Usual Storyline

oeuvre

Tulipmania Jawa

An investmment in knowledge pays the best interest ( Benjamin Franklin)

Rule No.1: Never lose money. Rule No.2: Never forget rule No.1  ( Warren Buffett )

Gelembung harga hingga ratusan juta tanaman talas- talasan ( Aracaceae), berlabel Anthurium, pada sekitar tahun 2004- 2007, membuat beberapa kalangan masyarakat kaya mendadak, dan sebaliknya, miskin mendadak. Terjadi migrasi tingkat pendapatan, dari kalangan pejabat pemerintah berpunya dari perkotaan, dengan tabungan jutaan rupiah, ke kalangan petani bunga di desa pedalaman dan kaki pegunungan, yang bahkan sebelumnya tak paham caranya bikin rekening tabungan di bank ( waktu itu tak banyak orang desa punya rekening, bank biasanya cuma ada di kota).

Penawaran suplai terbesar datang dari sekitar kaki Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah, dan permintaan terbesar datang dari kalangan ibu- ibu istri pejabat pemerintah di perkotaan, atau ibu kota Jakarta, yang kebanyakan tidak mengerti hukum ekonomi pasar, permintaan dan penawaran, serta rekayasa sosial kelangkaan komoditas ( oleh para pemain lama di pasar), untuk mengendalikan tingkat harga.

Bagaimana bisa tanaman sejenis talas ini, Anthurium, yang biasanya tumbuh liar, atau ditanam sebagai penghias ruangan di rumah- rumah itu membumbung sampai puluhan kali lipat tingkat pendapatan perkapita masyarakat Jawa Tengah, atau Indonesia pada umumnya ? Karena setiap barang bisa dihargai atau divaluasi oleh pasar, dan pasar dibangun dari dua komponen utama, penawaran ( supply) dan permintaan ( demand). Kurva akan berusaha mencari tingkat keseimbangan ( equilibrium), antara permintaan dan penawaran, dan pergeseran itu bisa sangat liar, tak terkendali.

equilibrium

Kurva Pembentukan Harga pada Kesetimbangan Penawaran dan Permintaan

Gelembung ekonomi tanaman talas Anthurium ini sebenarnya model kasus yang meniru persis kasus gelembung ekonomi Bunga Tulip di Belanda, pada periode 1636- 1637, tahun yang sama awal- awal kapal dagang VOC mendarat di tanah Jawa. Kasusnya seakan menggelikan, konyol tapi nyata, oleh karena itu pakar ekonomi sering melabelnya dengan : Teori Kegilaan Massal, atau Kebodohan Besar, saat manusia bisa berlomba membeli bunga atau tanaman, dengan harga yang setara dengan rumah mewah, di zamannya.

Tulip sebenarnya bukanlah tanaman asli Belanda ( Tanah Rendah/ Nederland), walaupun mungkin sampai sekarang menjadi ikon utama negeri itu, selain kincir angin. Tulip aslinya dari kawasan Asia Tengah, yang pertama kali dikultivasikan pada sekitar tahun 1000, oleh para botanis dan ahli pertamanan Kesultanan Turki Usmaniyah. Popularitas Tulip sebagai komoditas dengan nilai ekonomi meningkat, dengan bertambah eratnya relasi perdagangan antara Turki Usmaniyah dengan kerajaan- kerajaan di tanah Eropa, utamanya Tahta Suci Romawi. Kultivasi Tulip di Belanda dimulai oleh satu orang botanis, mantan ahli taman Kaisar Maximilian II, yang membangun taman botani kerajaan di Wina, Austria, bernama Claudius Clusius. Pada 1594, Tulip tumbuh pertama kali di tanah Eropa, setahun setelah kedatangan Claudius di Belanda.

Selama periode 1594 sampai 1637 Tulip menjadi komoditas ekonomi berharga tinggi di Eropa, simbol status sosial, dan tentunya langka, karena ini syarat pertama sebuah barang bisa dimainkan kurva equilibrium-nya. Bunga Tulip yang indah menjadi simbol sosial kalangan atas, para bangsawan dan borjuis Eropa, membuat permintaan terus meningkat pesat, dan sesuai hukum pasar, maka penawaran harus mengimbangi, untuk terbentuknya harga yang disepakati.

Tumbuhnya permintaan Tulip jauh lebih cepat daripada tingkat produktivitasnya. Siklus hidup Tulip butuh 7 sampai 12 tahun untuk pembibitan hingga panen bunga. Untuk mengendalikan harga Tulip, pedagang Tulip menggunakan cara baru, yaitu dengan model surat berharga, yang dikeluarkan setiap muslim dingin, hingga pembeli bisa mendapatkan produknya di musim panas. Surat berharga itu dibuat berdasarkan prediksi kualitas bibit, dan tentunya prediksi harga yang pantas di masa depan, atau subprime lending . Peredaran instrumen transaksi, berupa surat hutang, membuat peningkatan nilai agregat nominal hutang, yang tidak diimbangi dengan transaksi riil, pertukaran barang ( Tulip) dengan uang ( alat tukar resmi). Lambatnya siklus produksi Tulip yang sangat tidak sebanding dengan jumlah pertumbuhan permintaannya, sangat berkontribusi untuk terjadinya gelembung ekonomi yang berpuncak pada tahun 1636- 1637.

6a00d83451688169e201310ff55da9970c-800wi

Kurva Terbentuknya Gelembung Harga pada Penawaran dan Permintaan

Pada awalnya yang berjudi dengan pertumbuhan harga Tulip hanya kalangan pedagang, lalu demam Tulip ini merambah ke kalangan bangsawan dan orang kaya, bahkan masyarakat umum, karena adanya harapan bahwa pembelian hari ini, akan bisa dijual dengan harga berlipat pada bulan- bulan berikutnya. Pada Januari 1637, harga sepucuk Tulip menyentuh harga 6000 Florins ( 1,8 juta USD/ April 2013 ) sedangkan pendapatan perkapita di Belanda saat itu di angka 150 Florins ( 45,000 USD/ April 2013 ). Pada Februari 1637, terjadi penjualan Tulip dalam jumlah besar, yang diikuti dengan panik massal penjualan stok Tulip secara beruntun oleh para pelaku pasar, harga Tulip pun anjlok, sama dengan harga seonggok bawang putih, di kala itu.

Bubble

Perubahan Indeks Harga Tulip di Belanda 1636- 1637

Talas Anthurium jelas punya kesamaan model kasus, banyak petani di kaki gunung yang kaya mendadak, karena ulah spekulan di perkotaan. Namun selebihnya, banyak ibu- ibu istri pejabat, yang telanjur menanamkan uangnya dengan harapan akan menangguk keuntungan berlipat, jatuh merugi. Nilai Anthurium tertinggi yang ditawarkan pernah sampai di titik harga 300 juta rupiah, dengan perbandingan rata- rata upah minimum regional Jawa Tengah perkapita 12 juta rupiah, 25 kali lipat. Secara agregat nominal, persentase rasio, atau skala ekonomi memang tidak sebesar Tulipmania 1636- 1637 di Belanda, tapi kasus Anthurium 2006- 2007 di Jawa Tengah ini cukup mampu membolak- balik status sosial ekonomi beberapa kalangan.

Siapa yang diuntungkan dari kasus gelembung semacam Tulip dan Anthurium ini ? Yang diuntungkan tentunya adalah para spekulan yang tahu benar kapan saatnya membeli dan menjual stok barangnya, mereka yang mendengar pertama kali saat harga masih murah, dan menjualnya kembali pada titik harga tertinggi. Siapa yang dirugikan ? Tentunya adalah para pengekor yang membeli saat harga mendekati puncak, dan menjual stoknya, saat harga barang sudah jatuh, menjauhi titik tertinggi harga pasar.

bubble-lifecycle

Grafik Psikologi Kerumunan pada Kasus Gelembung Ekonomi

Menariknya kurva parabol pertumbuhan persentase marjin, dalam kasus- kasus gelembung ekonomi, selalu dibumbui dengan variabel psikologi pelaku pasar, misal : dorongan memiliki simbol status sosial pergaulan, hasrat meraih keuntungan berlipat, atau bumbu metafisikal segala, tentang doa- doa yang dikabulkan, bahwa tujuh turunan generasi akan kaya raya, tanpa perlu lagi bekerja. Ya, manusia ternyata tetap rasional, selama kondisi psikisnya juga stabil, dan itu bukan perkara yang mudah untuk dikendalikan, apalagi jika yang dimaksud adalah kondisi psikologi banyak manusia, komunal.

Kasus gelembung ekonomi bisa terjadi karena para pelaku pasar, para manusia- bukan monyet atau babi- ini, sebenarnya adalah makhluk- makhluk yang lebih dominan sisi psikis daripada kognitifnya ( rasio). Sisi- sisi dasar psikis manusia yang sering digunakan sebagai “tombol ajaib”, untuk membuat pasar dinamis adalah : rasa takut, dan harapan masa depan lebih baik. Komodifikasi rasa takut ( fear) dan harapan (hope) akan selalu dimainkan oleh segelintir kecil manusia, untuk mengendalikan sebagian besar manusia lain, dalam kasus ini adalah untuk mengendalikan kondisi psikologis komunal pelaku pasar.

Investasi terbaik itu ya ke diri sendiri sih, yaitu untuk memiliki pengetahuan dan keahlian sebanyak yang kita bisa serta perlukan, dan membaca perilaku sosial masyarakat tempat kita hidup, sehingga mampu menentukan posisi, apakah akan mengikuti arus kebodohan massal, memperingatkan mereka, atau tidak ikut sama sekali, dan tidak terlibat dalam penanggukan keuntungan, ataupun kerugian besar, dalam waktu sekejap. Di kasus semacam inilah kapitalisasi informasi menemukan nilai transaksional yang bisa dikalkulasi dan divaluasi, bukan sekedar jargon- jargon kosong tentang abad informasi,  yang kadang susah dipahami publik awam.

Tautan jurnal tentang Tulipmania 1636- 1637 :

1. University of Chicago JSTOR

2. UCLA

3. Maurits van Der Veen, University of Georgia

4. Scott Nicholson

2 comments on “Tulipmania Jawa

  1. batinlinda
    March 4, 2015

    Status sosial ada di puncak tombol utama permainan psikologis pasar, baru kemudian diikuti rasa takut dan harapan masa depan. Ini berlaku untuk pangsa pasar kelas keatas.
    Pertanyaanya adalah apakah benar terget marketing terbaik adalah dengan memulai segmen dari kalangan atas saja?
    Menjual barang yang sedang ngetren akan menguntungkan, tren tidak hanya berlaku untuk satu kalangan, karet gelang warna-warni pun bisa jadi sangat menguntungkan (segmen anak2 dengan uang saku bernominal rendah).
    Mungkin berbeda, bagaimana memainkan psikologis pasar pada segmen kelas atas dengan pasar pada segmen kelas lainnya. Untuk kelas rendah, sebenarnya apa yang membuat suatu benda tersebut benjadi tren dikalangannya?

    • Maximillian
      March 5, 2015

      Kalangan atas itu cenderung menjadi pusat perhatian kalangan menengah dan bawah, jadi apapun yang terjadi adan menstimulasi pengamatnya. Kalangan atas kecenderungannya berjumlah sedikit, dan suka pamer.

      Ini, ajak kalangan selebritis buat gerak, yang lain bakalan ikut. Macam Bono U2, atau Slank.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: