Usual Storyline

oeuvre

Kebijaksanaan Jawa

Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo

Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo

Menikmati kembali literasi akar Budaya Jawa, memanfaatkan momentum untuk merenung sejenak, untuk kemudian memandang kembali kehidupan saat ini.  Modernitas peradaban dipengaruhi oleh paduan kecepatan lintasan informasi dan putaran modal, keduanya bisa menjadi alat untuk membangun jati diri manusia, atau justru melupakannya sama sekali, lalu ikut terbawa arus utama, kemana saja membawanya.

Setiap peradaban selalu mengembangkan upaya untuk mempertahankan kehidupannya, beranak pinak lalu mewariskan pemikiran, dan mengembangkannya pada masa hidup yang telah diberikan, hingga ajal menjelang, baik sebagai manusia personal, atau keseluruhan bangsa itu dihilangkan.

Setiap manusia yang berkumpul, bersosialisasi, membentuk aturan main, selalu membangun upaya, yang disebut dengan teknologi untuk bertahan hidup, dan menghidupi setiap anggota kelompok sosial tersebut. Teknologi tidaklah pernah berdiri sendiri. Dalam satuan teori, bisalah beberapa pihak mengklaim bahwa teknologi itu netral, namun dengan keadaan sekompleks saat ini, teknologi, dan saudaranya sains (teori maupun terapan), akan selalu bergandengan tangan dengan bisnis ( ekonomi- makroekonomi).

Jika mau meneliti lebih dalam lagi, maka teknologi, sains, dan bisnis, akan terhubung dengan substrat terdalam sebuah populasi manusia, yaitu budaya khas komunitas. Sains teori dan terapan, menjadi komponen penyusun utama teknologi mutakhir, berkolaborasi dengan kapital, berbuah lembaga interdisiplin yang disebut dengan perusahaan, yang berkembang membesar membangun aliansi menjadi industri.

Tanpa mengenali akar budaya, mustahil penemu- penemu cerdas teknologi akan mampu mendayagunakan temuannya. Manusia modern adalah warga dunia, yang menjadi tempat berkumpul lintasan- lintasan budaya khas, potensial untuk memunculkan berkolaborasi membangun aliansi, atau justru berkonflik memunculkan segregasi, manusia itu tidak pernah benar- benar netral.

gunung-lawu_clipped_rev_1

Gunung Lawu

Apapun itu, ini hanya upaya kecil, supaya kita paham, bahwa setiap produk, apapun muatan kompleksitas tingkat teknologi yang dimuat, selalu mengandung budaya muatan, dari produsen, untuk diterimakan kepada konsumen. Dalam tahapan yang lebih abstraknya, perluasan budaya, adalah perluasan pasar, untuk urusan ekonomi produsen. Maka, jika ingin membalas, maka produksilah sendiri makna- makna baru, dari hasil renungan kita sendiri, buatlah massal, gunakan sains dan teknologi sebagai alat, dan perluas pasar, maka budaya kita, juga akan bisa dikonsumsi oleh konsumen dari komunitas bangsa lain, kuncinya diawali dari kesadaran diri.

Prof. Satjipto Rahardjo ( alm) pernah memberi nasehat,  bahwa ledakan ekonomi dalam suatu negara dimulai dari aktivitas ekonomi yang berbasis pada budaya masyarakatnya. Terlepas dari soal aliran kapital dan kuota hutang, maka menyesap kembali nasehat bijak para pendahulu, adalah sebuah langkah kecil untuk mempertanyakan kembali,  siapa kita sebenarnya ?

  1. “Yen Arep Weruh Trahing Ngaluhur, Titiken Alusing Tingkah-Laku Budi Basane” ( Untuk Mengenali Seseorang Memiliki Tradisi Berbudi Luhur / Orang-Orang Besar, Perhatikanlah Kehalusan Tingkah Laku, Budi Pekerti dan Bahasanya)

  2. Hanggayuh kasampurnaning hurip, berbudi bowo leksono, ngudi sejatining becik ( Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai level kesempurnaan hidup, berjiwa besar dan selalu berusaha mencari kebenaran sejati).

  3. Urip iku saka Pangeran, bali marang Pangeran (hidup itu berasal dari Tuhan dan akan kembali pada Tuhan)

  4. Pangeran iku siji, ana ing ngendi papan, langgeng, sing nganaake jagad iki saisine, dadi sesembahane wo sa alam kabeh, nganggo carane dewe-dewe ( Tuhan itu satu, ada dimana-mana, abadi, pencipta alam se-isinya, dan menjadi sesembahan manusia sejagad raya, dengan memakai tata caranya masing-masing)

  5. “Manungso sadermo nglakoni, kadyo wayang umpamane ( Manusia hanya sekedar menjalani, ibarat wayang tergantung pada otoritas dalang)

  6. Owah gingsire kahanan iku saka karsaning Pengeran Kang Murbeng Jagad. Ora ana kasekten sing madhani papesthen, awit papesthen iku wis ora ana sing bisa murungke ( Perubahan keadaan itu kehendak Tuhan. Tiada kesaktian yang menyamai kepastian Tuhan, karena tiada yang dapat menggagalkan kepastian Tuhan)

  7. Pasrah marang Pangeran iku ora atages ora gelem nyambut gawe, nanging percaya yen Pangeran iku Maha Kuasa. Dene hasil orane apa kang kita tuju kuwi saka kersaning Pangeran (Sikap pasrah kepada Tuhan bukan berarti tidak mau bekerja, melainkan percaya bahwa Tuhan itu Maha Kuasa. Berhasil tidaknya apa yang kita lakukan merupakan otoritas Tuhan)

  8. Panggawe ala lan panggawe becik iku tut wuri lan tuduh dalan nganti delahan. Mula wong iku mumpung urip ngudia kabecikan, supaya dadi sarana bisane oleh swarga” (Perbuatan buruk dan baik itu mengikutimu dan menunjukkan jalan sampai ajal. Oleh karena itu selagi masih hidup, jalankan perbuatan yang baik, agar memperoleh sarana memperoleh tempat di surga)

  9. “Wong becik ora keno mangan daging kang ora suci, kudu nyirik sembarang kang dadi regeding awak utawa cedhaking satru lahir bathin” (Orang baik tidak boleh makan daging yang tidak suci, harus pantang terhadap apa saja yang menjadikan badan kotor atau segala sesuatu yang mendekatkan/ menyebabkan ketidakjernihan lahir maupun bathin, termasuk makan dari yang bukan haknya, misalnya harta hasil korupsi)

  10. Aja lali marang ngelmu kang karya tentreming ati, jalaran kuwi kang bisa gawe mulyanira lahir batin” (jangan lupa terhadap pengetahuan yang dapat menenteramkan hati, sebab yang demikian itu membuat tenteram lahir-batin)

  11. Rame ing gawe sepi ing pamrih, memayu hayuning bawana” (banyak berkarya, tanpa menuntut balas jasa, untuk menyelamatkan kesejahteraan manusia)

  12. Tumindak kanthi duga lan prayoga (segala tindakan harus disertai tata krama dan pertimbangan yang baik).

  13. “Balilu tan pinter durung nglakoni” (berani melakukan suatu kebaikan lebih baik dari pada sekedar menguasai dalil-dalilnya)

  14. Samubarang ngunduh wohing pakerti (segala tindakan akan menuai hasil sesuai jalan yang dipilihnya)

  15. Sing sapa seneng gawe nelangsane liyan, iku ing tembe bakal kena piwalese saka penggaweane dewe (barang siapa melakukan perbuatan yang menyebabkan kesengsaraan orang lain, akhirnya nanti ia akan mendapat pembalasan dari perbuatannya sendiri)

  16. Urip rukun, aja gawe pati lan larane liyan (hidup rukun dan jangan melakukan tindakan yang menyebabkan penderitaan dan matinya orang lain).

  17. “Tentrem iku saranane urip aneng donya” (ketentraman hidup merupakan sarana dalam menjalani kehidupan dunia)

  18. Perang kalawan sadulur iku ora becik, mula aja seneng perang kalawan sadulur (perang dengan saudara itu tidak baik, oleh karena itu jangan suka perang antar saudara).

  19. “Perang kalawan sedulur iku becik, lamun ana sedulur kang digunakake mungsuh kanggo ngrusak negarane dhewe” (perang saudara itu baru diperbolehkan ketika ada saudara sebangsa yang dimanfaatkan musuh untuk merusak negaranya sendiri).[

  20. Klabang iku wisane ana ing sirah, kalajengking iku wisane mung ana pucuk buntut. Yen ula mung dumunung ana ula kang duwe wisa. Nanging yen durjana wisane dumunung ana ing sekujur badane (Racun klabang/ binatang kaki seribu ada di kepala. Racun Kalajengking hanya di pucuk ekor. Racun ular hanya ada pada ular yang berbisa. Sedang penjahat racunnya terletak pada seluruh badannya)

  21. Negara akeh pepeteng, jalaran kurang sandang kurang pangan lan penguwasa datan darbe watak ber budi bawa leksana, tur ora ana janma kang handana warih, ing kono negara bakal dikuasai dhemit lan banaspati  (kehidupan negara akan gelap gulita, apabila kurang sandang kurang pangan dan penguasanya tidak berjiwa besar dan berhati mulia; lagi pula tidak ada orang yang mampu mewujudkan kesejahteraan, disitu negara akan dikuasai oleh dhemit dan banaspati

  22. Kawula iku minangka tamenging Negara, samangsa ana panca baya (rakyat itu merupakan perisainya Negara manakala ada bahaya)

  23. Negara bisa tentrem lamun murah sandhang kalawan pangan, marga para kawula padha seneng nyambut karya, lan ana panguasa kang darbe sifat berbudi bawaleksana (Negara itu dapat tenteram kalau murah sandang pangan, sebab rakyatnya gemar bekerja dan ada penguasa yang mempunyai sifat adil dan berjiwa mulia)

  24. “aja kagetan”, “aja gumunan”, “aja dumeh” (jangan kagetan, jangan heran dan jangan mentang-mentang),

  25. “hurmat kalawan Gusti, Guru lan wong atuwo loro” (hormat/ taat kepada Tuhan Yang Maha Esa, guru, pemerintah dan kedua orang tua).

  26. Bangsa iku minangka kuating Negara, mula aja nglirwaake kebangsanira pribadi, supaya kanugrahan bangsa kang handana warih” (komitmen kebangsaan itu sebagai syarat kuatnya suatu negara. Oleh karena itu jangan mengabaikan rasa/ komitmen kebangsaanmu sendiri, agar menjadi bangsa yang berhasil)

  27. Negara iku ora guna lamun ora darbe angger-angger minangka pikukuhing Negara kang adedhasar idi kalbune manungso salumahing Negara kuwi (Negara tidak akan berguna kalau tidak mempunyai undang-undang yang menjadi dasar kuatnya suatu negara, yang sesuai dengan isi jiwa seluruh bangsa)

  28. Yen wong becik kang kuwasa, kabeh kang ala didandani lamun kena, dene yen ora kena, disingkirake mundhak nulari (cuplak andheng-andheng), (Kalau orang baik yang berkuasa, maka semua yang jelek kalau dapat diperbaiki, sedangkan kalau tidak dapat, maka harus disingkirkan, ‘agar tidak menular kejelekannya’).

  29. Ing wektu akeh wong kang seneng uripe marga panggautane akeh pametune, ing kono negara bisa tentrem, ora ono wong colong jupuk darbeking negara (pada saat banyak orang senang hidupnya karena hasil kerjanya banyak, disitu negara tenteram, tidak ada orang yang mengambil atau mencuri kepunyaan negara)

  30. Ratu iku durung mesti kepenak uripe, lamun ora bisa ngaweruhi kawulane (Pemimpin itu belum tentu enak hidupnya/ disandera oleh beban kepemimpinanya manakala tidak mampu mengetahui aspirasi rakyatnya)

  31. Negara kuwat, iku amarga kawulane seneng uripe lan disuyudi dening liyan Negara (Negara itu kuat kalau rakyatnya senang hidupnya dan dihormati oleh negara lain)

Berikut video dari Dr. Damardjati Supadjar, beliau guru besar filsafat Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, juga penasehat Sultan Hamengkubuwono X. Beliau sedang menceritakan ulang filosofi jawa, di sebuah seminar di Universitas Sebelas Maret, Surakarta :

Sumber:

Butir-Butir Budaya Jawa: Hanggayuh Kasampurnaning Hurip, Berbudi Bawaleksana, Ngudi Sejatining Becik, (Jakarta: Yayasan Purna Bakti Pertiwi, 1996)

16 comments on “Kebijaksanaan Jawa

  1. Septia Agustin
    June 30, 2013

    wah, kebetulan sekali saya juga sangat tertarik dengan topik ini, belakangan saya jadi tergila-gila filsafat jawa gara2 ajaran kasunyataan ki ageng suryomentaram. kalau tertarik sila cari buku “puncak makrifat Jawa-Muhaji Fikriono”, atau kalau kamu di Bandung bisaa pinjem ke saya. Takjub banget rasanya waktu mengenal ulang filsafat dan sastra jawa. Akhirnya saya paham maksud sebenernya dari istilah ‘Jawa adalah Kunci’🙂

    • Maximillian
      July 1, 2013

      Wow, Ki Ageng adalah sosok keren🙂 Saya asli Gunung Lawu, peta Bengawan Solo yang melintasi beberapa kota di Jawa, mengelilingi gunung tersebut. Ini kebetulan saja sedang menekuni kembali nasehat lama kakek dan keluarga besar, terima kasih …

      • Septia Agustin
        July 3, 2013

        wah, ada literatur yg bisa disarankan? yg bahasa indonesia ya.. soalnya kemarin2 dapat di yogya tapi sayangnya tulisan asli beliau dalam bahasa jawa.

      • Maximillian
        July 3, 2013

        Buku yang saya jadikan referensi ini boleh juga, tapi kalau mau merasakan substrat kejawen, coba jika ada waktu luang, atau sengaja meluangkan waktu, tinggal di lingkaran daerah aliran Sungai Bengawan Solo, Gunung Lawu, dan pesisir Yogyakarta. Ketiga area ini menyimpan kebijaksanaan “budaya sawah”, yang mungkin konteksnya tidak mudah untuk diadopsi ke dalam teks manapun🙂

      • Septia Agustin
        July 4, 2013

        wah sabi sih, setelah kelar TA sepertinya saya akan coba meluangkan waktu kesana🙂

      • Maximillian
        July 5, 2013

        Jika sibuk, bisa ditelaah dulu tulisan- tulisan karya Dr. Damardjati Supajar, beliau dosen filsafat UGM, penasehat spiritual HB X, Yogyakarta. Gaya literasi beliau yang akademisi mungkin lebih mudah dicerna oleh kalangan perguruan tinggi, silakan.

      • Septia Agustin
        July 6, 2013

        okeee terima kasih banyak sarannya, segera dilaksanakan😀

  2. Maximillian
    July 29, 2013

    Oh iya,ada satu yang ketinggalan. Budaya jawa pedalaman kesannya memang sangat halus, dari cara berperilaku dan berbahasa jelas terlihat. Dalam kasus- kasus konflik horizontal, budaya jawa ini sangat melarang untuk menjadi penyebab konflik, namun kompensasi di sisi lain, selalu mengandalkan serangan balik.

    Serangan balik ini yang sering kejadiannya katastropik, tujuh turunan diberangus, sampai ke generasi- generasi di bawahnya, yang tak tahu menahu sama sekali penyebab awal konflik.

    Pertimbangan serangan balik ini yang membuat orang jawa terlihat sangat berhati- hati dengan orang atau budaya yang belum dikenalnya, karena terdidik di di ekosistem yang konsekuensinya bisa sangat panjang, melebihi usia si pelaku konflik.

    Ya, ini sebagai informasi, karena peneliti dari luar lingkaran inti seringkali melihat perilaku di keadaan damai, saya pikir perlu juga meneliti sebuah masyarakat, dalam kondisi konflik, dari keduanya kita bisa paham pertimbangan- pertimbangan jangka panjang dalam benak manusianya.

    • Dipa Nugraha
      December 30, 2015

      Bisa disepadankan dengan kisah jatuh bangun keluarga kerajaan di Jawa dan lalu kisah Suharto yang “gagal” dipahami sarjana Barat atau sarjana Indo tercelupi minda Barat?

      • Maximillian
        December 30, 2015

        Bisa jadi Mas Dipa, bias perspektif.

      • Dipa Nugraha
        December 30, 2015

        Kisah IKP, silakan dibalik.

      • Maximillian
        December 30, 2015

        IKP apa itu?

  3. Dipa Nugraha
    December 30, 2015

    Mohon edit poin nomer empat.

    Ana ing endi papan sebaiknya diterjemahkan menjadi “di manapun tempatnya” dan bukan “ada di mana-mana.”

    • Maximillian
      December 30, 2015

      Hmm, ini nanti jadi semantik terkait satuan skalar dan tensor ya? 😊

      • Dipa Nugraha
        December 30, 2015

        Ketepatan terjemah dan implikasi pemaknaan.🙂

      • Maximillian
        December 30, 2015

        Sebenarnya saya kurang suka dengan konstruksi naratif, lebih suka grafik, numerik, dan simbol, menghindari bias perspektif. Makanya malas kalau komunikasi verbal- literal, akurasi dan presisi jauh berkurang 😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 26, 2013 by in Philosophy and tagged , , , .
%d bloggers like this: