Usual Storyline

oeuvre

Snake- Eater

There are four types of people who join the military. For some, it’s family trade. Others are patriots, eager to serve. Next, you have those who just need a job. Then there’s the kind who want a legal means of killing other people ( Jack Reacher)

Bukan perkara yang mudah waktu itu, usia 15 tahun,  hanya sekedar untuk membuat keputusan tegas, apakah memilih melanjutkan belajar pasca SMU ke : akademi militer, perguruan tinggi, atau sekolah tinggi kedinasan.  Ekosistem terdekat saat itu menganggap bahwa kuliah di PTN adalah sebuah prestasi, bahkan kemewahan, apalagi memang daerahnya kampung, jauh dari kota kecil.

minum-darah-ular-kobra-rev1

Minum Darah Kobra

Tidak banyak yang berharap untuk bisa melanjutkan kuliah, dan sekolah terbaik adalah sekolah yang menjamin kemudahan mendapatkan pekerjaan, mungkin karena sebagian besar penduduk kampung bertahan hidup sebagai petani, atau perantau di propinsi lain.  Profesi yang dihormati di perkampungan adalah PNS, tentara, dan tentunya dokter, karena dianggap baik hati, suka menolong, lalu duitnya banyak juga, lengkaplah pokoknya.

Banyak pertanyaan yang menghantui, dengan bisikan- bisikan maut yang cukup menganggu, semacam : apa bisa bertahan hidup dengan masuk jurusan itu ? Nanti belajar apa ? Pendapatannya berapa ? Apa bisa bikin perusahaan sendiri kalau masuk jurusan itu ? Bakal diajari ilmu apa ? Apa otoritas yang bisa didapatkan dengan lulus dari jurusan itu ? Semua pertanyaan itu mampir dengan jawaban yang membingungkan, karena setiap kali ditanyakan kepada orang lain, entah itu senior, atau keluarga, semua punya jawaban yang sangat subyektif.

Mereka tidak salah, karena mereka menjawab dengan perspektif cara bertahan hidup masing- masing, ada yang menjadi dosen, PNS, tentara, pegawai Pemda, atau petani, dan jawaban- jawaban yang keluar dari mereka adalah jawaban deskriptif spesifik, tidak berusaha membangun komparasi antar keahlian jurusan, namun sekali lagi, memang argumen personal itu kombinasi antara pengetahuan, pengalaman empiris, dan mungkin persuasi juga.

Usaha untuk menjadi yang terbaik diantara yang terbaik, seringkali memang sengaja dibangun ekosistemnya di sekolah- sekolah. Sangat terasa nuansa kompetisi justru di sekolah yang dilabel dengan favorit di sebuah kawasan. Sekolah favorit adalah sebuah ekosistem kompetitif, tempat berkumpulnya anak- anak muda terseleksi, yang senantiasa bertarung memperebutkan posisi terbaik, dalam segala bidang. Apakah posisi terbaik itu menjamin kesuksesan masa depan ? Tidak, tapi setidaknya peluangnya lebih besar ke target tersebut. Entah kenapa, narasi ini oksimoron dengan fungsi dasar sekolah, yang dibangun untuk mendistribusikan nilai, dan membangun metode berpikir, bertindak, berperilaku, dengan rasional serta logis.

Posisi selalu menjadi pelajar teladan sejak sekolah dasar, hingga menengah atas, membuat pertanyaan tentang fungsi sekolah menjadi sangat terasa, apa sebenarnya tujuan ikut dalam ekosistem pendidikan yang dibuat kompetitif ini ? Apakah pemenangnya akan mendapat semua dan yang kalah mendapat remahnya saja ( zero sum game) ? Apakah anak- anak yang selalu menang dalam setiap kompetisi akan menjadi raja dengan kasta sosial tertinggi di masyarakat dengan persaingan bebas ( laissez faire) ? Itu pertanyaan yang membalik semua logika ekosistem meritokrasi sejak sekolah dasar.

Logika survivalis memposisikan pelakunya sebagai manusia yang selalu dalam posisi nyaman menghadapi kelangkaan, baik itu kelangkaan sumber daya terukur ( makanan, pakaian) maupun tak terukur ( keamanan jiwa), walaupun faktanya hidup dalam ekosistem yang memiliki kebermelimpahan sumber daya, dan keamanan terjamin. Logika ini yang terbangun ketika masuk dalam komunitas kepanduan ( spesialisasi pemandu arah/ scout), komunitas yang mengondisikan untuk mampu bertahan hidup di luar peradaban manusia, bisa hutan, gunung, rawa, atau bahkan padang pasir dan laut.

Logika survivalis memberikan pilihan yang luas, jauh lebih luas daripada pelajaran- pelajaran yang diajarkan di kelas- kelas sekolah favorit, yang secara implisit cenderung membatasi makna kesuksesan personal, dalam ekosistem yang juga dibatasi, yaitu ekosistem urban kosmopolit, dengan mekanisme moneter ( peredaran uang berbasis putaran produksi barang/jasa) serba teratur, di dalam keserbapastian peradaban manusia. Logika yang dibangun dengan pembiasaan untuk nyaman dalam ketidakpastian, dan senantiasa senang belajar mandiri (otodidak) ke keahlian- keahlian baru.

Baiklah, singkat kata, setelah tidak menyengaja melihat Jack Reacher ( 2012) atas tawaran kawan, semua memori tentang kebingungan masa lalu, masa remaja memilih masa depan itu, mendadak sontak teringat lagi. Dan pernyataan Reacher tentang motivasi seseorang bergabung dengan militer, jika ditanyakan pada saat itu ( 15 tahun),  maka jawaban sejujurnya, dari hati yang paling dalam, adalah : yang terakhir. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 6, 2013 by in Review and tagged , , , .
%d bloggers like this: