Usual Storyline

oeuvre

Membaca Zaman

Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya (Rumah Kaca, h. 46)– Pramoedya Ananta Toer

Ada istilah bagus kemarin saat melihat TV, dari seorang guru yang juga pengamat pendidikan, bahwa orang tua modern cenderung untuk melakukan proses sub- kontrak pendidikan, bagi anak- anaknya. Ada kepercayaan yang terlalu besar dari orang tua kepada institusi sekolah, agar anak mereka dibekali pengetahuan dan kemampuan oleh guru sekolah, yang mereka sendiri sebenarnya juga tak terlalu paham, bagaimana kualitas ilmu dan metode yang digunakan, untuk mendidik anak- anak masa depan itu, yang notabene adalah anak kandung mereka sendiri. Entah apakah ada pelibatan pihak orang tua, untuk juga memahamkan pengetahuan yang didapat dari sekolah ke ekosistem terdekatnya, keluarga.

Sebenarnya, apa sih fungsi sekolah formal ? Pertanyaan mendasar ini yang jawaban- jawaban jujurnya, selalu menarik dan menggelitik untuk dikupas lalu dikudap. Atau lebih mendalam lagi, apa gunanya pendidikan ? Kenapa seolah manusia ini dengan repotnya menginvestasikan tenaga, waktu, dan uang mereka untuk memberikan pengetahuan atau kemampuan kepada generasi berikutnya yang lebih muda ? Apa rugi, dan apa untungnya ? Jika dalam sistem feodal, dimana rakyat menumpang tanah ke rajanya, maka pengetahuan dididikkan secara eksklusif ke anak raja, bangsawan, dan ksatria, karena di pundak merekalah bangunan sistem struktur sosial- politik- militer- ekonomi kerajaan akan tetap lestari bertahan antar generasi. Rakyat jelata yang cuma menumpang tanah, selama masih bayar pajak, sebenarnya tak terlalu penting juga untuk bisa membaca, atau tahu banyak hal.

Jika memang fungsi pendidikan formal hanyalah untuk menjadi alat mencapai mobilitas sosial, sebenarnya itu penghakiman yang terlalu dangkal, karena tak semua manusia suka dan menikmati yang namanya status sosial. Selain itu, tak ada jaminan sama sekali bahwa yang namanya bangunan struktur sosial, entah itu kerajaan atau republik tak bisa hancur lenyap dari muka bumi. Bagi yang sempat hidup di akhir abad ke-20 dan awal abad 21, kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri, lahir dan hancurnya beberapa negara besar berdaulat penuh. Lalu apa sih fungsi sekolah formal yang dibangun negara ? Sebenarnya jawabannya cukup sederhana, agar generasi berikutnya memiliki kemampuan membaca ( Literasi) yang mumpuni.

Literasi adalah seperangkat kemampuan mengolah informasi, jauh di atas kemampuan mengurai dan memahami bahan bacaan sekolah. Melalui pemahaman ini, literasi tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga mencakup bidang lain, seperti matematika, sains, sosial, lingkungan, keuangan, bahkan moral. Kemampuan literasi manusia sudah berkembang jauh dengan kompleks, dihitung sejak manusia pertama kali mengenal tulisan, 3100 tahun yang lalu. Dengan kemampuan literasi itu, manusia menghasilkan banyak temuan baru, hukum baru, yang mempengaruhi budaya sosial kita, antar generasi, antar benua pula.

Pendeknya, manusia berusaha membangun sistem pendidikan itu, sampai berdebat antar profesor berikut guru besar, bereksperimen dengan kurikulum, menggaji guru,membangun gedung sekolah, dan mencetak buku sampai triliunan rupiah, hanyalah untuk membekali generasi berikutnya satu kemampuan, yaitu kemampuan untuk membaca. Pertanyaan berikutnya, jika sebegitu sederhananya target yang akan diraih, objek apa saja yang menjadi sasaran untuk dibaca ?

Membaca Teks

Anda bisa bayangkan jika sampai sekarang manusia tukar menukar informasi lewat mekanisme oral- audio saja ? Pengetahuan tak bisa semasif sekarang, jika manusia tidak menemukan abjad untuk menulis dalam bentuk teks. Awalnya manusia memang berkomunikasi dengan audio, dengan berbahasa oral manusia membangun kerjasama dan sistem sosial kompleks, dari situ peradaban dimulai, dari lingkaran kecil keluarga, desa, kota, hingga negara kota dan negara bangsa. Ledakan besar transfer pengetahuan bisa terjadi karena manusia mulai berkomunikasi secara literal, ada proses adopsi makna, dari oral menjadi literal. Manusia mengubah pengertian kontekstual menjadi tekstual, dan disinilah sebenarnya pembeda fungsi kognitif manusia, dengan spesies lain di biosfer bumi, yaitu kemampuan untuk berkomunikasi kompleks, media literal.

Dari 26 abjad latin saja, bisa dibangun jutaan kosakata dalam satu bahasa. Dari jutaan kosakata bisa dibangun milyaran makna dalam kalimat, entah berapa satuan lagi yang bisa dibuat dengan kreativitas kognitif manusia. Itu masih dari satu bahasa dan satu jenis abjad, belum ratusan bahasa dan abjad dari berbagai bangsa di setiap benua, yang mereka bisa membangun konstruksi makna dengan kombinasi kata, luar biasa ! Pengetahuan sesungguhnya memang terintegrasi dalam bahasa itu sendiri, tanpa kemampuan membaca teks yang mumpuni, mustahil manusia mampu melakukan proses ekstraksi dan menggunakannya untuk kehidupan.

Lalu sampai seberapa dalam kemampuan membaca teks ini bisa disebut “membaca” ? Minimal ada empat hal;Pertama, fokus pada informasi dan mampu mengambil makna tersurat; Kedua, mampu menarik kesimpulan berdasar; Ketiga, mampu menafsir dan memadukan antara ide dan informasi yang didapat; Keempat, mampu menilai isi, bahasa, dan elemen lain dalam bacaan tekstual.

Sederhana memang, tapi kompleksitas sesungguhnya juga dibangun dari elemen paling sederhana bukan ?

Membaca Angka

Anda bisa bayangkan, jika sampai sekarang manusia menghitung lajur akuntansi debet/kredit dengan angka romawi ? Selain merepotkan karena tidak adanya angka nol, nilai transaksi yang bisa dicatat pun akan menjadi sangat terbatas. Bankir Venesia yang mengimpor angka arab dari para pedagang Arab abad ke-15 melakukan revolusi besar dengan menggunakannya untuk pencatatan nilai perdagangan. Dengan angka arab, perhitungan menjadi lebih mudah, adanya angka nol jelas memudahkan perhitungan sampai satuan milyaran, triliunan, bahkan lebih. Perlu diketahui juga mekanisme dua lajur ini juga membuka sistem baru keuangan, fractional reserved banking, yang memungkinkan distribusi modal dalam skala masif serta merata. Sejak abad ke- 14 pula, jumlah manusia terus bertambah secara signifikan, dibandingkan dengan abad- abad sebelumnya, apakah ini kebetulan ? Tentu tidak.

Angka adalah cara lain untuk berbahasa, bahasa rasio, atau bahasa ukuran perbandingan. Dengan bahasa ini manusia melakukan pengukuran dan perhitungan, manusia menentukan konsensus bersama tentang satuan dan konstanta. Dengan bahasa ini, tercipta berbagai keajaiban hasil kreativitas kognitif manusia. Setidaknya ada sepuluh pemodelan yang sangat berpengaruh dalam peradaban manusia, hingga saat ini :

Pertama, Pemodelan Black- Scholes, yang digunakan untuk perhitungan dalam pasar saham, sangat fungsional untuk pasar derivatif berskala triliunan dolar, walaupun memang tidak signifikan dalam keadaan krisis ekonomi. Kedua, Teorema Pythagoras, yang digunakan untuk pengukuran panjang sisi geometri segitiga, sangat fungsional sebagai pondasi dasar trigonometri, digunakan untuk pemetaan dan navigasi. Ketiga, Transformasi Fourier, untuk menjelaskan pola waktu, dalam fungsi frekuensi, sangat penting untuk analisis sinyal, dan menemukan struktur ruang molekul. Keempat, Teorema Calculus, yang menjadi pondasi dasar pengukuran garis kurva, area, yang digunakan untuk keperluan medis, ekonomi, dan komputasional. Kelima, Formula Euler untuk Polyhedra, yang fungsinya untuk menghitung ruang dalam bentuk geometris. Formula ini membuka ruang topografi, untuk pemetaan tiga dimensi dan dalam biologi untuk memahami struktur DNA.

Keenam, Hukum Gravitasi, sangat penting untuk penerapan dalam astronomi, eksplorasi ruang angkasa, dan penempatan satelit dalam orbit. Ketujuh, Perhitungan Maxwell, yang mampu menjelaskan hubungan antara medan elektrik dan magnetik. Fungsinya jelas untuk memprediksi dan memahami gelombang elektromagnetik, yang digunakan dalam radar, televisi, dan peralatan komunikasi modern. Kedelapan, Hukum Kedua Termodinamika, yang menjelaskan tentang entropi, membantu pembuktian materi yang memang berasal dari atom. Kesembilan, Perhitungan Schrodinger, yang sangat berperan merevolusi pengembangan komputer modern melalui semikonduktor dan transistor. Kesepuluh, Teori Relativitas, yang membuka jalan untuk pengembangan senjata nuklir.

Jika angka nol saja bisa memicu penyebaran uang, dan membuat manusia beranak pinak lebih banyak di generasi berikutnya, tentu bahasa angka ini adalah sebuah keajaiban kreasi manusia bukan ?

Membaca Perilaku

Bila memeriksa kembali sejarah beberapa ribu tahun yang lalu saja, kita melihat awal kemunculan peradaban: dalam organisasi sosial yang makin lama makin kompleks, desa berkembang menjadi suku, suku berkembang menjadi negara- kota, negara- kota berkembang menjadi negara- bangsa. Naiknya tingkat kompleksitas tersebut, yang tampak niscaya, didorong oleh evolusi kebudayaan, bukan perubahan biologis. Secara morfologis, manusia tidak berubah signifikan, kecuali pada percabangan ras yang sebenarnya juga dibentuk oleh lingkungan geografis dan makanan yang dikonsumsi, selain faktor genetis.

Evolusi kebudayaan manusia ini unik dan menarik untuk dipahami, karena sampai sekarang pun upaya untuk mencari asal usul jati diri nenek moyang kita masih belum selesai terjawab. Dalam sistem sosial, tentunya variabel- variabel yang harus dibaca jauh lebih sublim dan implisit, manusia perlu beradaptasi dengan budaya baru, untuk bisa memahami persamaan dan perbedaan nilai antar kelompok sosial.

Teori Out of Africa yang mendasarkan dari rekam jejak DNA mitokondria membangun kerangka hipotesis bahwa manusia sesungguhnya berasal dari satu sumber, satu nenek moyang, yang pernah suatu masa hidup di benua Afrika, 300,000 tahun yang lampau. Migrasi menuju daerah Levantine ( sekarang Turki & Lebanon), lalu menyebar ke seluruh penjuru dunia secara kronologis dicatat dalam kitab suci beberapa agama, dalam formar naratif dan harus hati- hati ditafsirkan.

Menariknya manusia ini berusaha hidup berkelompok untuk memastikan ketersediaan sumber daya makanan, peluang pasangan kawin, dan saling mengamankan. Setelah hidup dalam beberapa generasi, sebuah keniscayaan apabila kelompok manusia mengembangkan habitus- habitus khusus yang membangun kebudayaan khas.

Membaca perilaku manusia adalah usaha untuk membangun proses mengenali jati diri, karena beragamnya budaya manusia saat ini pun, sebenarnya dimulai dari upaya untuk tetap bertahan hidup dengan makan, dan menjaga peluang agar tidak punah, melalui perkawinan beda jenis kelamin, menarik ya ?

Membaca Semesta

Kenapa batu yang dilempar ke atas jatuh kembali ke bawah ? Kenapa hujan turun dan berhenti ? Manusia ini spesies yang punya rasa ingin tahu tinggi, atau istilah Ki Hajar Dewantara, manusia itu punya kemampuan cipta, rasa, dan karsa, selalu berusaha membuka misteri- misteri semesta raya.

Homo sapiens bukanlah spesies pertama yang hidup di biosfer bumi, dan dari upaya untuk membaca masa lalu lewat penemuan tulang di lapisan bumi, baru kita menyadari bahwa sudah berlalu banyak kehidupan sebelum kita dilahirkan.

Manusia sudah berupaya sejak dulu, mungkin 300,000 tahun yang lalu, untuk memahami fenomena perilaku lingkungan sekitarnya, semacam gunung meletus, matahari berselang bulan, gerhana matahari atau bulan, gempa bumi, dan lalu menghubungkan dengan mitologis. Manusia yang belum menemukan jawaban cenderung lari ke area mitis, dan yang masih punya keingintahuan tidak akan berhenti untuk menemukan pola semesta.

Sains adalah upaya manusia dengan bahasa teks dan angka untuk menemukan pola dalam semesta, lalu memformulasikan pemodelan untuk bisa dipelajari dalam skala yang bisa dimengerti. Bahasa ini akan terus berkembang, karena masih banyak mikrokosmos dan makrokosmos yang menunggu untuk dijelajahi.

Membaca Zaman

Zaman ini maksudnya manifestasi dari evolusi sosial, saat manusia sebagian besar mampu berbahasa teks dan angka, teknologi menopang kecepatan mobilitas ide, dan semesta bisa dieksplorasi dengan formula- formula baru, maka selalu ada kelompok- kelompok sosial yang lahir, berkembang, dan mati untuk digantikan oleh generasi baru.

3100 SM Peradaban Sumeria lahir, berikutnya Mesir, Yunani, dan seterusnya. Selalu ada periodisasi kumpulan manusia itu memutuskan untuk membangun sistem, berkarya dengan ambisi besar, menikmati hasil karyanya, dan jenuh untuk kemudian hancur dari dalam, atau diserbu kelompok lain.

Zaman awal manusia dikisahkan mencari makan dengan berburu meramu, manusia lalu menemukan api dan memanfaatkan alat untuk membantu memudahkan proses bertahan hidup. Manusia menetap sedenter, bercocok tanam, manusia mulai mengembangkan kebudayaan batu. Manusia membangun sistem nilai yang semakin kompleks, mulai menggunakan logam sebagai alat tukar dan alat pertukangan, disinilah zaman terus bergulir, hingga sekarang manusia bisa berbahasa biner di dunia digital.

Lima kemampuan membaca itu mungkin semacam simplifikasi dari pertanyaan, kenapa sekolah itu sebaiknya tetap diadakan ? Ya, karena memang sebaiknya manusia dibekali kemampuan untuk membaca, ya itu saja sih, sederhana kan ya ? Kalaupun institusi sekolah sudah menjadi ajang yang tak mampu mendidik, atau membangun kemampuan membaca bagi generasi manusia berikutnya, maka patutlah dipertanyakan kembali, kenapa sekolah tetap diada- adakan ? Apa kepentingan sekolah tetap diadakan selain untuk mendidik generasi baru kemampuan membaca ?

Kita sebenarnya diberi hidup hanya untuk sekedar membaca saja, dimulai dari membaca diri sendiri, begitu ?

One comment on “Membaca Zaman

  1. suryanaparamita
    March 8, 2013

    Reblogged this on See, Hear, Write It!.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 8, 2013 by in Concept.
%d bloggers like this: