Usual Storyline

oeuvre

Testosteron

Akira karya Katsuhiro Otomo (1980), dengan apik menggambarkan fenomena anarki, hilangnya negara, dengan aktor utama para remaja lelaki, yang kondisi biologisnya sedang dalam puncak ledakan testosteron. Dorongan keingintahuan tinggi, rasionalitas yang kalah dominan dengan emosi, nafsu besar untuk bertualang, dan upaya mencoba menantang otoritas, bertemu dengan ekosistem tata kelola aturan yang hancur, karena peristiwa luar biasa, bencana ledakan telekinesis.

Telekinesis adalah unsur khas Otomo, yang dia angkat juga di Domu, novel grafis lain dengan kekuatan cerita yang mengalahkan singkatnya halaman. Akira lengkap menggambarkan ekosistem manusia modern yang sangat mekanistik berbekal teknologi paling mutakhir, penuh dengan keteraturan, sekaligus juga halus mempertahankan budaya korup, tentu saja dengan militer sebagai ototnya. Di tengah kejenuhan modernitas yang mengejar keteraturan ini, selalu ada upaya mencari harapan lain, harapan di luar keteraturan, yaitu ketidakterukuran, yang diberikan oleh para pemimpin sekte kepercayaan transenden, dengan ciri khas ala sulap metafisika, berkekuatan telekinesis dan teleportasi, sebuah kemampuan yang sebenarnya sangat diidamkan para ilmuwan dan teknokrat.

Akira menjawab banyak pertanyaan penulis, semacam : Apakah credential dan teori- teori di pendidikan formal memang benar bisa membekali manusia untuk bertahan hidup ? Jikalaupun bisa, di ekosistem semacam apa kapasitas itu mampu digunakan ? Perkotaan yang sudah terlihat rapi dengan segala keteraturan dan regulasi berikut aparat operatornya ? Bagaimana jika keteraturan itu hancur dalam sekejap ? Bukankan manusia- manusia yang memegang senjata dan memiliki kekuatan lebih dibanding manusia lain, yang akan menjadi patron- patron baru menegakkan aturan dalam ekosistem ? Manusia tidak mengenal hukum rimba, karena hukum itu hanya ada dalam dongeng, tapi manusia dibekali kemampuan dasar yang unik, yang mungkin spesies lain juga punya, yaitu kemampuan untuk mempertahankan hidup dan berupaya untuk beradaptasi, apapun ekosistem dan lingkungan organik yang dihadapi.

Saat banyak remaja laki- laki, yang kebetulan adalah gangster motor itu, menguasai ekosistem urban, yang hancur karena ledakan tadi, maka ketidakteraturan yang dibayangkan itu ternyata tidak berlangsung lama. Populasi akan mengalami kejenuhan kolektif saat terus menerus berkonflik, dan pendewasaan kolektif biasanya terjadi dalam jangka tertentu, ketika kesadaran terbentuk bersama, bahwa jumlah korban yang berjatuhan ternyata memang menyakitkan.

Satu kekurangan Otomo adalah soal kapital. Akira sangat menonjolkan konflik berebut hegemoni, dengan kekuatan strategis ( pengetahuan), fisik, metafisik ( telekinesis), teknologi ( senjata pemusnah massal), dan politik ( otoritas), namun sebenarnya dalam dunia nyata, sumber daya kapital jelas sangat berpengaruh dalam perebutan hegemoni ini. Ekosistem urban yang nampak teratur dan aman, sesungguhnya adalah prasyarat dari medan panggung konflik lain, yaitu konflik perebutan pasar. Manakala keamanan hilang, maka pasar akan berhenti, aktor akan mempertahankan sumber daya, dan kepemilikan sumber daya mempengaruhi peluang mendapatkan kekuatan dalam jenis lain, kekuatan yang ditampilkan oleh Otomo dalam Akira.

Pertanyaan tentang seberapa signifikan pengetahuan dan pendidikan di sekolah formal akan mampu memberi bekal, kepada remaja, atau orang muda, untuk bisa bertahan hidup adalah pertanyaan pribadi banyak orang. Memang benar, bahwa manusia membangun keteraturan dalam ekosistem dan kerumunan populasi, adalah untuk menjamin ketersediaan sumber daya, dan pasangan kawin, dalam rangka mencegah kepunahan. Namun sekali lagi, apa jaminan bahwa sistem sosial tidak akan hancur ? Apa jaminan bahwa negara tidak akan bangkrut ? Apa jaminan perusahaan besar tidak akan jatuh ? Tidak ada, sama sekali tidak ada. Bahkan kredit sebagai basis perputaran ekonomi berbasis hutang pun selalu butuh jaminan, yaitu jaminan bahwa besok, seminggu lagi, setahun lagi, keadaan akan tetap baik- baik saja, seperti saat ini.

Ah, testosteron ini memang harus dikendalikan, dan diarahkan ke aktivitas konstruktif. Jika pembaca ingin mendapatkan Akira baik itu manga, maupun adopsinya ke sinema, bisa kontak empunya blog ya.

NB :

Penulis sempat mempertanyakan fungsi sekolah, justru saat menjadi pelajar teladan propinsi, sekaligus pernah menjadi komandan peleton kepanduan sebelumnya. Sekolah memberikan berbagai credential dengan level yang seolah terus meningkat, sesuai apresiasi yang diharapkan mampu memicu untuk terus “belajar” dan label pintar atau cerdas. Namun tidak ada penjelasan resmi, apakah guru dan kurikulum memang menjamin bahwa bekal yang diberi bisa mendukung kemampuan untuk bertahan hidup dan beradaptasi dengan berbagai keadaan, atau justru malah menjadi kebanggaan absurd lain, selembar kertas bernama ijazah ( credential).
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 6, 2013 by in Philosophy and tagged , , .
%d bloggers like this: