ya ? Kan arus kasnya masih berputar di sekitar keluarga, tetangga, tetangga desa, jadi nggak loncat ke orang Singapura atau Jepang , begitu ?

Ah sudahlah, mari kita makan, Saudara….

Catatan 

1. Kalau gambarnya susah diamati, bisa klik dan buka di halaman baru, maaf ya.

2. Bung @tuvokvulcan masih hilang tak tentu rimbanya, kemana dia ?

One comment on “Arus Kas Devisa

  1. ikhwanalim
    January 14, 2013

    heroik sekali yg nomor 5 yah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 13, 2013 by in Review and tagged , .
%d bloggers like this: