Usual Storyline

oeuvre

Homo sapiens superior

Antiquitas saeculi javendi ( Francis Bacon)

Semua perempuan menjadi seperti ibu masing- masing. Itu kemalangan mereka. Laki- laki tidak demikian. Tapi itu pun kemalangan mereka. ( Oscar Wilde)

Kalangan ilmuwan Eropa di awal abad ke- 20, yang aktivitas risetnya sebenarnya  dibiayai oleh aristokrat dan bangsawan juga, masih tidak atau belum bisa menerima bahwa nenek moyang manusia ( Homo sapiens sapiens) berasal dari Afrika, benua hitam yang di masa mereka menjadi wilayah terhina, area yang sudah dalam petak kapling kerajaan- kerajaan Eropa kala itu. Ada bias kesombongan kecil, sangat manusiawi, bahwa kelompok yang saat ini superior tidak mungkin keturunan kaum inferior medioker, di jauh masa lalu nenek moyang mereka. Setidaknya itulah yang dialami oleh Leakey suami istri, dan diungkapkan dengan jujur oleh putra mereka, Richard Leakey, yang mengikuti jejak ayah ibunya, menjadi palaeoantropolog terkemuka, membaca rekam jejak migrasi dan distribusi Homo sapiens sapiens, untuk keluar dari daerah awal mula mereka dilahirkan, tanah Afrika ( Out of Africa).

genetika

Jalur Migrasi Manusia Modern ( National Geographic Indonesia)

Imajinasi pribadi untuk menjadi manusia superior ( Homo sapiens superior) adalah imajinasi ekstrovert, apa maksudnya ? Anda bisa disebut superior, karena ada pihak lain yang diposisikan atau memposisikan diri sebagai inferior, dan dalam kasus ini, tentunya masih dalam alur spesies yang sama. Peluangnya kecil jika manusia merasa lebih superior dibandingkan babi atau babi hutan, karena walaupun jumlah kromosomnya sama, 23 pasang, manusia nampaknya lebih tertarik untuk membandingkan diri dengan sesama manusia juga, bukan dengan babi, apalagi babi hutan, terlalu jauh bandingan dari aspek anatomi atau fisiologi, walau ada kesamaan aspek genetika.

Sejak kemunculan bahasa 50,000 tahun lalu, Homo sapiens diprediksikan sudah membuat sistem sosial kompleks, mengenal hierarki dan segregasi, mampu menjalin kerjasama dan konflik sekaligus, walau memang tak banyak catatan yang bisa diungkap, karena Homo sapiens baru meninggalkan catatan teks belum lama, 3100 SM, saat Sumeria bangkit di daratan Levantine, lembah subur yang sekarang, di tahun 2013 ini, menjadi wilayah Yordania, Israel, Turki, dan Italia. Dengan bahasa itulah manusia menjalin hubungan sosial, dalam satuan keluarga, kampung, bangsa, hingga negara- bangsa, dengan satuan struktur kompleks terkait, satu sama lain.

Kembali ke soal superioritas, Stan Lee dari Marvel punya imajinasi bahwa Homo sapiens superior adalah manusia lama ( Homo sapiens sapiens) hasil mutasi genetis, produk dari perubahan revolusioner pada tubuh materialnya, dan mampu memiliki kekuatan- kekuatan supra natural, semacam matanya mampu mengeluarkan sinar laser, mengendalikan pikiran, menghilang, terbang, bahkan melakukan perjalanan paralel interdimensional, orang muda yang lahir di tahun 80-an dan masih hidup sampai sekarang, tentu kenal dengan komik X Men, disitulah imaji tentang Homo sapiens superior termanifestasi dengan sangat visual, sangat komikal, sekaligus laku dijual.

Stan Lee bukan orang pertama, setidaknya buat Anda pembaca karya Rsi Viyasa, yaitu Mahabarata. Ada banyak Homo sapiens superior yang dikisahkan memiliki kapasitas supra natural, semacam terbang, tak bisa dilukai jaringan tubuhnya dengan metal, menembus bumi, bahkan hidup di luar lapisan biosfer bumi, yang disebutnya kahyangan swargaloka, artinya mungkin bisa hidup tanpa oksigen,luar biasa ! Karena mutan versi Stan Lee, sehebat apapun dia, masih butuh oksigen di biosfer bumi, sedangkan para dewa di kisah Rsi Viyasa sudah tak butuh produk Daur Krebs, pemecah molekul air menjadi oksigen dengan fotosintesis, untuk menyokong metabolisme kehidupan mereka, ini tentunya langkah maju, di zaman yang jauh lebih purba.

Kalau Anda penganut agama yang terhubung dalam satu sosok orang bernama Ibrahmim/Abraham/ Avraham, atau bisa disebut Islam/Kristen/Yahudi, dalam teks yang disebut suci oleh penganut ketiga agama tersebut, akan bisa ditemui banyak manusia- manusia biasa yang berusaha mendapatkan pengakuan superior oleh manusia lain, semacam Namrud/ Nimrod, Firaun/Pharaoh, Jalut/ Goliath, dan banyak lagi. Ada keinginan besar dari manusia- manusia yang disebut itu, untuk memposisikan diri sebagai Homo sapiens superior, tapi dalam konteks yang sangat ekstrovert, butuh pengakuan itu dari manusia lain, dengan cara menguasai tanah/sumber daya, merusak keamanan/mengendalikan keamanan, mengawini sebanyak mungkin manusia perempuan, atau membuat pengikut sebanyak mungkin dari spesies yang sama, dengan cara membangun ketergantungan terhadap dirinya, sebagai satu- satunya tempat bergantung harapan banyak manusia lain, sehingga dirinya bisa disebut bukan sebagai Homo sapiens sapiens lagi, melainkan Homo sapiens superior, manusia setengah dewa, tempat manusia lain menggantungkan harapan dan keinginan, kalau perlu hidupnya.

Dalam teks turunan Ibrahim/ Abraham/ Avraham, penantang manusia- manusia yang merasa ingin memposisikan diri sebagai Homo sapiens superior ini justru dari kalangan yang berusaha mengalihkan harapan banyak manusia ke sosok selain manusia, yang disebutnya Tuhan/God/Ilah/Yhwh. Mereka, yang disebut sebagai “Nabi”, adalah Homo sapiens sapiens yang berfungsi sebagai proxy/ informan/ pembawa pesan kepada manusia- manusia yang merasa dirinya inferior dan sekaligus superior, bahwa Homo sapiens sapiens sebenarnya tidaklah berbeda satu sama lain, dan punya fungsi untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di Planet Bumi, termasuk punya menyayangi spesies lain, juga mungkin termasuk babi dan babi hutan, bukan malah merasa menjadi spesies superior di antara spesies lain, lalu berhak merusak bumi.

Kalau Anda penyuka kesusastraan, dan sempat mengunyah Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer yang sedap- sedap gurih penuh bumbu itu, maka Anda pasti bisa meraba bahwa dominasi manusia bumi belahan wilayah utara terhadap manusia bumi di belahan wilayah selatan, adalah bagian dari sebuah siklus zaman. Sekitar 3100 SM, posisi Homo sapiens sapiens masih di belahan tengah, Levantine, lalu bermigrasi ke wilayah utara, melewati Kaukasia, dan sebagian ke selatan, melewati Samudera Hindia dan Pasifik. Kisah diawali dengan dominasi Homo sapiens di wilayah tengah, berpindah ke timur- selatan, lalu ke barat- utara, dan berganti terus menerus. Siklus dominasi satu kelompok Homo sapiens sapiens, terhadap kelompok Homo sapiens sapiens yang masih satu turunan, dan satu spesies ini, berlangsung dalam siklus 500 tahun, atau 500 satuan revolusi bumi mengelilingi matahari, begitu kata peneliti sejarah peradaban bernama Arnold Toynbee, Will Durant, dan Ibnu Khaldun.

Saat ini agregat GDP dunia terfokus dominan di wilayah bumi bagian utara, abad ke- 10, 55% GDP dunia terpusat di 3 wilayah, Persia, Cina, dan Majapahit, sudah terlihat kan polanya ? Peradaban Homo sapiens sapiens itu dipergilirkan superioritasnya, jadi ya tidak perlu juga merasa menjadi Homo sapiens superior juga sih, mentang- mentang mungkin di zaman ini, kelompok Anda yang lebih terlihat berlimpah dengan sumber daya

Oh iya, apakah kelompok Homo sapiens sapiens yang mendominasi perdagangan global, setidaknya terlihat dari arus modal dan kas, menyedot sumber daya dari kelompok Homo sapiens sapiens wilayah lain, merasa dirinya lebih superior ? Superioritas modal tidak dibentuk dari akumulasi modal dan sumber daya seketika, dalam waktu yang pendek, satu generasi misalnya. Superioritas modal dibangun dari superioritas usaha untuk mengumpulkan informasi, tentang inferioritas pihak lain, dan tentunya tetap mempertahankan perasaan itu. Homo sapiens superior adalah kelompok kolektif yang memiliki lebih banyak pengetahuan dan informasi, tentang diri mereka, dan spesies lain, yang mereka sebut sebagai Homo sapiens inferior. Disparitas modal itu dibangun dari disparitas usaha untuk mengejar dan mengumpulkan informasi, dan lalu membangun peradaban dari informasi/ pengetahuan yang sudah terkumpul.

Jadi, ini bukan soal perbedaan volume otak, ukuran fisik, atau warna kulit. Ini adalah sebuah persepsi yang dibangun, dan pengetahuan yang dikumpulkan, untuk menempatkan diri sebagai pihak yang lebih superior, dibanding pihak lain yang lebih inferior, lalu menanamkan persepsi dan pengetahun itu, ke dalam kebiasaan- kebiasaan harian, dalam jangka waktu terus menerus antar generasi, sehingga terbentuklah segregasi psikis antara kelompok Homo sapiens superior, dan Homo sapiens inferior.

Pemetaan genom masih berlangsung, dan ini akan membuka banyak rahasia kehidupan, bahwa manusia sebenarnya adalah produk kehidupan yang dibuat, yang dipertahankan oleh ekologi dan keseimbangan dalam ekosistem. Bahwa Homo sapiens sapiens bukanlah spesies yang benar- benar superior, dalam posisinya di biosfer bumi. Bersahabat dengan spesies lain, termasuk babi dan babi hutan, berusaha menjaga keseimbangan ekosistem, membaca perilaku komponen- komponen organik dan anorganik dalam semesta terlihat, adalah sekedar upaya kecil, untuk menemukan jati diri sebagai bagian dari sesama “makhluk”, hidup berdampingan dengan “makhluk” lain, sebuah homeostasis.

3 comments on “Homo sapiens superior

  1. hgunawan82
    April 14, 2013

    Wah.. Saya suka tulisan-tulisannya. Kapan kolaborasi ya? Masa cuma pemain band aja yang bisa kolaborasi, he3x

    Keep up your good work!
    /HG

    • Maximillian
      April 16, 2013

      Ini sedang membaca peran yang bisa saya optimalkan Pak, kan sudah gabung dengan milis, sama Bonar, Ari, Gustaff, dkk🙂

  2. 056
    March 2, 2014

    Menarik. Super sekali tulisannya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 3, 2013 by in Philosophy and tagged , , .
%d bloggers like this: