Usual Storyline

oeuvre

Gaya Hidup

Bagi orang di peradaban belahan Barat, hidup senin- kamis dari sumber daya alam di sekitarnya dengan sarana teknologi paling bersahaja tampak sebagai tantangan yang menciutkan nyali. Nyatanya, ini adalah cara hidup subsisten yang luarbiasa efisien, sehingga dalam tiga atau empat jam para pelanja sering bisa mengumpulkan pangan yang cukup untuk sehari.

Cara hidup subsisten yang sangat efisien itu terbukti benar dalam kehidupan !Kung San, suatu masyarakat di Gurun Kalahari, Botswana, daerah yang sangat tidak menunjang kehidupan. Masyarakat pemburu- pengumpul menyelaraskan diri terhadap lingkungan dengan cara yang sukar dicerna oleh akal manusia perkotaan. Alhasil, mereka tahu cara menggarap apa yang bagi orang modern merupakan sumberdaya yang rudin. Kekuatan cara hidup mereka terletak pada penggarapan sumberdaya tumbuhan dan hewan dalam kerangka tatanan sosial yang mendorong saling ketergantungan dan kerjasama.

Bila memeriksa kembali sejarah beberapa ribu tahun yang lalu saja, kita melihat awal kemunculan peradaban: dalam organisasi sosial yang makin lama makin kompleks, desa berkembang menjadi suku, suku berkembang menjadi negara- kota, negara- kota berkembang menjadi negara- bangsa. Naiknya tingkat kompleksitas tersebut, yang tampak niscaya, didorong oleh evolusi kebudayaan, bukan perubahan biologis.

433308557_b769f573fa_b

Pasangan Suami Istri Petani

Sebagai pelaku ilmu Kepanduan ( Pramuka) di pendidikan dasar (SD- SMP) dulu, kebersahajaan gaya hidup, dengan pengaturan sumber daya logistik, adalah kemampuan teknis dasar saat penjelajahan alam terbuka, di luar peradaban manusia. Kemampuan lain semacam membaca peta dengan kompas, komunikasi simbol ( morse dan semapor seperti yang digunakan oleh para pelaut), bahasa sandi, bangunan darurat ( pioneering sebutannya, biasanya berbahan bambu dan tali), serta pengenalan sumber makanan di hutan, adalah simulakra kecil, sebagai bagian dari upaya untuk tetap mempertahankan kemampuan evolusi adaptif manusia, bertahan hidup efisien sebagai pemburu dan pengumpul.

Penulis termasuk manusia yang kurang bisa percaya, bahwa sekolah formal saja bisa membekali kemampuan untuk bertahan hidup, di segala medan peradaban. Pendidikan dasar seharusnya memang bisa membekali kemampuan itu, namun kompleksitas peradaban seringkali justru memanjakan pihak manusia, yang notabene adalah elemen organik paling dominan, untuk merasa abai dan memulai pembusukan sistem sosial bernama peradaban tadi.

Definisi berkelimpahan dalam peradaban manusia, adalah memiliki sumber daya dan akses, sebagai akibat sumber daya tadi, sehingga seolah- olah mampu menjamin ketersediaan bagi manusia lain, yang tidak berkelimpahan. Berkelimpahan dalam justifikasi manusia perkotaan dilabel dengan sebutan kaya, dan manusia kaya biasanya juga punya peluang lebih besar untuk menguasai sebagian besar manusia lain, sehingga bisa disebut dengan penguasa.

Kelimpahan sumber daya dalam kerumunan manusia, yang kemudian lalu disebut peradaban ini, adalah demi menjamin kemudahan hidup berikut tentunya pasangan kawin, mencegah kepunahan manusia. Organisasi manusia ini lalu menciptakan berbagai macam fasilitas, dengan kemahiran teknologi/inovasi, kecakapan artistik, kesadaran mawas diri, dan rasa moral. Manusia berusaha untuk melakukan kepastian- kepastian ukuran, menghadapi semesta, yang penuh dengan ketidakpastian. Manusia mulai beradaptasi dengan kemapanan sumber daya dan jaminan ketidakpunahan, setidaknya dalam imajinasi kita.

Semakin mapan dan tersedia sumber daya, nampaknya manusia juga mulai beradaptasi dengan keberlimpahan, kemapanan. Di sisi lain, jaminan sumber daya dalam sistem sosial ini juga mengurangi kesigapan instingtif menghadapi ketidakpastian, atau menambah kengerian terhadap gaya hidup subsisten, dimana manusia perlu berusaha keras, secara motorik maupun kognitif, untuk mendapatkan makanan, juga pasangan kawin.

Manusia modern yang merasa sudah mapan dengan karir dan pendapatannya, lalu berusaha untuk menumpangkan sumber daya bernama uang, agar bisa semakin bertambah nilainya. Manusia yang membangun perusahaan, lalu melakukan ekspansi bahkan akuisisi, demi mengamankan keterjaminan sumber daya juga. Sistem sosial yang kompleks, lalu melahirkan sistem penjaminan hidup yang kompleks pula, disini ekonomi berkembang, bahkan sampai ke upaya untuk melakukan penghindaran resiko yang bisa mematikan perputaran ekonomi.

Penulis yang juga mencermati pola keberlangsungan hidup generasi sebelumnya, ikut menelaah pemikiran Ibnu Khaldun, Will Durant, dan Arnold J Toynbee, yang mereka sampaikan dalam format teks. Penulis menyadari bahwa teks tidak akan sanggup menampung semua konteks, namun daripada tidak mencerna sama sekali, membaca teks lumayan bisa mencerahkan, barang sedikit.

Berdasarkan teorinya, ‘Ashabiyyah/ Kelompok, Ibnu Khaldun membuat teori tentang tahapan timbul tenggelamnya suatu Negara atau sebuah peradaban menjadi lima tahap, yaitu: Pertama, tahap sukses atau tahap konsolidasi, dimana otoritas negara didukung oleh masyarakat (`ashabiyyah) yang berhasil menggulingkan kedaulatan dari dinasti sebelumnya. Kedua, Tahap tirani, tahap dimana penguasa berbuat sekehendaknya pada rakyatnya. Pada tahap ini, orang yang memimpin negara senang mengumpulkan dan memperbanyak pengikut. Penguasa menutup pintu bagi mereka yang ingin turut serta dalam pemerintahannya. Maka segala perhatiannya ditujukan untuk kepentingan mempertahankan dan memenangkan keluarganya.

Ketiga, tahap sejahtera, ketika kedaulatan telah dinikmati. Segala perhatian penguasa tercurah pada usaha membangun negara.Keempat, tahap kepuasan hati, tentram dan damai. Pada tahap ini, penguasa merasa puas dengan segala sesuatu yang telah dibangun para pendahulunya.

Kelima, tahap hidup boros dan berlebihan. Pada tahap ini, penguasa menjadi perusak warisan pendahulunya, pemuas hawa nafsu dan kesenangan. Pada tahap ini, negara tinggal menunggu kehancurannya.

Negara lahir dan bubar, perusahaan lahir dan bangkrut, biasa saja, selalu begitu memang manusia itu. Tidak ada yang menjamin esok tak ada bencana, perang, atau kerusuhan. Ini soal yang sebenarnya cukup sederhana, gaya hidup manusia untuk tetap bertahan hidup, dengan segala perubahan sistem sosial yang melingkupinya.

Tidak ada salahnya memiliki gaya hidup subsisten, dengan kebersahajaan alat, di tengah keberlimpahan sumber daya.

NB:

Gambar diambil dari sini 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 23, 2013 by in Review and tagged , , , , , .
%d bloggers like this: