Usual Storyline

oeuvre

Dongeng Ekonomi

Dongeng soal ekonomi memanglah selalu menarik, usia 17 tahun adalah usia terbaik untuk menjadi pelaku ekonomi riil yang sadar secara eksistensial, dan menerapkan disiplin keseimbangan debet- kredit neraca keuangan, dalam kehidupan nyata. Kehidupan nyata ini maksudnya ilmu yang abstrak bisa untuk bertahan hidup secara konkret, buat makan, beli pakaian, sewa rumah, dan tentunya investasi ke diri sendiri, membeli pengetahuan di sekolah, atau bolehlah orang bilang “universitas”.

Lalu, dari mana mulainya kalau ingin jadi pelaku ekonomi? Apakah menjadi pelaku ekonomi butuh lulus sekolah formal dulu? Disini mulai dialektika berjalan, dari mana mulainya, dimana berhentinya, bagaimana modelnya? Karena ilmu yang paling penting harus dikuasai oleh manusia, yaitu ilmu untuk bertahan hidup ( survival for life), justru jarang sekali diingatkan oleh guru- guru bijak nan bersahaja, di sekolah formal, dari dasar sampai perguruan tinggi.

Sebenarnya semua spesies Homo sapiens (manusia ) di Planet Bumi, selama masih hidup dalam ekosistem sosial yang mengenal transaksi, maka sudah menjadi pelaku ekonomi sejak dilahirkan sekalipun. Lho kok bisa ? Ya, karena pelaku ekonomi artinya menjadi produsen, atau bisa juga konsumen. Produsen tak mungkin mau memproduksi barang, yang tidak ada konsumennya, kedua faksi itu ada hubungan ketergantungan, sehingga bisa bertransaksi ekonomi.

Sejak bayi pun, Homo sapiens (manusia) sudah bisa jadi konsumen, walaupun mungkin belum sadar diri. O iya, perlu dipahami bahwa aktivitas ekonomi ini kemungkinan hanya dijalankan oleh populasi Homo sapiens (manusia), belum diketahui secara pasti apakah spesies lain bertransaksi sesama mereka. Jangankan konsumen, sejak bayi pun sebenarnya kebanyakan manusia sudah berstatus sebagai penghutang (debitor) ! Lho, kok bisa ? Darimana ceritanya bayi baru lahir sudah punya hutang ? Dongeng ini memang panjang, sepanjang usia sejarah peradaban Homo sapiens yang tercatat, 5000 tahun.

Walaupun 90% populasi Homo sapiens (manusia) hanya menghuni 10% bagian Planet Bumi, tapi gara- gara spesies ini teramat bersemangat melakukan aktivitas ekonomi, jadi keberadaannya cukup signifikan mempengaruhi eksistensi spesies lain, bisa menyebabkan jumlahnya bertambah signifikan ( sapi misalnya), bahkan sebaliknya, bisa bikin punah spesies lain ( burung dodo misalnya).

Manusia terdidik sekolah sains dan teknik, atau seni, biasanya teramat suka bernalar induktif, dalam berpikir soal posisi menjadi pelaku ekonomi, yaitu produksi, mereka ingin jadi produsen. Nalar induktif yang menggunakan premis minor ini bisa dijalankan ketika di dalam pasar belum banyak persaingan, dan konsumen sudah jelas ingin mendapat barang semacam apa. Lho tunggu dulu, apa sih maksudnya bermain ekonomi dalam nalar induktif dan deduktif ? Baiklah, coba lihat grafik harga komoditas internasional di bawah ini :

20130608_FNC741_0

Perubahan Harga Komoditas Perdagangan Global Periode 1950- 2012

Apa yang dikejar dalam menjadi pelaku ekonomi ? Jika produsen, maka mereka akan mengejar prosentase marjin, dan jika posisi konsumen, maka akan mengejar selisih harga demi mendapat barang terbaik, dalam kasus ini adalah barang komoditas ya. Kalau diamati grafik harga komoditas sejak tahun 1950 sampai 2012 di atas, maka bisa sekilas diambil hikmah, bahwa produsen minyak adalah Homo sapiens ( manusia) pelaku ekonomi, yang meraup prosentase marjin paling tinggi, dibandingkan dengan produsen komoditas lain, dan produsen kapas adalah Homo sapiens ( manusia) yang meraup prosentase keuntungan paling kecil, bahkan minus, yang dalam bahasa neraca keuangan, mereka disebut defisit, alias merugi.

Proses terbentuknya harga, yaitu nilai kesepakatan antara produsen yang berada di sisi penawaran (supply), dengan konsumen yang berada pada sisi permintaan (demand), terjadi dalam ruang dan waktu yang disebut dengan pasar ( market). Grafik di bawah ini bisa jadi referensi :

equilibrium

Kurva Terbentuknya Harga dari Kesetimbangan Permintaan dan Penawaran

Nah, untuk kasus ekonomi komoditas, yang harganya dinamis sejak tahun 1950 sampai 2012 di atas, faktor yang jelas mempengaruhi perubahan harga, adalah : kelangkaan. Apa maksudnya ? Semakin langka produk di pasar, maka harganya akan semakin meningkat, dan sebaliknya, semakin berlimpah, harga barang akan semakin turun, bahkan menjadi tak punya harga sama sekali, dengan catatan permintaan ( demand) tetap, atau bertambah. Merekayasa sisi penawaran (supply) lebih mudah dikendalikan, daripada merekayasa sisi permintaan ( demand), yang banyak kepalanya.  Rekayasa kelangkaan ini adalah pemodelan yang harus dipahami, jika ingin menjadi pelaku ekonomi di sisi produksi, karena itulah disebutnya nalar deduktif, pahami dulu premis mayor terbentuknya harga sebuah komoditas.

Kasus ekonomi barang komoditas ini seringkali menimbulkan epik penuh drama, dalam sejarah tekstual peradaban Homo sapiens (manusia) di Planet Bumi. Kasusnya, semisal manusia di belahan bumi utara subtropis, menginginkan makanan yang memiliki cita rasa berlimpah, dan kain untuk buat baju yang halus, sedangkan kedua komoditas itu jarang ditemui di bumi belahan utara subtropis (langka). Maka manusia- manusia ini naik kapal dan kuda, menuju tempat manusia yang tanahnya mampu memproduksi kedua komoditas tersebut, belahan bumi selatan tropis. Rute jalur sutra dan rempah, komoditas yang dicari oleh manusia- manusia di belahan bumi utara, dan ditawarkan oleh manusia- manusia di belahan bumi selatan, adalah jalur legendaris sejak sekitar tahun 3100 SM yang menjadi benang merah distribusi budaya, agama, ras, dan pengetahuan, antara manusia di belahan bumi yang berbeda posisi geografis.

the-world-of-spices-from-bland-to-hot_50290f96a98df

Peta Komoditas Rempah Global

the-world-of-spices-from-bland-to-hot_50290f96a98df

Alur Waktu Perdagangan Komoditas Rempah Global

Alat Transaksi dan Negara

Melakukan deduksi aktivitas ekonomi, tanpa membahas hukum negara, dan alat transaksi resmi, adalah sebuah ketololan yang nyata, apa pasal ? Permintaan dan penawaran bisa bertemu di pasar, pasar bisa ada secara legal ketika ada aturan hukum tentang alat transaksi; alat transaksi bisa dibuat ketika ada pengaturan kredit yang legal dan jelas; pengaturan kredit alat transaksi yang legal dan jelas bisa terbentuk, ketika ada negara yang membawahi. Kalau logikanya dibalik, maka memahami peta ekonomi secara makro, adalah sebuah keniscayaan bukan ?

a-diagram-of-our-macroeconomic-s-25422-20090308-9

Diagram Peta Ekonomi Makro

Dari grafik di atas, bisa dijelaskan, bahwa negara bisa ada karena adanya 3 komponen : pemerintahan ( pejabat dan kaki tangannya, termasuk militer dan polisi), warga negara sipil, dan wilayahnya. Pemerintah ( pejabat dan kaki tangannya, termasuk militer dan polisi) bisa hidup, beli makan, beli pakaian, beli rumah, dan menjalankan aktivitas pemerintahan, karena mendapat pemasukan ( cash inflow) dari pajak, serta keuntungan perusahaan negara (BUMN). Untuk kasus khusus Indonesia, 80% pendapatan negara adalah dari pajak, dan 80% pengeluaran negara juga digunakan untuk gaji pegawainya ( pejabat, PNS, termasuk militer dan polisi). Angka anggaran pendapatan negara Indonesia tahun 2012 kemarin adalah 1600 T rupiah, sedangkan angka agregat ekonomi produksi- konsumsi (GDP) yang berputar selama 2012 kemarin adalah 8000 T rupiah. Ekonomi Indonesia, katanya, masuk ke 20 besar terbesar di dunia, walau jumlah penduduknya nomor 4 di dunia, aneh ya ? Ah sudahlah.

GDP

Produk Domestik Bruto Indonesia 2012 ( BPS)

Uang selain alat transaksi (kalkulasi),juga berfungsi sebagai alat nilai (valuasi). Di fungsi inilah, selain faktor kelangkaan, yang bisa mempengaruhi harga komoditas adalah : peredaran uang. Jika peredaran nilai uang lebih besar daripada peredaran barang di pasar, maka harga barang akan naik, sedangkan nilai uang turun, disebutnya inflasi, dan sebaliknya, yang disebut deflasi. Di ekonomi modern, uang sendiri sudah memiliki fungsi sebagai komoditas yang diperjualbelikan,di pasar uang, tapi lagi malas bahas itu .  Fungsi pengendalian inflasi inilah, yang menjadi kuasa negara, selain fiskal ( pajak). Saat ini, untuk keseluruhan agregat ekonomi dunia, uang yang beredar 97% adalah uang elektronik, dan sisanya 3% adalah uang kertas ( kartal), artinya transaksi saat ini, dan pada masa yang akan datang, hanyalah berupa angka- angka di rekening bank. Pendapatan manusia Indonesia kalau dari data BPS, rata- rata saat ini adalah hampir 2.5 juta rupiah/ bulan, berikut data GDP per kapita manusia Indonesia, dari tahun 2000, dari data ini bisa dihitung rata- rata inflasi di Indonesia tiap tahun, dari tahun 2000.

GDP Percapita

Pendapatan Perkapita Indonesia 2012 ( BPS)


Salah satu persamaan mendasar dalam peredaran uang adalah:

M.V = P.Q = GDP (PDB)

M = Uang Beredar
V = Perputaran Uang – berapa kali rupiah akan diedarkan
P = Harga rata-rata dari barang yang diproduksi dalam suatu perekonomian dalam setahun
Q = Jumlah total barang yang diproduksi dalam setahun

Bagaimana Kebijakan Moneter Berjalan ?

Secara intuitif dapat dipahami bahwa PDB adalah ukuran nilai dari semua barang yang diproduksi dalam setahun dan disajikan sebagai P.Q. Di sisi kiri, PDB adalah total uang yang dihabiskan (ditandai dengan berapa banyak uang yang dikalikan dengan seberapa sering dihabiskan).

Para bank sentral di suatu negara akan melihat semua tiga variabel (V, P, Q) sebelum memutuskan pada berapa banyak M (uang harus beredar). Bagaimana bisa variabel lainnya akan berubah:

P (harga) dapat berubah pada saat terjadi inflasi yang disebabkan oleh kekurangan atau kelebihan jumlah uang beredar. Ketika itu terjadi, Bank-bank sentral mengurangi M di sebelah kiri untuk menyeimbangkan.

Q (Quantity) dapat berubah dengan tingkat produktivitas atau peningkatan pasokan di pabrik-pabrik. Ketika ini terjadi, Bank-bank sentral meningkatkan pasokan uang sehingga tidak ada dampak besar terhadap P atau V.

V (Velocity) dapat berubah ketika orang yang mendapatkan uang benar-benar takut untuk menghabiskan/ membelanjakannya. Jika semua orang taruh uang mereka di bawah kasur mereka, V pergi ke nol dan begitu PDB. Dengan demikian, Bank sentral akan berusaha keras untuk meningkatkan pasokan uang.

Dari grafik simplifikasi ekonomi makro di atas, manusia adalah faktor produksi, yang sebenarnya komoditas ekonomi juga, apa maksudnya ? Maksudnya adalah ada keahlian- keahlian tertentu yang karena jumlahnya langka, maka memiliki harga tinggi, dan ada juga keahlian- keahlian tertentu, yang karena jumlahnya berlimpah, maka harganya rendah, bahkan tak berharga sama sekali. Harga manusia ini bentuknya adalah insentif, berupa gaji dan fasilitas lain, dari pihak pemberi gaji. Bagi manusia muda usia 17 tahun yang galau dengan pilihan jurusan, maka harus dipahami bahwa favoritisme jurusan di sebuah universitas, sangat terkait dengan faktor kelangkaan di pasar tenaga kerja/ pasar faktor produksi, dan bukan pada soal apakah disiplin keahlian tersebut penting atau tidak penting, atau pintar/ bodohnya manusia yang memilih jurusan tersebut.

Logika pelaku ekonomi di sisi produsen sebaiknya kuat baik di sisi induktif maupun deduktif. Logika induktif yang dimulai dari premis minor, akan berpikir dari sisi produk, fokusnya pada pencapaian produktivitas, efisiensi, dan efektivitas, belum tentu sampai ke aspek profitabilitas, kenapa ? Karena profitabilitas dipengaruhi oleh persaingan dengan kompetitor, besaran pasar, dan daya beli konsumen sendiri. Logika deduktif yang dimulai dari premis mayor, akan berpikir dari sisi pasar dan permodalan, yang fokusnya langsung ke profitabilitas, apapun produk yang dikendalikan. Jika kuat di nalar induktif, manusia cenderung fokus di produksi, dan jika kuat di nalar deduktif, manusia cenderung fokus menjadi kapitalis pemodal, yang juga pengamat pasar. Jika kuat di keduanya, itu jauh lebih baik, karena kedua posisi tersebut harus dijaga agar tetap seimbang, sama kuat.

Circular_flow_of_income

Diagram Siklus Pendapatan, Relasional Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro

Jika ingin memahami rekam jejak sebuah perusahaan atau industri tertentu bisa tumbuh berkembang, maka pahami dahulu ekosistem pasar dan struktur permodalannya, baru melihat lebih dalam ke kinerja operasional bisnis di perusahaan tersebut. Pemahaman ini akan menyambungkan antara logika deduktif dan induktif, dalam memandang peran sebagai pelaku ekonomi riil.

Peradaban Dalam Pasar

Kemampuan untuk menjadi pelaku ekonomi di atas, berlaku pada 10% wilayah di Planet Bumi, apa maksudnya ? Kan, sudah dijelaskan di atas, 90% manusia saat ini menghuni 10% bagian Planet Bumi. Hukum- hukum ekonomi berupa permintaan dan penawaran, kelangkaan, pajak, uang, harga, itu semua berlaku pada hanya 10% bagian planet, tidak semua. Manusia yang hidup berkelompok, beranak pinak, bertetangga, bersosialisasi, selalu membutuhkan makanan, pakaian, rumah, energi, rasa aman, dan rasa nyaman, oleh karena itulah hukum ekonomi yang kompleks bisa berlaku. Hukum ekonomi ini bukan hanya soal barang, tapi juga bisa status sosial, semacam gelar akademik, gelar bangsawan, gelar sertifikasi, dan semacamnya, yang semakin langka, juga seolah semakin tinggi harganya, dalam persepsi manusia lain.

Jikalau ada manusia yang ogah terlibat dalam drama riuh rendah peradaban 90% manusia lain, itu juga sebuah pilihan yang sama sekali tidak salah, maka manusia- manusia penyendiri ini bisa memilih untuk tinggal di 90% wilayah Planet Bumi, yang belum ditinggali manusia lain. Keadaan ekonomi modern (2013) semakin kompleks, selain pasar komoditas, pahami juga pasar uang,  agregat global peredaran nilai uang sudah hampir 5 kalinya barang ( Debt to GDP Ratio) yang beredar dan diproduksi, rumit ! Dari grafik ini, setidaknya kalau dibuat kesimpulan sederhana, dengan catatan bahwa hutang negara dibebankan per kepala warganya, artinya bayi yang baru lahir pun, sudah berstatus sebagai penghutang (debitor), bukan konsumen lagi.

t1-overall_0

Rasio Hutang terhadap PDB Beberapa Negara Dunia

Jika pengertian rezeki itu adalah hanya uang, maka sebaiknya bergabung dengan peradaban manusia yang dominan, 90% tadi, karena disitulah hukum ekonomi berlaku. Tapi jika pengertian rezeki adalah suplai oksigen, pantulan cahaya matahari, air bersih layak minum, yang masih sangat berlimpah, dan belum banyak dihargai lewat uang, maka Anda bisa hidup di wilayah 10% manusia minoritas, atau ikut juga dalam 90% manusia dominan, terserah, kan yang penting bisa bertahan hidup, hingga ajal menjelang, bukan begitu ?

Dongeng tentang ekonomi sebaiknya dimulai dari menjawab pertanyaan, siapa sih kita itu sebenarnya? Kepada apa kita bergantung untuk hidup? Apa yang kita butuhkan untuk bertahan hidup? Dengan siapa kita hidup? Dan apa tujuan hidup kita ? Karena drama peradaban manusia dalam dongeng ekonomi ini sangatlah dinamis, berliku, terkadang heroik penuh mitos kepahlawanan, seringkali malah kejam berdarah- darah, penuh ironi namun konyol menggelikan.

Pencapaian terbesar manusia itu, ya jadi manusiawi sih, itu saja, tidak lebih, hidup tak perlu ada drama. Semua narasi sejarah bikinan manusia bisa ada, karena ada manusia yang mau menceritakan ulang, atau menuliskannya. Tapi semesta sudah mencatat semuanya, ada di kromosom semua spesies organik, isotop karbon, dan sisa- sisa ledakan bintang, tenang saja, semua sudah ada tempatnya, Sobat.

Nota Bene :

Penjelasan teknis soal history of banking system, history of modern economic system, ancient economic system, fractional reserved banking, debt based economy, monetary system, cooperative movement, gold collateral based paper money, modern money mechanic (The FED) dan investment- risk management, sebaiknya langsung kopi darat dengan si empunya blog ini. Tulisan di atas bukan buat penyuka paper ilmiah, film Hollywood, dan kisah sejarah linier, sangat lateral dan divergen dongengnya, bahkan tak ada kesimpulan😀

LWAC 2

Saudara bisa kontak empunya blog ini, untuk mendapatkan kopi dokumen buku tebal berikut :

1. Guns, Germs, and Steel; The Fates of Human Societies. Jared Diamond  

2. Debt: The First 5000 Years. David Graeber 

One comment on “Dongeng Ekonomi

  1. Pingback: Snake- Eater | Usual Storyline

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: